Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 74


__ADS_3

Elang sedang duduk di sebuah cafe sambil menikmati secangkir kopi seorang diri. Cafe ini adalah cafe yang sama ketika Elang bertemu Ellea beberapa hari yang lalu. Beberapa kali Elang menghela nafas, mencoba merilekskan hatinya yang seakan sedang menahan beban seberat 1000 ton.


Tak jauh dari tempat duduk Elang, Dira dan Edward duduk berhadapan. Mereka menyamar menjadi anak kuliahan agar tidak terlihat menyolok dari pengunjung cafe yang lain karena memang mayoritas pengunjung cafe ini adalah anak muda yang kuliah di universitas yang letaknya tak jauh dari cafe ini.


Dira sengaja memakai kaos polo bergaris yang dipadukan dengan celana jeans. Begitu pula Edward yang menggunakan pakaian yang sama bahkan ia harus mencukur bersih jambang dan kumisnya agar terlihat lebih muda.


Elang meneguk kopi di cangkirnya beberapa kali, menghela nafas berharap hari ini cepat berlalu. Elang berharap apa yang direncanakan Dira berhasil. Meskipun ia tak tahu apakah bisa menjalankan tugasnya dengan baik.


Semenjak duduk di cafe itu, tangan dan badan Elang tak henti-hentinya bergetar. Berkali-kali Elang menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan groginya. Berkali-kali Elang mengumpat, merutuki dirinya yang malah tidak bisa santai melakukan misinya kali ini.


Dug...


Seseorang menabrakkan tubuhnya pada Elang dari belakang. Feeling Elang langsung menerka jika itu adalah Ellea. Orang itu langsung memeluk Elang sembari menggesek-gesekkan hidungnya di punggung Elang.


"Hentikan, Ellea....!!!"


Tanpa menolehpun Elang sudah tahu kalau seseorang dibelakangnya benar-benar Ellea. Kebiasaan Ellea suka menggesekkan hidungnya ke punggung Elang rupanya tidak berubah. Entah bagaimana bisa Ellea selalu tahu keberadaannya. Tidak mungkin kan sekarang Ellea mempunyai indra keenam yang bisa mengetahui posisi seseorang lewat mata batin?


"Aku merindukanmu" ucap Ellea yang tak menghiraukan ucapan Elang.


"Tuan... Tuan..." panggil Edward dengan setengah berbisik pada Dira.


Dira yang sedari tadi asyik dengan ponselnya tentu saja menghentikan aktifitasnya. Edward memberi kode pada Dira agar melihat ke arah Elang. Seketika Dira mengernyitkan keningnya melihat Elang yang bergeliat-liat dalam pelukan Ellea.


"Kenapa anak itu?" bisik Dira.


"Entahlah Tuan. Tadi baik-baik saja" jawab Edward dengan berbisik juga.


Mereka kembali mengamati Elang dan Ellea. Elang tetap saja bergeliat bahkan mulai menggaruk-garuk badannya sedangkan Ellea nampaknya tidak terganggu dengan aktifitas Elang. Ia malah menikmati setiap pergerakan tubuh Elang. Terlalu nyaman, begitulah yang Ellea rasakan.


Lima menit, sepuluh menit berlalu dan waktu terus berjalan. Dira mulai kesal ketika adegan yang ia lihat begitu-begitu saja. Tidak sesuai arahan dan ekspektasinya. Geram??? Tentu saja Dira merasa geram. Ia langsung menyeruput minumannya sampai habis dan membuang gelasnya.


Prangggg...


Edward menepuk jidatnya. Bos nya ini menyuruhnya menjadi mata-mata tetapi malah membuat keributan. Seorang pelayan datang dan Edward berbisik kepada pelayan itu agar tidak terjadi keributan.


Edward melirik ke tempat Elang dengan ekor matanya, nampak Elang menatap ke arah mereka. Beruntunglah Ellea terhalang dengan punggung Elang sehingga dia tidak melihat keberadaan Edward dan Dira.


"Tuan....."


"Akhiri drama menyebalkan ini. Elang memang tidak bisa diandalkan" kata Dira kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih masuk ke dalam mobilnya, mobil taksi sewaan untuk penyamaran hari ini.


"Tapi, Tuan....," Edward mengejar Dira dan ikut masuk ke dalam taksi sewaan.


"Tidak ada penolakan. Cepat lakukan! Tangkap perempuan itu, suntik bius, masukkan mobil dan buang ke Pulau X" perintah Dira kemudian mendorong Edward agar keluar dari taksi.


Edward menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sudah susah-susah menyamar, malah hanya sebentar. Ia mengambil ponselnya dengan malas, menghubungi algojo-algojonya untuk mengeksekusi Ellea segera sesuai perintah Dira.

__ADS_1


Edward berjalan menuju tempat Elang yang masih berdiri tidak tegak karena tangannya sibuk menggaruk-garuk badannya. Edward melirik sekilas ke arah Elang, memberikan kode agar tenang dan...


Cessss


Edward berhasil menyuntikkan obat bius ke lengan Ellea. Ia meneruskan langkahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seketika Ellea berteriak, merasakan sakit dan...


Bruggg


Ellea jatuh ke lantai dan beberapa algojo suruhan Edward datang berhamburan, membopong tubuh Ellea masuk ke dalam mobil. Algojo itu dengan segera melajukan mobil meninggalkan cafe itu.


Elang bernafas lega. Seketika gatal-gatalnya hilang. Aneh memang, tapi itulah yang ia radakan sekarang.


Tiba-Tiba ponsel Elang berdering. Elang merogoh sakunya, menggeser lingkaran hijau pada layar ponselnya.


"Tuan Dira menunggu Anda di rumah sakit" ucap Edward dan sambungan langsung terputus.


Elang mengangguk dan segera meninggalkan cafe itu menuju rumah sakit sedangkan Edward masih berada di cafe untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya agar tidak tercium media.


\_\_\_\_\_\*\*\*\*\_\_\_\_\_


"Bodoh...!!!" umpat Dira ketika Elang baru tiba di rumah sakit. Mereka sedang berada di luar kamar rawat Kiara karena saat ini Kiara sedang dalam pemeriksaan dokter.


"Maaf, Abang" ucap Elang menunduk.


"Kau benar-benar tidak bisa diandalkan!!! Kau membuat filmnya tidak mengesankan!!! Actingmu buruk sekali!!!" Dira terus memaki Elang.


"Film? maksud Abang apa?" tanya Elang tak mengerti membuat Dira menjambak rambutnya.


"Abang merekam peristiwa tadi? Untuk apa?" tanya Elang lagi.


"Untuk judul proyek, Abang!!! Puas????" kembali Dira berteriak di depan wajah Elang.


Edward datang dengan berlari. Ia membungkuk, memberi hormat pada Dira. Dira hanya mengangguk. Edward menoleh ke arah Elang dan tangannya dengan cepat menyentuh leher Elang.


"Ahhhh.......!!!" Elang berteriak ketika Edward berhasil melepaskan sesuatu dari lehernya.


"Ellea menempelkan ini pada Tuan Elang" kata Edward sembari menunjukkan sesuatu yang bentuknya mirip taahi lalat.


Elang mengernyutkan dahi. Pantas saja Ellea selalu muncul ketika Elang sendirian, ternyata dia memata-matai Elang lewat chips yang ditempelkan di leher Elang. Entah kapan chips itu menempel di leher Elang. Bentuknnya yang tipis dan mirip sekali dengan taahi lalat membuatnya nyaris tak terlihat mencurigakan.


Ceklek...


Pintu kamar rawat Kiara terbuka dan Dokter Athalia muncul bersama seorang perawat. Dira langsung saja nyelonong masuk tanpa permisi pada dokter dan perawat itu.


"Maaf, Dokter!" ucap Elang merasa tak enak akan tingkah Dira yang tidak sopan pada Dokter Athalia.


"Tak apa" jawab dokter cantik itu sembari tersenyum.

__ADS_1


Elang bertanya tentang perkembangan Kiara dan tentu saja Dokter Athalia menjawab pertanyaan Elang dengan ramah. Elang pamit untuk masuk ke ruang rawat Kiara setelah mendapat penjelasan dari Dokter Athalia.


"Sayangggggg......." Elang langsung memeluk Kiara yang sedang disuapi oleh Dira.


Dira memukul tangan Elang agar melepas pelukannya.


"Lagi dipingit, seminggu lagi nikah" kata Dira memperingati. Nampak raut kecewa pada wajah Elang.


"Kau dari mana?" tanya Kiara pada Elang.


"Aku?... Aku... aku.. dari cafe" kata Elang terbata-bata.


"Baumu sangat tidak enak. Elang, pergilah dan ganti bajumu! Aku tidak suka baunya. Kalau perlu buang lagi ke ancol lengkap sama dalemannya" ucap Kiara membuat Dira menggigit kuat-kuat bibir bawahnya, menahan tawa.


" Tapi sayangggg... Elang hanya ke cafe. Masak harus buang baju sama daleman-daleman lagi?" tanya Elang memelas.


"Ara nggak peduli. Meski Elang dari langitpun kalau bau begini, Ara nggak mau. Kadir, suruh keluar si Elang. Gue nggak tahan baunya" kata Kiara membuat Dira segera bangkit dan mulai memasang wajah garangnya.


"Abang... tolong jangan usir Elang!!!"


"Kamu nggak denger Kiara barusan ngomong apa?" tanya Dira kesal.


Edward masuk dengan membawa paperbag. Ia menyerahkan paperbag itu kepada Elang. Seakan mengerti kejadian ini akan terjadi, Edward menyiapkan pakaian ganti untuk Elang lengkap dengan dalemannya.


"Heiii, Edward apa yang kau lakukan?" tanya Dira geram.


"Maaf, Tuan! Bukannya ini ide Anda? Anda sudah memprediksi hal ini akan terjadi kan?"


Buggggg


Dira memukul mulut Edward dengan nampan yang sejak tadi digunakan Kiara sebagai alas makannya.


"Kalian habis ngapain?" tanya Kiara yang memang tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh tiga lelaki di hadapannya.


"Habis syuting tapi gagal gara-gara aktornya nggak bisa acting" cibir Dira, tangannya kembali menyuapkan bubur untuk Kiara.


"Syuting apa?" tanya Kiara lagi.


"Udah ah... nggak usah tanya-tanya lagi. Gue jadi kesel kalau inget" ucap Dira kemudian bangkit dan melangkah keluar dari kamar rawat Kiara.


Kiara menoleh ke arah Elang dan Edward secara bergantian, seakan bertanya tentang apa yang terjadi pada kakaknya melalui bahasa isyarat. Elang hanya nyengir kuda sedangkan Edward hanya mengangkat bahu. Tingkah keduanya membuat Kiara menghela nafas.


Edward tahu diri. Ia segera membungkuk untuk pamit meninggalkan kamar rawat Kiara. Kini hanya tersisa Elang yang berada bersama Kiara. Kiara menatap Elang dengan tajam sembari melipat tangannya di depan dada.


"Elang nggak mau sekalian keluar?" tanya Kiara sinis.


"Ngg..nggak lah. Elang mau disini nemenin Ara" jawab Elang.

__ADS_1


"Kalau mau disini...., Elang nunggu apalagi???? cepat ganti bajunya dan buang baju-baju yang dipakai Elang sekarang!!!"


Elang segera berlari ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Bagaimanapun ia tidak mau membuat Kiara marah. Elang berganti baju dengan cepat. Ini kesempatannya berduaan dengan calon istrinya ditengah masa-masa dipingit yang selalu diucapkan calon kakak iparnya itu. Elang harus bergerak cepat sebelum Dira kembali dan mengusirnya dengan alasan dipingit.


__ADS_2