Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 55


__ADS_3

"Kiara.... bangun !!!!!"


Dira menjambak rambut adiknya yang tak kunjung membuka mata. Sejak setengah jam yang lalu, Dira tak henti-hentinya berteriak membangunkan Kiara dari tidur panjangnya.


Berbagai metode sudah dilakukan Dira, mulai dari mengedor-ngedor pintu, berteriak di samping telinga Kiara, sampai menjambak rambut adiknya itu. Namun semua usahanya tak membuahkan hasil. Kiara terus saja merapatkan selimutnya, mengacuhkan teriakan Dira yang sudah berada di level tidak normal.


Dira bergegas ke kamar mandi, menghidupkan air dingin pada bath up. Dira menunggu air hingga memenuhi separuh bath up. Dira segera keluar dari kamar mandi. Emosinya sudah mendidih melihat tingkah adik bungsunya ini Dira menarik dengan paksa selimut milik Kiara dan dengan cepat membopong tubuh Kiara, menceburnya dalam bath up.


"Aaaahhhhhhhhh..... dinginnn........." pekik Kiara ketika tubuhnya menyentuh air dingin pada bath up.


Dira bergerak cepat. Ia mengambil gayung dan segera menyiram rambut Kiara berkali-kali. Tak ayal Kiara kembali berteriak. Kiara mengucek-ngucek kedua matanya yang masih berat. Mencoba melihat makhluk jahat mana yang tengah berbuat kejam kepadanya.


"Lu perawan-perawan tidurnya kayak kebo. Kalau begini besok aja gue nikahin lu sama Elang biar lu tahu gimana rasanya bangun pagi" Dira terus mengguyur kepala Kiara.


"Kadirrrrrrrr.... apa-apaan sih lu? gue masih ngantuk. Semalem gue begadang mempelajari materi buat rapat sama perusahaan grub D. Sialan banget sih lu!!!! Bikin gue basah kuyup begini" umpat Kiara kesal. Kiara menguap lebar.


"Harusnya gue bawa Mama dan Om Edo kesini biar lu punya banyak alarm alam. Gue heran suara gue udah ngalahin speaker masjid, masih aja nggak bisa bangunin elu" ucap Dira sembari berkacak pinggang.


"Namanya juga ngantuk. Sudah lu keluar gue mau mandi. Nanti gue susul ke meja makan"


"Kalau dalam waktu 10 menit lu belum turun juga, gue bakalan seret lu. Paham?" ancam Dira.


"Paham...paham.. hari libur juga tetep aja nggak ngizinin orang ngebo" gerutu Kiara kesal.


"Cepat mandinya...!!! Ada yang harus gue omongin. Penting !!!" ucap Dira kemudian pergi meninggalkan Kiara.


Kiara bergegas menyelesaikan ritualnya. Tepat 10 menit kemudian Kiara sudah keluar dari kamarnya. Ia duduk bergabung dengan Dira yang sedang asyik menyantap nasi goreng buatan ART nya.


Kiara menarik kursi di hadapan Dira. Ia segera duduk. Kiara menatap menu hidangan di meja makan. Moodnya tidak selera menyantap makanan itu semua. Kiara mengambil jus jeruk dan meminumnya sampai habis.


"Lu nggak sarapan?" tanya Dira ketika melihat wajah cemberut adiknya.


"Gue bosan, Kadir. Nasi goreng selalu. Lama-lama gue kayak wajan keseringan di goreng" ucap Kiara.


"Makanya bangun pagi. Bilang sama ART mau makan apa. Kalau sudah siang begini gimana mereka mau belanja? Sudah makan yang ada! Jangan cari yang nggak ada!" bentak Dira.


Kiara mengisi piringnya dengan malas. Ia mulai menyuapkan nasi dan mengunyahnya dengan perlahan.


"Apa agenda lu hari ini?" tanya Dira basa-basi.

__ADS_1


"Gue mau rebahan. Capek banget gue"


"Lu nggak tahu kalau Elang ada di Labuan Bajo?" selidik Dira.


"Tahu lah"


"Kenapa lu nggak ikut? hari ini week end dan kalian bisa sekalian liburan kesana"


"Malas. Lagi pula gue udah pernah ke Labuan Bajo. Males juga ketemu sama Jeng Kellin"


"Cepat sarapan dan segera packing!"


"Buat apa?" tanya Kiara heran.


"Tentu saja lu bakalan nyusul Elang"


"Apa????!!!," teriak Kiara dan tanpa sadar ia menjatuhkan sendok yang tadi ia pegang.


"Buat apa gue nyusul kesana, Kadir??? Gue nggak mau. Gue capek, mau tidur"


"Lu nggak nyusul Elang sekarang, gue bikin lu tidur selamanya" ancam Dira.


Kiara menghela nafas.


"Nggak ada privacy-privacy. Kalian kelamaan privacy sampai kaku kayak patung pancoran. Gue nggak mau dibantah. Lu berangkat habis ini. Gue udah telpon Edward dan Kapten Jack buat nganter lu kesana" ucap Dira kemudian beranjak dari kursinya.


Kiara menghempaskan piringnya. Selalu saja perintah konyol Dira tidak mau dibantah. Kiara segera bangkit dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Kiara memasukkan beberapa potong baju ke dalam koper miliknya. Tak berselang lama, Kiara keluar dari kamarnya dengan sebuah koper di sampingnya.


"Bibiiii..... bawakan koper Kiara!" Kiara berjalan dengan malas. Ia melihat Edward yang sedang duduk bersama Dira.


"Edward, Kiara sudah siap. Pastikan dia bertemu Elang dan mendampingi Elang kemanapun dia pergi" perintah Dira.


"Termasuk ke kamar mandi?" sambar Kiara cepat.


"Kiara! Jaga ucapan kamu!" tegur Dira membuat Kiara cemberut dan memilih melangkah keluar mendahului Edward.


"Jangan sampai lengah! Pastikan berjalan sesuai rencana kita" bisik Dira yang dibalas anggukan oleh Edward.

__ADS_1


Edward membungkuk memberi hormat kepada Dira. Edward segera berlari mengejar Kiara yang ternyata sudah siap di helikopter. Edward segera masuk bergabung dengan Kapten Jack yang sudah siap mengemudikan helikopter.


Tidak berapa lama, helikoter itu sudah terbang dan menghilang dari pandangan Dira. Dira segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kiara sudah berangkat dan pastikan sesuai rencana" kata Dira dan segera menutup ponselnya.


Dira masuk ke dalam rumah dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.


------\*\*\*\*-------


"Selamat pagi menjelang siang, Mas Elang. Bagaimana tidurnya semalam? nyenyak?" tanya Elin sembari tertawa.


"Selamat pagi juga, Jeng Elin. Semalam saya nyenyak sekali. Terima kasih atas pelayanan villa ini yang sangat bagus"


"Aahhhh... Mas Elang bisa saja memujinya. hahahahahaa" tawa cempreng Elin membuat Elang bergidik ngeri.


"Oh iya Mas Elang untuk membahas masalah kerja sama kita. Silakan Mas Elang membahas dengan suami saya, Wima. Saya sebagai istri tidak paham masalah kontrak dan lainnya. hahahahaaa"


"Baiklah kalau begitu saya akan segera menemui Pak Wima. Dimana saya bisa menemui Pak Wima"


"Di cafe depan. Nanti Mas Elang akan diantar karyawan saya" ucap Elin yang dibalas senyuman getir Elang.


Elang melangkah mengikuti karyawan Elin. Begitu sampai di cafe, Elang langsung diantarkan bertemu dengan Wima yang memang telah menunggunya. Elang berjabat tangan dengan Wima, memperkenalkan dirinya jika dia adalah utusan perusahaan Ale. Elang memulai rapat mereka berdua dengan presentasi dan memang tak butuh waktu lama bagi mereka berusa terlibat dalam pembahasan seru.


Tepat jam makan siang, keduanya menemukan kata sepakat. Wima dan Elang tinggal melanjutkan tahap selanjutnya mengenai kerja sama mereka. Elang merasa beruntung mendapatkan partner seperti Wima yang humble dan benar-benar cerdas. Sebaliknya, Wima juga merasa beruntung bisa bekerja sama dengan Elang yang dinilainya sangat energik dan kritis. Wima dan Elang bisa saling melengkapi dalam menyusun sebuah ide dan bagaimana mereka akan mengeksekusi ide itu.


"Well, kita kembali ke villa. Sudah saatnya makan siang" ajak Wima.


"Silakan Pak Wima, Anda duluan. Saya masih ingin berjalan-jalan di sekitar pantai" tolak Elang dengan halus.


Wima mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Elang di cafe. Elang merapikan berkas-berkasnya dan menyerahkan pada assistennya. Elang menyuruh assistennya itu untuk kembali terlebih dahulu.


Elang melangkahkan kakinya di pinggir pantai. Sesekali kedua kakinya disapu ombak yang datang menerpanya. Elang melepas alas kakinya agar ombak dapat bersentuhan langsung dengan pasir di pantai.


Elang merasa tentram sekali. Ia menyayangkan mengapa Kiara tidak mau ikut bersamanya. Andai saja mereka berdua disini, tentu saja mereka bisa menikmati momen romantis di pinggir pantai.


Elang mulai membayangkan bersepeda bersama Kiara, duduk dipinggir pantai, minum es kelapa muda sembari menunggu matahari terbenam. Sungguh hal romantis itu ingin Elang lalui jika Kiara berada di sisinya sekarang.


"Elanggg.....!!!!"

__ADS_1


Elang menajamkan pendengarannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Elang menoleh ke belakang dan kedua matanya langsung membola ketika melihat sosok yang sedang berlari ke arahnya.


"Ellea??" seketika tenggorokan Elang kering melihat sang mantan kini berada tepat di hadapannya.


__ADS_2