
" Hello, Jakarta! Akhirnya aku sampai juga di sini. Mari kita lihat bagaimana takdir mempertemukan kita...."
*
*
*
*
" Ku ingin kau tahu.... Diriku disini.. menanti dirimu ...."
Kiara terlonjak kaget ketika mendengar suara sumbang dari halaman belakang. Niat hati ingin tidur siang mumpung hari libur, tapi apa daya polusi suara mengganggu tidurnya.
Kiara segera bangkit dari tidurnya, melangkahkan kakinya dengan cepat. Hatinya penasaran siapakah yang berani mengganggu tidur siangnya.
" Dan izinkan akuuuu..... memeluk dirimu... sekali iniiiiii.... saaajaaaa..."
Kiara menghela nafas ketika melihat makhluk yang sedang duduk di depan tenda sambil memeluk buku. Makhluk itu bernyanyi sambil sesekali melihat buku yang Kiara yakini adalah catatan lirik lagu yang ia nyanyikan. Kiara bisa melihat makhluk itu mencoba menghayati lagu. Namun sayang, suaranya yang sumbang tidak mendukung.
Kiara melangkah mendekati tenda. Ia sedikit heran sejak kapan ada tenda di halaman belakang? Seingat Kiara di halaman belakang rumahnya hanya ada taman. Kemarin Kiara masih belum melihat tenda itu. Entah kapan tenda itu dibangun. Kiara juga tidak peduli dengan hal itu.
" Huwooooooo..... Haaa aaa... aaa...aaaaaaa. Haa....ha....ha... haha...haha...haha..."
Dira yang semula bernyanyi menghayati lagu berubah menjadi tertawa akibat Kiara yang mengelitik pinggangnya. Dira tak berhenti tertawa hingga mengeluarkan air mata.
" Hentikan, Kiara! Geli....!," Dira terus bergeliat, menghindari jari-jari tangan Kiara yang terus mengelitiknya.
" Stop! Stop! Stop Kiara!."
Kiara menghentikan aksinya. Dia menatap Dira sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Dira yang sedari tadi tertawa geli kini mulai mereda. Ia menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi kedua matanya.
" Lu kenapa? sakit?," tanya Kiara sembari menempelkan telapak tangannya di dahi Dira. Dira menepis tangan Kiara dengan kasar.
" Apaan sih Lu?," bentak Dira.
" Gue mau ngecek badan lu panas apa nggak."
" Gue sehat, nggak sakit. Lu apa nggak bisa ngebedain orang sehat ama orang sakit?," tanya Dira kesal.
Dira masuk ke dalam tenda diikuti dengan Kiara di belakangnya. Dira mengernyitkan dahi mengetahui adiknya juga mengikutinya ke dalam.
" Lu ngapain ngikutin gue masuk ke dalam tenda?," tanya Dira.
" Jaga-jaga takut lu kumat," jawab Kiara enteng.
" Kumat? Lu pikir gue nggak waras?," tanya Dira sembari melemparkan bantal ke wajah Kiara.
" Sialan lu, Kadir! Harusnya kan gue yang ngelempar tuh bantal," Kiara berdecak kesal.
__ADS_1
" Gantian lah," ucap Dira.
Dira mulai merebahkan badannya sembari memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Tak hanya kepala Dira yang bergerak, kaki kanan Dira juga ikut bergerak mengikuti gerakan kepalanya.
Kiara memperhatikan tingkah aneh kakaknya ini. Kiara mengingat-ingat apakah Dira salah makan atau salah minum obat. Kiara juga mengendus baju Dira, memastikan jika kakaknya ini tidak dalam keadaan mabuk.
" Dan izinkan akuuu... memeluk dirimu....."
Plak....
Plak...
" Kiara.... apaan sih?," ucap Dira kesal karena Kiara tiba-tiba menampar bibirnya.
" Gue kaget tau! Tadi reflek nampar bibir lu," ucap Kiara. Ia buru-buru mengelus-elus bibir Dira yang sedikit jontor akibat tamparannya.
" Kaget kok malah nampar bibir gue?," ucap dira mendengus kesal.
" Ya namanya kaget. Refleklah gue. Lagian lu juga tiba-tiba teriak. Gimana gue nggak kaget?," ucap Kiara membela diri.
" Enak aja lu bilang gue teriak. Gue lagi latihan nyanyi, dari tadi gue nggak apal-apal ama liriknya. Lu pakai acara ganggu gue aja," ucap Dira dengan mode kesal yang masih menyala.
" Lu waras? Buat apa lu latihan nyanyi?," tanya Kiara heran.
Cetass....
Dira menjentik dahi Kiara.
Kiara membola mendengar ucapan Dira.
" Apa??? Jadi beneran sebulan lagi? Jangan becanda, Kadirrrrr!!!!," Kiara memukul paha Dira.
" GUE KAN UDAH BILANG. LU AJA YANG NGGAK TANGGEP!!!!
" Lu pikir nikah nggak pakai persiapan? Banyak yang harus di urus. Kenapa harus bulan depan sih? Kenapa nggak tahun depan aja?," kini berganti Kiara yang mendengus kesal.
" Sarang burung, dengerin gue!!! Lu itu beberapa bulan lagi umur 25 tahun dan gue otomatis jadi 35 tahun. Kalau lu nggak nikah-nikah. Terus giliran gue kapan? Bisa-bisa anak gue masih bocah, gue udah ubanan."
" Ya... kalau gitu kenapa nggak lu duluan aja yang nikah?," tawar Kiara.
" Yaaaa... nggak bisa. Sesuai isi surat wasiat Papa. Gue baru boleh menikah setelah lu menikah dan harusnya lu gue nikahkan waktu umur 20 tahun."
" Whatt??? No...no...no!," teriak Kiara.
" Lu harusnya terima kasih sama gue. Kalau gue bener-bener menjalankan amanat Papa, Lu pasti udah gue kawinin paksa sama salah satu anak klien gue," ucap Dira sembari menepuk dada dengan bangga.
Kiara diam. Ia kehabisan kata-kata untuk membantah Dira.
" Mulai besok lu ambil cuti. Gue udah bilang sama Elang. Kalian segera fitting baju, cari undangan, foto prewed dan temui WO yang gue sewa untuk acara kalian. Gue nggak tau maunya kalian kayak apa? Mau nikahan konsepnya bagaimana? Kalian rembuk aja sendiri."
__ADS_1
" Lu seserius itu pengen gue cepet-cepet nikah?," tanya Kiara lirih.
Dira menghela nafas. Ia segera bangkit dari tidurnya dan duduk di samping adiknya. Dira memeluk Kiara, mengelus rambutnya dengan sayang.
" Lu kenapa masih ragu aja sih? Apa kurangnya Elang?," tanya Dira.
" Gue takut aja."
" Takut apa?,"
" Gue takut terluka," ucap Kiara sembari mengeratkan tubuhnya dalam dekapan pelukan Dira.
" Ingat kata-kata gue. Siapapun yang berani bikin adik gue terluka, dia bakal habis di tangan gue. Jangankan terluka, tergores sedikit aja gue bakalan nggak beri ampun."
" Kadirrr...."
" Hmmmmm???"
" Nanti setelah nikah, gue tinggal dimana?," tanya Kiara.
" Disini. Rumah ini jadi milik lu, sesuai amanat Papa."
" Lu disini juga kan?," tanya Kiara gelisah.
Dira melepas pelukannya. Ia paham akan kekhawatiran adiknya.
" Setelah Lu menikah, gue akan kembali ke New York," ucap Dira dengan nada berat.
" No! No, Kadir! Jangan tinggalin gue lagi!," pinta Kiara dan tentu saja saat ini Kiara mulai menangis.
" Gue harus kembali, jatah warisan gue harus di urus juga. Lagipula Lu kan ada Elang. Dia yang bakalan jagain lu," ucap Dira sembari menghapus air mata di pipi Kiara.
" Gue takut, Kadir."
" Nggak ada yang perlu lu takutin. Bukannya lu punya heels yang bisa bikin kepala bocor? Kalau Elang macam-macam kan bisa lu lempar pakai heels itu," kata Dira terkekeh.
" Lu sering-sering jalan sama Elang agar lu bisa nyaman sama dia. Sana lu bikin telepon si Elang. Ajak jalan-jalan! Habisin tuh uang calon laki lu," ucap Dira mengompori Kiara.
" Ngawur, Lu!," Kiara kembali memukul paha Dira.
" Elang kerja keras siang malam buat ngumpulin duit. Kalau bukan buat elu terus buat siapa? itu tugas lu buat ngabisin duitnya."
" Lu jangan ngajarin yang nggak bener. Duit gue aja nggak pernah gue habisin apalagi duit Elang."
" Ya karena semua kebutuhan lu udah gue penuhi. Udah sana lu pergi sama Elang. Gue mau latihan nyanyi lagi buat acara elu," ucap Dira sembari mendorong Kiara agar keluar dari tenda yang dibuatnya.
Kiara menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia segera melangkahkan kakinya menjauhi tenda. Selain ingin menelpon Elang untuk mengajaknya jalan, Kiara juga ingin menghindari polusi suara yang kembali dihasilkan oleh Dira.
" Sayang....... cepat jemput aku! Si Kadir lagi kumat."
__ADS_1
Klik.
Kiara mematikan ponselnya. Ia segera berganti baju dan bersiap-siap sembari menunggu Elang menjemputnya.