Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 52


__ADS_3

Hari ini Kiara kembali ke alun-alun kota karena merasa kesal dengan Dira dan Mamanya. Kiara memilih melampiaskan emosinya dengan membeli berbagai macam jajanan yang dijual pedagang disitu. Mulai dari pentol, sempol, telur gulung serta tahu petis. Kiara membawa semua belanjaannya dan duduk di bawah pohon seorang diri.


Kiara memakan jajanan yang ia beli dengan ganas. Ia meluapkan emosinya yang meletup-letup akibat ulah Dira yang memutuskan pertunangan antara Kiara dan Elang tanpa meminta persetujuannya.


"Ara..."


Kiara berhenti mengunyah jajanannya yang baru saja ia beli ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Kiara menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Kiara kembali memutar kepalanya. Baru saja emosi Kiara reda setengahnya, sosok Elang muncul di hadapannya. Laki-laki itu kembali menampakkan senyum menawan yang sialnya membuat rasa kesal Kiara meninggi.


"Aku duduk di sini?" tanya Elang yang tak dibalas Kiara.


Elang akhirnya mengalah. Ia duduk agak berjarak dengan Kiara yang malah melanjutkan menikmati jajanannya.


Elang tersenyum geli melihat tingkah Kiara yang baru pertama kali dilihatnya. Sadar diperhatikan oleh Elang, Kiara segera menoleh dan menatap tajam padanya.


"Kenapa lihat-lihat?" tanya Kiara ketus.


"Aku merindukanmu" ucap Elang membuat Kiara mencelos.


Kiara bangkit dari duduknya. Ia hendak melangkahkan kaki. Namun, Elang dengan cepat menarik tangannya sehingga membuat Kiara batal melangkah.


"Mau kemana?"


"Jajanku habis. Aku mau beli lagi"


"Aku temani"


"Terserah"


Kiara mulai melangkahkan kakinya, menghampiri kembali pedangan jajanan yang tadi sudah dibelinya.


"Aku tidak tahu jika sekarang nafsu makanmu meningkat" ucap Elang.


"Kau tidak pernah tahu apapun tentang aku, yang kau tahu hanya laptop dan teman-teman dunia mayamu" jawab Kiara ketus.


"Izinkan aku mengenalmu lebih jauh. Kita mulai dari awal. Aku berjanji tidak akan membuatmu kembali terluka karena sikapku"


"Aku tidak mengizinkan"


" Ara....."


Kiara membalikkan badan dan dengan cepat Elang memeluk Kiara dengan erat. Kiara membeku. Kiara bisa mendengar bagaimana detak jantungnya berdegup kencang. Sama halnya dengan Elang yang tak lagi bisa membuat detak jantung normal seperti tadi.


"Lepaskan, Elang. Ini tempat umum. Aku tidak mau menjadi tontonan banyak orang" ucap Kiara yang tentu saja membuat Elang langsung melepas pelukannya.


Kiara segera membayar jajanannya dan pergi berlari meninggalkan Elang. Dengan cepat Elang berlari mengejar Kiara. Kiara berhenti tepat di bawah pohon tadi.


"Kenapa kau lari? Apa kau marah?" tanya Elang yang baru saja tiba dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku lapar. Aku ingin makan sekarang. Jadi pergilah dan jangan menggangguku"


Kiara kembali duduk dan mulai membuka bungkusan jajanan itu satu persatu. Ia mulai menyuapkan ke dalam mulutnya tanpa peduli ada Elang di hadapannya.


Elang mengambil posisi duduk di hadapan Kiara. Ia merebut jajanan Kiara lalu menyuapkan pada mulutnya.


"Kau....!!! Itu punyaku!"


"Punyamu akan menjadi punyaku begitu pula sebaliknya" ucap Elang sambil mengunyah makanan yang direbut dari Kiara tadi.

__ADS_1


"Sejak kapan?"


"Sejak hari ini"


"Kau jangan seperti Kadir yang selalu semena - mena terhadapku"


"Aku Elang bukan Kadir. Jadi kau tidak perlu khawatir jika aku akan semena-mena kepadamu"


"Elangggg....!!! "


" Ya... Kenapa?"


"Sepertinya operasi plastik yang kamu lakukan membuat tingkahmu berubah" kata Kiara membuat Elang mengernyitkan dahi.


"Operasi plastik? kapan aku operasi plastik?" tanya Elang tak mengerti.


"Mana ku tahu. Bisa saja setelah kita berpisah kau pergi ke luar negeri untuk operasi plastik"


"Maksudmu apa, Ara?" Elang semakin tak mengerti.


"Kau bukan Elang. Elang tidak sepertimu"


"Ara, kau meragukanku?" tanya Elang tak percaya.


"Tentu saja. Aku pernah bersama Elang selama setahun. Laki-laki kurus berkulit coklat yang tidak pernah melihatku sebagai kekasihnya. Dia lebih suka menatap laptopnya, menyapa teman-teman di dunia mayanya daripada mengobrol dengan kekasihnya" ucap Kiara meluapkan emosinya.


Elang menarik nafas. Ia mengerti mengapa Kiara meragukannya. Saat di Spanyol, kedua orang tuanya melakukan berbagai perawatan pada dirinya sehingga Elang berubah secara fisik maupun tampilan. Jangankan Kiara, Ale yang baru pertama kali melihatnya juga merasa pangling.


"Aku Elang. Kalau tidak percaya, ayo jadilah kekasihku lagi" goda Elang.


"Aku tidak mau"


"Aku tidak peduli. Aku tetap tidak mau" ucap Kiara kemudian bangkit lalu berjalan menjauhi Elang.


" Ara.... berhentilah berlari. Kita harus bicara" ucap Elang mengejar Kiara yang kini mempercepat langkahnya.


"Dari tadi kau sudah bicara"


"Tolong berhenti. Kita tidak akan bisa menemukan solusi jika kau terus menghindar" kata Elang yang sukses membuat Kiara berhenti.


"Aku tidak merasa ada masalah denganmu. Aku menghindar karena tidak ingin mendapat masalah denganmu"


"Masalah apa, Ara?"


"Masalah hati. Aku tidak mau terluka lagi" ucap Kiara dan ia kembali berlari menuju rumahnya.


Setibanya di rumah, Kiara langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya.


Widya dan Dira yang sedang menikmati pisang goreng di halaman depan, tentu saja langsung berhamburan mengejar Kiara. Namun mereka terlambat karena Kiara sudah mengunci pintu kamarnya sehingga mereka tidak dapat masuk.


"Tuan..." panggil Elang membuat Widya dan Dira serentak menoleh ke arahnya.


"Oh... jadi kau baru saja bertemu dengannya?" tanya Dira yang di balas anggukan Elang.


Dira berjalan merangkul bahu Elang, membawanya ke halaman depan menemui Edo yang sedang duduk sendiri berhadapan dengan papan catur.


"Bisa main catur?" tanya Dira.


"Bisa, Tuan"

__ADS_1


"Jangan panggil Tuan. Kau akan menjadi adik iparku. Panggil aku Abang" titah Dira yang lagi-lagi di balas anggukan cepat oleh Elang.


"Om, main catur dulu sama calon mantu! Dira mau membujuk Kiara dulu" ucap Dira dan segera berlalu meninggalkan Elang dan Edo.


Dira meminta kunci cadangan kamar Kiara pada Widya. Widya mengambilnya di laci meja dan segera memberikan pada Dira.


Klek...


Pintu kamar Kiara terbuka. Lagi-lagi Dira melihat pemandangan yang sama. Kiara duduk memeluk lutut dengan wajah yang dibenamkan. Dira menghela nafas. Ia segera menghampiri adiknya, duduk disampingnya dan memeluknya.


"Presdir nggak boleh cengeng. Malu sama anak buah" ejek Dira yang tidak ditanggapi adiknya.


"Lu ada masalah apa sih sama Elang? Kenapa tiap lu ketemu dia, lu selalu nangis?" tanya Dira yang lagi-lagi tak disahuti adiknya.


"Kenapa lu bawa dia kesini, Kadir? Gue nggak mau lihat dia" ucap Kiara.


Dira bisa mendengar isak tangis Kiara yang mulai keluar, tak ditahannya lagi.


"Karena mau memperkenalkan Elang pada Mama. Gue kan udah bilang kalau gue punya calon suami buat elu?"


"Tapi kenapa Elang?"


"Terus gue harus bawa siapa? si Vaston? Najiissssss!!!" ucap Dira ketus membuat Kiara mendongakkan kepalanya.


"Gue nggak mau dijodohin sama Elang"


"Gue nggak peduli"


"Kadir..."


"Opoooo????"


"Gue serius, Kadir. Gue nggak mau dijodohin sama Elang"


"Eh Kiara sarang burung. Dengerin gue! Apa sih yang bikin lu nggak mau sama Elang? Apa kurangnga Elang? Ganteng, iya.. tapi gantengan gue. Keluarganya jelas, gue juga kenal"


"Gue nggak mau, Kadir, gue trauma"


"Trauma kenapa?"


"Dulu Elang masih bulukan aja yang naksir banyak. Apalagi sekarang? Gue nggak mau jadi korban fans-fans Elang yang bar-bar itu" ucap Kiara yang membuat Dira tertawa terbahak-bahak.


"Jalani saja dulu...."


"Gue udah pernah ngejalanin selama setahun dan gue nggak mau lagi"


"Dulu dan sekarang keadaannya berbeda. Sekarang lu kan punya tukang pukul yang siap jaga 24 jam. Nggak bakalan ada yang berani macam-macam sama lu. Gue juga nggak bakalan biarin lu tergores sedikitpun. Lu percaya sama gue" ucap Dira meyakinkan adiknya.


"Kadir... apa gue nggak punya pilihan lain?" tanya Kiara mencoba bernegosiasi dengan Dira kembali.


"Tidak ada. Semua sudah gue rancang. Lu dan Elang akan bertunangan 2 minggu lagi. Nurut sama gue. Gue nggak bakalan bikin lu menangis lagi. Entah mengapa hati gue langsung mantap ketika melihat Elang"


"Tapi...."


"Sudah. Lu percaya sama gue. Kalau lu nggak bahagia sama Elang, lu bisa gorok leher gue" ucap Dira mantap.


"Kalau lu tunangan sama Elang, kita akan kembali ke Jakarta. Lu balik ke perusahaan tapi sebagai direktur bukan presdir"


"Kalau gue tetep nggak mau tunangan sama Elang?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Lu tetap disini, ngurus kursusan Om Edo dan perusahaan lu jadi milik gue" ucap Dira kemudian beranjak pergi.


__ADS_2