
Prakkkkkk....
Dira melempar sebuah kotak putih ke hadapan Kiara dengan kesal. Kiara yang saat ini sedang menonton televisi sembari menikmati kacang mente tentu saja terkejut. Ia mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Dira yang tiba-tiba datang dengan melempar sebuah kotak putih kepadanya.
"Apa-apaan ini?" tanya Dira dengan nada suara langsung meninggi.
Kiara tak menjawab. Ia memilih mengacuhkan Dira dengan kembali menikmati kacang mentenya. Film di televisi yang ia tonton sedang seru-serunya. Kiara tak sudi ribut dengan Dira yang nantinya akan merusak chemistry antara dirinya dan film itu.
"Kiaraaaa.....!!!! Lu koq malah cuekin gue?" ucap Dira.
Kiara melirik sekilas.
"Opoooooo???? Film lagi bagus. Jangan ribut!" ucap Kiara membuat Dira semakin kesal.
Dira mengambil remote televisi yang tergeletak di atas meja lalu mematikan televisi itu dengan kesal.
"Apaan sih Kadiiirrrrrr?" Kiara berteriak. Kedatangan Dira di hadapannya membuat rusak acara menonton yang baru saja dimulai oleh Kiara.
"Lu yang apa-apaan!!! Lu mau nikah apa mau jualan sih? Pilih gaun kebaya kok kurang bahan begini?" ucap Dira sembari mengeluarkan gaun kebaya pesanan Kiara dari dalam kotak putih dan melemparnya pada Kiara.
"Gaun kebaya ini bagus, Kadir....."
"Bagus dari mana???? kurang bahan iya" sambar Dira emosi.
"Sekarang model yang lagi trend yaa begini. Elang aja no komen koq elu yang sewot?" ucap Kiara sembari memasukkan beberapa kacang mente ke dalam mulutnya.
"Nggak ada ya trend kayak gini!!! Baju koq nggak ada lengannya begini? Kalau nanti pas melorot bagaimana? Lu mau bikin gue malu?" ucap Dira berapi-api.
"Ini namanya off-shoulder. Gue milih ini tujuan emang mau mengekspos bahu gue yang cuantik ini" ucap Kiara bangga.
Pukkkk
Dira menjitak kepala Kiara dengan koran yang entah dari mana ia dapatkan.
"Gue nggak peduli!!! Mau off-shoulder, Off-Liner, Off-Kampret. Pokoknya gue nggak setuju lu pakai beginian pas akad. Balik ke butik Ivana sekarang dan pilih gaun pengantin yang bener!!!" perintah Dira yang kini dengan gaya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kadir.... jangan kebanyakan protes. Lu sendiri yang bilang pernikahan gue tinggal 2 minggu lagi dan gue sekarang lagi dipingit. So biarkan gue menonton film dengan tenang dan menghabiskan kacang mente yang baru setengah toples gue makan" ucap Kiara kembali memasukkan segenggam kacang mente ke dalam mulutnya.
"Lu itu dipingit biar nggak ketemu Elang bukan dipingit buat males-malesan. Sekarang cepat bangun!!! Kita ke butik milik Ivana"
"Sama elu?" tanya Kiara malas.
"Yaiyalah!!! Masak sama Mang ujang?? Gue harus turun tangan masalah ini. Gue nggak mau ya lu asal pilih baju lagi" ucap Dira kemudian menarik tangan Kiara agar bangkit dari tempat duduknya.
Kiara bangkit dengan malas. Ia berjalan mengekori Dira dengan memeluk toples kacang mentenya.
"Lu apaan sih pakai bawa toples segala?" tanya Dira ketika masuk ke dalam mobil.
"Nanggung Kadir... ini dikit lagi habis" ucap Kiara.
"Orang kalau mau nikah ya... diet ketat biar bajunya muat. Elu malah nggak berhenti ngunyah dari tadi. Lu mau badan lu nanti bengkak kayak kulkas???" ucap Dira kembali mengomeli Kiara.
"Udahlah Kadirrr... cepat jalan. Gue itu spesies anti gendut. Mau makan sebanyak apapun nggak bakalan bikin gue melar. Gue kan rutin olahraga" ucap Kiara, yang hanya mampu membuat Dira menggeleng- gelengkan kepalanya.
Dira mulai menjalankan mobilnya menuju butik Ivana. Selama perjalanan Dira tak henti-hentinya bernyanyi sedangkan Kiara lebih memilih memakai headset sembari mengunyah kacang mentenya. Empat puluh lima menit kemudian, mobil Dira sudah tiba di butik milik Ivana. Dira dan Kiara segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik.
"Tuan Adiraka, Nona Kiara, selamat datang" ucap Ivana membungkukkan badan.
"Ada keperluan apa Tuan Adiraka dan Nona Kiara datang kesini?" tanya Ivana dengan sopan.
"Ivana, siapa yang merancang gaun kebaya milik Kiara?" tanya Dira
__ADS_1
"Emmm... Evan" jawab Ivana pendek.
"Saya sudah menyerahkan urusan ini padamu lalu kenapa malah Evan yang merancangnya??? Lihat kebaya kurang bahan ini? Tidak ada lengannya!!!" kata Dira mulai memarahi Ivana.
"Tapi kebaya ini sesuai keinginan Nona Kiara, Tuan. Waktu kami membahas masalah model kebayanya, Nona Kiara menginginkan kebaya off-shoulder seperti ini dan Nona Kiara juga minta Evan yang membuatnya" ucap Ivana menjelaskan.
Dira membulatkan kedua bola matanya. Ia menoleh pada Kiara, meminta penjelasan tentang perkataan Ivana. Namun apa mau di kata, Kiara mengacuhkan Dira dan lebih memilih menghabiskan kacang mentenya.
"Kiara.....!!! Berhenti makan kacang mentenya! Nanti lu bisa jerawatan. Lu mau nanti pas acara wajah lu banyak dempulan?" ucap Dira.
Dira menarik toples yang sejak tadi dipeluk Kiara. Dira yang tak sabar segera membuangnya ke tempat sampah. Dalam hati Dira bersumpah akan memecat ART yang menyetok cemilan itu di rumahnya.
Bukan apa-apa, Dira memiliki riwayat alergi kacang. Makan sedikit saja, Dira bisa gatal-gatal dan sesak nafas. Oleh sebab itu Dira benar-benar mengharamkan berbagai jenis kacang tersedia di rumahnya. Peraturan itu bahkan sudah ditulis Widya sejak Dira masih kecil.
Berbeda dengan Kiara yang tidak mempunyai alergi apapun. Kadang Dira merasa iri pada adiknya yang bisa menyantap berbagai makanan bersaos kacang. Dira juga ingin mencicipinya, entah itu gado-gado, ketoprak, atau siomay yang sering kali dimakan Kiara ketika jam istirahat kantor.
"Sana, rembuk lagi sama Ivana. Gue nggak mau ya lu pakai kebaya kurang bahan lagi" Dira mendorong tubuh Kiara agar duduk di sofa bersama Ivana.
"Kadirrr.... stop dorong-dorong gue! Gue ogah ngebahas masalah gaun lagi. Gue udah sreg ama gaun kebaya yang ini. Kalau lu nggak cocok, lu aja yang rembuk ama Ivana. Gue males pusing-pusing lagi" ucap Kiara kemudian bangkit meninggalkan Dira dan Ivana.
"Kiara sarang burung....!!!! Lu mau kemana???" teriak Dira melengking hingga membuat Kiara berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.
"Gue mau beli es di depan. Gue haus kali" ucap Kiara lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari butik Ivana.
Dira menghela nafas. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Ivana. Mereka kemudian terlibat pembicaraan serius mengenai gaun pengantin Kiara yang sepertinya akan berubah konsep sesuai keinginan Dira.
Dira yang awalnya tidak mau turun tangan, sepertinya harus mengubah niatnya. Kiara benar-benar akan membuatnya naik darah jika Dira lepas tangan dalam acara penting ini.
Ketika mereka sedang asyik membahas konsep pernikahan Kiara dan Elang, Rio masuk menghampiri Ivana. Langkah Rio terhenti ketika melihat sosok yang sedang duduk di samping Ivana.
Dira yang merasakan ada seseorang yang menghampiri mereka, seketika mengangkat kepalanya.
Rio diam. Pertanyaan Dira itu sebenarnya tak perlu ia jawab. Bagaimanapun Dira pasti sudah tahu mengenai keberadaannya. Basa-basi Dira dianggap angin lalu oleh Rio. Menyadari suasana canggung, Ivana segera membuka obrolan.
"Rio, ada apa kau kemari?" tanya Ivana.
"Aku hanya ingin mengatakan jika pemotretan Louise sudah selesai dan....," ucapan Rio terputus.
"Oh iya... sepertinya Tuan Vaston harus melakukan foto prewed ulang untuk Kiara dan Elang karena saya menginginkan konsep baru" sambung Dira membuat Rio ingin melemparnya dengan kamera yang sejak tadi dipegangnya.
"Tapi Tuan Adiraka waktu kita tinggal sedikit. Kalau Nona Kiara kembali melakukan foto prewed itu akan buang-buang waktu. Apalagi Anda membuat konsep baru yang tentu saja akan mengubah semua persiapan yang tadinya hampir rampung menjadi nol kembali" ucap Ivana dengan wajah memelas.
"WO yang saya pilih adalah WO terbaik. Tidak pernah saya mendengar mereka menolak keinginan klien apalagi kliennya sekaliber Adiraka. Presdir paling tampan dan rupawan" ucap Dira berbangga diri.
"Katakan saja jika Anda ingin membuat saya cemburu, Tuan Adiraka" celutuk Rio. Sungguh ia benar-benar sudah muak dengan tingkah Dira yang menurutnya sudah sangat menyebalkan.
"Wah... Kau sekarang sudah bisa membaca pikiranku, Vaston" ucap Dira sambil tertawa mengejek Rio.
Rio menghela nafas. Ia tidak berniat meladeni Dira. Rio membalikkan badannya, hendak melangkah meninggalkan Dira dan Ivana. Namun, baru tiga langkah kaki Rio bergerak, ia berhenti.
"Anda memang berkuasa. Tapi tidak ada yang lebih berkuasa dari Tuhan. Jika Tuhan menuliskan Kiara adalah takdirku. Kau bisa apa Tuan Adiraka?" ucap Rio tanpa menoleh ke belakang.
Mendengar ucapan Rio yang seolah melawannya membuat Dira kembali naik darah. Ia bangkit dan segera berjalan mendekati Rio. Dira mendorong tubuh Rio dan membalikkan badannya sehingga mereka kini berhadapan. Dira mencengkram kaos Rio dengan geram.
"Kau sudah berani melawanku? Kau bisa merebut perempuan murahan itu dariku tapi tidak dengan adikku. Sampai matipun aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi" ucap Dira.
Ivana yang tadi duduk anteng segera bangkit. Ia hendak menghampiri Dira dan Rio tetapi Rio memberikan isyarat agar Ivana tidak ikut campur. Ivana mengurungkan niatnya. Ia berdiri mematung, menatap ke arah Dira dan Rio dengan cemas.
"Aku tidak merebutnya. Dia yang menghampiriku!!!" teriak Rio.
"Kau dan dia sama-sama sampah" maki Dira.
__ADS_1
"Kalau kami sampah bagimu, lalu kau adalah dewa? Kau terlalu sombong Adiraka. Kau sombong!!!"1 ucap Rio dengan emosi yang mulai naik.
Buggg..
Buggg..
Buggg...
Dira memukul perut Rio bertubi-tubi. Ivana yang semula diam akhirnya berlari ke arah Dira dan Rio. Ivana berteriak memanggil karyawannya yang lain agar membantunya memisahkan mereka.
Bugg...
Bugg...
"Lepasin.....!!!!!!"
Tangan Dira terhenti di udara ketika mendengar teriakan Kiara. Dira melepaskan Rio dan segera berlari keluar.
"Lepasin!!!!! Lu budek ya???"
Dira membelalakkan matanya melihat apa yang ia lihat di hadapannya. Kiara sedang menjambak rambut Ellea, mantan kekasih Elang yang sedang memeluk Elang dengan erat. Entah bagaimana ceritanya Elang bisa berada di tempat ini juga dan si Ellea itu bisa-bisa bertindak seperti itu.
"Budekkkkkkkkkkk!!!!! Ara bilang lepas ya lepas!!!" Kiara menarik rambut Ellea denga kuat membuat si empunya berteriak histeris menahan sakit.
Elang yang sedari tadi diam kini mencoba mendorong tubuh Ellea agar terlepas dari tubuhnya. Sejak tadi Elang memang ingin terlepas dari pelukan Ellea tapi ia kesulitan. Untung Kiara datang dan menjambak rambut Ellea sehingga Elang bisa bergerak dan terlepas dari pelukan sialan itu.
Plakkk
Dira menutup mulutnya melihat Kiara menampar pipi kanan Ellea.
"Berani sekali lu meluk calon suami gue!!! Lu udah bosen hidup???" teriak Kiara.
Plakk...
Kiara menampar pipi kiri Ellea. Ellea tidak melawan, dia hanya tersenyum sinis ke arah Kiara.
"Kau lucu sekali. Kau sendiri yang menyuruhku mendekati Elang karena kau tidak mencintainya. Sekarang aku kabulkan permintaanmu dan kau malah marah-marah" ucap Ellea sambil memegang kedua pipinya yang panas akibat tamparan Kiara.
"Itu dulu!!! Sekarang gue mencintainya dan lu nggak boleh deket-deket sama Elang!!!" teriak Kiara.
Tangannya hendak menjambak rambut Ellea lagi. Namun, Dira segera berlari dan menarik Kiara agar menjauh dari Ellea. Dira tidak mau Kiara lepas kontrol dan melakukan sesuatu di luar batas. Dira memeluk tubuh Kiara yang masih memberontak ingin lepas.
"Sayang.... sayang... sayang.. tenang. Elang bilang tenang" Elang menangkup wajah Kiara namun tangannya segera ditepis oleh Dira.
"Kalian lagi di pingit. Jangan pegang-pegang!" ucap Dira membuat Elang memundurkan langkahnya.
"Lepasin gue, Kadir!!! Lepasin !! Gue mau cekkik tuh perempuan gatel" teriak Kiara.
"Aduhhh... sayang.. adikku sayang... Lu mau nikah. Jangan macem-macem. Udah kita pulang aja" ucap Dira menarik tubuh Kiara dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Urus mantanmu yang sinting itu, biar Abang hang bawa Kiara" ucap Dira kemudian buru-buru masuk ke dalam mobil. Dira melajukan mobilnya dengan cepat.
Elang membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Ellea sudah tidak ada di tempat itu. Elang berlari mengitari jalan, mungkin saja Ellea belum jauh dari sana.
"Sial....!!!."
Baik Dira maupun Elang sama-sama mengumpat. Elang mengumpat karena kehilangan jejak Ellea
sedangkan Dira mengumpat karena lupa. Dira yang seharusnya bergerak menangkap Ellea malah diam menjadi penonton keributan antara adiknya dan Ellea.
Dira memukul setir berkali-kali merutuki kebodohannya. Kenapa bisa Dira melupakan hal penting seperti ini??? Efek menonton drama, bisa melupakan tugasnya.
__ADS_1