
"Kir... Kir... udahan dong makannya, badan gue pegel semua nih" keluh Dira.
Kiara tak menyahut. Ia masih tetap saja sibuk mengunyah keripik kentang di atas punggung Dira. Kiara yang kini sedang hamil terlihat santai duduk di atas punggung Dira sambil terus saja mengunyah makanannya.
"Kir...kir.... tangan sama kaki gue udah kesemutan nih. Lu bukan bocah sepuluh tahun lagi, tapi emak-emak yang mau brojolin bocah. Turun, ya. Gue capek" bujuk Dira yang dibalas gelengan kepala oleh Kiara.
"Kirrrrr..... lu nggak hamil aja gue bengek gendong lu, apalagi sekarang lu mlendung begitu? gue tambah bengek, Kir. Turun, Kir....!" ucap Dira.
"Nggak mau, Kadir. Lu tau sendiri kan sejak gue hamil gue nggak bisa makan kalau nggak duduk di atas punggung lu? gue masih lapar. Tunggu sampai gue kenyang" ucap Kiara yang kini mengambil sepiring nasi goreng di atas meja.
Dira menghela nafas panjang. Ia meratapi nasibnya yang sangat mengenaskan semenjak Kiara hamil. Bagaimana tidak? Dira yang saat itu sudah berada di New York harus kembali ke Indonesia karena Kiara mengalami morning sick yang sangat hebat.
Kiara tidak bisa makan makanan apapun kecuali air putih. Ia tidak bisa tidur, tidak bisa berjalan sehingga ia hanya tiduran sambil menangis. Kiara bahkan harus dirawat di rumah sakit karena kekurangan nutrisi dan tekanan batin.
Disaat Kiara berada di rumah sakit, Kiara meminta Elang untuk menelpon Dira. Ia meminta Dira untuk pulang ke Indonesia. Semula Dira menolak karena dia sangat sibuk mengurus perusahannya yang sedang mengerjakan banyak proyek baru. Namun, berkat ancaman Widya yang mengerikan. Akhirnya Dira mengalah dan memilih pulang.
Kepulangan Dira rupanya menjadi obat kesembuhan bagi Kiara. Perlahan Kiara bisa makan jika disuapi Dira. Kiara bisa tidur jika ditemani suara fals Dira yang menyanyikan lagu dangdut. Aneh, begitulah masa-masa kehamilan Kiara yang penuh drama.
Awalnya Dira merasa senang saja. Namun, semakin lama tingkah adiknya itu semakin membuat Dira emosi. Bagaimana tidak? Kiara lebih sering menyusahkan Dira daripada Elang, suaminya sendiri. Kiara selalu saja meminta sesuatu yang aneh yang membuat Dira naik darah.
"Turun dong, Kir, hu.... hu... hu... " ucap Dira berpura-pura menangis.
"Nggak mau, Kadir. Kiara masih lapar. Lu kan tahu sendiri kalau nih bayi nggak mau makan kalau gue nggak duduk di punggung elu" ucap Kiara.
"Gue capek Kiaraaa... Masak tiap hari kau siksa diriku seperti ini? Lu pikir gue kuda poni? betah banget duduk di punggung gue. Lama-lama gue bisa rematik, Kir" gerutu Dira.
"Namanya juga bawaan bayi. Berkorban sedikitlah untuk calon keponakan" ucap Kiara enteng. Ia masih menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dira terus menggerutu. Ia benar-benar meratapi nasibnya. Kehamilan Kiara masih memasuki bulan ketujuh. Artinya penderitaan Dira masih kurang lebih dua bulan lagi. Dira tidak bisa membayangkan bagaimana penampilannya dua bulan lagi. Pasti tubuhnya mirip dengan unta karena setiap hari menahan beban berat.
"Sayang, Papa pulang..." kata Elang.
Kiara langsung bangkit dan berjalan mendekati Elang. Dira merasa lega. Akhirnya penderitaannya berakhir. Ia segera bangkit dan berjalan mendekati Elang yang sedang mengelus perut Kiara.
"Elang...!!!!" panggil Dira dengan kesal.
"Ya, Abang. Ada apa?" tanya Elang. Ia segera berdiri berhadapan dengan Dira.
"Jujur sama Abang, anak siapa yang dikandung Kiara?" tanya Dira dengan mata melotot dan tangan berkacak pinggang.
"Anak siapa? Jelas anak Elang dong. Elang yang tanam saham di rahim Kiara. Kenapa Abang tanya begitu?" tanya Elang heran karena mendapat pertanyaan seperti itu.
"Kalau ini anak kamu, kenapa dia nyusahin Abang? Kamu sebagai calon bapaknya malah tidak kesusahan sama sekali? Bagaimana Abang tidak curiga jika ini saham yang kamu tanam?" ucap Dira dengan tatapan semakin menakutkan.
Pletak...
Widya menjitak kepala Dira dengan centong nasi. Ia yang mendengar ucapan anak sulungnya itu tentu saja merasa kesal.
"Ngomong itu di rem? Beraninya kamu meragukan jika anak yang dikandung Kiara itu bukan anak Elang?" bentak Widya.
"Mamaeee.... datang-datang main jitak aja. Bagaimana Dira tidak curiga? selama ini Kiara nempel banget sama Dira, nyusahin Dira, menyiksa Dira. Mamae... apa salah dan dosaku..."
Pletak....
Ucapan Dira terputus karena Widya memukul mulut Dira dengan centong nasi. Dira kembali mengaduh. Widya memilih berlalu karena merasa jengah jika harus melihat drama dari anak sulungnya itu.
"Kamu...!!!" Dira menunjuk perut Kiara.
"Kamu belum lahir sudah nyusahin, Uncle. Itu Bapak kamu, bukan Uncle! Awas ya kalau udah besar! Jangan minta uang jajan sama Uncle. Duit uncle dollar semua" ucap Dira kesal.
__ADS_1
Bukkk...
Kiara mengaduh. Ia sedikit membungkuk memegangi perutnya. Rupanya bayi di dalam perut Kiara menendang setelah diomeli Dira. Tendangan bayi itu sangat keras, tidak seperti biasanya. Bayi itu seperti memberi isyarat jika ia kesal mendengar perkataan Dira.
"Eh, koq malah ngamuk? Baby, kamu masih kayak kecambah aja sudah berani ngamuk sama Uncle. Hellow???? Awas aja nanti kalau sudah besar beneran minta uang jajan sama Uncle!"
Bukk...
Bukk...
Bukk..
Bayi itu menendang lagi berkali-kali membuat Kiara semakin membungkukkan badannya. Kiara berteriak, meringis kesakitan. Bayi di dalam perutnya sepertinya sangat marah mendengar perkataan Dira.
"Baby....baby... sayang. Tenang ya, sayang. Baby... dengarkan Papa. Maafkan Uncle ya? Uncle tadi hanya bercanda. Baby tenang di dalam ya, sayang? Kasian Mama" bujuk Elang.
Elang mengusap-usap perut Kiara dengan kedua tangannya. Ia menenangkan calon anaknya yang sedang marah akibat omelan Dira.
Elang merasakan tonjolan di perut Kiara. Ia tersenyum. Elang terus mengusap perut Kiara dengan sayang. Perlahan rasa sakit Kiara hilang. Ia segera berjalan mendekati Dira dan menjewer Dira dengan keras.
Kiara menjewer kedua telinga Dira tanpa ampun. Dira berteriak kesakitan karena jeweran Kiara seperti capitan kepiting yang sering ia temukan di empang milik Pak lurah.
"Sayang, sudah" ucap Elang. Ia segera menarik kedua tangan Kiara.
"Ya ampun! Lama-lama kesempurnaan gue bisa berkurang" gerutu Dira.
"Sayang, sudah ya! Jangan berantem terus sama Abang. Hari ini jadwal kontrol kan? Ayo ganti baju! Kita berangkat sekarang" ajak Elang.
"Kadir di bawa juga ya..." pinta Kiara dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Nggak...Nggak...Nggak... Apa-apaan kok gue mau diajak juga? Gue mau tidur" tolak Dira. Ia segera berlari menuju kamarnya, menyelamatkan diri secepat mungkin.
"Sayang, Abang kan capek. Sudah ya kontrolnya sama Papa aja" bujuk Elang. Ia kemudian kembali berlutut, memegang perut Kiara lagi.
"Baby..., anak Papa. Hari ini kita kontrol. Baby diantar Papa saja ya? Jangan sama Uncle! Uncle lagi capek mau istirahat" ucap Elang pada perut Kiara. Tak lupa tangannya mengelus perut Kiara.
Elang merasakan tendangan halus. Dia meyakini jika anaknya setuju dengan tawarannya. Elang kembali bangkit. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kiara.
"Sayang, ayo siap-siap! Elang bantu ganti baju" ucap Elang yang di balas anggukan dan senyuman Kiara.
----***----
Dua bulan kemudian....
Suara tangis seorang bayi terdengar di kamar bersalin VVIP yang ditempati Kiara. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan, lahir dengan selamat melalui persalinan normal.
Seketika kedua mata Elang berkaca-kaca melihat bayi merah itu yang baru saja lahir di dunia. Elang menoleh ke arah Kiara dan langsung memeluknya. Wanitanya ini sudah menjadikan hidupnya sempurna, memberinya kebagiaan yang luar biasa yang tidak ternilai dengan apapun di dunia ini.
Elang mengecup kening Kiara berkali-kali. Mengucapkan terima kasih karena sudah memberinya seorang bayi cantik yang akan mengisi hari-hari mereka di rumah.
"Selamat, Tuan Elang. Bayi Anda sehat, sangat cantik seperti Ibunya" ucap dokter yang membantu persalinan Kiara.
Bayi mungil yang baru saja dibersihkan oleh seorang perawat, kini tengah berada dalam gendongan Elang.
"Aku sudah menjadi seorang Papa" gumam Elang. Ia masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
"Tuan, berikan bayi itu pada ibunya. Bayi akan menyusu untuk pertama kalinya" perintah dokter itu dan tentu saja segera dilakukan oleh Elang.
Kini bayi mungil itu berpindah ke tangan Kiara. Ia dibantu oleh seorang perawat untuk memberikan ASI kepada bayinya.
__ADS_1
Brakkk
Pintu kamar bersalin terbuka. Dira muncul dengan tangan menenteng sebuah rantang.
"Keponakan gue sudah lahir????" teriak Dira. Ia kemudian berlari mendekati Elang. Tak lupa Dira juga menyerahkan rantang yang ia bawa kepada salah satu perawat yang masih berada di ruang itu.
Widya muncul bersama Edo. Ia segera menjewer telinga Dira dengan gemas.
"Bikin malu aja! Ini rumah sakit, bukan hutan. Mama jadi bertanya-tanya kamu ini anak Mama apa anak orang hutan? suka sekali teriak-teriak" omel Widya yang tentu saja membuat orang-orang disana terkekeh.
"Namanya terlalu ba-ha-gi-ahhhh, Mamae. Hei Elang, dimana ponaan gue? sudah lahirkan tuh bocah?" tanya Dira.
"Sudah, Abang. Sekarang sedang diberi ASI. Itu tirainya masih ditutup. Nanti perawat akan membuka tirainya kalau Ara sudah selesai memberi ASI" kata Elang.
"Bagaimana keadaan Kiara dan bayinya? Maaf Mama dan Ayah Edo terlambat. Ini semua gara-gara Dira yang memaksa mampir ke restoran padang" ucap Widya kesal.
"Dira kan jaga-jaga, Mamae, takutnya Kiara lapar setelah melahirkan" ucap Dira cuek yang tentu saja membuat beberapa perawat kembali tertawa kecil.
"Mama tenang saja, ibu dan bayinya sehat" ucap Elang membuat Widya bernafas lega.
Dira berjalan mengendap-ngendap mendekati tirai yang menutupi tempat Kiara menyusui. Dira memegang belahan tirai itu, membuka perlahan dan memunculkan kepalanya.
"Ci...luk... ba....." teriak Dira membuat Kiara dan bayinya kaget.
Bayi Kiara yang semula anteng menyusu, seketika menangis mendengar suara Dira.
Widya segera berlari. Ia kembali menjewer telinga Dira dan menariknya keluar. Dira memberontak, ia malah mengambil bayi Kiara dan menggendongnya.
"Diraaa... itu anak gue bukan boneka cit-cit! Hati-hati gendongnya!!!" pekik Kiara ketika melihat Dira yang tiba-tiba merebut bayinya. Widya mencoba mengambil bayi itu tapi Dira segera mencegahnya.
"Ssstt... diam semua. Lihat bagaimana Uncle Adiraka menenangkan si Kilang" ucap Dira sambil mengayun-ayunkan badan si bayi perlahan. Ia juga menepuk-nepuk tangan bayi itu sembari bersenandung kecil.
"Kilang? Siapa tuh Kilang?" tanya Kiara.
"Nih bocah. Gue sebagai Uncle memberi nama dia Kilang, Kiara dan Elang" ucap Dira bangga.
"No! Nama apaan tuh Kilang? Kilang minyak?" tolak Kiara sewot.
"Ide bagus! Nama lengkapnya Adinda Kilang Minyak. Semoga menjadi juragan minyak terbesar di dunia" ucap Dira yang disambut gelak tawa perawat di situ.
"Jangan ngawur! Itu anak Kiara dan Elang. Kamu tidak berhak memberi nama pada anak itu. Bikin anak sendiri, lalu beri nama sendiri" bentak Widya yang dibalas acungan jempol dari Kiara.
"No, no, no. Dira adalah orang yang paling berhak memberikan nama karena hanya Dira lah yang disiksa oleh bocah ini selama sembilan bulan" ucap Dira memberi ultimatum.
"Tapi jangan aneh-aneh. Gue nggak mau anak gue aneh kayak lu" kata Kiara.
"Sayang, sudah biarkan Abang memberi nama. Nanti kita revisi kalau tidak cocok" kata Elang memberi saran.
"Lu pikir skripsi? pake di revisi segala" cibir Dira membuat yang lain tertawa.
"Sudah dengarkan semua! Dira akan mengumumkan nama dari bayi ini. Setelah semedi selama sembilan bulan maka Dira memutuskan bahwa anak ini bernama AKILA, anak Kiara dan Elang. Cantik kan semua???" tanya Dira meminta dukungan.
"Cantikkkkkk" seru mereka kompak.
"Terima kasih Abang atas sumbangan namanya. Elang mau melengkapi nama si bayi menjadi Akila Adriani Putri Wilson" ucap Elang.
"Mama setuju. Nama yang cantik sekali" seru Widya. Ia dengan cepat mengambil Akila dari gendongan Dira.
"Selamat datang Akila, cucu Oma. Tumbuhlah menjadi anak yang cantik dan lucu" doa Widya sembari mencium pipi mungil Akila.
__ADS_1