
"Nona Kiara, ada Tuan Elang ingin menemui Anda" ucap sekretaris Kiara.
"Suruh masuk!" ucap Kiara dingin.
Kiara kembali menatap berkas-berkas di hadapannya. Sejak Kiara bertunangan dengan Elang, Dira benar-benar menepati janjinya. Kiara kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di perusahaan jatah warisannya. Meski Kiara menempati posisi direktur utama bukan presdir, Kiara merasa senang bisa kembali.
Pintu ruangannya terbuka, muncul sosok Elang yang berjalan menghampirinya. Kiara melirik arlojinya, waktu makan siang beberapa menit lagi. Pantas saja Elang datang menemuinya. Sejak mereka bertunangan, Elang tidak pernah absen mengunjungi Kiara pada jam makan siang. Mereka selalu makan siang bersama meskipun jarak kantor Elang agak jauh.
"Sayang, sudah waktunya istirahat. Berhentilah mengurusi berkas-berkasmu itu" ucap Elang.
Sejak mereka bertunangan, Elang mengubah panggilannya pada Kiara. Menurutnya dengan begitu akan nampak sisi romantis antara dirinya dan Kiara.
"Kau seperti alarm. Jika sudah waktunya makan siang, pasti kau datang" ucap Kiara tetap fokus memeriksa berkas-berkas itu tanpa menoleh ke arah Elang sedikitpun.
"Sayangggg......" Elang memeluk Kiara dari belakang kursinya. Interaksi fisik seperti inilah yang membuat Kiara naik darah. Kiara segera mengangkat wajahnya, menatap tunangannya yang selalu menampilkan senyum menawannya.
Plakk...
Kiara menepuk wajah Elang dengan lembaran berkas di hadapannya. Ia melampiaskan kekesalannya dengan seperti itu. Elang yang sudah mulai paham dengan tingkah Kiara tentu saja hanya bisa tertawa. Elang segera melepas pelukannya dan berpindah duduk di atas meja kerja Kiara.
"Mau makan apa?" tanya Elang sembari menggenggam tangan Kiara.
"Ketoprak"
"Ketoprak?" tanya Elang yang dijawab anggukan kepala oleh Kiara.
"Yasudah, kita beli di depan kantor saja" ajak Elang yang kembali dijawab anggukan kepala oleh Kiara.
Kiara dan Elang berjalan beriringan. Elang terus saja menggenggam tangan Kiara dengan erat. Tingkah laku keduanya tak luput dari pandangan para karyawan. Mereka tersenyum melihat pemandangan itu.
"Ketoprak dua, ya, Pak" Elang segera duduk di hadapan Kiara yang kini tengah sibuk mengunyah kerupuk dari dalam toples.
Elang tersenyum geli melihat tingkah tunangannya itu, sangat berbeda jauh dengan Kiara yang dipacarinya beberapa tahun yang lalu. Mungkin inilah watak asli Kiara yang tidak diketahui Elang. Elang merasa Kiara yang sekarang sangat lucu dan menggemaskan.
"Sayanggg... kamu lapar? baru duduk kok sudah habis kerupuk banyak" goda Elang yang tidak ditanggapi Kiara. Kiara tetap asyik menghabiskan kerupuk yang masih tinggal separuh di tangannya.
Ketoprak pesanan mereka datang. Kiara menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil piring berisi ketoprak di hadapannya dan mengendusnya. Elang kembali tersenyum dengan tingkah ajaib Kiara. Ia segera mengambil piring Kiara dan segera menyuapkan pada mulut Kiara.
"Kenapa sih harus diendus dulu? kamu kebiasaan deh kayak kucing" Elang kembali menyuapkan ketoprak pada Kiara.
"Baunya enak"
"Kamu suka?"
"Tentu saja makanan enak begini"
Kiara kembali membuka mulutnya, meminta suapan ketoprak lagi pada Elang. Elang menyuapkan kembali ketoprak untuk Kiara. Dalam sekejap ketoprak Kiara ludes tak bersisa.
Elang mengambil piringnya, mengambil sesendok hendak menyuapkan untuk dirinya. Namun, Kiara menyenggol tangannya membuat Elang tidak jadi menikmati ketopraknya.
"Kenapa?" tanya Elang dan Kiara dengan cepat membuka mulutnya.
"Kamu mau lagi?" tanya Elang lagi heran.
Kiara mengangguk.
Elang membelokkan pergerakan tangannya. Ia kembali menyuapi Kiara dengan sayang. Kiara mengambil kerupuk dan menyuapkan pada Elang. Elang mengunyah kerupuk dari Kiara.
Rasa laparnya hilang melihat Kiara sangat menikmati ketopraknya. Dan kembali ketoprak milik Elang ludes oleh Kiara. Elang mengambil air mineral dan segera memberikannya pada Kiara.
__ADS_1
"Suka sama ketopraknya?" Elang mengelap bibir Kiara yang terkena sisa saus kacang ketoprak dengan tisu.
"Suka, saus kacangnya enak"
"Kalau begitu nanti Elang borong ketoprak bapak ini setiap hari khusus untuk sayangku yang tercinta"
"Boleh, borong saja setiap hari. Aku tidak akan pernah bosan makan ketoprak ini"
"Elang boleh makan dulu?" tanya Elang yang dijawab anggukan kepala oleh Kiara.
Elang memesan kembali sepiring ketoprak. Tak butuh waktu lama bagi abang penjual ketoprak menyelesaikan pesanan Elang. Elang segera menyantap ketoprak pesanannya dan memang benar ketoprak ini sangat enak.
"Mau?" Elang menawari kembali pada Kiara.
"Tidak. Aku sudah kenyang"
"Tidak mau menyuapiku, sayangg...???"
Kiara mengambil alih piring Elang. Ia menyendok ketoprak dan menyuapinya pada Elang. Elang menerima suapan dari Kiara dengan hati berbunga-bunga. Sebuah kemajuan dalam hubungan mereka. Untung saja Elang berkonsultasi pada Dira sebelum menemui Kiara, sehingga ada saja modus-modus kecil saran dari Dira yang bisa Elang praktekkan. Seperti saat ini, ide suap-suapan merupakan ide Dira dan ternyata berhasil.
"Sayanggg.... Elang mau izin selama tiga hari boleh nggak?" tanya Elang membuat Kiara berhenti menyuapkan ketopraknya.
"Mau kemana?"
"Elang ada tugas dari Om Ale ke Labuan Bajo. Elang diminta bertemu salah satu relasi Om Ale yang tinggal di sana"
Kiara tersentak kaget mendengar tempat yang akan di singgahi Elang. Ada sesuatu yang seharusnya menjadi alasan Kiara untuk menghalangi Elang. Namun, Kiara tidak bisa mengingatnya.
"Kenapa? Elang tidak diizinkan?" tanya Elang lagi.
"Tidak. Mengapa Om Ale tidak berangkat sendiri?"
"Tidak. Hanya..." ucap Kiara menggantung. Ia ragu memberi tahu Elang.
"Kenapa? Sayangku mau ikut?"
"Tidak. Aku banyak pekerjaan di sini"
"Nanti kalau sayang mau nyusul, tinggal telepon Elang. Nanti Elang akan kirim helikopter buat jemput sayangku"
"Tidak perlu, Elang. Aku banyak pekerjaan. Kapan kau berangkat?" tanya Kiara berusaha menutupi kegelisahannya.
"Nanti malam. Aku pasti merindukanmu" ucap Elang sembari mencium tangan Kiara.
"Hati-hati" kata Kiara segera beranjak dari tempat duduknya.
Elang menghela nafas melihat Kiara sudah berjalan terlebih dahulu tanpa menunggunya. Elang segera membayar pesanannya dan berlari mengejar Kiara.
"Elang langsung balik ya?"
"Kembalilah. Jam istirahat hampir habis. Kantor Om Ale jauh dari sini" ucap Kiara dingin.
Elang menarik tangan Kiara.
"Kamu marah?" Elang menarik tubuh Kiara hingga berada dalam pelukannya.
"Aku tidak marah"
"Lalu kenapa kamu seperti tidak suka aku pergi ke Labuan bajo?" selidik Elang.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Elang"
"Sayang...!!! panggil aku sayang. Apa kau tidak menyayangiku juga?" tanya Elang membuat Kiara memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Aku tidak tahu, sayang. Pergilah! Jam istirahat sudah habis. Aku tidak mau kau kena marah"
"Siapa yang berani memarahiku? 100% saham perusahaan Om Ale adalah milik Papaku"
"Elang.....!!!"
"Sayang..!!!"
"Iya, sayang. Aku tidak suka kau tidak disiplin seperti ini. Cepat kembali atau aku akan marah" ancam Kiara.
"Iya...iya...Elang balik dulu ya, sayang"
"Iya, sayanggku...!!! Cepat kembali nanti terlambat. Aku juga banyak pekerjaan."
"Peluk aku lebih erat!" pinta Elang yang segera dituruti Kiara dengan malas.
Elang menikmati pelukan hangat dari tunangannya. Benar kata Dira, dirinyalah yang harus memegang komando. Elang melepas pelukannya dan mencium kening Kiara.
Elang mengantar Kiara sampai lobby kantor dan segera pamit untuk kembali ke kantornya. Kiara melambaikan tangan ketika mobil Elang mulai melaju perlahan.
----\*\*\*------
"Abang???"
Elang segera menghampiri Dira yang sedang berbincang dengan Ale di kantornya. Elang menyalami Dira, mencium punggung tangannya dengan takzim. Bagaimanapun laki-laki ini akan menjadi kakaknya sehingga sepatutnya Elang menghormati Dira.
"Sejak kapan kau memanggilnya abang?" tanya Ale yang diikuti gelak tawa Dira.
"Sejak dia bertunangan dengan Kiara, saya yang menyuruhnya. Bagaimana Pak Alex Apakah saya cocok jadi abangnya?" tanya Dira kembali dengan gelak tawanya.
"Oh iya Abang, Elang mau izin tiga hari absen ngapelin Ara"
"Memangnya mau kemana?"
"Saya tugaskan dia ke Labuan Bajo" jawab Ale mewakili Elang.
"Labuan Bajo?" tanya Dira.
"Elang akan bertemu klien disana. Rencananya saya akan memulai usaha penginapan" ucap Ale menjelaskan.
"Kiara sudah tahu?" tanya Dira.
"Sudah, Abang. Saya bahkan sudah mengajaknya"
"Lalu?"
"Ara tidak mau ikut, katanya banyak pekerjaan"
Dira diam sejenak.
"Baiklah! Hati-hati di jalan. Saya sepertinya harus segera kembali ke kantor" ucap Dira pamit.
Ale dan Elang hanya mengangguk. Dira segera melangkahkan kakinya keluar menuju perusahaan Ale. Dira berjalan dengan tergesa-gesa. Begitu sampai di dalam mobil, Dira segera menelpon Kapten Jack untuk mengecek helikopter miliknya. Dira juga menelpon Edward untuk membicarakan misi yang harus dia laksanakan.
Yuk Vote biar othor semangat
__ADS_1