Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 48


__ADS_3

Kiara merasakan sentuhan tangan seseorang pada pipinya. Ia mencoba membuka matanya. Namum terasa berat sekali. Tangan orang itu terus saja menjelajahi wajah Kiara, mengabsen inci demi inci wajahnya. Andai saja Kiara dalam keadaan sadar, pasti ia akan mematahkan tangan orang itu.


Kiara melawan rasa kantuknya. Ia membuka matanya dengan sekuat tenaga. Begitu Kiara berhasil membuka matanya, rasa jengahnya muncul.


Nampak wajah seseorang yang tidak pernah ingin ia lihat tengah terseyum kepadanya. Kiara merasa jijik melihat senyuman aneh itu. Ia segera bangkit dari tidurnya, menjauhkan tubuhnya dari orang itu.


"Kau sudah bangun, sayang?"


"Siapa yang kau panggil sayang?" tanya Kiara ketus.


Kiara menatap laki-laki itu dengan tajam sedangkan yang ditatap hanya tertawa cengengesan padanya. Ingin rasanya Kiara langsung mencakar wajah menyebalkan itu.


"Tentu saja kamu, Kiara Putri Sanjaya" ucapnya sambil tertawa.


"Ziii...aaannnnnnnn... berhentilah tertawa! Kau seperti orang gila" teriak Kiara sembari melempar sebuah bantal yang tepat mengenai wajah Zian.


Zian kaget dan segera mengambil bantal yang dilempar Kiara. Ia berjalan mendekati Kiara dengan senyum setannya. Kiara sudah mengambil kuda-kuda. Beberapa langkah lagi, Zian pasti akan mendapat serangannya dan..


Bugggg...


"Wadaaaawwwwww......" Zian berteriak meringis kesakitan.


Kiara segera berdiri berkacak pinggang di atas kasur setelah berhasil menendang pusaka milik Zian. Zian langsung tersungkur dengan sekali tendangan. Bibir Kiara tak henti mencibir Zian yang ternyata lemah.


"Lu salah cari korban. Lu pikir gue lemah nggak bisa bela diri? Gini-gini kepala si Kadir pernah bocor gara-gara gue lempar heels" ucap Kiara dengan galak.


"Ara... kenapa kau galak sekali? Tetapi semakin galak aku semakin cinta" ucap Zian mulai mencoba bangkit meskipun dengan rasa ngilu yang ditahannya.


"Lu udah gila ya? Jangan mendekat atau gue bikin patah tuh kaki" teriak Kiara.


"Aku gila karenamu. Kau itu milikku dan selamanya milikku" ucap Zian.


"Emang lu udah beli gue dari Mama? Enak aja lu bilang gue milik lu. Najis amit-amit tralala trilili trololo deh" ucap Kiara sengit.


Rahang Zian mengeras mendengar ucapan Kiara. Dia segera berlari dan hendak mencengkram kaki Kiara. Kiara bergerak cepat. Dia melompat ke bawah sehingga dirinya dan Zian kini terpisah oleh ranjang kasurnya.


Zian semakin marah. Ia melompati kasur itu tetapi Kiara tak kalah cepat. Kiara segera berlari menuju pintu yang lupa di kunci oleh Zian, pergerakan yang membuat Zian kaget. Mau tidak mau, Zian juga berlari mengerjar Kiara. Kiara dan Zian terlibat aksi kejar-kejaran di dalam rumah yang tidak luas itu.


Happ...


Zian berhasil menangkap Kiara dari belakang. Kiara merutuki kesalahannya yang terlalu lama mencari jalan keluar. Rumah ini terlalu kecil untuk dibuat arena kejar-kejar. Tidak ada celah untuk melarikan diri. Jendela rumahnya terlalu kecil, tidak bisa digunakan sebagai akses keluar dari rumah ini.


"Kau ternyata suka bermain denganku, sayang" bisik Zian di telinga Kiara. Zian memeluk tubuh Kiara dengan erat.


"Lepasin, gue!!! Gue jijik sama lu, Zian...!!!" ucap Kiara. Dia terus memberontak agar bisa lepas dari kungkungan Zian.


"Mana mungkin aku melepasmu, Ara. Kau nanti bisa kabur dan bisa saja kau akan melanjutkan pernikahan konyolmu dengan Om Ale" ucapan Zian membuat Kiara kaget. Kiara tidak menyangka jika Zian mengetahui tentang hal itu.


"Kau ternyata munafik juga. Kau menjadikan Elang sebagai topeng kekasihmu tetapi yang kau incar adalah Om Ale. Aku harus memberimu penghargaan atas itu" ucap Zian sembari menyeringai.


"Lu nggak perlu repot-repot. Gue nggak butuh penghargaan dari orang sakit kayak lu, Zian" bentak Kiara tak mau kalah dengan Zian.


Zian menyeret Kiara kembali ke kamarnya. Kiara terus saja memberontak sehingga membuat Zian kesusahan. Zian mengambil sapu tangan di saku celananya dan segera menutup hidup Kiara dengan sapu tangan itu.


Kiara membelalakkan matanya. Dalam hati dia masih sempat memaki Zian yang masih sama membiusnya.


Tubuh Kiara mulai melemah dan matanya kembali terpejam. Zian mengangkat tubuh Kiara dan membawanya kembali ke dalam kamar. Zian membaringkan tubuh Kiara dengan hati-hati.


"Sepertinya kau harus selalu dibius agar tenang" ucap Zian.


Zian mengeluarkan tali yang sejak tadi disimpan di dalam saku celananya. Zian mengikat kaki dan tangan Kiara sembari bersenandung kecil. Zian memastikan ikatannya kuat dan tidak bisa dibobol oleh Kiara.


"Tidur yang tenang! Aku akan pergi sebentar" bisik Zian di telinga Kiara.


Zian melangkahkan kaki keluar dari kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya. Zian bergegas keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobilnya. Perlahan mobil Zian melaju meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\*\*\*\*\_\_\_\_\_


Brakkkkkk


Dira menggebrak meja kerjanya ketika mendengar laporan dari orang-orang suruhannya. Dira benar- benar kecewa dengan kinerja mereka. Sudah lima hari Kiara hilang dan orang-orang suruhannya tidak berhasil melacak keberadaan Kiara.


Tidak ada petunjuk, begitu yang mereka katakan. Lokasi tanpa CCTV memang menyulitkan pencarian mereka ditambah lagi Kiara tidak membawa ponsel karena disita oleh Dira.


Dira benar-benar frustasi. Pekerjaannya di Jakarta juga tidak bisa ditinggal. Semua klien bisnisnya hanya mau bertemu langsung dengan Dira mengingat Kiara sedang di non aktifkan dan Indra yang sudah berangkat ke New York beberapa hari yang lalu.


Dira merutuki dirinya sendiri yang terlalu terburu-buru mengirim Indra ke New York. Sekarang Dira benar-benar dibuat kalang kabut.


"Edward.... Pecat semua orang-orang bodoh ini! Aku tidak mau memperkerjakan orang lelet dan bodoh seperti mereka" ucap Dira murka.


Edward hanya bisa mengangguk, menjalankan perintah Tuannya itu. Edward sebenarnya sudah meminta bantuan beberapa intel dari Amerika tanpa sepengetahuan Dira. Namun, mereka belum juga mendapatkan hasil.


"Kalian membuatku malu!!! Mencari adikku saja tidak becus. Kalian ini orang-orang terbaik. Algojo-algojo lulusan terbaik. Tetapi melakukan tugas seperti ini saja tidak bisa" umpat Dira dan kembali tangannya melempar vas bunga yang berada di atas mejanya.


Ting....


Sebuah notifikasi masuk pada ponsel di Dira. Dira segera membuka ponselnya dan seketika kedua mata Dira membulat membaca pesan yang diterimanya.


"Edward... siapkan helikopter! Kita pergi sekarang," Dira buru-buru merapikan meja kerjanya dan berlari keluar dari ruangannya.


Mendengar perintah Dira yang tiba-tiba tentu saja membuat Edward kelabakan. Edward segera menghubungi Jack agar bersiap dengan helikopternya di rooftop. Edward segera berlari menyusul Dira yang ternyata telah masuk ke dalam lift.


"Sial..!!!" umpat Edward.


Edward segera berlari menuju tangga darurat. Menambah kecepatannya agar bisa mendahului Dira. Bagaimanapun Tuan nya itu tidak suka mempunyai anak buah yang lelet. Edward yang terlatih tentu saja bisa dengan cepat melewati anak tangga yang jumlahnya banyak itu sehingga ia bisa tiba di rooftop sebelum Dira datang.


"Cepat, kita harus ke Pare!" Dira dan Edward masuk ke dalam helikopter. Jack sebagai pilot sudah siap membawa mereka.


"Ada apa Tuan? Mengapa Anda tiba-tiba meminta ke Pare?" tanya Edward hati-hati.


Edward segera menghubungi orang-orang intelnya. Setelah mendapat share lokasi dari ayah sambung Dira, Edward segera memerintahkan mereka untuk membuntutinya. Tidak butuh waktu lama, orang-orang suruhan Edward bisa menemukan mobil yang membawa Kiara.


"Tuan, menurut informasi Nona Kiara dibawa oleh seorang laki-laki. Mereka sedang mengikuti mobil itu" ucap Edward.


"Ikuti terus jangan bertindak dulu karena aku yang akan menghabisi laki-laki itu!" ucap Dira geram.


Helikopter Dira mulai landai. Dira segera melompat dengan tidak sabar. Tiga buah mobil hitam berhenti tepat di hadapan Dira. Dira segera masuk ke dalam salah satu mobil itu diikuti dengan Edward.


"Ambilkan senapanku! Aku sudah tidak sabar untuk menghabisi laki-laki itu" ucap Dira.


Edward segera mengambil senapan panjang Dira di bagasi mobil. Dira mengelus-elus senapan kesayangannya itu.


"Kau sudah lama tidur. Sekarang waktunya kita bermain-main" ucap Dira pada senapannya.


"Edward, kau sudah tau lokasi target?" tanya Dira.


"Sudah, Tuan. Orang suruhan saya sudah share lokasi mereka. Jarak kita belum terlalu jauh dari mereka" ucap Edward.


"Tunggu apa lagi. Cepat tancap gas!" perintah Dira pada Edward.


Supir pribadi Dira segera tancap gass, melajukan mobil hitam itu dengan kecepatan tinggi. Beruntunglah jalanan tidak macet sehingga mereka bisa memecah jalanan dengan lancar.


Edward melihat mobil di depannya. Dia memberi isyarat agar menyalip mobil itu. Mobil itu adalah mobil orang-orang suruhannya yang mengikuti mobil Zian.


Mobil yang membawa Dira segera menyalip dan tepat berada lima meter di belakang mobil Zian.


"Nona Kiara ada di mobil itu, Tuan"


"Kepung! Aku yang akan melumpuhkan dari belakang"


Dira keluar dari jendela mobil. Mobil terus melaju. Mobil lainnya mengambil jalan lain untuk menghadang mobil Zian dari depan.

__ADS_1


Zian mengernyitkan dahi ketika melihat ke arah spion mobilnya. Matanya langsung membola. Zian melihat dengan jelas seorang Adiraka sedang memegang senapan laras panjang dari jendela mobil. Zian mulai panik. Ia tidak konsentrasi dan...


Dorrrr......


Dorrrr...


Dorrrr...


Dira berhasil menembak ban belakang mobil sebelah kanan. Seketika mobil melaju dengan oleng. Zian memucat. Jika dia terus melajukan mobilnya sama saja dia cari mati. Tetapi jika Zian berhenti, dia juga akan mati dihabisi Dira.


Mobil Dira kini sejajar dengan mobil Zian. Dengan cepat Edward membuka jendela mobilnya dan mengarahkan pistolnya pada Zian.


"Berhenti atau pistol ini akan menembus kepalamu!" teriak Edward.


Zian terus menginjak pedal gas nya dan sialnya di depan dua buah mobil hitam menghalanginya. Zian segera menginjak rem mobil dan..


ckkiiiiiiiiittttttttt.......


Zian membanting setir ke kiri dan...


bruggggg....


mobil Zian menambrak pohon.


Dira dan Edward segera melompat keluar dari mobilnya. Beberapa pengawal Dira mengepung mobil Zian.


Dira membuka pintu sebelah kanan, menarik Zian dari kursi pengemudi dengan kasar sedangkan Edward membuka pintu sebelah kiri dan membawa Kiara masuk ke dalam mobilnya.


"Kau sudah bosan hidup rupanya. Berani-beraninya kau membawa kabur adikku" ucap Dira sambil menodongkan senapannya pada Zian.


Zian menelan ludahnya. Zian memukul perut Dira dengan siku tangannya. Tak ayal Dira melepas cengkramannya pada Zian. Zian mengambil kesempatan itu, ia berlari dengan kencang.


"Sialan!!! Jangan ada yang bertindak karena aku yang akan menghabisi bocah itu sendiri" ucap Dira


Dira segera masuk kembali ke dalam mobil dengan sigap supir pribadinya membawa Dira mengejar Zian.


"Bocah ingusan itu ingin bermain-main denganku"


Dira kembali keluar dari jendela mobil, mengarahkan senapannya untuk membidik Zian. Kini jarak Zian sudah dekat dengan Dira dan...


Dorrrr....


Dorrr...


Dorrr....


Dira melepaskan peluru senapannya.


Zian memekik. Ia berhenti memegangi betisnya yang terkena peluru senapan milik Dira. Dira kembali melompat keluar dari mobilnya.


"Berani bergerak maka peluru ini akan menembus dahimu" gertak Dira membuat Zian ciut.


Dira memberi bogem mentah pada wajah Zian. Ia melampiaskan amarahnya yang sudah tertahan selama berhari-hari.


Zian tidak bisa berkutik, kedua kakinya tak bisa di ajak melangkah. Zian berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Namun hal itu sia-sia karena Dira mengamuk semakin buas.


"Tuan....!!!!!" Edward segera berlari menghampiri Dira.


"Bawa cecunguk ini ke ruang bawah tanah! Aku belum puas menyiksanya" perintah Dira.


Edward segera menyeret tubuh Zian dan melemparkannya ke dalam bagasi mobil. Dira berlari mencari keberadaan Kiara di dalam mobil. Dira mendapati Kiara sedang tidur di kursi belakang mobil. Dira segera memeluk adiknya, mengguncang-guncangkan tubuhnya agar Kiara sadar.


"Nona Kiara sedang dibius, Tuan. Kita harus menunggunya sampai sadar" ucap Edward.


Dira segera masuk ke dalam mobil, menggeser tubuh Kiara agar bisa berbaring dipangkuannya. Dira memerintahkan sopir untuk menuju rumah sakit terdekat karena Dira takut terjadi apa-apa dengan adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2