
Rio kaget mendapati dirinya berada di sebuah kamar bernuansa putih. Seingatnya, ia sedang dalam perjalanan menuju bandara. Rio ingat betul dia merasa mengantuk dan tertidur. Apa mungkin taksi yang membawanya kesasar hingga ia terdampar di tempat ini?
Rio memijit keningnya dengan perlahan. Kedua netranya mengitari sekelilingnya, mencoba mengingat mungkin ia pernah berada di tempat ini. Rio mulai berprasangka bahwa dirinya di culik. Namun, hatinya juga menyangkal karena tempat yang ia tempati sekarang tidak cocok dijadikan sebagai tempat penyekapan.
Bagaimana tidak? Rio berada di kamar yang bisa dikatakan tidak sempit. Kamar itu dilengkapi dengan AC dan rak buku yang penuh dengan buku. Ada banyak makanan di atas nakas yang membuat Rio terheran dengan apa yang sedang ia alami saat ini.
klekkk...
Pintu kamarnya terbuka. Seorang pria bertubuh kekar masuk dengan senyum mengejek. Pria itu memakai kaca mata hitam dan setelan jas hitam juga. Ia berjalan ke arah Rio.
"Hai, Boy! Kau sudah bangun rupanya?" suara pria itu sepertinya tidak asing di telinga Rio.
Rio tidak menjawab. Pikirannya sedang sibuk membaca apa yang terjadi saat ini.
"Siapa kau? Mengapa aku ada di sini?" tanya Rio yang d balas dengan seringai oleh Pria itu.
Pria itu membuka kaca matanya.
"Kau lupa padaku hah???"
Rio memutar bola matanya dengan malas. Ia segera melempar pria itu dengan bantal. Namun sialnya laki-laki itu dapat menghindar dengan cepat.
"Jonathan!!!! Apa yang kau lakukan kepadaku?" tanya Rio kesal.
"Ha..ha...ha....lihatlah wajahmu! Aku rindu melihat wajah anehmu ketika kesal. Sungguh-sungguh membuatku tidak ingin berhenti tertawa" ucap laki-laki itu yang bernama Jonathan.
"Hentikan, Jo! Keluarkan aku dari tempat ini! Aku harus pergi. Pesawatku beberapa menit lagi akan berangkat" ucap Rio yang kembali di jawab dengan tawa Jonathan.
"Hai, Boy! Untuk apa kau mau pergi? pesawatmu sudah berangkat dari kemarin" ucap Jonathan sambil terkekeh. Ia benar-benar tidak dapat menahan tawanya.
"Apa...? Jonathan! Apa yang kau lakukan kepadaku??? Dimana aku???" tanya Rio dengan nada tinggi. Ia secara reflek mencengkram kerah kemeja baju Jonathan.
"Eitsss, sabar Boy. Biar aku jelaskan" Rio kemudian melepas cengkramannya.
"Ada seseorang yang menyuruhku untuk menculikmu"
"Menculikku? Siapa?" potong Rio.
"Sabar, boy. Biar aku bercerita. Aku ditugaskan seseorang untuk mengintaimu dan selama beberapa hari ini aku selalu mengintaimu, Boy, hingga akhirnya kau pergi ke bandara"
"Lalu?"
"Bos ku menyuruhku membiusmu dan membawamu kesini karena dia tidak mau sampai kau berangkat. Boy, apa kau punya masalah dengan seseorang? atau kau punya musuh?" tanya Jonathan.
Rio menggeleng.
"Apakah orang yang menyuruhmu adalah Adiraka?" tebak Rio karena instingnya mengatakan jika Dira tidak ingin dirinya bertemu Kiara.
Dira pasti mengetahui rencana keberangkatan Rio ke Jakarta. Rio tidak punya musuh. Satu-satunya orang yang mungkin melakukan hal ini adalah Adiraka.
Jonathan mengangguk.
"Boy, kau ada masalah apa dengannya? Sampai dia menyuruhku untuk menculikmu?" tanya Jonathan yang dibalas hembusan nafas berat Rio.
"Aku mencintai adiknya" ucap Rio.
"Adiraka tidak suka padaku karena aku pernah tidur dengan kekasihnya" ucap Rio menunduk.
"Apa....? Kau berani sekali tidur dengan kekasih Tuan Adiraka, Boy! Beruntung sekali Bos tidak membunuhmu saat itu"
"Aku tidak tahu kalau dia adalah kekasih Adiraka. Saat itu aku sedang mabuk"
"Sudah. Tidak usah kau jelaskan lagi. Kau harusnya bersyukur Tuan Adiraka tidak menghabisimu. Lihat saja, sekarangpun dia tidak mengizinkanku untuk menyentuhmu sedikitpun. Dia hanya menginginkan kau dihentikan gerak geriknya" potong Jonathan menjelaskan.
__ADS_1
"Sepertinya karena kesepakatan antara Dira dan Kiara"
"Apa maksudmu, Boy?"
"Ini hanya firasatku saja. Aku pernah melihat mereka bertengkar ketika Dira hampir saja menghabisi nyawaku. Kiara berteriak tentang kesepakatan mereka yang aku yakini ada hubungannya denganku"
Jonathan menepuk-nepuk pundak Rio. Ia beranjak keluar dan kembali lagi dengan membawa makanan untuk Rio.
"Makanlah! Kau belum makan dari kemarin" Jonathan menyodorkan paperbag yang berisi makanan pada Rio.
Rio menerima paperbag dari Jonathan dan membukanya. Rio makan bersama Jonathan. Mereka saling bercerita banyak hal.
Jonathan adalah teman Rio semasa SMA. Mereka berteman sangat akrab. Jonathan dikenal sebagai laki-laki kejam yang siap bertarung melawan siapa saja yang berani mengusiknya ataupun orang- orang terdekatnya. Rio yang memang tidak pandai dalam hal bertarung tentu saja merasa beruntung memiliki teman seperti Jonathan.
Setelah lulus SMA, Rio melanjutkan hidupnya dalam dunia fotografi, memilih mengambil kursus dan akhirnya ia bekerja dengan Evan. Sedangkan Jonathan, dia memilih menghilang dari teman- temannya. Ia bergabung menjadi anggota black eye dimana Dira berperan sebagai boss mereka.
"Sampai kapan kau mengurungku?" tanya Rio sembari menyuapkan suapan terakhirnya.
"Sampai Tuan Adiraka menyuruhku untuk melepaskanmu" ucap Jonathan enteng.
"Tidak bisa begitu,Jo. Aku harus berangkat. Aku... aku... aku harus menyerahkan kotak ini pada Kiara"
"Menurutlah, Boy! Kau tidak punya pilihan. Meskipun kau mau kabur, Tuan Adiraka dengan mudah bisa melacakmu. Seharusnya kau bersyukur Tuan Adiraka hanya menghentikan gerak-gerikmu"
"Tapi, Jo...!!!"
"Menurut, Boy!!!" ucap Jonathan dengan nada agak keras.
Rio menghela nafas kasar.
"Jangan gegabah! Kau tahu sendiri bagaimana kekuasaan Tuan Adiraka disini. Jangan menentangnya jika kau masih sayang dengan nyawamu. Aku pikir kau mengalah dahulu sampai akhirnya Tuan Adiraka sendiri yang melepaskanmu"
"Lalu menurutmu aku harus diam saja begitu? hahahahaha... Kau jangan becanda, Jo!!"
Jonathan menatap Rio dengan tajam. Teman sekolahnya ini tetap saja seperti dulu. Keras kepala dan gegabah. Padahal untuk melawan Adiraka butuh strategi yang halus dan matang.
"Ikuti kata-kataku kalau kau mau tetap hidup. Gadis ini yang akan membantumu untuk lolos dari Tuan Adiraka."
Rio mengernyitkan dahi.
"Maksudmu?."
"Aku tidak bisa mengatakan sekarang. Intinya kau menurut saja. Lagi pula kau di sini baik-baik saja. Tuan Adiraka tidak akan menyiksamu kecuali jika kau melawannya"
"Lalu bagaimana dengan Evan? Dia pasti cemas mencariku" ucap Rio.
Rio merasa khawatir karena bagaimanapun Evan yang menyuruhnya ke Jakarta. Rio yakin Evan pasti merasa frustasi dan sangat bersalah jika tahu dirinya hilang.
"Biarkan saja. Jika Evan tahu keberadaanmu, sama saja kau menggali lubang kuburmu sendiri. Ayolah, Rio, menurutlah padaku. Anggap saja kau sedang liburan di sini" ucap Jonathan terkekeh.
____****____
"Aku ingin bertemu bos mu" Aisha mengangetkan Olive yang sedang fokus mengatur jadwal milik Kiara.
Saat ini Kiara sudah mulai terjun langsung dalam beberapa meeting penting dengan para pemimpin dari perusahaan lain. Sehingga Olive harus sigap dalam mengatur jadwal kegiatan Kiara tiap jam nya.
"Sekretaris lemot! Aku heran mengapa perempuan itu memilih sekretaris sepertimu" maki Aisha pada Olive sembari berlalu menuju pintu ruangan Kiara.
"Hei, stop!!!"
Olive segera beranjak dari kursi empuknya. Ia menghadang langkah Aisha karena tidak mau ada tragedi peperangan seperti kemarin.
Aisha berkacak pinggang sambil melotot ke arah Olive. Olive menarik tangan Aisha tetapi Aisha menghempaskan tangannya dengan kencang.
__ADS_1
"Aku ada urusan dengan bos mu. Jangan menghalangiku!" Aisha dengan cepat berlari dan segera membuka pintu ruangan Kiara.
Kiara yang saat ini sedang fokus memeriksa berkas-berkas penting perusahaan, harus menghentikan aktifitasnya. Ia mendongakkan kepalanya, melihat siapakah yang masuk ke ruangannya tanpa ketuk pintu dulu. Ujung bibir Kiara tertarik ke atas ketika melihat siapa yang datang.
"Maaf, Nona Kiara, saya sudah menghalanginya"
"Tak apa Olive. Kembalilah! Biar aku yang mengurus wanita ini" ucap Kiara yang dibalas anggukan Olive.
"Apa yang membuatmu kesini?" tanya Kiara to the point.
Aisha berjalan mendekati meja kerja Kiara. Tatapannya sangat tidak bersahabat.
"Kau tidak mau menyuruhku duduk? Apa begini penyambutanmu kepada tamu?" sindir Aisha yang dibalas tawa oleh Kiara.
"Jika tamu itu sopan pasti aku layani dengan baik. Hai Nyonya Alexander silakan duduk dan ada perlu apa kau kemari?" ucap Kiara lagi-lagi dengan tawa mengejeknya.
Aisha segera menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, meyakinkan dirinya untuk tidak ragu dengan keputusannya.
"Aku merestui pernikahanmu dengan Mas Ale"
Kiara memicingkan matanya. Ia diam menunggu kalimat lanjutan dari Aisha.
"Mas Ale menerima tawaranmu untuk menikahinya" ucap Aisha lagi sembari membuang muka ke samping.
Kiara tertawa menyeringai mendengar ucapan Aisha. Wanita di hadapannya ini benar-benar bodoh, pikir Kiara. Kiara meyakini Ale pasti belum menyetujui tawarannya. Ini adalah keputusan sepihak dari Aisha.
"Kalau Mas Ale setuju lalu kenapa tidak dia saja yang kesini? Apa dia tidak tahu jika aku merindukannya?" ucap Kiara memancing rasa cemburu Aisha.
"Mas Ale sibuk mencari investor" ucap Aisha ketus.
"Oooo.... kalau dia setuju menikah denganku, Mas Ale tidak perlu susah-susah mencari investor. Aku yang akan menjadi investor"
"Atau jangan-jangan ini hanya keputusan sepihak darimu, hah? kenapa? kau takut miskin? nggak bisa belanja?" sindir Kiara.
Wajah Aisha seketika berubah menjadi merah padam. Ia mencengkram ujung bajunya guna melampiskan amarahnya.
"Tolong kami, Kiara! Kami sudah tidak punya apa-apa. Perusahaan itu adalah hidup Mas Ale. Dia merintis usahanya dari nol. Aku tidak mau Mas Ale hancur" ucap Aisha dengan nada melemah.
"Wah... ternyata Nyonya Alexander berhati mulia" ucap Kiara sambil bertepuk tangan.
"Tolong kami" ucap Aisha lagi.
Aisha berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimanapun Aisha tidak ingin terlihat lebih lemah lagi di hadapan Kiara.
"Aku akan menolongmu, Nyonya Aisha. Asal....."
"Apa ada syarat lain?" tanya Aisha.
"Asal kau sendiri yang menyiapkan pernikahanku dengan Ale" ucap Kiara enteng.
Deg...
Aisha diam. Ia berusaha menahan gejolak hatinya yang mulai runtuh. Aisha tak bisa lagi menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kenapa? apa kau tidak sanggup?" ucap Kiara cuek. Tak ada rasa iba sedikitpun yang diperlihatkan Kiara.
"Kalau kau tidak sanggup, tidak apa-apa. Silakan keluar cari investor lagi" usir Kiara dan ia kembali membaca berkas-berkasnya.
Aisha menyeka air matanya.
"Baiklah, aku yang akan menyiapkan sendiri acara pernikahan kalian" ucap Aisha membuat Kiara bersorak penuh kemenangan dalam hati.
"Kalau begitu tunggu apalagi. Segera siapkan acara pernikahanku. Jika kau butuh uang, hubungi saja Olive. Aku hanya terima beres. Masalah waktu dan tempat semua aku pasrahkan kepadamu, calon maduku" ucap Kiara sengaja menekankan pada kata calon maduku.
__ADS_1
Aisha beranjak dari kursinya. Ia keluar dari ruang kerja Kiara dengan langkah gontai. Beberapa kali Aisha menyeka air matanya yang lolos membasahi pipinya.
"Bagaimanapun ini keputusanku. Aku harus kuat menghadapi ini. Aku tidak mau Mas Ale hancur. Biarlah hatiku terluka. Jika memang Mas Ale jodohku, kami pasti akan tetap bersatu" gumam Aisha lirih.