
"Jelasin sama gue, apa yang udah terjadi?"
Suara bariton Dira menghentikan langkah kaki Kiara yang akan masuk ke dalam kamarnya. Kiara menoleh ke arah kakaknya yang sedang duduk dengan tangan menyilang di depan dada.
"Nggak ada apa-apa" ucap Kiara pendek.
"Lu jangan bohong! Bagaimana ceritanya si Elang nggak ketemu elu di Labuan Bajo sedangkan gue udah ngirim lu kesana bareng Edward?" ucap Dira lagi.
Kiara menghela nafas. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Kiara berjalan menghampiri Dira dan duduk tepat di sampingnya.
"Gue memang kesana tapi gue nggak menampakkan diri di depan Elang"
"Kenapa? Ada masalah apa?" tanya Dira tak sabar.
"Di sana Elang bertemu Ellea, mantannya dan mereka bertengkar hebat"
"Si Elang berantem ama mantannya terus kenapa lu sembunyi? Harusnya lu maju. Katakan pada dunia kalau Elang itu milik elu" kata Dira kesal.
"No, gue nggak mau Kadir. Gue lebih memilih jadi penonton. Gue mau tahu gimana Elang menghadapi masa lalunya"
"Akhirnya lu tahu?"
"Ya dan itu membuat gue merasa bersalah" ucap Kiara dengan nada sedih.
Dira menghela nafasnya. Adiknya ini benar-benar tidak dapat diprediksi jalan pikirannya. Andai saja perempuan lain, pasti adegan jambak menjambak sudah terjadi.
"Apa yang bikin lu merasa bersalah?" tanya Dira.
"Karena Ellea sangat mencintai Elang sedangkan gue nggak" kata Kiara membuat kedua mata Dira melebar.
"Ellea pernah datang ke gue minta maaf karena udah bikin gue putus dan nyuruh gue balikan sama Elang. Tapi gue nolak bahkan gue nyuruh dia aja yang balikan sama Elang. Kadir.... sungguh gue nggak mau nyakitin hati Ellea. Gue mohon putuskan pertunangan ini"
"Apaaa????!!!! Lu jangan gila????" Dira menjambak rambut Kiara secara spontan. Ia langsung naik darah mendengar perkataan adiknya itu.
"Maksud lu apa sih, sarang burung? Lu enak aja bilang putusin pertunangan ini. Harusnya lu maju buat pertahanin Elang bukan malah mundur. Aduh Mamae.....!!!" kata Dira sembari memukul-mukul dahinya.
"Tapi gue nggak cinta sama Elang. Lu jangan terus- terusan paksa gue, Kadir"
"Eh... terus lu cintanya sama siapa? sama Alex? sama si basreng Vaston? No, adikku sayang. Pilihan Abang Dira tetap jatuh pada Elang sebagai calon adik ipar gue. Titik" ucap Dira berapi-api.
Kiara diam. Perdebatan ini tidak akan pernah selesai. Kiara lelah, hatinya lelah menghadapi semua ini. Kiara beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Kiara masuk dengan langkah gontai. Ia menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa hidup ini tidak berpihak padaku? Aku lelah terus begini?" batin Kiara.
Dira menatap pintu kamar adiknya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dira mengambil ponsel di sakunya dan segera memghubungi Elang.
"Abang mau bicara. Kamu free sekarang?" tanya Dira seperti biasa tanpa basa basi.
"Bisa, Abang"
"Temui Abang di cafe XI sekarang. Abang langsung otw dari rumah" ucap Dira lalu mematikan ponselnya.
__ADS_1
Dira segera meminta supir mengantarnya ke cafe XI. Sesampainya di sana, Elang belum datang. Dira mencari tempat duduk terlebih dahulu dan memesan dua cangkir moccalate. Tak lama Elang muncul sambil berlari menghampiri Dira.
"Maaf membuat Abang menunggu"
"Tak apa. Duduk! Abang mau bicara hal yang penting" perintah Dira yang segera dituruti Elang.
"Abang mau bicara apa?" tanya Elang.
"Tentang kamu dan mantanmu, Ellea."
"Kenapa harus bahas dia, Abang? Elang sudah muak membahasnya"
"Abang perlu membahas ini mengingat gadis itu berpotensi mengganggu hubungan kalian"
"Dia bukan gadis lagi, Abang" sambar Elang tak terima jika Ellea disebut gadis oleh Dira.
"Oh... sudah Janda?" tanya Dira.
"Bukan. Entahlah Elang juga sulit menjelaskannya. Ellea itu sepupu Zian. Dia pernah menjebak Elang agar menikahinya padahal dia hamil anak laki-laki lain. Untung saja Elang masih selamat dan kebohongannya terbongkar" kata Elang menjelaskan.
"Apa???? lalu???" tanya Dira lagi penasaran.
"Setahu Elang, Dia keguguran jadi laki-laki itu tidak jadi menikahi Ellea. Orang tuanya malu sehingga Ellea di bawa pergi jauh dari Jakarta dan Elang tidak tahu kalau Ellea tinggal di Labuan Bajo" ucap Elang membuat Dira mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi ketika di Labuan Bajo?" selidik Dira.
"Aduh, Abangggg... Ellea tidak berhenti mengikuti Elang. Elang sampai muak. Dia berkali-kali minta balikan"
"Dan...."
Dira tersenyum mendengar perkataan Elang. Setidaknya keyakinannya pada Elang semakin mantap. Dira yakin Elang adalah pilihan yang tepat untuk Kiara, tinggal menunggu bagaimana Kiara bisa mencintai Elang dengan tulus.
"Sebaiknya kau mulai waspada. Abang takut Ellea berbuat nekat dan menyakiti salah satu dari kalian" ucap Dira dengan nada berat.
"Kenapa Abang bisa berkata seperti itu? Ellea mana berani berbuat nekat. Dia wanita lemah"
"Jangan anggap remeh, Elang!" potong Dira cepat.
"Bisa saja Ellea yang sekarang tidak selemah dulu. Kau harus waspada!" ucap Dira memperingati Elang.
"Dan satu lagi mengenai Kiara.." ucap Dira terhenti. Ia seakan berat mengatakan hal ini pada Elang.
"Kenapa, Abang?"
"Apa kau mau bersabar sampai Kiara bisa menerima pertunangan ini dengan ikhlas? Jujur Elang, Abang merasa malu padamu. Kalian sudah bertunangan selama tiga bulan tapi Kiara masih saja acuh padamu bahkan dia belum bisa mencintaimu" ucap Dira putus asa.
"Abang... Elang akan sabar menunggu Ara mencintai Elang. Ara pernah terluka. Jadi dia butuh waktu untuk mengobati lukanya. Elang mengerti" kata Elang sembari tersenyum.
"Terima kasih karena kau mau bersabar menunggu Kiara. Abang janji akan membantu kalian sampai pelaminan" kata Dira kemudian menyeruput moccalatenya.
Plak....
__ADS_1
Dira kaget ketika seseorang menepuk bahunya dengan keras sehingga membuat Dira terbatuk. Dira segera menoleh ke belakang dan senyum masam Dira terbit ketika melihat pelakunya.
"Lu kenapa bisa di sini sama Elang?" tanya Kiara berkacak pinggang.
"Eh.. sarang burung. Kok lu ada disini?" tanya Dira balik bertanya.
Elang segera bangkit dari tempat duduknya. Ia mendekati Kiara dan memeluknya dari belakang. Elang tahu saat ini Kiara sedang sensitif. Masalah kecil saja bisa menjadi besar. Elang harus segera meredam emosi Kiara agar tidak kembali merajuk.
"Sayanggg..... Abang mengajak Elang kesini karena ada proyek yang harus dibahas" ucap Elang.
"Nggak. Pasti kalian bahas gue" teriak Kiara mencoba melepas pelukan Elang.
"Duh... mulutnya kok manggil gua gue?" Elang menjawil bibir Kiara. Hal ini membuat Dira tertawa terbahak-bahak.
"Elang....!!!!"
"Sayang.... Udah dibilangin panggil apa sama Elang?" ucap Elang yang kini mencubit hidung dan pipi Kiara.
"Haduuhhh... Sarang burung kalau sama burung Elang so sweet banget. Kalian berdua memang serasi. Gue iri deh" ucap Dira terkekeh geli.
Plak....
Kiara menampar mulut Dira agar berhenti tertawa. Kiara kesal disaat seperti ini Dira masih saja menggodanya. Bukan apa-apa, Kiara merasa malu apalagi ada Elang disitu. Kiara melepas sandal yang ia pakai. Namun Elang segera menarik tangan Kiara agar mengurungkan niatnya.
"Jangan kasar sama Abang! Kasian"
"Jangan panggil Kadir dengan Abang! Kiara geli dengernya" ucap Kiara dengan wajah cemberut.
"Iya...iya.. Elang panggil Kadir juga biar samaan sama Ara"
"Eh Elang.. apa-apaan manggil Kadir juga?" protes Dira tak terima.
"Sudah Abang... daripada Ara marah. Abang.. eh Kadir ngalah ya?" ucap Elang membuat Dira membelalakkan matanya.
"Sayang... kesini mau beli apa?" tanya Elang.
"Ara mau makan japanese cake"
"Yasudah duduk disini. Elang mau pesan dulu. Mau berapa?" tanya Elang lagi karena dia paham kekasihnya ini tidak akan cukup jika hanya sepotong japanese cake.
"Tiga"
"Busyetttt.... Nih anak malu-maluin aja. Pesen 1 kek buat ganjel perut. Ini malah pesen 3" ucap Dira sembari menjitak kepala adiknya.
"Abang.... eh Kadir... Ara memang suka makan. Jadi biarin saja. Abang.. eh Kadir mau pesan juga?" tanya Elang menawari.
"Enggak. Abang mau pergi. Ada yang harus di selesaikan di kantor" ucap Dira beralasan padahal sebenarnya ia tidak mau mengganggu Kiara dan Elang.
Dira segera bangkit dari tempat duduknya. Dira segera melangkahkan kakinya meninggalkan Elang dan Kiara. Senyum jahilnya mengembang. Dira segera masuk ke mobil dan memerintahkan supir agar mengantarkannya ke kantor.
"Sayang... cuma mau pesan itu aja?" tanya Elang lagi memastikan.
__ADS_1
"Aku mau minuman boba"
"Baiklah. Tunggu disini! Elang pesan dulu" perintah Elang yang diiyakan Kiara.