
"Mooorrrrniiinggggg, Kadirrrr..........."
Dira tersenyum sumringah ketika melihat Kiara yang baru saja keluar dari kamarnya. Kiara melangkah dengan riang, menuruni anak tangga dengan lincah dan segera memghampiri meja makan untuk bergabung sarapan dengan Dira.
Ini adalah peristiwa langka. Pertama kali Dira merasakan Kiara memulai harinya dengan hati berbunga-bunga. Biasanya Dira melihat Kiara berjalan dengan langkah gontai dan wajah yang muram. Namun kali ini berbeda. Wajah Kiara penuh dengan bunga layaknya taman kembang di belakang rumah mereka.
Kiara menarik kursi di hadapan Dira, duduk, dan segera mengambil dua lembar roti di hadapannya. Kiara mulai memberi selai sembari bersenandung riang.
Dira merekam tingkah Kiara dengan diam-diam dan mengirimkannya pada Elang. Tak lupa Dira memberikan caption pada kirimannya. "adikku sedang jatuh cinta" dengan tambahan emoticon hati yang banyak.
"Seneng bener lu? pasti semalem dapat encup- encup dari Elang" goda Dira sembari menyuapkan roti selai ke dalam mulutnya.
"Mau tahu aja lu, Kadir..." ucap Kiara menjulurkan lidahnya.
Kiara mulai menggigit roti selainya, menghabiskan dan mulai mengambil dua helai lagi tentu saja senandung kecil masih terdengar oleh Dira. Dira melihat tingkah laku adiknya perempuannya ini. Baru saja menghabiskan dua lembar roti dalam beberapa detik dan sekarang dia mengambil lagi. Dira benar-benar tidak percaya jika adiknya memiliki nafsu makan yang sangat besar.
Dira yang sedari tadi belum menghabiskan sarapannya seketika merasa kenyang melihat Kiara makan. Dira meletakkan piringnya dan beralih mengambil gelas yang berisi jus jeruk.
"Kemarin jalan kemana sama Elang?" tanya Dira.
"Festival Kuliner" jawab Kiara pendek.
"Pantes bahagia lahir batin. Sarang burung dibawa jalan-jalan ke tempat makanan, ya, serasa lebaran. Entah habis berapa karung lu semalem?" tanya Dira sewot.
"Lima karung kali. Mana mungkin gue ngitung habis berapa biji makanan di sana? Ngawur aja lu!" sambar Kiara tak kalah sengit.
Dira diam. Ia menunggu sampai Kiara menghabiskan rotinya. Ada sesuatu hal yang akan Dira bicarakan pada adiknya mumpung suasana mendukung. Setidaknya jika suasana hati Kiara berbunga-bunga, maka acara jambak, melempar heels, dan mengamuk-amuk tidak akan ada.
"Gue mau ngomong"
"Apaan?" tanya Kiara setelah menghabiskan jus jeruknya.
"Setelah gue bertapa semalaman, berfikir, menimbang, dan meraba...."
"Lu mau dagang bawang pake acara menimbang segala?" potong Kiara sebal.
"Dengerin!"
"Iya, Kadir.... Ada apa?" tanya Kiara santai.
"Gue memutuskan lu ama Elang menikah sebulan lagi"
Byurrrr....
Kiara menyemburkan jus jeruk yang baru saja diteguknya. Kedua mata Kiara membola. Kiara terkejut ketika mendengar perkataan Dira.
__ADS_1
"Sii...Al...!!!"
Dira bangkit dari kursinya dengan umpatan bahasa planet yang menggema di meja makan. Dira berteriak memanggil ARTnya, meminta mereka membersihkan meja makan karena ulah Kiara barusan.
"Lu sih ngomong ngawur aja!" bentak Kiara sembari melempar serbet ke wajah Dira.
"Gue salah apa sih? hubungan lu kan sama Elang sudah menghangat. Sudah mulai banyak bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan. So, salahnya dimana kalau gue majukan pernikahan kalian menjadi bulan depan?" ucap Dira.
"Ya salah. Setidaknya lu beri waktu gue waktu pendekatan lagi lah sama Elang"
"Dimana-mana orang itu pengen cepat-cepat nikah. Lu punya otak kenapa kebalik mulu sih? malah minta perpanjangan waktu. No! Gue nggak mau ditawar lagi" kata Dira mutlak.
Kiara mendengus sebal. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Dira sendiri. Dira terkekeh melihat reaksi kesal Kiara. Dira diam sejenak, melanjutkan menyantap sarapannya dan tiba-tiba terlintas ide gila di otak Dira.
Dira segera mengambil ponselnya, mencari kontak seseorang dan menelponnya. Sedetik dua detik panggilan akhirnya terjawab.
"Hai, Jo! Bagaimana kabar tawananmu?"
"Tuan Adiraka, A.. anda menelpon saya me... mena..nyakan.. tawanan?" ucap Jonathan gugup.
"Hei, kenapa kau gugup begitu? Apa kau lepas si basreng Vaston itu?" ucap Dira geram
"Tidak, Tuan. Rio masih berada disini"
"Bagus! Jangan macam-macam, Jo, kalau kau masih ingin hidup!" ancam Dira.
"Jo, dengarkan baik-baik! Lepaskan si basreng Vaston sekarang! Kirim dia ke Jakarta sesuai rencananya!"
"A... a...apa? Tuan tidak salah memberi perintah?" tanya Jonathan tak percaya.
"Saya sudah menyuruhmu mendengarkan baik-baik, bukan? Laksanakan sekarang! Jangan banyak bertanya!" bentak Dira kemudian menutup ponselnya.
Dira meminum jus jeruknya perlahan. Menghela nafas perlahan.
Gue bukannya jahat. Gue cuma ingin memastikan hati lu untuk siapa sebelum gue nikahkan lu. Lu sering sekali ragu dengan siapa cinta lu akan berlabuh. Sekarang ketika gue mau lihat apakah dengan rintangan ini lu akan ragu lagi? Bagaimanapun rintangan yang sengaja gue buat ini adalah tes agar lu bisa meyakinkan hati lu untuk siapa. Maaf, gue harus tega. Karena gue mau lu menikah dengan orang yang tepat dan tentu saja gue ingin pernikahan lu abadi.
Dira hendak bangkit dari kursinya. Namun, ponselnya kembali berdering sehingga mengurungkan niatnya. Dira kembali duduk dan menjawab panggilan teleponnya.
" Ya?,"
".............."
" Apa????? Bodoh kalian semua!!! Kenapa perempuan itu bisa kabur?"
" .........................."
__ADS_1
"Kalau kalian belum menemukan perempuan itu dalam waktu 24 jam, siap-siap nyawa kalian taruhannya" ucap Dira kemudian mematikan ponselnya
\_\_\_\*\*\*\_\_\_
"Ada apa, Jo?"
Rio yang baru keluar dari kamar mandi nampak heran melihat raut wajah Jonathan. Tidak seperti biasanya, Jonathan yang tenang dan santai kali ini terlihat bingung. Rio menangkap ada rasa khawatir dalam diri Jonathan. Apakah mungkin ini ada sangkut paut dengan dirinya?
"Ada perintah dari Adiraka" jawab Jonathan.
Deggg
Feeling Rio tepat.
"Perintah? Apa? Apa dia menyuruhmu menghabisiku?" tanya Rio cemas.
"Bukan"
"Lalu?"
"Dia menyuruhku melepasmu, mengirimmu ke Jakarta sesuai rencanamu"
Rio mengernyitkan dahi, mencoba mencerna perkataan Jonathan. Jika dipikir-pikir memang pantas Jonathan bingung. Apakah Dira mempunyai maksud terselubung dengan melepaskannya? Berbulan-bulan Rio dikurung di tempat asing, tanpa alat komunikasi, tanpa tahu tanggal dan hari.
Sekarang, tidak ada angin tidak ada hujan, Dira menyuruh Jonathan melepasnya? Apakah Dira tidak takut Rio akan bertemu Kiara? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada Kiara sehingga membuat Dira menyuruh Jonathan melepasnya? Rio bingung. Ia benar-benar bingung.
"Rio, aku akan mengurus keberangkatanmu ke Jakarta. Tuan Dira mau kau secepatnya berangkat" ucap Jonathan.
"Jo.... apakah sesuatu telah terjadi?" tanya Rio.
"Entahlah! yang aku tahu Tuan Adiraka menetap di Jakarta dan temanmu sudah dikirim lagi ke New York"
"Teman? Maksudmu Olive?" tanya Rio lagi yang dijawab anggukan kepala Jonathan.
"Tapi kenapa?" tanya Rio lagi.
"Entahlah, Rio. Aku juga tidak tahu. Nanti kita bahas lagi, aku pergi dulu" kata Jonathan dan segera pergi meninggalkan Rio yang masih bingung.
Tepat dua hari setelah perintah Dira, Jonathan membawa Rio menuju bandara Jhon. F. Kennedy. Rio akan terbang ke Jakarta dan melanjutkan rencana awalnya, bekerja sama dengan Ivana, saudara kembar Evan. Meskipun Rio tahu mungkin tawaran Ivana sudah basi. Tapi apa salahnya dicoba, toh Rio juga memiliki misi lain yaitu menemui Kiara seandainya takdir mempertemukan mereka. Rio akan berusaha menemukan Kiara bagaimanapun caranya.
Rio berangkat seorang diri karena Dira melarang Rio dikawal sampai Jakarta. Dira menginginkan kedatangan Rio senatural mungkin sehingga tidak menimbulkan kecurigaan Evan dan orang-orang disekitar Rio yang menyangkanya diculik.
"Hati-hati! Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini" ucap Jonathan. Ia memeluk Rio sebagai tanda perpisahan.
"Terima kasih, Jo atas kebaikanmu. Kau sudah memperlakukan aku sangat baik padahal aku adalah tawananmu" ucap Rio membalas pelukan Jonathan.
__ADS_1
Mereka berpisah. Rio berjalan sembari menyeret kopernya. Pesawat yang akan membawa Rio ke Jakarta akan berangkat. Rio menatap jendela pesawat dalam diam.
"Aku tak tahu apa yang direncanakan Adiraka. Apakah dia ingin pertemukanku dengan Kiara? Atau kembali memisahkanku dengannya? Selama berbulan-bulan aku menahan rindu, mengharapkan agar aku bisa bertemu kembali dengannya. Semoga saja Dira sudah memaafkanku sehingga dia menyuruh Jo melepasku. Tapi, seandainya dia belum memaafkanku. Lalu, untuk apa dia melepasku?" gumam Rio.