Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 88


__ADS_3

Kiara menjambak rambutnya dengan kesal. Sejak satu jam yang lalu ia tidak tidur seperti rencananya. Kiara sudah mencoba sekuat tenaga untuk memejamkan mata. Namun, selalu saja mimpi buruk itu muncul memenuhi pikiran Kiara.


"Arrgggghhhhhh"


Kiara merasa kesal. Ia melempar semua bantal dan guling sebagai pelampiasan amarah. Merasa kurang, Kiara beralih pada selimut tebal yang masih terlipat rapi di sampingnya.


Kiara m e r e m a s selimut itu, menginjak berkali-kali hingga akhirnya ia sadar akan kebodohannya. Kiara menarik nafas panjang, sepertinya ia mulai depresi.


Kiara ingin berteriak, tapi suaranya seakan habis tak bersisa. Ingin menangis meraung-raung. Namun, air matanya seakan kering. Kiara heran, ada apa dengan dirinya?


Kiara bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Berendam, mungkin bisa sedikit menenangkannya. Ia mulai menyiapkan air hangat, memberikan aroma therapi dan sedetik kemudian ia sudah berada di dalam bath up.


Satu jam, gumamnya. Ya, Kiara berencana akan berendam selama satu jam. Ia menutup mata, menghirup wangi aroma therapi yang nyatanya gagal memberikan ketenangan untuknya.


Kiara bangkit, mengambil handuk dan berganti pakaian. Rencana satu jam berendamnya tak terlaksana. Ia memilih pergi keluar dari kamarnya menuju kamar Olive.


Tok...tok..tok..


Olive membuka pintu sambil menguap berkali-kali. Kiara yakin ia pasti sudah mengganggu tidur siang Olive.


"Nona" ucap Olive kaget melihat Kiara berada di depan pintu kamarnya.


"Maaf, jika mengganggu istirahatmu" kata Kiara.


"Tak apa, Nona. Apa Nona butuh sesuatu?" tanya Olive.


Kiara diam. Ia bingung ingin mengatakan sesuatu pada Olive. Olive yang peka dengan keadaan hati Nona besarnya, langsung mengambil tindakan.


"Mari, saya temani jalan-jalan. Nona butuh udara segar" ucap Olive menarik tangan Kiara agar mengikuti langkahnya.


Kiara berjalan mengikuti Olive keluar dari penginapan. Mereka berjalan menuju pantai.


"Matahari masih tinggi, Nona. Seharusnya tadi saya membawakan topi untuk Nona" ucap Olive menyadari kesalahannya.


"Tak apa, aku tidak alergi panas matahari" jawab Kiara.


Olive menarik tangan Kiara kembali. Mereka berjalan beriringan menuju cafe bus yang nangkring di tepi pantai. Cafe bus itu menyediakan berbagai minuman dingin dan hangat serta camilan ringan yang tidak menguras kantong.


Kiara memilih duduk sedangkan Olive berjalan menuju bus untuk memesan makanan dan minuman.


"Jus Alpukat, es kelapa muda, sop buah dan pancake keju untuk Nona Kiara" ucap Olive ketika seorang pelayan datang membawa semua pesanan ke meja mereka.


"Kau?"


"Saya hanya pesan jus jeruk, Nona" jawab Olive santai.


"Kenapa untukku banyak sekali?" tanya Kiara heran.


"Untuk mengobati rasa gelisah perlu yang dingin-dingin dan segar, Nona" ucap Olive yang mulai bisa menggoda Kiara.


Kiara mengangguk. Ia mengambil sop buah dan mulai memakannya. Manis dan segar, begitulah sensasi yang dirasakan Kiara setelah menghabiskan sop buahnya.


Olive menyodorkan pancake keju pada Kiara. Tidak butuh waktu lama pancake itu menghilang dari pandangan Olive, berpindah dalam perut Kiara. Kiara beralih pada es kelapa muda. Namun, berbeda dengan sop buah. Kiara hanya meminum sedikit dan beralih pada jus alpukat yang sedari tadi menganggur di hadapannya.


"Apa perlu saya pesankan yang lain?" tanya Olive yang dibalas gelengan kepala oleh Kiara.


"Nona, saya tahu Nona sedang berada di saat yang sulit"

__ADS_1


"Kau tahu?" tanya Kiara terkejut.


"Tentu saja. Tuan Adiraka mengutus saya untuk menemani Nona disini bukan tanpa alasan" jawab Olive.


"Dia takut saya bunuh diri?" tanya Kiara menebak asal.


"Nona bukan orang bodoh yang akan melakukan bunuh diri karena gagal nikah. Tuan Adiraka hanya ingin Nona tidak merasa sendiri menghadapi masa-masa sulit ini. Beliau pikir Nona butuh teman untuk bercerita, menumpahkan segala beban yang ada di benak, Nona"


Hening. Hanya helaan nafas panjang Kiara yang terdengar saat ini.


"Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku?" tanya Kiara sembari mengaduk-aduk jus alpukatnya.


"Pasrah"


"Pasrah?"


"Ya, mungkin saya akan menangis selama sehari dan setelahnya saya akan melanjutkan hidup seperti biasa" ucap Olive.


"Andai aku bisa menangis, mungkin akan aku lakukan. Entahlah hatiku seperti membatu saat ini. Aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata seperti apa keadaanku sekarang. Jika mereka bertanya aku sedih? ya aku sedih tapi aku tak dapat mengekspresikan kesedihanku. Jika mereka bertanya apakah hatiku hancur? Ya, hatiku hancur tapi aku tak bisa merasakan seperti apa sakitnya hatiku"


"Nona..." Olive menggenggam tangan Kiara.


"Aku seperti mati rasa. Aku seperti orang ling-lung tapi aku masih bisa beraktifitas seperti biasa. Bahkan kau bisa melihat bagaimana nafsu makanku. Tetap banyak seperti biasanya" lanjut Kiara lagi.


"Nona, guci yang terlihat utuhpun belum tentu sepenuhnya utuh. Bisa saja di dalamnya terdapat retak-retak kecil yang tak terlihat. Mumpung retaknya masih samar. Mari kita perbaiki agar utuh sempurna" kata Olive menyemangati Kiara.


Kiara diam. Ia meminum jus alpukatnya hingga tandas. Kenyang, tapi hatinya masih hambar. Apa perlu Kiara minum air garam agar suasana hambar dalam hatinya berubah menjadi asin. Kiara lembali menghela nafas. Ia lalu menempelkan kepalanya di atas meja.


"Nonaaaaaaa"


Kiara langsung merasa sesak nafas ketika badan besar bak kontainer membekapnya dengan erat. Kiara mencoba membuka mulutnya lebar-lebar, memberi akses untuk oksigen agar bisa masuk ke dalam paru-parunya.


"Lepaskan, Nona Kiara bisa mati" teriak Olive membuat si pelaku tersadar dan segera melepas bekapannya.


"Evan, kau disini?" tanya Kiara tersenggal-senggal. Ia masih mencoba menghirup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya.


"Saya pikir kita akan bertemu nanti malam" kata Evan berteriak senang.


"Nanti malam? memangnya ada apa?" tanya Kiara tidak mengerti.


"Kau belum memberitahunya?" tanya Evan pada Olive. Olive menggeleng membukan Evan mengeluarkan tanduknya hendak marah.


"Nanti malam akan ada fashion show, Nona. Evening Gown. Karya saya akan dipakai untuk pemilihan putri-putri itu lho, Nona" kata Evan menjelaskan.


"Lalu hubungannya denganku?" tanya Kiara lagi.


"Nona adalah salah satu tamu VVIP mewakili tuan Adiraka untuk menghadiri acara itu" kata Evan lagi.


Kiara membelalakkan matanya mendengar penjelasan Evan. Bagaimana mungkin Dira mengirimnya ke acara penting seperti itu tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Sial, andai saja Dira mengatakannya tentu saja Kiara akan menolak untuk berangkat ke Bali. Ternyata ada udang di balik bakwan atas keberangkatan Kiara ke Bali.


"Kalau Nona tidak mau datang juga tidak apa-apa. Saya mengerti jika Nona sedang patah hati" ucap Evan yang langsung mendapat pelototan tajam dari Olive.


Kiara tersenyum getir. Ternyata berita tentang dirinya yang gagal nikah sudah tersebar. Mungkin Dira sudah menarik semua undangan yang sudah tersebar.


"Sudah jangan sedih, Nona. Oh iya apakah Nona mau melihat butikku disini? Nona bisa melihat gaun-gaun rancangan saya. Semuanya bagussss tanpa cela. Nona mau mencobanya juga boleh atau sekalian mau pemotretan seperti biasanya" ucap Evan memberi penawaran pada Kiara.


"Memangnya kau punya butik disini?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Tentu saja. Ini semua atas titah Tuan Adiraka yang menginginkan ekspansi besar-besaran di berbagai negara. Tuan Adiraka menginginkan karya saya terkenal dipenjuru dunia" kata Evan membanggakan diri.


Tanpa menunggu persetujuan Kiara, Evan menarik Kiara dan membawa menuju butik miliknya.


"Bagus" kata Kiara ketika mulai memasuki butik milik Evan.


"Tentu saja, Nona. Tuan Adiraka tidak pernah pelit mengeluarkan dana. Beliau selalu ingin yang terbaik dan terbagus dalam hal apapun" ucap Evan.


Kiara berjalan menyusuri butik Evan dengan perlahan. Ia mengamati satu persatu gaun yang melekat cantik di tubuh manequin.


Kiara sesekali menyentuh gaun rancangan Evan, menelisik setiap detail pada gaun itu yang membuat pikirannya kembali terbang pada kenangan beberapa tahun yang lalu ketika menjadi model dadakan Evan.


"Nona bisa mencobanya jika Anda menyukainya" kata Evan membuyarkan lamunan Kiara.


"Apakah boleh saya mencobanya?" tanya Kiara ragu.


"Jangankan mencobanya. Nona Kiara bahkan boleh membawa pulang gaun yang Nona suka. Semuanya juga boleh. Tempat ini milik Tuan Adiraka. Itu artinya milik Nona Kiara juga" ucap Evan membuat Kiara tersenyum kecut.


Kiara melanjutkan langkahnya, menelusuri ruangan yang penuh dengan gaun pengantin. Kembali terasa seperti de javu. Kiara mengamati gaun pengantin itu satu-persatu hingga kakinya berhenti pada gaun pengantin yang terpajang tepat di tengah ruangan itu.


Kiara mendekati gaun pengantin itu dengan perlahan. Seperti tersihir, ia langsung tertarik dengan gaun itu. Gaun pengantin putih bermodel ball gown yang dipadukan dengan off shoulder berdetail lengan panjang. Gaun yang akan mengekspos pundak indahnya jika Kiara memakainya.


Pikiran Kiara langsung terbang, membayangkan jika gaun itu adalah gaun pengantinnya. Namun, ia kembali tersenyum kecut mengingat jika rencana pernikahannya sudah dibatalkan oleh Nenek Elang.


"Ah Nona Kiara ternyata ada disini" Evan kembali membuyarkan lamunan Kiara.


"Anda suka? Mau mencobanya?" tanya Evan menawari tapi Kiara tak menjawab.


"Tidak masalah jika gagal menikah. Kalau Nona mau Nona bisa mencobanya. Olive akan membantu Nona dengan senang hati" ucap Evan.


Kiara tersenyum dan Evan mengartikan itu sebagai tanda setuju atas tawarannya. Evan segera memanggil Olive untuk membantu Kiara mamakai gaun pengantin itu.


Tak butuh waktu lama, Kiara muncul mengenakan gaun pengantin itu dengan wajah kikuk. Hal itu tentu saja membuat Evan gemas dan langsung berlari memeluknya.


"Sudah siap jadi pengantin" teriak Evan senang tapi tidak dengan Kiara yang menampakkan senyum getirnya.


"Nona, maukan melakukan sesi pemotretan seperti dulu? Gaun ini sangat pas di tubuh Anda, cantik, indah, menawan. Tinggal make up, pemotretan dan posting. Oh My God! Saya pasti akan kebanjiran orderan" teriak Evan girang.


"Olive, besok bawa Nona Kiara perawatan pengantin. Aku mau pemotretan terlihat natural, ral, ral, raaalllll!!!" Evan berteriak lagi.


"Evan, Nona Kiara belum menjawab tapi mengapa kau sudah menyuruhku ini dan itu?" tanya Olive menyadarkan Evan.


Evan menepuk dahinya. Ia kemudian berlutut memohon agar Kiara mau mengabulkan permintaannya. Kiara hanya mengangguk dan itu tentu saja membuat Evan bangkit dan melompat kegirangan.


"Terima kasih, Nona. Anda memang peri tak bersayap. Saya tidak sabar melihat Rio memotret Anda memakai gaun itu" ucap Evan membuat Kiara terkejut.


"Rio? Dia juga disini?" tanya Kiara.


"Tentu saja. Dia kan anak buah saya. Kalau tidak ada Rio, lalu siapa yang akan memotret model-model itu nanti malam?" celoteh Evan.


"Lalu di mana dia?" tanya Kiara lagi.


"Di pantai. Rio sedang melakukan pemotretan model-model berbikini. Apa Nona mau bergabung?" goda Evan yang langsung mendapat cubitan keras di perut gentongnya dari Olive.


"Aku ingin menemuinya. Olive bisakah kau mengantarku kembali ke pantai?" tanya Kiara.


"Tentu Nona. Saya dengan senang hati akan mengantarkan Anda" ucap Olive dengan senyum tulus yang selalu muncul dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Jangankan Olive, saya juga akan mengantarkan Nona menemui Rio" ucap Evan.


Like, komet, gift, rate. Othor cuma bisa bilang thank you


__ADS_2