Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 11


__ADS_3

Kiara melihat fotonya terpajang cantik di halaman lovagram Rio. Kiara bisa melihat jika Rio memajang fotonya sekitar dua jam yang lalu dan senyum mekar Kiara seketika muncul melihat banyaknya pengguna yang memberikan tanda love pada fotonya.


Kiara membaca beberapa komentar yang kebanyakan memujinya. Ada rasa bangga pada dirinya membaca komentar-komentar itu namun seketika rasa sedih datang dan membuat senyum Kiara kembali pudar.


Kiara mengambil ponselnya, membuka galeri foto dan melihat kembali hasil pemotretan kemarin yang dikirim oleh Rio. Semuanya tercetak sempurna. Kiara sendiri tidak percaya jika dirinyalah yang ada di foto itu. Hasil make over Evan, gaun rancangan Evan dan tentu saja Rio yang lihai mengambil gambarnya.


Bukkk...


Jas hitam Dira terbang dan mendarat tepat di wajah Kiara. Dira terkekeh, lemparan asalnya berhasil mencetak gol.


“Sialan, lu Kaaaadiiirrrrrrrrrrrrrrrrrr.............!!!!” teriak Kiara membuang jas hitam Dira ke lantai.


Dira bergerak cepat, dia merebut ponsel Kiara dan mendorong tubuh Kiara. Tentu saja Kiara yang tadi sudah berhasil bangkit, kembali terhempas ke kasurnya.


“Kadirrrrr.............. balikin ponsel gue!” Kiara kembali bangun dan mengejar Dira yang sudah kabur beberapa detik yang lalu.


Dira yang tiba di kamarnya dengan cepat menutup pintu dan menguncinya. Kiara tahu keberadaan Dira karena tadi sempat melihatnya masuk berlari ke kamarnya. Kiara menendang - nendang pintu kamar Dira agar Dira membukanya.


“Buka, Kadir.... buka....!!! itu ponsel gue! Lu mau apa sih sama ponsel gue???” teriak Kiara.


Dira tidak menyahuti Kiara. Dira malah terkekeh di dalam kamarnya. Seharian Dira sibuk di kantor dengan segala pekerjaannya dan sekarang Dira perlu meregangkan otot-ototnya dengan mengusili adiknya itu.


“Gue hitung sampai tiga kalau lu tetep nggak mau buka pintunya......” Kiara berpikir sejenak mencari ancaman yang tepat untuk Dira.


“Gue bakal lempar s e m p a k lu ke kamar sebelah !!! Gue tahu yang nempatin kamar sebelah itu nenek – nenek janda genit” teriak Kiara lagi membuat tawa Dira semakin jadi.


Dira tahu jika adiknya itu asal berbicara karena sesungguhnya apartemen sebelah itu ditempati oleh bodyguardnya bukan nenek – nenek janda seperti ucapan Kiara.


“ Kadirrrrr...............satu......” Kiara mulai menghitung.


“Dua...”


Dira tetap tidak memberikan pertanda akan membuka pintu. Kiara semakin gusar dengan tingkah kakaknya itu.


“Tiiii...... jangan salahkan gue kalau besok di infotainment ada berita presdir Dira kehilangan s e m p a k karena dibawa nenek – nenek janda ya...” ancam Kiara yang membuat Dira semakin tak bisa menahan tawanya.


“ Ti...gaaaaa............... bye Kadir. Gue akan buang semua s e m p a k lu. Gue bagiin ke tetangga sebelahhhhhhhhhhhhh.................!!!! teriak Kiara dan bergegas membuka pintu apartemen dan menutup dengan keras dari dalam sehingga seolah-olah Kiara keluar dari apartemen.


Kiara berjalan perlahan dan bersembunyi di balik sofa. Kiara diam menunggu Dira membuka pintu dan benar saja Dira keluar dari kamarnya.


Dira melangkah menuju sofa dan mendudukkan pantatnya. Kiara masih mendengar tawa Dira dari balik sofa.


"Awas lu, Kadir, gue jadiin peyek teri ntar” batin Kiara dengan geram.


Dira tidak mengetahu jika Kiara ada di balik sofa. Dia pikir Kiara sudah keluar dengan kesal. Dira membuka ponsel Kiara hendak melihat apa yang sedari tadi dipelototi Kiara sampai tak mengetahui kedatangannya dan


"Aaaaaaa..............................” Dira berteriak karena Kiara menjambak rambutnya dari belakang.


Kiara merampas ponselnya dari tangan Dira dengan cepat. Setelah dapat, Kiara mendorong tubuh Dira hingga jatuh tersungkur ke sofa. Impasss....!!!


“Kurang ajar lu! Sudah berani lu ya main kasar sama gue?” teriak Dira sambil meringis, matanya melotot menatap Kiara yang justru mengeluarkan lidah mengejeknya.


“Opoooo...???” Kiara berkacak pinggang. Matanya tak kalah tajam memelototi Dira.


"Jangan pernah kurang ajar sama gue. Gue kakak lu!"


"Lu duluan yang ganggu gue"

__ADS_1


"Abisnya lu serius amat sama ponsel lu sampai nggak nyambut kedatangan gue!."


"Emangnya lu Pangeran Wiliiam, kudu gue sambut kedatangannya??"


"Iya haruslah secara gue yang tuan rumah dan lu numpang di sini. Kalau perlu lu gelar karpet merah, lu taburin kembang-kembang, nyanyikan lagu yang indah. Paham?” tanya Dira.


"Nggak sekalian gue yasinin?" Kiara memdelik lalu mendudukkan pantatnya di sofa. Dira mendengus kesal lalu ikut duduk di sebelah Kiara.


“Lu lihat apaan sih di ponsel ? serius banget” Dira penasaran.


“Hasil jepretan Rio kemarin” ucap Kiara pendek.


“Lihat dong!” Dira merebut ponsel Kiara tanpa permisi.


Dira membuka ponsel Kiara. Dahinya berkerut ketika melihat sosok perempuan berkebaya yang ada di ponsel Kiara. Suara decakan terdengar dari mulutnya. Tak lupa gerakan gelengan kepala Dira yang menandakan ia benar-benar kagum dengan foto itu.



“Cantik banget nih cewek? Lu kenal? “ tanya Dira membuat Kiara menautkan kedua alisnya.


“Lu nggak tahu cewek itu siapa?” tanya Kiara


“No! Sumpah cantik banget. Auranya itu loh membara cetar dar der dor,” ucap Dira dengan mata dan senyum melebar, menimbulkan rona merah di pipi Kiara. Dira melirik Kiara heran.


“Kenapa lu tersipu?”.


Kiara mengalungkan kedua tangannya ke leher Dira.


“Lu bilang tuh cewek cantik banget kan?” tanya Kiara dengan manjanya dan tentu saja Dira mengangguk membenarkan.


Cup.


“Apaan sih?” Dira melotot, menatap geram Kiara.


“Gue senang deh lu bilang gue cantik makanya gue cium lu,” jawab Kiara.


“Gue bilangnya cewek di foto ini bukan lu,” Dira mencibir.


“Loh itu gue, Kadir! Masak lu nggak ngenalin sih???” Kiara mengedipkan kedua matanya berkali-kali, menggoda Dira.


Dira membuka mulutnya, tak percaya. Dia mengamati foto itu, membandingkan dengan Kiara. Kedua bola mata Dira tak henti bergerak dari layar ponsel ke wajah Kiara secara bergantian. Dira sungguh tidak percaya jika gadis di foto itu adalah adiknya. Tidak mungkin, batin Dira.


“Lu yang polos kayak kertas HVS kenapa bisa amazing cetar dar der dor begini? ck.ck..ck...” Dira berdecak tetap tidak percaya.


“Siapa yang make over lu?”


“Evan Sander lah. Siapa lagi coba?” ucap Kiara yang selalu mengambil gampang menyebutkan nama Evan.


“Uwouw...  !!! Keren banget si Evan!”puji Dira.


“Ya.. karena gue modelnya” ucap Kiara bangga membuat Dira menutup wajah Kiara dengan telapak tangannya.


“Lu lihat deh di galeri foto, tadi Rio mengirimkan banyak foto”.


Tanpa ba bi bu, Dira segera menggerakkan jarinya menuju galeri foto Kiara. Dira tak berkedip sedikitpun.


"Ini ya bisa cetar begini pasti karena tangan dingin Evan dan jepretan si Vaston.  Awesome !” puji Dira lagi.

__ADS_1


“Tapi tetap saja karena aku modelnya. Kalau orang lain pasti hasilnya biasa aja” ucap Kiara tak terima.


Ia terus menemani Dira melihat foto-foto hasil jepretan Rio. Ada rasa bangga pada dirinya karena kakaknya sendiri juga pangling melihat dirinya ketika di make over. Namun, tiba-tiba pancaran kebahagian di wajah Kiara meredup.


“Kadir....” panggil Kiara pelan.


“Opooo....???," sahut Dira seperti biasa, tanpa menoleh ke arah Kiara.


“Apa bener gue cantik? “ tanya Kiara membuat Dira menghentikan aktifitas jarinya.


Dira menatap Kiara dan tersenyum tipis. Dira menarik badan adiknya dan memeluknya.


"Lu udah besar sekarang" Dira berkata lembut sambil mengelus kepala Kiara dengan sayang.


“Kiara bayi saja sudah cantik apalagi sudah gadis seperti sekarang. Lu nggak hanya cantik tapi lebih dari cantik. Lelaki mana yang nggak bakalan jatuh cinta sama elu?"


"Tapi kenapa Om Ale tidak jatuh cinta sama gue, Kadir...? Kalau gue cantik, dia juga pasti jatuh cinta dengan gue” ucap Kiara sedih. Ia mengeratkan pelukannya pada Dira.


Dira menghela nafasnya. Pertanyaan Kiara sangat sulit ia jawab. Pasalnya Dira tidak mengenal dan tidak tahu seperti apa sosok Ale yang dibicarakan adiknya itu.


Ia memang menugaskan dua orang mata-mata untuk menjaga Kiara. Namun, mereka hanya melaporkan kegiatan Kiara tanpa memberikan foto.


Pernah suatu ketika Dira meminta orang suruhannya itu mengirimkan video tentang apa yang dilakukan Kiara. Video itu memperlihatkan Kiara sedang berjalan di kampusnya. Hanya sekali, sehingga Dira memang tidak tahu seperti apa wajah Ale yang dibicarakan Kiara.


"Jangan sedih! Mungkin si Ale-Ale punya kelainan" jawab Dira asal.


“Maksudmu?" tanya Kiara mengerutkan dahinya.


"Mungkin saja dia alergi gadis cantik atau dia homo. Haa..ha...ha...." tawa Dira meledak.


Entah dari sekian banyak jawaban mengapa alasan itu yang Dira katakan. Sungguh bodoh. Jawaban Dira yang seperti itu tentu saja membuat Kiara kesal.


Plakkk...


Kiara menjitak kepala Dira karena seenaknya mengatakan Ale penyuka sesama jenis. Kiara tidak terima dengan ucapan Dira. Bagaimanapun Ale adalah sosok sempurna di matanya. Tanpa cela. Jadi tidak ada seorangpun yang boleh menjelekkan Ale, termasuk Dira.


“Ya ampun! Lu nggak terima banget sih” Dira memegang kepalanya. Sakit juga jitakan adiknya ini.


“Lu ngomong seenaknya sih. Sudah jelas-jelas gue pernah bilang kalau Om Ale mau nikah. Lu malah bilang dia homo,” bela Kiara.


"Eh...Eh.. jangan salah. Sekarang banyak lho yang di depan bilangnya mau nikah ternyata itu buat kedok doang, buat nutupin kalau sebenarnya dia belok," cibir Dira tidak mau kalah.


“Om Ale nggak belok!!! Dia laki-laki normal!!!” Kiara tetap tak terima.


“Emangnya lu tahu kehidupan dia 24 jam? Nggak kan? Jadi asumsi gue masih bisa benar,” Dira menepuk dada karena merasa menang.


“Sudah, jangan mikirin si Ale lagi. Memangnya tampang Ale se ganteng apa sih sampai lu nggak bisa move on?.”


Kiara merebut ponselnya dari Dira. Dia mencari akun lovagram Ale dan membukanya. Kiara langsung menegang ketika melihat foto terbaru yang diunggah Ale. 


Brakkkkk....


Kiara membuang ponselnya dengan kasar dan memeluk erat Dira. Tangis Kiara akhirnya pecah. Kiara menangis histeris dalam pelukan Dira. Kedua tangannya mengepal, mencengkram baju Dira.


Dira diam, membiarkan adiknya menangis meluapkan emosinya. Dira memang sempat melihat sekilas foto di ponsel Kiara. Ponsel sepasang kekasih yang sedang tersenyum di pelaminan.


Dira yakin jika Ale yang dimaksud Kiara sudah menikah saat ini. Tangisan Kiara adalah salah satu jawaban dari pertanyaan Dira. Dira membiarkan Kiara menangis di dadanya. Ia paham saat ini hati Kiara pasti sangat hancur.

__ADS_1


Dira menatap langit-langit apartemennya. Ia menarik nafas panjang. Hatinya juga merasa sakit ketika mendengar tangisan pilu Kiara. Dira mendekatkan mulitnya pada telinga Kiara dan berbisik.


“Ketika janur kuning telah melengkung, saat itu juga hatimu hancur. Relakanlah dia dan buka hatimu pada yang lain...” bisik Dira.


__ADS_2