
Kiara merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya yang berbunyi layaknya sedang konser dangdutan. Ia membuka mata perlahan, hendak bangun untuk memberi makan cacing-cacing yang berdemo di perutnya. Kedua matanya langsung membola melihat sosok yang tengah terlelap di hadapannya.
Kiara melirik ke arah perutnya, pantas saja ia merasa tertindih karena tangan Elang yang memeluknya dengan erat. Kiara mencoba memutar tubuhnya sehingga membelakangi Elang. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Elang terusik dengan pergerakannya. Kiara dapat bernafas lega karena Elang ternyata tetap terlelap dalam tidurnya.
Kiara melihat sebuah arloji di atas nakas. Ia mengambil arloji itu dengan perlahan. Kedua matanya kembali membola ketika melihat arloji itu menunjukkan pukul 10 malam. Pantas saja perutnya keroncongan. Kiara belum mengisi perutnya sejak siang. Artinya ia melewatkan dua kali jatah makan siangnya.
Kiara memindahkan tangan Elang dengan perlahan. Ia bangkit dan turun dari ranjang king size yang penuh dengan taburan bunga mawar. Kiara mengernyitkan dahi, seingatnya ia tadi tidur di ruang ganti. Mengapa sekarang sudah pindah kamar? Pasti seseorang memindahnya saat tidur.
Kiara berjalan perlahan menuju koper, membuka perlahan dan mengacak-ngacak isinya. Ia mengambil handuk dan baju ganti karena saat ini ia masih menggunakan gaun pengantin.
Setelah menemukan semua yang ia perlukan, Kiara bergegas ke kamar mandi. Tak peduli ini sudah malam, Kiara tetap akan mandi untuk membuat badannya tetap segar. Kiara tak lupa mengunci kamar mandinya untuk mengantisipasi jika nanti ada yang masuk saat ia sedang asyik mandi.
"Aku pikir kau kemana, Sayang?" tanya Elang ketika Kiara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya.
Elang menepuk kasur di sebelahnya sebagai kode agar Kiara duduk di sana. Kiara menghela nafas. Ia melangkah mendekati kasur dan segera duduk di tempat yang disuruh Elang.
"Sini Elang bantu mengeringkan rambutnya" ucap Elang.
Elang membuka handuk di kepala Kiara dan mulai menggosokkan handuk itu pada rambut Kiara yang basah. Hening, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Entah karena malas bicara atau bingung mau membahas apa.
Elang meletakkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut Kiara di bahunya. Elang mulai menyisir rambut Kiara dengan jari tangannya. Sesekali Elang m e n c i u m rambut panjang istrinya itu, merasakan wangi strowberry yang tercium oleh indra penciumannya.
Elang memeluk Kiara dari belakang, memajukan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada pipi Kiara. C i u m a n Elang turun, menjelajahi leher jenjang Kiara sambil sesekali menjilat dengan lidah jahilnya.
"Auuuwwwww" Elang mengaduh ketika Kiara tiba-tiba Kiara menjewer telinganya.
Elang secara spontan melepas pelukannya sehingga Kiara terbebas. Kiara segera bangkit dari tempat tidur mereka, berdiri memasang kuda-kuda agar Elang tidak mendekatinya.
"Sayang, kenapa Elang dijewer?" tanya Elang tak mengerti. Hampir saja ia menciptakan momen romantis dengan istrinya untuk memulai malam pertama mereka.
"Geli!!! Sejak kapan Elang jadi kucing? main jilat-jilat aja" teriak Kiara kesal.
Kiara melangkah ke meja rias, mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya dengan cepat. Perutnya sudah berdemo semakin galak. Ia harus bergegas keluar mencari restoran terdekat dari tempat ini atau paling cepat mencari abang-abang penjual makanan yang siapa tahu sedang mangkal di sekitar sini.
"Sayang, mau kemana?" tanya Elang ketika melihat Kiara sudah berdiri di depan pintu. Tangannya memegang kenop pintu pertanda istrinya itu akan keluar dari kamar mereka.
"Makan, Kiara lapar" ucap Kiara kemudian langsung melesat kabur dari kamar. Ia juga mengambil kunci kamar dan mengunci Elang dari luar.
Kiara segera melangkah ke luar hotel, melewati lorong yang sepi. Sedikit merinding. Tapi Kiara terus melangkah demi meredakan amukan cacing-cacing di perutnya.
"Kiaraaaa..... mau kemana?"
Kiara berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang. Nampak Edo sedang berlari mendekat ke arahnya.
"Mau kemana? ini sudah malam" tanya Edo lagi.
"Kiara lapar, Om. Mau beli makanan" ucap Kiara. Ia sedikit merasa canggung berinteraksi berdua dengan Edo.
"Elang kemana?"
"Tidur. Kiara nggak tega buat bangunin Elang" ucap Kiara berbohong.
"Mau bertemu Mama? Nanti Om Edo pesankan makanan. Kiara bisa makan di kamar bersama Mama" ucap Edo.
Kiara mengangguk. Tawaran Edo tidak buruk juga mengingat dia juga tidak tahu tempat ini. Belum tentu juga ia menemukan penjual makanan atau restoran dengan cepat. Kiara lebih baik menyetujui usulan Edo. Setidaknya ia juga bisa bersembunyi di kamar Widya. Syukur - syukur bisa sampai besok pagi.
__ADS_1
"Ayah... kau sudah kem... ba... li...?" tanya Widya tersendat ketika melihat Edo masuk bersama Kiara.
Kiara segera berlari memeluk Widya sehingga membuat Widya kebingungan dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi pada anak bungsunya ini.
"Kiara kenapa, Ayah? Kenapa dia dibawa kesini? Kemana Elang?" tanya Widya tak sabar.
"Kiara hanya lapar, Mama. Ayah sudah memesan makanan. Mungkin sebentar lagi akan diantar kesini. Masalah Elang. Elang sedang tidur. Mungkin ia kelelahan, Ma" ucap Edo memberi penjelasan mewakili Kiara.
Widya membawa Kiara agar duduk di sofa. Tak lama pesanan Edo datang. Edo segera menyerahkan beberapa bungkus makanan yang tadi ia pesan. Edo sengaja memesan empat jenis makanan karena ia memang tidak tahu makanan apa yang diinginkan Kiara.
Kiara membuka bungkusan makanan satu persatu. Ada nasi ayam bakar, nasi goreng, sate ayam dan mie goreng. Melihat berbagai macam makanan di hadapannya, Kiara langsung ngeces. Ia segera mencuci tangannya dan langsung melahap makanan itu tanpa menawari Edo dan Widya.
Widya merasa ngeri melihat Kiara yang sudah mirip orang yang tidak makan selama berhari-hari. Kiara melahap habis nasi bakar, sate serta setengah porsi nasi goreng. Widya menyodorkan air minum kepada Kiara dan tentu saja Kiara langsung meminumnya sampai habis.
"Kamu lapar sekali, Nak?" tanya Widya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Kiara.
"Kalau masih belum kenyang, habiskan saja semuanya" kata Edo kali ini dijawab gelengan kepala oleh Kiara.
"Tidak, Om. Kiara sudah kenyang. Sekarang Kiara sudah memiliki energi yang penuh untuk balas dendam" ucap Kiara. Ia meregangkan otot-otot jemari tangannya seraya menyeringai licik.
"Kiara... Kiara.. sayang... Kamu mau berbuat apa? Lebih baik Kiara kembali ke kamar ya, siapa tahu Elang sudah bangun" bujuk Widya.
"Tidak, Mama. Kiara harus bikin perhitungan dengan dalang drama rusuh yang dialami Kiara. Kiara tidak terima diperlakukan seperti ini" ucap Kiara penuh emosi.
"Kiara... Kiara.. mau bikin perhitungan apa? sudah ya, ini sudah malam. Kiara balik lagi ke kamar. Kasian Elang sendirian" bujuk Widya lagi.
Kiara mengacuhkan ucapan Widya. Ia bangkit dari sofa dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Widya.
"Tunggu Kiara!" panggil Edo.
Panggilan Edo sukses membuat Kiara berhenti. Edo berjalan mendekati Kiara dan menyodorkan sebuah kalkulator di hadapannya.
"Katanya mau bikin perhitungan. Ini kalkulator buat bantu menghitung. Om takut nanti kamu salah input" ucap Edo yang membuat Widya tergelak.
"Ayah apa-apan sih? Kenapa Kiara diberi kalkulator?" tanya Widya masih tertawa melihat tingkah suaminya itu.
"Biar nggak terlalu tegang, Ma. Oh iya memangnya Kiara sudah tahu siapa dalang yang Kiara maksud?" tanya Edo lagi.
"Sangat tahu. Ini pasti ulah anak sulung Mama kan? Kiara akan bikin perhitungan sama si Kadir. Mama sama Om Edo jangan ada yang nyusul Kiara" ucap Kiara kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar Widya.
Kiara menuju loby hotel. Ia menemui resepsionis untuk menanyakan dimana kamar yang ditempati Dira. Kiara juga meminta kunci cadangan dengan alasan, Kiara terlambat datang sehingga ia tidak bisa masuk ke kamar akibat Dira yang tidak dapat dihubungi.
Pihak resepsionis mengangguk dan memberikan kunci cadangan pada Kiara. Kiara berjalan dengan seringai menyeramkan di wajahnya.
Kiara berhenti di depan pintu kamar 105 sesuai info yang diberikan pihak hotel. Kiara membuka pintu kamar Dira secara perlahan dengan kunci yang ia punya.
Kamar yang ditempati Dira masih terang. Kiara bisa melihat dengan jelas sosok Dira yang sedang tidur telentang dengan mulut yang menganga.
"Enak saja kau tidur dengan nyenyak disini sedangkan aku sudah beberapa hari tidak bisa tidur" gumam Kiara sambil terus berjalan mendekati tempat tidur Dira.
Kiara berjalan perlahan mendekati tempat tidur Dira. Kebiasaan buruk Dira yang selalu membuang jas, dasi dan sepatunya sembarangan sungguh menguntungkan Kiara.
Kiara mengambil dasi dan sepatu milik Dira. Posisi Dira yang telentang memudahkan Kiara untuk mengikat kedua tangannya disisi kanan dan kiri tempat tidur. Kiara mengikat dengan kuat tangan Dira menggunakan tali sepatu yang sudah dilepaskan oleh Kiara.
Kiara kini beralih mengikat kedua kaki Dira menggunakan dasi. Ia benar-benar memastikan jika simpul yang ia buat benar-benar kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh Dira.
__ADS_1
Kiara naik ke atas kasur dengan tangan kanan memegang sepatu milik Dira. Dalam hitungan ketiga, Kiara mencekik leher Dira dengan tangan kirinya dan menyumpal hidung Dira dengan sepatunya.
"Eemmmhhhh.... emm... Tol..Tol..Toll... Tollong... "
Dira langsung membuka mata ketika lehernya terasa tercekik dan indra penciumannya menghirup aroma yang tidak bersahabat. Kedua matanya terbelalak melihat orang yang sedang melakukan aksi brutalnya kepadanya.
"Kir... Kir... sa...dar... Kir. Lu ma... u bu... nuh... gu..e?" ucap Dira. Ia masih berusaha memberontak tetapi percuma karena kedua tangan dan kakinya sudah diikat oleh Kiara.
"Gue emang mau bunuh lu, Kadirrrrr. Kakak laknat kayak lu, nggak pantas tidur dengan nyenyak malam ini" teriak Kiara masih terus mencekik leher Dira.
"Sa... sa... lah gue apa sih, Kir? Gu..e... gu..e.. le..pasin du.. lu .. na.. pa .. sih?" ucap Dira.
"Lu masih nggak ngerasa bersalah atas drama menyedihkan yang lu buat menjelang pernikahan gue???? dasar laknat lu, Kadirrrr" Kiara semakin gemas dan ia mulai mencakar wajah Dira dengan garang.
Brakkk...
Elang mendobrak pintu kamar Dira. Untung saja dia menelpon pihak hotel untuk membukakan pintu kamarnya. Elang langsung berlari mendekati Kiara yang masih terus mencakar wajah Dira.
"Sayangggg.... sudah ya jangan ngamuk. Sabar, sayang. Sabar" Elang menarik tubuh Kiara agar menjauh dari Dira.
Kiara tentu saja memberontak. Elang segera membalik tubuh Kiara dan menarik tengkuknya. Elang m e l u m a t habis bibir Kiara sambil terus mengungkungnya.
"Eh... eh... pasangan laknat. Kenapa malah c i u m a n di kamar gue???? Hellowwwww.... lepasin gue dulu lalu balik ke kamar kalian! Lanjutin di sana!!! " teriak Dira kesal.
Elang melepas ciumannya sembari menyengir di depan Kiara.
"Maaf ya, Sayang. Elang kelepasan. Maklum lagi panik" ucap Elang kemudian menarik lagi tubuh Kiara dalam pelukannya.
"Maafin Elang ya, Abang...." ucap Elang tapi terputus karena Kiara menutup mulut Elang dengan kedua tangannya.
"Nggak usah minta maaf. Seharusnya Kadir yang minta maaf sama kita" kata Kiara sambil melotot kepada Elang.
Elang langsung mencium kedua mata Kiara dengan cepat.
"Aduh... baru tadi siang di halalin udah bisa melotot aja nih mata. Sayang, nggak boleh ya melotot lagi sama Elang" ucap Elang yang membuat Kiara cemberut.
"Woy...Woy... Woy... Jangan mesra-mesraan disini! Sana balik ke kamar!" teriak Dira membuat Kiara langsung geram.
Kiara melempar kalkulator yang sejak tadi dipegangnya. Lemparan kalkulator Kiara tepat mengenai perut Dira. Dira mengaduh.
"Bunuh saja gue! Bunuh saja gue! Gue udah nggak kuat kalian siksa begini" ucap Dira kembali memainkan dramanya.
"Sudah dramanya! Jangan buat keributan malam-malam begini!" teriak Widya yang masuk ke kamar Dira bersama Edo. Widya langsung menjewer telinga Dira dengan gemas.
"Mamaeeee.... kenapa malah menjewer Dira? Kiara yang jahat" protes Dira yang diacuhkan oleh Widya.
"Kamu yang jahat. Kau berhutang penjelasan pada Kiara" bentak Widya.
"Penjelasan apa, Mamae?"
"Jelaskan semuanya pada Elang dan Kiara tentang apa yang kamu lakukan menjelang pernikahan mereka!" bentak Widya lagi.
"Dira nggak ngapa-ngapain, Mamae"
"Lu masih nggak mau ngaku ya?" Kiara sudah siap untuk mencakar wajah Dira tapi dengan cepat Elang mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Cepat ceritakan, Dira! Kalau kamu tidak mau mengaku juga. Mama akan polosin kamu, Mama pajang di depan hotel biar jadi tontonan gratis" ancam Widya membuat Dira langsung bergidik ngeri.
"Iya, iya.. Dira cerita. Tapi janji jangan marah" ucap Dira akhirnya mengalah.