
Elang segera berlari menuju ruang Ale ketika mendapat telepon jika Dira sedang berada di sana sekarang. Sudah lima hari Elang menunggu kabar dari Dira. Namun, Dira sepertinya hilang bak ditelan bumi.
Setiap hari Elang membujuk Ale agar mau menghubungi Dira tetapi selalu saja Ale menolaknya. Bukan tanpa alasan, Ale sungkan mengganggu Dira yang pastinya sangat sibuk mengurus perusahaannya. Ale tak punya muka untuk mengganggu Dira apalagi membahas kisah asmara keponakannya yang memang sangat jauh dari kata penting.
"Om, Tuan Adiraka" sapa Elang ketika ia baru masuk ke ruangan Ale.
Elang berjabat tangan dengan Dira dan segera duduk di hadapan mereka. Jantung Elang berdebar-debar menanti apakah yang akan diucapkan Dira kepadanya. Elang khawatir Dira tidak akan mengabulkan keinginannya untuk bertemu Ara.
"Elang, Tuan Alex, maaf saya sudah mengganggu waktu kalian"
"Tidak, Tuan. Anda tidak mengganggu kami" sambar Elang cepat.
"Sabar, Elang, sabar..." ucap Ale memperingati Elang.
Elang yang ditegur Ale hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya, malu.
"Saya kesini karena ingin meminta izin membawa Elang ke Pare" ucap Dira.
"Pa...Pare? di mana itu?" tanya Ale bingung.
Ia menggaruk-garuk kepalanya, mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ale memang tidak tahu karena memang ia belum mendengar tempat yang disebutkan oleh Dira.
"Kediri, Jawa Timur. Kiara saya asingkan di sana. Dia tinggal bersama Mama dan Ayah sambung saya" ucap Dira menjelaskan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Tuan? Karena jujur saja perasaan saya benar-benar tidak enak. Saya sampai tidak bisa tidur" raut wajah gelisah kembali muncul pada Elang.
"Sebenarnya Kiara diculik. Tapi tenang saja dia sudah saya temukan"
"Apa??? Diculik???" teriak Elang dan Ale bersamaan.
"Lalu sekarang bagaimana keadaannya, Tuan?" tanya Elang, ingin rasanya ia segera terbang menemui Kiara dan mengecek keadaannya secara langsung.
"Kiara sedang dalam proses pemulihan karena selama diculik Kiara selalu dibius. Jadi tubuhnya lemah. Kau tenang saja"
"Siapa yang berani menculik Ara? Apakah Ara punya musuh?" tanya Ale heran.
"Bukan musuh tapi pengagum berat. Saya tidak mengenalnya tetapi Kiara memanggilnya Zian"
"Zian...???," teriak Elang dan Ale bersamaan lagi.
"Zian itu dulu sahabat saya, Tuan. Dia juga yang menjebak saya sehingga Kiara memutuskan saya. Saya sudah pernah menghajarnya sampai babak belur. Rupanya dia masih belum jera mendekati Kiara" ucap Elang geram.
"Anak itu mengejar Kiara sampai ke New York, kuliah di universitas yang sama bahkan mereka diwisuda bersama-sama" ucap Dira membuat Ale dan Elang terperangah.
"Sepertinya Zian suka dengan Ara tapi waktu itu keduluan Elang yang menjadi pacarnya" ucap Ale berspekulasi.
"Makanya, Om dari dulu Zian suka sekali ngintilin Elang kalau lagi pacaran sama Ara"
"Sekarang Zian sudah saya tangani tetapi Kiara yang belum bisa saya tangani" ucap Dira.
"Ada masalah?" tanya Ale.
"Ada. Masalah cintanya yang belum bisa saya atasi" ucap Dira terkekeh membuat Ale dan Elang saling pandang.
"Bagaimana kalau saya jodohkan Kiara dengan Elang?" ucap Dira.
"Dijodohkan? saya? dengan Ara?" tanya Elang kembali. Ia ingin memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Kalau Elang mau. Kalau Elang tidak mau ya saya carikan jodoh lain" ucap Dira enteng.
"Jangan, Tuan!!!! Jangan...!!!" pekik Elang membuat Ale segera menutup mulut Elang dengan tangannya.
"Tuan Adiraka serius?" tanya Ale.
Pasalnya ia juga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Permintaan Dira seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
"Saya serius. Kalau kalian setuju lusa Elang ikut saya ke Pare. Saya akan mempertemukanmu dengan Kiara"
__ADS_1
"Saya bersedia, Tuan" teriak Elang membuat Ale kembali menutup mulut Elang dengan kedua tangannya.
"Apakah orang tua Elang masih ada? Atau Pak Alex adalah wali dari Elang?"
"Orang tuanya masih lengkap dan kebetulan sekarang mereka ada di rumah saya."
"Kebetulan sekali. Pak Alex mungkin bisa membicarakan niat saya kepada orang tua Elang. Jika mereka ingin membicarakan detailnya, saya siap kapanpun bertemu mereka"
"Tuan Adiraka, saya sangat terhormat menerima perjodohan ini. Ini seperti mimpi kami yang menjadi kenyataan. Saya akan segera menyampaikan berita ini kepada orang tua Elang" ucap Ale sumringah.
Dira mengangguk dan segera pamit. Dia melangkahkan kakinya dengan ringan. Ada banyak rencana yang ia rancang demi kesuksesan perjodohan Elang dan Kiara. Entah mengapa Dira langsung tertarik pada Elang sejak pertama kali melihatnya. Meskipun Dira belum kenal dekat, Dira sudah bisa merasakan jika Elang adalah jodoh yang tepat untuk Kiara.
___***___
"Apa???" pekik Sandra kaget mendengar apa yang dikatakan Ale.
"Ada apa, Mama? Mengapa berteriak?" Robert segera menuruni anak tangga dengan cepat ketika mendengar teriakan istrinya.
Robert segera memeluk istrinya ketika melihat Sandra tengah berdiri dengan nafas naik turun yang menandakan jika dirinya sedang marah. Robert tidak mau tekanan darah tinggi Sandra kambuh dan itu bisa saja berakibat fatal.
"Kau sudah gila, Ale. Papa.... Mama tidak setuju. Mama tidak setuju" pekik Sandra lagi membuat Robert kembali mengeratkan pelukannya, menenangkan istrinya.
"Ada apa Ale? Apa yang kau katakan kepada Sandra?" tanya Robert dengan tatapan tajam ke arah Ale.
"Mbak Sandra lebay. Ale hanya berkata jika Kakak Kiara menginginkan Kiara dijodohkan dengan Elang. Selama ini Elang kan cinta mati dengan Kiara. Kenapa mbak Sandra sewot?" cibir Ale yang membuat Robert menghela nafas.
"Mama tidak setuju. Papa pasti belum lupa bagaimana gadis itu mencampakkam anak kita. Bagaimana hancurnya Elang saat itu? Elang hampir saja mati, Papa...." teriak Sandra lagi.
"Mereka hanya salah paham, Mbak. Lagi pula itu kesalahan anakmu bukan Kiara" ucap Ale membela Kiara.
"Aku tidak terima alasan salah paham. Yang aku lihat anakku menderita karena gadis itu" ucap Sandra ketus.
"Ma...." Elang yang baru tiba dari kantor segera menghampiri Sandra.
"Mama tidak setuju Elang bersama Ara?" tanya Elang sendu.
Elang menatap manik mata Sandra, meminta jawaban atas pertanyaannya.
"Cukup sekali Mama hampir kehilanganmu. Mama tidak mau hal itu terjadi lagi" lanjut Sandra sedih.
"Maaf jika Elang membuat Mama sedih. Elang, anak Mama ini terlalu lemah. Harusnya Elang kuat" ucap Elang sembari menggenggam kedua tangan Sandra.
"Elang mencintai Ara, Mama. Elang mohon restui perjodohan ini. Andai memang kami tidak berjodoh, Elang akan mengikhlasnya" ucap Elang meyakinkan Sandra.
"Mama tidak peduli kau mencintainya atau tidak. Mama tidak akan setuju dengan ide konyol ini"
"Mbak, apanya yang konyol sih? ini ide bagus. Niat baik. Seharusnya Mbak Sandra mendukung" ucap Ale mengompori Sandra.
"Jika kau terus mendukung perjodohan ini, maka jangan salahkan aku bila menarik dana di perusahaanmu. Kau cari saja investor lain" ancam Sandra membuat Ale melongo tak percaya.
"Mbak Sandra jangan seperti itu dong"
"Kau yang membuatku se marah ini. Apa hak mu menerima perjodohan Elang dan gadis itu?" Sandra semakin gusar.
"Ale belum menerimanya, Mbak. Ale hanya menjadi jembatan komunikasi antara kakaknya Kiara dengan kalian. Tapi Jika dimintai pendapat, Ale akan dukung 100% perjodohan ini. Bukankah Mbak Sandra ingin segera mendapatkan cucu dari Elang?" goda Ale.
"Tapi bukan dari gadis itu. Mbak bisa mencarikan Elang gadis lain. Anak-anak rekan bisnis Mas Robert banyak yang lebih cantik dan lebih baik dari gadis itu"
"Tapi Elang maunya sama Ara, Mama"
"Tuh dengar! Anakmu yang menginginkan Ara. Mbak beruntung lho bisa menjadi mertuanya"
"Kau pikir pernikahan itu seperti berdagang? ada untung ruginya?" sambar Sandra bertambah gusar.
"Mama....," panggil Robert mengelus punggung istrinya agar tenang.
Suasana menjadi hening. Ale melirik Elang yang kini wajahnya berubah kusut seperti keset.
__ADS_1
Tap tap tap
Terdengar suara langkah seseorang. Ale dan lainnya menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Maaf, jika saya bertamu siang-siang begini" ucap Dira.
Dira muncul dengan senyum menawannya yang buat Ale bernafas lega. Kedatangan Dira membuat Robert dan Sandra kaget. Mereka melongo tak percaya dengan sosok yang tengah berdiri di hadapan mereka.
"Tuan Adiraka...," Sandra dan Robert segera berhamburan. Mereka menghampiri Dira dan menjabat tangan Dira
Ale mencibir tingkah dua orang menyebalkan itu. Dia berdehem dan mempersilakan Dira duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Adiraka, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda di Jakarta. Saya merasa sangat terhormat, Anda mau datang ke rumah ini" ucap Robert di sambut senyum sumringah Sandra.
"Tuan Robert dan Nyonya Sandra justru saya yang merasa tersanjung mendapat sambutan hangat seperti ini" ucap Dira dan dengan ekor matanya bisa ia lihat Ale sedang terkekeh mendengar celotehannya.
"Ada perlu apa Tuan Adiraka kesini?" tanya Sandra. Ia memasang senyum menawannya yang membuat Ale mencibirnya dari jauh.
"Saya ingin memastikan apakah pembicaraan saya dengan Pak Alex sudah menemukan titik temu atau tidak?"
"Pembicaraan apa ya?" tanya Sandra.
"Pembicaraan tadi yang katanya Mbak Sandra tidak setuju" sambar Ale.
"Tidak setuju? Pak Alex apakah orang tua Elang tidak setuju dengan perjodohan Elang dan adik saya?" tanya Dira pura-pura terkejut.
"Adik????" ucap Robert dan Sandra bersamaan.
"Iya. Tadi saya menemui Pak Alex agar membicarakan mengenai perjodohan Elang dengan adik saya, Kiara"
"Maaf, Tuan Adiraka. Mbak Sandra sebagai Mamanya Elang menolak perjodohan mereka. Mbak Sandra bisa mencarikan gadis lain untuk Elang yang....."
"Ale....," bentak Sandra.
"Oh, maaf jika ternyata kalian tidak setuju...,"
"Bukan...bukan... bukan begitu, Tuan" Sandra segera memotong ucapan Dira agar tidak berlanjut.
"Kami tentu saja setuju. Elang sangat mencintai Kiara. Bagaimanapun kami sebagai orang tua pasti mendukung anaknya" ucap Robert.
"Tadi mereka menolak, Tuan, bahkan mengancam menarik dana dari perusahaan saya" adu Ale yang dibalas pelototan Sandra.
"Jangan dengarkan ucapan Ale, Tuan Adiraka! Kami sangat setuju dengan perjodohan ini. Anda tidak usah khawatir" ucap Sandra.
"Baiklah jika semua sudah setuju. Saya akan mengatur rencana selanjutnya" ucap Dira melirik Ale dan Elang. Dira bisa melihat ekspresi bahagia pada keduanya.
"Kami mengikuti saja, Tuan. Kami percaya Tuan Adiraka pasti melakukan yang terbaik" ucap Sandra.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dan Elang lusa akan saya bawa menemui Kiara"
"Tuan Adiraka mau bawa saat ini juga tidak apa-apa. Kami tidak akan melarang" ucap Sandra menawarkan.
"Huuuuu.... Tadi mencak-mencak nggak setuju. Sekarang malah nawarin" cibir Ale.
"Ale..!!!," bentak Robert dan Sandra bersamaan.
Dira segera pamit, melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Ale. Sandra dan Robert segera bangkit. Mereka ikut melangkah guna mengantarkan Dira sedangkan Ale dan Elang berjalan pelan di belakang mereka.
"Elang, kau harus traktir Om" bisik Ale.
"Kenapa, Om?" ucap Elang juga berbisik.
"Kalau bukan karena Om yang menghubungi Dira, dia tidak akan datang kesini" ucap Ale lagi masih berbisik.
"Jadi??? ini??" tanya Elang yang dijawab anggukan kepala Ale.
"Kau harus bersyukur punya Om sekaliber Alexander Barata Wijaya yang pintar ini. Diam-diam, Om Ale menghanyutkan lho" ucap Ale membanggakan diri.
__ADS_1
Elang memutar kedua matanya dengan malas. Ia melangkahkan kakinya mendahului Ale. Jika ia terus berada disisi Ale. Maka Ale tak akan berhenti membanggakan dirinya. Hal itu tentu saja membuat Elang muak.
Namun, benar kata Ale. Kalau bukan karena Ale, maka perjodohan ini tidak akan direstui kedua orang tuanya.