
Bandara Ngurah Rai, Bali
Kiara dan Olive berjalan beriringan dengan tangan yang sedang menarik koper mereka masing-masing. Beberapa menit yang lalu, Kedua gadis beda benua itu menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai Bali setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam dari Jakarta.
"Bali" guman Kiara yang masih bisa terdengar oleh Olive yang berdiri di sampingnya.
Kiara menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara Pulau dewata yang tentu saja sangat berbeda dengan Jakarta.
"Nona baik-baik saja?" tanya Olive memastikan. Tak lupa senyum indahnya tersungging dari bibirnya.
Kiara mengangguk. Mereka berjalan lagi menuju lobby. Disana sudah menunggu sopir yang akan membawa Kiara dan Olive ke penginapan.
"Apa penginapannya jauh?" tanya Kiara saat mobil yang mereka sudah mulai melaju dengan perlahan.
"Tidak, Nona. Hanya tiga puluh menit dari sini" jawab Olive, kembali dengan senyum indahnya.
Kiara mengangguk. Ia tak lagi berbicara melainkan menikmati pemandangan selama perjalanan. Tepat seperti apa yang diucapkan Olive, tiga puluh menit kemudian mobil itu berhenti di sebuah bangunan indah dan luas.
Kiara segera keluar dari mobil, mengamati bentuk dan detail bangunan di hadapannya. Merasa seperti dejavu, Kiara memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mengingat-ingat dimana ia menemukan bangunan seperti ini.
"Tempat ini seperti tidak asing bagiku" kata Kiara ketika mereka sampai di resepsionis.
"Mungkin Nona pernah menginap di sini?" Olive balik bertanya.
"Tidak, ini pertama kalinya aku ke Bali. Tapi aku merasa tidak asing dengan tempat ini" jawab Kiara.
Setelah mendapatkan kunci kamar mereka, Olive dan Kiara kembali berjalan mengikuti seorang pelayan yang akan menunjukkan letak kamar mereka. Baru lima langkah mereka berjalan, mereka dikejutkan dengan sosok perempuan berambut ikal yang tersenyum lebar ke arah mereka. Kiara dan Olive saling memandang. Mereka kompak tidak mengajak kakinya melangkah maju melainkan melangkah mundur.
"Nonaaaaa Kiiiiaaaaaraaaaaaaa......."
Kiara dan Olive buru-buru menutup kedua telinga mereka, menyelamatkan indra pendengaran mereka dari polusi suara yang entah mengapa bisa hadir merusak liburan mereka.
"Selamat datang, Nona" sapa perempuan itu kali ini dengan tinggi suara yang sudah normal.
Kiara dan Olive membuka kedua tangannya. Mereka kembali saling pandang.
"Olive, apakah kita nyasar?" tanya Kiara mengacuhkan sapaan perempuan itu.
"Nyasar? sepertinya tidak, Nona" ucap Olive sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukankah makhluk astral ini tempatnya di Labuan Bajo? Kenapa malah ada di Bali?" tanya Kiara lagi.
__ADS_1
Perempuan itu yang tak lain adalah Elin langsung tertawa terbahak-bahak. Meski Kiara dan Olive berbicara dalam bahasa Inggris, Ellin yang mempunyai suami bule tentu saja paham.
"Kenapa tertawa?" tanya Kiara heran karena menurutnya tidak ada yang sedang melawak diantara mereka. Ia kembalu melirik Olive yang juga menatap aneh pada Ellin.
"Nona Kiara lucu sekali. Aku paham kenapa Nona seperti bingung di sini. Penginapan ini milik saya juga, Nona. Saya memang sengaja mendesign semua penginapan saya dengan bentuk yang sama. Bagaimana? serasa seperti saat di Labuan Bajo kan? hahahahaha......"
Kiara dan Olive kembali menutup telinganya dan membuka kembali saat Ellin berhenti tertawa.
"Pasti Nona merasa de javu bahkan kalau Nona mau saya bisa memilihkan kamar yang sama persis seperti di penginapan milik saya di Labuan Bajo. Tapi ya... di kamar sebelahnya bukan kamar milik Ale dan Aisha yang bisa kau goda, Nona. Hahahaha....." ucap Ellin kembali tertawa tanpa melihat perubahan raut wajah Kiara yang muram.
Kiara mengajak Olive untuk pergi menuju kamar mereka. Pelayan yang sedari tadi berdiri menunggu mereka, kini kembali berjalan meninggalkan Ellin yang masih tertawa. Ya, menertawakan Kiara lebih tepatnya.
"Mas, Pelayan disini sehat semua kan?" tanya Kiara ketika mereka berhentindi depan pintu kamar yang akan di tempati Kiara.
Pelayan itu membuka pintu kamar Kiara, mempersilakan masuk baru menjawab pertanyaan Kiara.
"Kami semua sehat, Nona. Kalau sakit sudah tentu tidak bisa bekerja di sini" kata pelayan itu sambil membungkuk.
"Apa kalian nggak budeg punya boss udah mirip kayak sirine ambulans?" tanya Kiara asal dan tentu saja membuat pelayan itu terkekeh geli.
"Sudah biasa, Nona. Permisi" jawab pelayan itu kemudian keluar dengan tawa yang ditahannya.
Kiara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menarik nafas panjang dan tak lupa ia menyuruh Olive untuk berbaring di sampingnya. Kiara mengambil ponsel di tas nya. Ponsel yang sengaja ia matikan sejak pesawatnya akan terbang dari Jakarta. Kiara segera mengaktifkan ponselnya dan tidak butuh waktu yang lama, panggilan video dari Dira masuk.
"Kiara... yang bener dong jawab telponnya" kata Dira kesal.
Kiara berdecak kesal. Ia kemudian mengarahkan layar ponselnya tepat di wajahnya. Kedua matanya membola ketika melihat wajah kusut Dira terpampang di hadapannya. Dira yang biasanya selalu tampil rapi dan segar, berubah menjadi kusut dan lusuh.
"Lu kenapa, Kadir? Kusut amat tuh wajah kayak orang gagal nikah" ucap Kiara.
"Yang gagal nikah elu kaleee bukan gue" ucap Dira memelas.
"Terus lu kenapa?" Kiara kembali bertanya karena tidak pernah ia melihat Dira sekacau ini.
"Lu lama banget sih aktifin ponselnya. Gue kan kangen" ucap Dira dengan nada manjanya. Hal itu tentu saja membuat Kiara merasa geli dan mual.
"Lu kesambet dimana kok tumben-tumbenan kangen sama gue?"
"Idih... siapa juga yang kangen sama lu. Gue kangen sama si cantik. Pindahin dong layar ponsel lu ke si cantik. Gue kangen liat wajahnya" ucap Dira membuat Kiara melongo.
Kiara melirik Olive. Kiara mengangkat ponselnya, menjauhkan layar ponsel itu dari wajahnya. Tapi buru-buru ia mendekatkan lagi pada dahinya.
__ADS_1
Dira yang semula senang dengan pergerakan tangan Kiara, tentu saja merasa kesal karena dipermainkan oleh adik nakalnya ini.
"Gue mau lihat si cantik bukan dahi lebar kayak lapangan bola" gerutu Dira.
Kiara memutar bolanya dengan malas. Mau tidak mau ia menyodorkan ponselnya pada Olive, memintanya berbicara pada Dira meskipun Kiara yakin jika Olive juga tidak mau berbicara pada kakaknya itu.
"Hai cantik. Abang Dira kangen lho" ucap Dira tak lupa memasang tampang imutnya agar Olive terpikat pada pesonanya.
Olive tersenyum kecut. Ia menoleh ke arah Kiara sebentar. Kiara mengangkat bahu, tidak mengerti juga dengan tingkah kakaknya itu.
Semenit, dua menit, tak ada obrolan antara Olive dan Dira. Dira masih memasang tampang imutnya, menatap Olive yang sesekali menggigit bibir bawahnya. Olive sebenarnya ingin membuka obrolan, tapi dia juga bingung akan membahas apa dengan Dira. Sedangkan Dira lebih memilih menikmati wajah Olive dari pada mengobrol dengannya. Jadilah mereka saling diam selama beberapa menit dan hal itu membuat Kiara kesal.
"Kalau nggak ada yang mau diomongin sama Olive, gue tutup telponnya" ucap Kiara mengambil ponselnya dari tangan Olive dan memutuskan panggilan video dari Dira. Kiara kembali mematikan ponselnya karena ia tahu Dira pasti akan menghubunginya lagi.
"Ponselmu kemana?" tanya Kiara pada Olive yang kini menampakkan cengiran khas kuda lumping.
"Maaf, Nona. Ponsel saya kehabisan baterai" jawab Olive jujur.
Ck... Kiara bangkit dari tempat tidur diikuti dengan Olive. Kini mereka duduk berhadapan. Kiara menatap Olive dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau ada hubungan apa dengan Dira?" tanya Kiara tanpa basa-basi.
"Sa...sa..ya... tidak punya hu.. hu..bungan apa-apa, Nona" jawab Olive gugup.
"Tuan Adiraka tentu saja adalah bos saya dan saya adalah bawahannya" lanjut Olive membuat Kiara memicingkan matanya.
"Kau sudah pernah jalan dengan Dira? berkencan lebih tepatnya" tanya Kiara lagi.
"Ti... ti.. dak, Nona. Saya tidak pernah berkencan dengan Tuan Adiraka. Jangankan berkencan, bertemu beliau saja kemarin saat saya tiba di Indonesia" ucap Olive masih dalam mode gugupnya.
Kiara memperhatikan perut rata Olive. Ia ingat betul perkataan Dira yang mengatakan Olive sedang hamil saat mereka di kamar Kiara. Kiara memang tidak percaya jika Olive hamil. Tapi melihat gelagat kakaknya yang aneh, Kiara menjadi ragu.
"Kamu hamil? hamil anak Dira?" pertanyaan Kiara sukses membuat Olive sesak nafas.
Olive menggeleng dengan cepat. Bagaimana mungkin ia sedang hamil sedangkan saat ini dirinya sedang kedatangan tamu bulanan? Pertanyaan Kiara ini pasti buntut dari ucapan Dira yang asal saat mereka di rumah Kiara.
"Nona, saya sedang datang bulan. Tidak mungkin saya hamil. Lagi pula saya masih perawan, Nona" ucap Olive menunduk.
Kiara tersenyum. Sudah pasti ini hanyalah akal-akal Dira yang ingin mengerjai Mamanya. Meskipun Kiara tidak tahu apa motif Dira mengatakan hal itu. Yang jelas baik Kiara maupun Widya tidak akan percaya begitu saja dengan ucapan Dira yang sempat membuat Widya hampir naik darah.
"Tak apa. Aku percaya padamu. Kembalilah ke kamarmu! Kau juga butuh istirahat" ucap Kiara menepuk bahu Olive dengan lembut.
__ADS_1
Olive mengangguk. Ia segera bangkit dan pergi meninggalkan kamar Kiara menuju kamarnya. Kiara merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur, mencoba memejamkan mata. Setidaknya ia bisa tidur sebentar, mengistirahatkan tubuhnya sejenak.