
Kiara membuka matanya, mengedarkan pandangannya di sekeliling tempatnya berada. Indra penciumannya mengendus bau obat-obatan yang selalu ia benci.
Kiara melihat tangan kanannya yang tersambung dengan selang infus. Seketika otaknya langsung menangkap di mana ia sekarang berada.
Kiara menghelas nafas. Selama lima hari, setiap ia membuka mata Kiara selalu berada di tempat yang berbeda. Kiara bangkit dari tidurnya, beralih duduk bersandar pada dinding kasurnya. Tak ada orang di sampingnya.
klekkk...
Pintu kamarnya terbuka. Dira masuk dan kedua netranya langsung membola melihat Kiara telah sadar. Dira segera berlari memeluk adiknya itu. Rasa khawatirnya telah hilang. Dira sangat takut adiknya tidak akan membuka mata lagi meskipun dokter sudah mengatakan jika Kiara hanya dibius. Namun karena dosis bius yang kuat membuat Kiara lama untuk sadar.
"Kadir...."
"Diam...! jangan banyak bicara apalagi banyak bergerak!" perintah Dira.
Dira kembali mengeratkan pelukannya pada Kiara. Meskipun Kiara sering berulah dan membuatnya marah, tetap saja Kiara adalah bagian dari nyawanya.
"Gue nggak bisa nafas kalau lu peluknya rapet begini" ucap Kiara membuat Dira segera melepas pelukannya.
"Gue panggil dokter dulu"
Dira berlari keluar dari kamar dan tak lama Dira kembali datang bersama seorang dokter dan perawat yang sedang berjaga. Dokter itu segera memeriksa kondisi Kiara.
"Nona Kiara baik-baik saja, hanya saja badannya masih lemas karena beberapa hari tidak mendapat asupan makanan. Saya akan berikan resep obat untuk ditebus" ucap Dokter itu sembari menuliskan resep untuk Kiara.
"Lu baik-baik disini. Gue mau nebus obat buat lu" ucap Dira setelah Dokter dan perawatnya pergi.
Dira melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, memanggil salah satu bodyguardnya agar pergi menebus obat Kiara dan membeli bubur.
Dira kali ini tidak mau ceroboh lagi. Dimanapun mereka berada akan ada bodyguard yang mengikuti mereka dengan pakaian santai sehingga tidak mencolok bagi orang-orang sekitar.
Tak lama bodyguard suruhan Dira datang dengan membawa pesanan yang Dira minta. Dira segera masuk menemui Kiara yang masib duduk melamun di atas brangkarnya.
"Kiara..." Dira menghampiri adiknya.
"Lu makan dulu terus minum obat. Kata dokter lu belum boleh makan yang kasar-kasar, takutnya lambung lu kaget. Jadi gue belikan bubur" ucap Dira dengan kedua tangan yang sibuk menyiapkan bubur untuk Kiara.
"Gue pengen nasi padang" ucap Kiara pelan.
"No, sarang burung! Turuti perintah dokter kalau lu mau sembuh"
Kiara memonyongkan bibirnya. Perlahan, Dira menyuapi Kiara. Dira bisa menangkap ketidak sukaan adiknya. Kiara mengunyah bubur itu dengan pelan.
"Lu nggak suka ya?" tanya Dira.
"Gue emang nggak suka bubur, Kadir" jawab Dira dengan suara cemprengnya.
"Makan saja jangan membantah. Nanti kalau lu sudah sembuh, lu bisa makan apa aja" Dira kembali menyuapi adiknya dengan telaten sampai bubur itu habis juga.
"Kadir, lu nggak mau cerita?" tanya Kiara.
"Tentang?"
"Bagaimana bisa gue di sini? Seingat gue, gue lagi jadi tawanannya Zian"
"Seharusnya gue yang tanya kenapa lu bisa jadi tawanan orang macam dia?" umpat Dira kesal.
"Gue nyasar, Kadir. Terus tiba-tiba dia meluk gue dari belakang dan bius gue. Kalau tuh anak nggak main bius, gue bisa ngatasin"
__ADS_1
"Makanya kalau diberi tukang pukul tuh jangan protes" umpat Dira.
Kiara diam.
"Terus Zian lu apain? lu bawa ke kantor polisi?" tanya Kiara.
"Percuma gue bawa ke kantor polisi. Kalau dia bebas, dia bisa berulah lagi"
"Jadi lu apain Zian?"
"Gue buang ke kali brantas biar jadi santapan ikan cucut. Puas lu?" ucap Dira.
Dira memang sengaja tidak memberi tahu hal yang sebenarnya pada adiknya itu. Dira tidak ingin Kiara tahu seperti apa sisi kejamnya.
Dira memerintahkan anak buahnya mengurung Zian di ruang bawah tanah dan mencambuknya setiap hari.
Seminggu kemudian, Dira membuang Zian ke rumah sakit jiwa karena memang kondisi Zian yang sudah tidak waras. Dira membayar orang untuk mengawasi Zian dengan ketat.
"Gue pulang ke Jakarta ya?" pinta Kiara.
"No! Lu tetap disini sampai batas waktu yang gue tentukan" ucap Dira tegas.
"Gue nggak suka disini, Kadir"
"Suka nggak suka, lu tetap disini. Nurut sama gue"
"Kapan sih gue nggak nurut sama lu? Lu minta gue ambil master, gue lakuin. Lu minta gue jauhin Rio, gue lakuin. Lu gagalin pernikahan gue sama Ale, gue juga terima. Kadir... sekarang gue balik, kapan lu mau nuruti kemauan gue? gue bukan robot yang bisa nuruti semua perintah lu. Gue manusia, Kadir. Gue punya hati" ucap Kiara menggebu-gebu.
Andai saja tubuhnya tidak lemas, Kiara pasti sudah melempari Dira dengan berbagai macam benda padat yang ada di sekitarnya.
"Bagaimana gue bisa nurutin kemauan lu kalau semua kemauan lu itu nggak ada yang bener?"
"Besok gue balik lagi ke Jakarta" ucap Dira yang diacuhkan Kiara. Kiara tetap membuang muka, tidak mau menoleh ke arah Dira.
"Lu baik-baik sama Mama dan Om Edo. Gue sudah pasrahin lu sama mereka. Lu nurut dan jangan bikin ulah"
Klek...
Widya dan Edo masuk. Senyum Widya langsung mengembang melihat anak bungsunya sudah sadar. Widya berlari memeluk Kiara. Kiara diam mematung tidak membalas pelukan Kiara.
Dira menatap tajam ke arah Kiara. Dia memberikan kode agar membalas pelukan Widya. Namun, bukan Kiara namanya jika menurut pada perintah Dira. Dira yang mulai kesal akhirnya menarik tangan Kiara dan mengaturnya agar memeluk Widya.
"Maafkan, Mama. Kalau saja Mama tidak menyuruhmu ke tempat kerja Ayah, Kiara pasti tidak akan mengalami hal buruk seperti ini" ucap Widya menangis yang tersedu-sedu.
Melihat Widya yang menangis seperti ini membuat Kiara muak. Kiara segera melepas pelukan Widya dan kembali berbaring memunggungi Widya.
"Mama, Kiara lelah. Bisakah kalian semua keluar? Kiara ingin istirahat"
Dira menghela nafas. Akal-akalan adiknya mulai diluncurkan. Andai saja tidak ada Edo di ruangan ini, Dira pasti sudah mengamuk padanya. Dira berusaha tenang menahan emosinya karena dia tidak mau terlihat kejam di depan Edo.
Widya mengangguk mendengar perkataan Kiara. Ia menarik tangan Edo agar keluar. Namun, Edo menolak untuk keluar. Dia meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Kiara.
Dira mengerti, dia segera menarik tangan Widya dan membawa Widya keluar dari kamar Kiara. Kini tinggallah Edo yang berdiri agak jauh dari brangkar Kiara.
"Maaf...," ucap Edo lirih.
Edo merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa anak sambungnya itu. Bagaimanapun Edolah yang membuat Kiara pergi dan akhirnya diculik.
__ADS_1
"Kiara mau memaafkan Ayah?" tanya Edo.
"Kau bukan ayahku dan selamanya tidak akan menjadi ayahku. Jangan mimpi, saudara!" ucap Kiara ketus.
Edo menghela nafas, sepertinya dia memang harus mengalah dulu pada Kiara. Kiara yang keras kepala tidak akan mudah ditaklukkan jika memakai cara kasar.
"Om mengerti jika Kiara belum bisa menerima Om sebagai Ayah Kiara. Tapi setidaknya Kiara membuka hati untuk mengenal dan berteman dengan Om" bujuk Edo.
"Jika saya tetap tidak mau, Anda mau apa? Mau mengusir dari rumah Anda? Mau memisahkan saya dari Mama saya? Silakan! Lakukan yang Om mau"
"Kiara, kenapa sih kamu sangat membenci Om?"
"Karena Anda berani menikahi Mama saya. Anda tidak sadar dengan kesalahan Anda?" bentak Kiara.
"Dimana letak kesalahan saya, Kiara? Mamamu itu janda, saya duda....,"
"Mau janda atau tidak tetap saja Anda salah. Kenapa Anda tidak menikahi janda yang lain? mengapa menikahi Mama saya?" teriak Kiara.
Dira yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka merasa geram. Dira masuk kembali ke kamar Kiara dan menjewer telinganya. Dira gemas sekali dengan tingkah adiknya yang membuatnya malu. Andai bukan di rumah sakit, pasti diantara Dira dan Kiara sudah terjadi perang saudara.
"Apaan sih Kadir? Kenapa lu main jewer telinga gue?."
"Gue gemesssss sama eluuuuu!!! udah dibilangin nurut jangan bikin ulah tetap aja ngebantah. Ini telinga berfungsi apa nggak sih????" ucap Dira gregetan. Dira berganti menyubit kedua pipi adiknya dengan gemas.
"Kadirrrrrr......"
Widya segera berlari, menarik tubuh Dira agar menjauh dari Kiara. Dira masih berusaha menjewer Kiara lagi. Namun, Widya segera menahan pergerakan tangannya.
"Dira.... sudah! Malu sama Ayah, masak sudah besar masih saja main jewer-jeweran" ucap Widya.
"Anak gadis Mama ini ya... bisanya bikin Dira emosi. Bagaimana kalau besok kita nikahin aja dia" ucap Dira geram.
"Boleh. Bagaimana kalau sama anak Pak Kades?" usul Widya.
"Mama....!" teriak Kiara dan Dira bersamaan.
"Mama ini bagaimana sih? Kiara ini presdir masak dijodohin sama anak Pak Kades? bisa turun level dia jadi menantu Kades" ucap Dira menjambak rambutnya dengan kesal.
"Loh kok bisa turun level sih? Si Ubay anaknya Pak Kades ganteng lho, lulusan S1 bahasa inggris. Dia juga punya tempat kursus kayak punya Ayah" bela Widya tak terima.
"Aduuhhhh Mamae....... kalau cuma ganteng sama punya tempat kursusan, rekan-rekan bisnis Dira ada yang lebih cetar, Mama...." ucap Dira menepuk- nepuk kepalanya.
"Stoppppp!!! Kalian apa-apaan sih? Kenapa malah repot jodohin Kiara?" teriak Kiara kesal.
Widya dan Dira saling melirik sedangkan Edo yang hanya menjadi penonton tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah anak-anak sambungnya.
"Mamae...Dira punya calon!" teriak Dira tiba-tiba yang tentu saja mengagetkan Widya dan Kiara.
"Siapa? siapa? ganteng tidak?" tanya Widya antusias.
"Ganteng, Mamae. Kiara pasti katarak kalau menolak cowok ini. Dira yakin Mamae pasti setuju dengan pilihan Dira" ucap Dira bersemangat.
"Lu jangan macem-macem. Gue nggak mau" ucap Kiara.
"Lu nggak punya pilihan. Sesuai isi surat wasiat, Papa. Lu harus menikah paling lama umur 25 tahun dan itu beberapa bulan lagi" ucap Dira.
"Bohong!!! Mana ada isi surat wasiat aneh seperti itu. Gue nggak mau. Pokoknya nggak mau...!!!!" teriak Kiara lagi.
__ADS_1
"Gue bodo amat. Mama, Om Edo, Dira pamit dulu. Mau menjemput calon suami Kiara. Dira titip Kiara. Kalau dia membuat ulah, ikat aja. Dira sudah pasrah" ucap Dira.
Dira segera memeluk Widya dan Edo. Tak lupa ia menjulurkan lidahnya pada Kiara, mengejek adiknya itu agar Kiara merasa kesal. Dira segera berlari sembari menghubungi Edward. Detik ini juga Dira akan bertolak kembali ke Jakarta.