
Haii reader yang author cintai, pasti udah gregetan nungguin episode selanjutnya. Berhubung part ini sangat panjang. Jadi Author bagi menjadi tiga part yang langsung di up dalam satu waktu.
Author ucapkan banyak terima kasih bagi pembaca setia karya pertamaku. Jauh dari kata sempurna, tapi setidaknya ini yang bisa Author berikan. Terima kasih dukungannya ya.. lope lope dari othor.
______****________
"Aku mengubah konsep pemotretan hari ini" ucap Rio ketika Evan, Olive dan Kiara kembali dari ruang ganti. Kini Kiara kembali memakai gaun pengantin yang semula ia tolak karena tidak menyukai modelnya.
"Maksudmu, Boy?" tanya Evan kaget.
"Konsep pernikahan impian yang kau bawa tidak sesuai dengan keadaan model yang kau tunjuk. Apa kau tidak melihat modelmu, Evan? Lihatlah dia sedang terluka. Jika kau memaksakan konsep awalmu maka jangan harap hasilnya memuaskan" ucap Rio menusuk.
Terlihat sekali jika Rio sedang dalam mode kesal, senyumnya hilang berganti dengan wajah masam dan tak bersemangat. Rio sepertinya enggan untuk melanjutkan sesi pemotretan setelah melihat hasil-hasil pemotretan awal.
"Jujur saja aku tidak melihat aura kebahagiaan dari model pengantinmu. Sekilas foto ini tampak sempurna. Namun, jika kau teliti lebih jauh kau akan melihat duka yang terpancar dari wajah sang pengantin" ucap Rio lagi sembari memperlihatkan hasil jepretan kameranya pada Evan.
"Lalu apa idemu, Boy?" tanya Evan setelah ia lama terdiam mengamati foto-foto Kiara.
"Menampakkan sesuatu yang tak seharusnya ditutupi. Modelmu sedang terluka jadi aku akan membingkai luka di hatinya dalam bidikanku" ucap Rio membuat Evan berfikir sejenak dan akhirnya mengangguk setuju.
"Lakukanlah yang terbaik, Boy! Setidaknya jangan membuatku digantung atau hilang ditelan bumi esok hari" ucap Evan.
Rio mengangguk dan bergegas menghampiri Kiara yang sedang berbicara dengan Olive. Baik Kiara maupun Olive langsung terdiam melihat kedatangan Rio dengan wajah serius dan tanpa senyum. Tidak seperti biasanya, begitu batin Kiara.
"Aku langsung saja. Evan sudah menyetujui rencanaku yang akan mengubah konsep pemotretan kali ini" ucap Rio langsung pada intinya.
"Wajahmu yang terlihat murung serta hatimu yang sedang kacau tentu saja tidak bisa memunculkan aura baju pengantin jika memakai konsep awal Evan" lanjut Rio.
"Boy, mengertilah. Nona Kiara sedang...." ucap Olive mencoba membujuk tapi langsung dipotong oleh Rio.
"Sedang patah hati karena gagal menikah. Oleh sebab itu aku akan mengabadikan bagaimana hancurnya Kiara hari ini dalam bidikan kameraku" ucap Rio berapi-api.
"Kau kejam sekali, Boy!..." belum sempat Olive melanjutkan kata-katanya, Kiara memberikan kode agar Olive diam.
Apa yang dikatakan Rio memang benar. Dirinya saat ini dalam keadaan gundah. Kiara benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia bersikap profesional tidak mencampurkan urusan hati dalam pekerjaannya. Apalagi pekerjaan ini melibatkan banyak orang. Kerja keras mereka pasti sia-sia karena dirinya seorang.
"Maaf, Rio jika aku mengecewakanmu" ucap Kiara sambil menunduk.
__ADS_1
"Sudahlah Kiara. Dari pada kau terus merasa bersalah, lebih baik kita lanjutkan pekerjaan ini. Sekarang kau ikuti arahanku. Berjalanlah perlahan menuju pantai. Berhentilah sesekali dan tunjukkan seberapa sedih hatimu saat ini" ucap Rio.
"Aku akan membuat video pendek juga. Jadi jaga fokusmu. Tidak usah merasa terganggu dengan kamera yang akan terus mengikutimu" ucap Rio lagi.
Kiara mengangguk. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Kakinya mulai melangkah ketika indra pendengarannya menangkap sinyal aba-aba dari Rio. Melangkah sambil melamun, itulah yang dilakukan oleh Kiara sekarang.
Alunan musik tiba-tiba saja terdengar mengiringi langkah Kiara menuju pantai. Lagu ini tidak asing di telinganya. Kiara memejamkan mata, membangun emosi yang akan ia tampakkan. Sesak, begitulah suasana hati yang akan Kiara bangun.
"Stop! Stop! Stopppp........!" teriak Rio membuat semua orang yang berada di tempat itu kaget.
"Ekspresimu kurang menyedihkan. Lakukan sekali lagi" ucap Rio ketus.
Kiara mengangguk. Ia kembali melangkah setelah terdengar aba-aba dari Rio. Namun, baru lima langkah Kiara bergerak. Rio kembali berteriak menyuruhnya berhenti.
"Kiaraaaa.....!!! Bisakah kau lebih serius lagi hah? Ini hanya adegan berjalan belum yang lainnya. Actingmu buruk sekali" umpat Rio berteriak.
Evan segera berlari menghampiri Rio yang sedang naik darah. Tidak biasanya Rio bersikap seperti ini. Rio bahkan tidak pernah terpancing emosi selama bekerja dengan Evan.
"Kau kenapa, Boy? Berani-beraninya kau membentak bosmu!" tegur Evan.
"Hei, jaga ucapanmu!" bentak Evan.
"Apa yang harus ku jaga jika ucapanku benar adanya? Hei Kiara apa sih maumu? Kenapa dari tadi tidak fokus?" tanya Rio membombardir Kiara.
Kiara tidak berani menjawab. Jujur ia juga bingung dimana letak kesalahannya hingga membuat Rio marah seperti ini.
"Kau butuh mempelai pengantin pria. Iya kan?" tanya Rio dengan senyum mencibir ke arah Kiara.
"Boy, jangan mulai lagi! Kau pasti ingin menjadi mempelai pengantin pria nya" ucap Evan seolah mengerti jalan pikiran Rio.
"Salah! Bukan aku tapi...." ucap Rio terputus.
Tiba-tiba angin pantai yang tenang berubah bergemuruh kencang seperti akan terjadi badai atau angin topan. Entah bagaimana mulanya bisa datang angin ribut seperti ini sedangkan langit masih cerah tidak mendung sedikitpun.
Evan berteriak menyuruh semua orang yang berada di tempat itu untuk segera berlari. Namun, karena pandangan mereka terhalang oleh pasir yang berterbangan membuat mereka memilih untuk berjongkok sambil memejamkan matanya.
Tak lama terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kiara berusaha membuka sedikit matanya, ingin melihat apa yang terjadi. Ia langsung membeku ketika melihat beberapa helikopter perang berputar mengelilingi mereka.
__ADS_1
Helikopter itu terbang landai, berputar mengelilingi tempat Kiara berada. Putaran baling-baling helikopter inilah yang menimbulkan angin ribut dan suara yang memekakkan telinga.
Kiara meraba-raba kakinya. Sial, sejak tadi dia tidak beralaskan kaki. Andai saja ia memakai heels, pasti Kiara bisa melempari helikopter itu dengan heels layaknya kepala Dira yang selalu menjadi korbannya. Memang tidak mungkin juga Kiara memakai heels di tempat berpasir seperti ini. Selain tidak cocok dengan lokasi, memakai heels bisa membuatnya susah berjalan bahkan cedera.
Dor... Dor... Dor...
Seseorang berdiri di pintu masing-masing helikopter, menggunakan jaket pengaman, helm dan kacamata terbang. Mereka memegang senapan laras panjang yang di arahkan ke udara. Suara tembakan bersahutan, meninggalkan jejak-jejak peluru di pasir. Sungguh Kiara merasa sangat ketakutan saat ini. Ingin berlari tapi tidak bisa. Gaun sialan Evan benar-benar membuatnya mati kutu.
Dor.... dor... dor...
Suara tembakan kembali terdengar dan beberapa detik kemudian helikopter itu terbang agak tinggi dari posisi awal. Helikopter itu berpencar, tersisa satu yang terus berputar mengelilingi Kiara. Perlahan, helikopter itu terbang meninggi.
Setelah berada di posisi yang statis, seorang laki-laki muncul dan
hap...
Orang itu terjun dari helikolter, ia melayang di udara. Laki-laki itu segera membuang parasut kecil untuk membuka canopi utama atau parasut besar.
Tap...
Penerjun itu mendarat dengan sempurna. Ia mendarat agak jauh dari posisi Kiara hingga Kiara tidak bisa melihat dengan jelas wajah penerjun itu.
Setelah pendaratan sempurna yang dilakukan penerjun itu, beberapa orang datang membantu melepaskan peralatan terjun payung yang melekat pada tubuhnya. Entah kapan orang-orang itu berada di lokasi ini. Kiara tidak menyadarinya.
Penerjun itu melepas peralatan terjun payungnya. Ia mengganti pakaiannya dengan setelan jas hitam yang dibawakan oleh salah satu orang yang datang menghampirinya. Penerjun itu merapikan dandanannya mulai dari rambut, baju dan celana.
Setelah dirasa sempurna, penerjun itu berjalan perlahan menuju posisi Kiara yang masih mematung melihat apa yang terjadi. Tubuh Kiara langsung menegang ketika kedua netranya menangkap dengan jelas sosok yang sedang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu berjalan dengan gagahnya, menampilkan senyum menawannya di hadapan Kiara.
" Elang....." panggil Kiara lirih
(Noh si Elang udah muncul. )
__ADS_1