Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 64


__ADS_3

" Hari ini kegiatanmu apa, Elang?," tanya Ale disaat mereka sedang sarapan bersama.


Elang yang sejak tadi sibuk mengolesi rotinya dengan selai cokelat kesukaannya, terdiam sejenak, mengingat apa agendanya hari ini.


" Oh iya.. foto prewed, Om!," ucap Elang setelah mengingat apa agendanya hari ini.


" Elang, kamu harus semangat ya.... pernikahanmu kali ini harus sukses. Bibi doakan lancar sampai hari jadi nya nanti," ucap Aisha sambil tersenyum.


" Aamiin," ucap Elang kemudian menggigit roti selainya.


" Kalau tidak sukses bagaimana Aisha?," goda Ale yang membuat Elang terbatuk-batuk.


" Uhuk...uhuk...."


" Mas....!!!," tegur Aisha.


Aisha mengambil segelas air untuk Elang dan Elang dengan cepat meminumnya.


" Mas Ale kalau ngomong ya jangan ngawur begitu. Ingat, ucapan adalah doa," tegur Aisha, kali ini wajahnya kesal dan cemberut.


" Ehhh.... yang ditanya Elang kok yang kesal kamu?," goda Ale lagi terkekeh.


Ale memang sengaja ingin menggoda Aisha. Karena sampai detik inipun Aisha masih menyimpan kekhawatiran pada Kiara. Aisha takut Kiara akan mengganggu mereka lagi jika tidak segera menikah dengan Elang. Ale yang paham akan itu menjadikan senjata untuk menggoda Aisha setiap hari.


" Kalau gagal ya remedi, Om," ucap Elang santai dan itu membuat Ale kembali terkekeh.


" Elang, Bibi tidak mau ada kata gagal dalam pernikahanmu. Pernikahanmu harus sukses, lancar. Kalau perlu Bibi akan mengarahkan semua tenaga dan pikiran Bibi demi suksesnya pernikahan kamu," kata Aisha berapi-api.


" Kamu takut ya? Makanya ingin cepat-cepat Elang menikah dengan Ara," goda Ale lagi. Ale mencolek-colek lengan Aisha dengan genitnya.


Plak...


" Berhenti membuatku kesal, Mas!!!," teriak Aisha.


Aisha menghempaskan tangan Ale yang sedari tadi tak berhenti mengusilinya. Ale bukannya berhenti bertingkah usil, dia malah semakin jadi mencolek-colek pinggang Aisha.


" Mas....!!!!," teriak Aisha lagi, kali ini Aisha berpindah tempat duduk di samping Elang.


" Bibi beneran takut kalau Elang gagal nikah dengan Ara?," tanya Elang.


" Jelaslah, Elang. Bibi khawatir nanti kamu patah hati lagi."


" Khawatir Elang patah hati apa kamu yang patah hati, Aisha?," goda Ale lagi dan kini Aisha melempar serbet kain pada Ale.


" Bibi, jika nanti Elang gagal menikah dengan Ara. Elang pastikan bukan Om Ale yang menggantikan Elang."


" Kalau sampai kejadian nanti bisa jadi sinetron judulnya calonku menjadi bibiku kan lucu," ucap Ale kembali terkekeh tanpa memperdulikan tatapan kesal Aisha dan Elang.


Elang bangkit dari kursinya. Ia merasa jengah dengan celotehan Ale.


" Elang berangkat," ucapnya dan berlalu meninggalkan meja makan.


Elang segera melangkahkan kakinya menuju halaman depan dimana Pak Tomo, sopir pribadinya sedang mengelap kaca jendela mobil Elang.


" Elang pergi sendiri, Pak."


Tanpa banyak cakap, Elang segera masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil dengan perlahan. Elang mengemudikan mobilnya menuju rumah Ara. Perjalanan menuju rumah Ara hanya memakan waktu 35 menit.


" Selamat Pagi, Tuan Elang," sapa penjaga gerbang di rumah Ara. Ia segera membukakan gerbang sehingga mobil Elang bisa masuk.

__ADS_1


" Selamat Pagi, Tuan Elang," sapa salah satu maid pada Elang ketika baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah.


" Pagi. Ara di rumah?," tanya Elang.


" Ada, Tuan. Nona Kiara sedang di kamarnya."


" Elang langsung ke kamar Ara saja. Bibi lanjutkan pekerjaannya saja," ucap Elang yang di jawab anggukan kepala dari maid tersebut.


Elang melangkahkan kakinya dengan ringan. Sejak resmi menjadi tunangan Kiara, Elang sudah sering keluar masuk rumah Kiara. Hampir setiap minggu Elang datang untuk mengapeli kekasihnya itu. Sehingga tak heran jika semua orang disana sudah kenal Elang.


Elang hendak menaiki anak tangga menuju kamar Kiara. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari halaman belakang. Elang mengurungkan niatnya, ia malah menyeret langkahnya menuju halaman belakang.


" Ku ingin slaaaaaa.... manya.... mencintaiiiii... uhuk...uhukkk.... uhuk..... uhuk..uhuk..uhuk.."


Dira terbatuk-batuk sampai berguling-guling ketika nada yang ingin dicapainya gagal terjangkau. Niat hati ingin menggapai nada tinggi, apa daya suara Dira yang fals tak bisa menggapainya. Dira yang beberapa hari ini memang sering bernyanyi di belakang rumahnya, bertekad akan memberikan persembahan yang spektakuler di pernikahan Kiara nanti. Setiap siang seperti biasa Dira akan mulai bernyanyi berbekal CD lagu dan catatan lirik lagu tersebut dari Elang, Dira tak pernah patah semangat melatih suara sumbangnya agar merdu.


Elang yang sampai di halaman belakang tentu saja kaget melihat pemandangan itu. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan tawa agar tidak terdengar oleh Dira.


Dira menghela nafas, menghitung maju dari satu sampai tiga dan....


" Kuingin slaaaaaa....manya... mencintaiiiiii... wuanjaiiiiii... tinggi banget sih nadanya," Dira mengumpat kesal.


Elang kembali menutup mulutnya. Tawanya hampir meledak tapi sebisa mungkin Elang menahannya. Elang sampai bersembunyi di balik pohon mangga, membenamkan wajahnya pada batang pohon mangga agar tawanya tak terdengar oleh Dira.


sssstt....


sssttt...


Elang berhenti tertawa ketika merasakan seseorang menyenggolnya. Ia menoleh ke belakang dan dilihatnya Ara berdiri dengan tangan yang memegang sebuah ember berisi air kembang.


" Kau mau apa, sayang?," bisik Elang di telinga Kiara.


" Mau nyembuhin Kadir. Kadir sejak kemarin kumat," ucap Kiara balik berbisik di telinga Elang.


" Nggak tahu, tiba-tiba aja kumat nyanyi nggak jelas di dalam tenda. Udah ya.. Ara samperin dulu."


Kiara berjalan mengendap-endap dengan tangan yang membawa ember berisi air kembang. Air kembang itu diperoleh Kiara dari salah satu maidnya yang ia tugaskan untuk mencari obat untuk Dira. Maid tersebut mendatangi orang pintar dan dia diberi kembang tujuh rupa untuk direndam dan dimandikan pada Dira.


Kiara menghampiri Dira yang masih setia bernyanyi . Posisi Kiara saat ini tepat di belakang Dira. Kiara menarik nafas dalam-dalam, memanjatkan doa seperti apa yang dikatakan maidnya.


" Direlung jeng...jeng...jeng...


sukmaku jeng... jeng... jeng....


Ku melabuhkan sluruh cintakuuuuu...


Di hembus jeng... jeng...jeng...


nafasku jeng.... jeng... jeng...


Ku abadikan sluruh kasih dan sayangku**uuuuu....."


Byurrrrrr.......


Kiara langsung membuang embernya dan bergerak mundur. Sedangkan Elang, kini tawanya tak bisa ditahan lagi. Ia terpingkal-pingkal melihat calon kakak iparnya basah penuh dengan bunga dan irisan daun pandan.


" Sialan....!!!! Ini apaa lagi sih????!!!!," teriak Dira.


Dira membersihkan kepalanya yang penuh dengan kembang tujuh rupa. Serangan mendadak yang ia terima tentu saja membuatnya basah kuyup. Ditambah lagi aneka kembang tujuh rupa dan irisan daun pandan yang sukses membuat penampakan Dira tak beraturan.

__ADS_1


Dira meludah berkali-kali, membuang sisa-sisa daun pandan yang masuk ke mulutnya. Berkali-kali Dira mengusap bibir dan wajahnya, membersihkan benda-benda yang menempel disana.


" Asem lu ya!!!," mulut Dira tak henti mengumpat, melihat Kiara yang berdiri mematung dengan bibir komat-kamit layaknya sedang membaca mantra.


" Lu udah nggak waras apa? sampai nyiram beginian ke gue?," teriak Dira.


Kiara kembali mundur beberapa langkah. Ia memperhatikan reaksi Dira setelah disiram air kembang olehnya.


" Kiarang sarang burung!!!! Lu denger nggak gue ngomong????," teriak Dira lebih tinggi lagi.


" Gue denger. Nggak usah teriak-teriak gitu, Kadir."


" Jelasin ke gue kenapa lu nyiram gue sama air beginian?."


" Ya buat ngobatin elu lah."


" Lu pikir gue kesambet?," potong Dira cepat.


" Emang iya, lu kesambet dan gue nggak tau lu kesambet dimana."


Dira menjitak kepala Kiara, menghimpit leher Kiara dalam ketiaknya. Dira benar-benar kesal dengan tingkah adiknya itu. Ada saja tingkahnya yang membuat Dira emosi. Andai saja tidak ingat umur, pasti Kiara sudah habis ia gantung di pohon mangga.


Melihat Kiara dalam keadaan terhimpit, Elang segera berlari menghampiri mereka. Dira seketika membeku melihat kedatangan Elang.


" Oh my god!!! Sejak kapan Elang disini?," tanya Dira kaget setengah mampus.


" Elang sudah disini sejak lu nyanyi-nyanyi nggak jelas kayak orang kesurupan," jawab Kiara.


Dira menepuk jidatnya. Ia merasa malu, malu sekali pada calon adik iparnya itu. Pasalnya akibat ulah Kiara yang menyebalkan ini membuat Elang melihat keadaan Dira yang kacau balau tak beraturan dan itu benar-benar merusak citranya sebagai presdir paling tampan dan rupawan versi dirinya sendiri.


" Maaf, Abang. Tadi Elang mau jemput Ara buat foto prewed. Tapi.....,"


" Sudah!!!! Sana berangkat!!! Jangan bikin gue tambah emosiiiiii...!!!!," potong Dira cepat.


Elang menelan ludahnya, melihat Dira dengan raut wajah penuh amarah dan kembang tujuh rupa tentu saja membuatnya bergidik. Elang segera menarik tangan Kiara agar pergi.


" Eh... Sayang Tunggu!," pinta Kiara.


Ia berlari kembali mendekati Dira, mengambil sesuatu dalam sakunya dan melemparnya pada Dira.


" Asemmm...!!! Lu malah ngelemparin gue ama garam grosok. Mau lu apa sih???."


Elang segera berlari menghampiri Kiara. Niat hati ingin tertawa lagi apa daya mulut tak bisa. Elang harus bertindak cepat jika tidak ingin calon istrinya kenapa-napa.


" Maaf ya Abang. Aduh Ara kenapa Abang Dira di lemparin garam?," tanya Elang sembari memeluk Ara agar berhenti bertindak lagi.


" Kata maid Risa biar setannya cepat keluar," ucap Kiara polos.


" Apa???!!!!! Lu masih mikir gue kesurupan??? Sialan banget sih lu," Dira kembali emosi.


Elang segera bergerak, memberi tanda dengan kedua tangannya pada Dira agar sabar. Dira menarik nafas, mengikuti arahan Elang. Andai saja tidak ada Elang pasti Dira kehilangan kontrol. Dira bisa saja menjambak Kiara dan menyeretnya sampai ke luar rumah atau menceburnya ke dalam sumur milik Pak RT.


" Elang, cepat bawa si sarang burung ini pergi! Jangan sampai gue emosi lagi," perintah Dira.


" Ba... baik, Abang," ucap Elang seraya kembali menarik tangan Kiara.


Elang dengan segera membawa pergi Kiara menjauh dari Dira. Meskipun Kiara sempat tidak mau pergi, Elang berhasil membujuknya dengan janji akan memgajak Ara wisata kuliner setelah mereka melakukan foto prewed. Tentu saja ajakan Elang ini langsung diiyakan oleh Ara.


Kini tinggal Dira yang berdiri dengan keadaan yang masih berantakan. Dia berjalan menuju tenda, mengambil ponselnya yang tadi memang ia letakkan di sana.

__ADS_1


" Halo, Edward. Mereka akan melakukan foto prewed. Bergeraklah! Lakukan sesuai rencana!," perintah Dira melalui sambungan telepon.


Dira mematikan sambungan teleponnya dan melangkah gontai masuk ke dalam rumah. Ia perlu dengan segera membersihkan badannya agar kembali tampan dan rupawan seperti sedia kala.


__ADS_2