
" Lagi dimana?" tanya Dira ketika Kiara menjawab panggilan videonya.
"Di jalan" Kiara menjawab pendek tan tentu saja iya mengarahkan layar ponselnya ke dahi seperti biasa.
"Sendiri?" tanya Dira lagi.
Kiara mengalihkan layar ponselnya ke wajah Rio, kemudian mengembalikan layar itu ke dahinya.
"Oh... sama Vaston. Lu mau kemana?"
"Ke air terjun"
"Hmmmm..."
Dira dapat merasakan suara Kiara sedikit bergetar. Iya yakin adiknya itu pasti sedang menangis.
"Arahkan layarnya ke wajah lu!" perintah Dira yang dijawab gelengan layar ponsel Kiara.
"Gue cuma mau lihat yang gue telpon bener adik gue atau Mak Ijah penjual lontong sayur depan gang" ucap Dira membuat Kiara melotot dan akhirnya mengarahkan layar ponselnya ke wajahnya.
"Opoooo???" Kiara bersuara tanpa menatap layar ponselnya.
"Ck... lu habis nangis ya? Vaston ngapain sampai bikin lu nangis?" tanya Dira dengan emosi yang langsung naik.
"Berisik. Lu salah paham, Kadir! Rio nggak ngapa-ngapain gue" jawab Kiara dan kini ia memberanikan diri menatap layar ponselnya.
Kiara menajamkan indra penglihatannya ketika melihat Dira pada layar ponselnya. Banyak orang tampak sibuk berlalu lalang di belakang Dira. Mereka ada yang melepas tenda, ada yang melepas dekor, dan indra pendengaran Kiara bisa menangkap teriakan seseorang yang mengarahkan orang-orang itu bekerja.
"Lu di - ma - na?" tanya Kiara mulai kalut. Kiara mempunyai firasat tentang keberadaan Dira di tempat itu.
"Gue? di gedung" jawab Dira santai tapi dari nada bicaranya Kiara bisa menangkap sebuah kepasrahan.
Dira menoleh ke belakang. Kiara pasti melihat kesibukan orang-orang di belakangnya.
"Gue batalin buat nyewa gedung ini" ucap Dira dan tentu saja tanpa Kiara sudah tahu apa maksud Dira.
Kedua mata Kiara kembali memanas. Ia berusaha menahan kembali air matanya agar Dira tidak melihatnya menangis.
"Harusnya lu batalinnya dari kemarin-kemarin" ucap Kiara dengan nada suara tersendat dan ia benar-benar memaksakan sikapnya agar terlihat biasa di depan Dira.
"Gue baru dapat wangsit barusan. Sudah jangan sedih!" ucap Dira sambil tersenyum menatap Kiara.
__ADS_1
Kiara mengangguk. Ia kemudian memutuskan sambungan videonya dengan Dira. Seketika air mata yang tadi di tahannya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Jangan ditahan! Keluarkan semua air matamu! Dengan begitu bebanmu akan sedikit berkurang" ucap Rio. Ia menarik kepala Kiara agar bersandar di bahunya.
Mobil berhenti. Rupanya mereka sudah tiba di kawasan Beji Griya Waterfall. Tempat ini merupakan salah satu tempat dilaksanakan prosesi melukat, yaitu prosesi pembersihan diri dari aura negatif dan menggantikannya dengan aura positif.
Kiara dan Rio keluar dari mobil secara bersamaan. Seorang wanita paruh baya, berpakaian adat Bali, menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Wanita itu membawa nampan berisi kain bali, kebaya putih dan selendang.
"Ayo, tadi aku sudah buat janji!" ajak Rio.
"Kita mau kemana?" tanya Kiara.
"Healing. Kamu membutuhkannya untuk mengisi energi positif dalam jiwamu" ucap Rio.
Wanita itu menyerahkan pakaian ganti untuk Kiara dan Rio serta menunjukkan ruang ganti kepada mereka. Tak lama baik Kiara maupun Rio sudah berganti baju menggunakan pakaian adat Bali untuk melakukan ritual melukat.
"Kau juga ikut?" tanya Kiara ketika melihat Rio juga memakai kain bali tetapi bertelanjang dada
"Tentu saja. Bukan jiwamu saja yang butuh diisi dengan energi positif, jiwaku juga butuh" ucap Rio kemudian bergegas mengikuti langkah wanita paruh baya tadi menuju lokasi air terjun.
Wanita itu memberikan besek (wadah dari anyaman daun kelapa) yang berisi bunga, dupa, kue kering, serta kelapa kuning dan hijau kepada Rio dan Kiara. Mereka mengikuti langkah wanita itu menuruni anak tangga berbatu menuju lokasi air terjun.
Beberapa kali mereka harus berhenti di titik tertentu, meletakkan dupa sambil berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing hingga akhirnya mereka memasuki sebuah gua yang menghubungkan dengan air terjun.
Wanita itu menyuruh Kiara dan Rio mengikutinya memulai prosesi melukat. Awalnya mereka memasang dupa dan sesajen lainnya di tempat yang tersedia. Wanita itu memantrai kelapa yang tadi mereka bawa dan menyuruh meminumnya.
Barulah setelah itu mereka berjalan mendekati sumber air yang berada di tebing air terjun untuk melakukan prosesi pembersihan diri.
Kiara dan Rio menampung air dengan telapak tangannya, menepuk sebanyak tiga kali di area ubun-ubun, tiga kali leher, belakang telinga lalu membasuh muka sebanyak tiga kali juga. Setelah itu mereka meminum air itu sebanyak 7 kali.
Segar, sensasi itu yang dirasakan oleh Rio dan Kiara ketika meminum air langsung dari sumbernya. Andai saja Dira juga ikut dalam ritual ini, pasti dia akan membawa galon untuk menampung air dari sumber itu.
Wanita itu mengajak Kiara dan Rio menuju air terjun pertama. Di tempat itu mereka diminta mengeluarkan emosi atau keluh kesah yang selama ini mereka rasakan tanpa harus malu meskipun banyak orang di tempat itu yang melakukan prosesi serupa.
"Berteriaklah jika perlu! Buang beban yang ada di dalam pikiran kalian!" perintah wanita itu yang tentu saja langsung dilakukan oleh Kiara dan Rio.
Puas berteriak, wanita itu kembali mengajak mereka menuju air terjun kedua. Disana mereka diminta mengutarakan hal-hal menyenangkan yang dirasakan saat mengikuti prosesi melukat ini.
Setelah selesai, Rio mengajak Kiara mengambil beberapa gambar di dasar air terjun. Tepatnya di atas bebatuan yang diukir manual menyerupai ular. Rio tersenyum di balik lensa kameranya. Wajah Kiara yang murung kini berubah segar dan ceria.
"Ayo, kita pulang! Sepertinya aura negatifmu sudah hilang semua" ajak Rio yang dibalas anggukan kepala oleh Kiara.
__ADS_1
Mereka kembali ke tempat semula, tentu saja dengan mengikuti wanita paruh baya tadi sebagai penunjuk jalan. Kiara dan Rio menuju ruang ganti dan berganti pakaian kembali seperti saat awal mereka datang ke tempat ini.
Mereka menemui wanita paruh baya tadi untuk berpamitan, mengucapkan terima kasih karena sudah menuntun mereka dalam menjalani prosesi melukat ini. Mereka melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil meninggalkan kawasan Beji Griya Waterfall.
"Feel better?" tanya Rio yang dijawab anggukan kepala Kiara.
Rio memperlihatkan foto-foto mereka selama di dasar air terjun tadi. Bagus, tanpa cacat sedikitpun.
"Sekarang kita kemana?" tanya Kiara ketika melihat mobil melewati jalanan kota bukan kembali ke penginapan.
"Lihat saja! Kau pasti suka" ucap Rio tersenyum simpul.
Mobil berhenti di sebuah tempat perawatan. Kiara mendekatkan kepalanya pada kaca mobil. Ia heran karena melihat Olive berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Kenapa ada Olive?" tanya Kiara begitu keluar dari mobil.
"Tentu saja untuk menemanimu perawatan. Tidak mungkin kan aku yang menemanimu perawatan dari ujung kaki sampai ujung kepala?" goda Rio membuat Olive tertawa kecil.
"Nona, seperti yang Evan katakan. Untuk pemotretan besok Evan menginginkan senatural mungkin, seperti aslinya. Jadi Nona harus melakukan perawatan diri untuk membuka aura pengantin dalam diri Anda" ucap Olive.
"Ya benar. Tugasku membereskan masalah hatimu sudah selesai. Sekarang tugas Olive membereskan masalah penampilanmu. Kami tidak mau besok dicakar oleh Evan karena tidak mengurus model kesayangannya dengan benar" ucap Rio lagi.
"Lalu kau mau kemana?"
"Pulang. Aku juga harus bersiap-siap. Kameraku perlu sentuhan agar bisa memotret dengan sempurna" ucap Rio kemudian berlalu sembari melambaikan tangan meninggalkan Kiara dan Olive di tempat itu.
Rio masuk kembali ke dalam mobil. Mobil bergerak perlahan meninggalkan tempat perawatan yang akan disinggahi Kiara dan Olive.
"Nona Kiara, mari kita masuk! Nona akan melakukan banyak perawatan hari ini" ucap Olive dengan senyum yang selalu ia tampakkan pada Kiara.
(aiiisssshhhh... Kiara udah seger habis ritual melukat♡♡♡♡.)
**Nih burung Elang dicariin orang-orang malah asyik ngegowes... duhhh
Jangan lupa like + koment ya..
mumpung hari Senin, bolehlah di vote juga. Luph...Luph...Luph.. dari Othor...
__ADS_1
♡♡♡♡♡**