Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 36


__ADS_3

Brakk....


Ale membuka pintu rumahnya dengan kasar. Ia masuk dengan wajah murung. Ale terus melangkah, menaiki anak tangga dengan menunduk. Ketika sampai di depan pintu kamarnya, Ale berhenti sejenak.


Klek....


Pintu kamar terbuka. Aisha muncul dan tentu saja dia kaget melihat suaminya berdiri mematung di depan pintu.


“Mas...? Kau sudah kembali? Bagaimana hasilnya?" tanya Asiha.


Ale tidak menjawab. Ia malah masuk ke kamar melewati Aisha begitu saja. Aisha mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan tingkah Ale yang mengabaikannya.


Aisha kembali masuk ke dalam kamar menghampiri Ale yang kini duduk bersandar di ranjang tempat tidur mereka.


“Mas... Ada apa? Mengapa wajahmu murung?” tanya Aisha.


Ale kembali tak menjawab pertanyaan Aisha. Ia sendiri bingung bagaimana harus bercerita pada Aisha.


“Kenapa? Temanmu itu tidak jadi menjadi investor di perusahaanmu?” tanya Aisha lagi dan Ale hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Tolong siapkan air hangat. Aku ingin mandi" ucap Ale.


Aisha menghela nafas. Ia segera turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Ale. Tak lupa Aisha menuangkan aromatherapi agar Ale merasa lebih tenang.


Meskipun Ale belum bercerita apa-apa pada Aisha, Ia yakin Ale sedang dalam keadaan kalut. Pikirannya pasti sedang ruwet. Aisha berharap badan dan pikiran Ale kembali segar setelah mandi.


“Air hangatnya sudah siap, Mas. Aku turun dulu mau membuat teh hangat untukmu” ucap Aisha yang di balas anggukan oleh Ale.


Aisha keluar dari kamar bersamaan dengan masuknya Ale ke dalam kamar mandi. Setengah jam berlalu dan Ale sudah menyelesaikan ritual mandi sekaligus melamunnya. Aisha masuk ke kamar mendapati Ale sudah rapi dengan pakaian santainya.


“Minum dulu, tenangkan pikiranmu!" Aisha menyodorkan cangkir berisi teh hangat yang baru dibuatnya.


Ale menghirup aroma harum teh melati buatan istrinya, meniupnya dan menyesapnya dengan perlahan. Benar kata Aisha, Ale merasa sedikit rileks. Ale kembali menyesap teh hangat itu dan menghabiskannya.


“Mau lagi?” tawar Aisha yang dibalas gelengan kepala Ale dengan cepat.


Aisha menuntun Ale keluar menuju balkon. Mereka duduk berdua menatap halaman samping di rumah mereka.


“Mas... ada apa? Sejak tadi kau belum menjawab satupun pertanyaanku. Ada apa? Ceritakan kepadaku!”


“Apa kau siap mendengarkannya?” tanya Ale karena sebenarnya Ale pun ragu mengatakan apa yang terjadi.


Aisha mengangguk.


“Keponakan Indra yang berniat menjadi investor di perusahaan adalah..."


Ale menarik nafas, keraguan kembali melanda hatinya. Ia melirik Aisha yang menatapnya, menunggu ucapan Ale selanjutnya.


“Kiara...”


Pranggg........


Aisha tanpa sengaja menyenggol vas bunga yang berada di meja. Ale kaget melihat reaksi Aisha.


“Kiara? perempuan itu?" tanya Aisha dengan suara gemetar.


“La...lalu?”


“Dia mengajukan syarat"


“Syarat? Dia tidak tulus membantumu? Dasar perempuan licik!” maki Aisha geram.


“Lalu apa syarat dari perempuan licik itu, Mas?”


“Syaratnya......”


“Apa??? Cepat katakan!!!” bentak Aisha tidak sabar menunggu jawaban Ale.


“Aku harus menikahinya"


“Apa???!!!”

__ADS_1


Aisha terpekik mendengar ucapan suaminya. Bagaimana mungkin Kiara meminta syarat seperti itu??? Dia benar-benar keterlaluan!!!


“Aku juga tidak mengerti jalan pikirannya. Dia masih muda, cantik, dan mapan. Dia bisa mendapatkan laki-laki lajang manapun yang ia mau. Aku sudah mengatakan agar ia kembali saja pada Elang. Tapi dia berkata tidak punya cinta untuk Elang”


Aisha bangkit.


“Mau kemana?”


“Aku harus menemui perempuan itu!!!”


“Untuk apa, Aisha?”


“Aku harus menampar otaknya agar kembali waras. Aku rasa dia mengalami konslet parah” ucap Aisha kemudian bergegas keluar kamar.


Aisha mengambil tas selempangnya dan berlari keluar kamar mereka. Ale mengejar Aisha dan berusaha mencegah langkahnya.


“Jangan halangi aku!" Aisha menghempaskan tangannya ketika Ale berhasil mencekalnya.


Aisha mengambil kunci mobil Ale dan segera berlari menuju mobil. Aisha masuk dan segera mengunci semua pintu mobil. Ale terlambat mengejar Aisha. Aisha sudah menyalakan mobil. Ale menarik gagang pintu mobil dan tentu saja ia tidak bisa membukanya.


Aisha memundurkan mobilnya perlahan. Ale mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. Namun, Aisha tidak mengindahkannya. Ketika sudah berada dalam posisi yang tepat, Aisha segera menginjak pedal gas meninggalkan Ale.


Ale menjambak rambutnya. Ia berlari keluar dan mencari taksi. Sialnya bagi Ale, tidak ada taksi yang lewat di depannya. Ale semakin kesal dibuatnya.


“Bodoh!!!" umpatnya.


Ale segera mengambil ponselnya dan memesan taksi online. Dijaman serba online seperti ini Ale malah memakai cara manual. Bagaimana dia tidak memaki dirinya sendiri berkali-kali?


Taksi pesanan Ale datang. Tanpa ba bi bu lagi Ale segera masuk dan menyuruh sopir mengantarnya menuju perusahaan Kiara.


Di tempat lain, Aisha sudah sampai di perusahaan Kiara. Aisha sudah hafal karena dia dulu sering diajak Ale datang ke perusahaan itu yang mereka pikir milik Indra.


Aisha keluar dari mobil dan meninggalkannya begitu saja. Teriakan satpam yang memanggil- manggil Aisha, tidak ia hiraukan. Aisha berjalan cepat menuju meja resepsionis.


“Aku ingin bertemu dengan Kiara. Antarkan aku ke ruangannya!” perintah Aisha dengan nada sedikit membentak.


Resepsionis yang sedang berjaga sedikit kaget dengan kedatangan Aisha yang tiba-tiba.


Aisha mengingat-ingat di mana letak ruang presdir. Seingatnya ruangan itu berada di lantai paling atas. Dulu Indra berada di ruangan itu ketika menjadi presdir. Aisha yakin Kiara berada di ruangan yang dulu dipakai oleh Indra.


Aisha menekan tombol lift dan segera memencet angka 10, lantai paling atas. Ting... pintu lift terbuka. Aisha segera keluar dan mencari ruangan presdir.


Aisha melihat perempuan berwajah bule duduk fokus menatap laptop. Aisha ingat perempuan itu pernah dilihatnya ketika di Labuan Bajo. Perempuan yang selalu menguntit Kiara kemanapun Kiara pergi.


“Heii, aku ingin bertemu dengan atasanmu!!!”


Olive kaget melihat seseorang yang mengebrak meja kerjanya. Ia mengernyitkan dahi karena sebenarnya ia tidak paham dengan ucapan Aisha.


“Kau tuli ya??? Aku ingin bertemu Kiara...!!!” teriak Aisha lagi.


“Excuse me! Can you speak English?” tanya Olive


Aisha mendesah. Ia berlalu meninggalkan Olive dan bergegas menuju ruangan presdir. Olive kaget melihat tingkah tamu di hadapannya. Ia segera bangkit dan melangkah cepat untuk menghalangi Aisha.


Aisha mendorong Olive. Rupanya emosi yang mendidih memberikan energi ekstra untuk Aisha. Olive terjatuh dengan sekali dorongan.


Braakkkk...


Aisha membuka pintu dengan kasar. Tatapannya langsung tertuju pada seseorang yang tengah duduk di kursi yang dulu di tempati Indra.


“Kau???” ucap Kiara.


Olive masuk dengan langkah tertatih.


“Maaf, Nona Kiara. Saya sudah berusaha mencegahnya tetapi perempuan ini"


“Sudahlah, Olive! Kau kembalilah bekerja. Biarkan saja dia masuk” perintah Kiara yang dibalas anggukan oleh Olive.


Aisha melangkah mendekati Kiara. Ia mengepalkan tangannya. Ingin rasanya Aisha segera menyerang Kiara membabi buta.


“Mau apa?” Pertanyaan Kiara berhasil membuat Aisha berhenti melangkah.

__ADS_1


“Aku tidak mau mempersilakan kau duduk karena kau tidak tahu sopan santun”


“Kau yang tidak tahu sopan santun!!!” tangan Aisha menunjuk wajah Kiara.


Kiara membuang ludah.


“Berani sekali kau menunjuk wajahku? Apa kau sudah bosan hidup?”


“Untuk apa aku takut? Kau tidak lebih dari perempuan murahan yang suka merebut suami orang!!!”


Kiara tertawa menyeringai. Ternyata Aisha sudah mulai menunjukkan taringnya. Kiara sepertinya harus bermain lebih panas lagi dengan Aisha. Karena ia sangat menyukai Aisha yang penuh dengan emosi seperti sekarang.


“Kau yang merebut Mas Ale dari aku”


“Mana mungkin? Aku lebih dahulu bersama Ale"


“Sok tahu! Aisha... Aisha... harusnya aku memberimu kaca. Kau tidak pantas bersanding dengan Ale. Apa yang bisa dibanggakan Ale ? cantik tidak. Sexy tidak. Subur juga tidak" ucap Kiara disertai tawa kencangnya.


Aisha menggigit bibirnya.


“Mas Ale sudah lama menginginkan anak dan kau belum bisa mengabulkannya hingga detik ini. Kau sebagai istri memang tidak berguna. Perusahaan Ale bangkrut, kau tidak bisa membantu. Ale menginginkan anak, kau tidak bisa berikan. Lalu mengapa kau marah kepadaku yang menawarkan semua hal yang tidak bisa kau berikan?"


Aisha melangkah mendekati meja Kiara. Ia melayangkan tangan kanannya hendak menampar pipi Kiara.


Prangg


Kiara berhasil menahan tangan Aisha dan berhasil menghempaskannya hingga menyenggol vas bunga di meja Kiara. Tangan Aisha terluka.


Olive yang mendengar suara benda pecah dari ruangan Kiara segera berlari dan masuk bersamaan dengan Indra yang datang bersama Ale.


“Nona...!!!” teriak Olive.


Olive hendak berlari tetapi ditahan oleh Kiara yang memberinya isyarat untuk diam.


“Ara, apa yang kau lakukan pada Aisha?” tanya Ale yang berlari mendekati Aisha.


Ale panik melihat punggung tangan Aisha berdarah. Ale mengambil sapu tangan di sakunya dan segera mengikatkan pada tangan Aisha agar darahnya berhenti.


Kiara cemburu melihat pemandangan di hadapannya. Ingin sekali ia menarik Ale agar menjauh dari Aisha. Kiara kesal melihat Ale yang sangat perhatian terhadap Aisha.


“Kiara... apa yang terjadi?" tanya Indra.


“Perempuan gila ini mengamuk di ruanganku” ucap Kiara.


“Apa??? Kau bilang aku perempuan gila? kau yang gila meminta suamiku menikahimu" ucap Aisha yang tentu saja membuat Indra kaget.


“Apa maksudmu, Aisha?" tanya Indra tak mengerti.


“Dia! Keponakanmu yang gila itu mau menjadi investor jika suamiku mau menikahinya"


“Apa? Kiara, apa yang dikatakan Aisha itu benar?" tanya Indra dengan sedikit membentak.


“Tidak perlu berteriak kepadaku! Apa kau sudah bosan bekerja disini hah?" bentak Kiara tak kalah sengit dengan bentakan Indra.


“Sebaiknya kalian keluar dari ruangku. Olive bawa mereka pergi!”


“Kiara, Paman belum selesai berbicara denganmu”


“Aku tidak mau membahas itu, Paman. Sekarang kalian semua keluar!”


Olive yang memahami jika atasannya sedang emosi segera menjalankan perintahnya. Ia dengan sopan meminta Ale, Aisha dan Indra untuk keluar. Saat ini Kiara memang tidak bisa diajak bicara. Olive akan membiarkan Kiara sendiri dan mengajaknya berbicara setelah Kiara agak tenang.


“Alex, apa benar apa yang dikatakan istrimu?" tanya Indra ketika mereka sudah keluar dari ruangan Kiara.


Ale mengangguk.


“Apa? Kiara benar-benar sudah tidak waras!”


“Sudahlah, Indra. Sebaiknya aku pamit. Maaf sudah membuat kekacauan di tempatmu" ucap Ale menjabat tangan Indra.


Ale segera mengajak Aisha pergi meninggal perusahaan Kiara. Mereka masuk mobil dengan Ale sebagai pengemudi. Mereka pulang dalam diam. Tak ada obrolan sepanjang perjalan pulang. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2