
Dira mengunyah soto ayam yang baru dipesannya dengan cepat. Saat ini dia sedang berada di kantin rumah sakit tempat Kiara di rawat. Dira sebenarnya tidak lapar. Namun, akibat kejengkelannya atas kegagalan rencana penangkapan Ellea membuat Dira melampiaskan amarahnya pada makanan.
Brak...
Beberapa kali ia memukul meja, membuat beberapa pedagang dan pengunjung kantin itu kaget. Tak sedikit mereka berbisik-bisik membicarakan Dira, menjadikan Dira bahan ghibah yang tak jelas topiknya.
" Tuan.....," panggil Edward.
" Apaaa....???," jawab Dira tentu saja dengan bentakan.
" Saya menunggu perintah Anda selanjutnya," ucap Edward tetap tenang meskipun dia tahu akan menjadi korban amarah Dira lagi.
" Kembali ke perusahaan! Urus meeting dan lainnya!," ucap Dira yang segera dijawab anggukan oleh Edward.
Edward membungkuk dan mulai menyeret langkahnya pergi meninggalkan Dira menuju perusahaan.
Dira kembali menyantap sotonya. Ia menggigit bibirnya dengan keras. Bagaimana bisa rencana yang dibuatnya gagal? Dira sudah membriefing Elang berkali-kali agar rencananya mulus. Seharusnya ada adegan tarik menarik, jambak menjambak, tangisan histeris bahkan adegan menegangkan penangkapan Ellea sudah Dira rancang.
Dira meminta beberapa algojonya agar bersembunyi sehingga nanti ketika Ellea berbuat ulah maka akan ada adegan action yang mendebarkan yang tak kalah menarik seperti film box office. Itu hanya dalam khayalan Dira karena pada kenyataannya Elang hanya bergeliat-geliat tanpa ada adegan yang diharapkan oleh Dira.
Brakk
Dira kembali menggebrak meja. Namun sialnya hal itu membuat Dira tersedak. Dira mengamati meja di hadapannya. Sial!!! Dira rupanya hanya memesan soto ayam tanpa minuman dan sekarang dia membutuhkan minuman untuk melegakan tenggorokannya.
"Minum, Pak!."
Seseorang datang menyodorkan botol air mineral pada Dira. Tanpa melihat orang itu, Dira mengambilnya dan segera meminumnya hingga tandas. Dira menarik nafas berkali-kali, menormalkan detak jantungnya yang sempat tegang akibat tersedak tadi.
"Kalau makan hati-hati ya,Pak! Jangan lupa pesen sama minumnya juga," ucap orang itu yang kini duduk berhadapan dengan Dira dalam satu meja.
Dira mendongakkan kepalanya. Ia baru sadar jika ada orang lain di sana. Jelas saja jika tidak ada orang darimana dia mendapatkan botol air mineral? umpat Dira dalam hati.
"Dokter?" Dira seakan tak percaya dengan sosok yang ada di hadapannya.
"Maaf, Pak jika saya lancang langsung duduk di tempat Anda. Saya tadi melihat Anda tersedak dan secepat mungkin saya ke sini," ucap Dokter Athalia, dokter yang merawat Kiara.
Dira mengangguk dan langsung mengucapkan terima kasih kepada dokter itu. Dia hendak menyantap soto ayamnya lagi tapi melihat ada dokter cantik di hadapannya, Dira mengurungkan niatnya.
" Adira Putra Sanjaya" ucap Dokter Atha.
Dira membulatkan kedua bola matanya ketika mendengar dokter itu menyebut nama lengkapnya. Bagaimana dokter itu bisa tahu sedangkan Dira tidak mengenalnya. Dira sudah lama meninggalkan Indonesia dan Ia mengubah namanya menjadi Adiraka Marchel Putra Sanjaya sejak tinggal di New York. Lalu bagaimana bisa dokter di hadapannya ini bisa tahu nama lengkapnya dulu sedangkan Dira tidak mengenalnya?
"Ah iya Anda pasti lupa dengan saya. Tak apa. Tapi saya harap Pak Dira ingat dengan ini," ucap Athalia sembari memperlihatkan bros berbentuk kelinci dari saku bajunya.
Dira mengambil bros kelinci itu dari tangan Athalia. Dira mengusap bros itu dengan jempolnya berkali-kali.
"Bros ini murah. Lima ribu dapat tiga," ucap Dira kemudian menyodorkan kembali bros kelinci itu pada Athalia.
__ADS_1
Athalia terkejut dengan respon Dira. Bagaimana mungkin Dira melupakan benda ini? Pantas saja respon Dira biasa saja ketika bertemu dengannya. Apakah Dira sudah melupakannya?
Athalia memasukkan kembali bros itu ke saku snellinya dengan hati kecewa. Ia menatap Dira yang kini melihatnya dengan datar dan dingin.
"Dokter... saya tahu saya tampan dan rupawan. Banyak wanita yang mengidolakan saya. Mungkin dokter salah satunya. Harusnya dokter sadar jika idola itu hanya satu sedangkan penggemar sudah pasti banyak. Jadi tidak mungkin saya mengingat penggemar saya satu persatu," kata Dira dengan level percaya diri yang sudah menggunung.
"Maaf, Pak Dira. Mungkin memang benar yang Anda katakan. Saya salah satu penggemar Anda yang tidak mungkin Anda ingat. Maaf sudah mengganggu, Anda," ucap Athalia kemudian beranjak pergi meninggalkan Dira yang masih setia dengan soto ayamnya.
Athalia menyeret langkahnya menuju ruang kerjanya. Athalia melangkah dengan gontai. Ia segera menghempaskan tubuhnya di kursi. Hatinya sedih mengingat ucapan Dira barusan. Athalia mengambil kembali bros kelinci dari saku snellinya.
"Meskipun benda ini murah, tapi bagiku benda ini sangat berharga," ucap Athalia dengan sendu.
"Kau mungkin bisa melupakannya. Tapi aku tidak mungkin melupakanmu, Mas Dira."
Tok...Tok...Tok..
Seorang perawat masuk ke ruangan Athalia. Perawat itu mengatakan jika Dokter Leo memintanya untuk membantu dalam operasi hari ini.
Athalia mengangguk. Ia segera beranjak dari kursinya dan berlari menuju ruang operasi guna bergabung dengan Dokter Leo dan lainnya.
****
" Kalian???????!!!!!!."
Dira langsung bergerak cepat ketika masuk ke dalam kamar rawat Kiara. Dira melihat Kiara sedang tidur pulas dalam pelukan Elang. Dira segera memukul tangan Elang agar melepaskan pelukannya pada Kiara.
"Sssttt... Abang... Abang... Ara baru tidur," ucap Elang mencoba menenangkan Dira yang masih saja memukulinya.
Dira berhasil melepas tangan Elang yang memeluk Kiara. Dira juga menarik Elang agar menjauh dari Kiara. Ulah Dira itu tentu saja membuat Kiara bangun.
"Kadirrrrrrrrrr........,"
Buggg
Kiara melempar bantal dan tentu saja mendarat sempurna di wajah Dira. Kiara menatap kesal pada Dira. Ia mengambil lagi bantal yang tersisa dan kembali melemparkan ke wajah Dira.
Elang segera mendekati Kiara dan kembali memeluknya.
"Ssstttt.... sayang...."
"Lu ganggu tidur gue, Kadirrrrr," teriak Kiara dan kini ia melempar selimut ke wajah Dira. Dira yang mendapat jackpot tiga kali berturut-turut tentu saja mengaduh kesakitan.
"Sakit, Kiaraaaa," teriak Dira sambil meringis kesakitan.
"Itu hukuman buat lu yang udah ganggu tidur gue," ucap Kiara tak kalah sengit.
Widya masuk dan langsung menjewer telinga Dira. Sejak tadi Widya sudah mendengar keributan di kamar rawat Kiara. Widya tidak habis pikir anak sulungnya ini masih saja membuat keributan di rumah sakit.
__ADS_1
"Sakit, Mamaeeee....," ucap Dira memelas berharap Widya melepas jewerannya.
"Kamu ini apa tidak bisa diam dulu? Ini rumah sakit, bukan rumah kamu. Jangan buat keributan!," ucap Widya lalu melepas jewerannya di telinga Dira.
"Bagaimana Dira nggak ribut, Mamaeee.... Kiara sama Elang main peluk-pelukan. Mereka kan lagi dipingit," adu Dira pada Widya.
"Bu... bukan seperti itu, Tante. Ara tadi tidak bisa tidur dan Ara meminta Elang memeluknya sampai.....," ucap Elang membela diri tapi terputus karena Dira memotong ucapannya.
"Alah... bilang aja kamu kegatelan" Dira menjentik kening Kiara.
"Dira.... adik kamu lagi sakit!!!" Widya kembali menjewer Dira.
"Mama...........," Kiara merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat agar Widya memeluknya. Widya kembali memukul lengan Dira dan beralih memeluk Kiara.
"Air mata buaya, Mamae.... Air mata buaya itu. Buaya betina," cibir Dira.
"Mama.... Kiara mau tidur dipeluk sama Elang. Kiara nggak bisa tidur dari tadi hu...hu...hu....," ucap Kiara pura-pura menangis, membuat Widya mengeratkan pelukannya.
"Alasan, Mamae. Alasan saja itu. Biasanya langsung tidur juga, nempel kayak cicak," Dira kembali mencibir pada Kiara.
"Bilang aja kamu iri sama adik kamu. Makanya jangan jomblo biar ada yang dipeluk," ucap Widya sembari memukul Dira berkali kali.
"Mamae.... sakit kali. Dira kan sudah bilang. Anakmu ini tampan dan rupawan. Masalah cewek tinggal tunjuk pasti mau" ucap Dira kembali membanggakan dirinya.
"Alah... gombal.... gombal.... mana buktinya?" tanya Widya.
"Tante, bukan gombal tapi omdo. Omong doang," koreksi Elang membuat Kiara tertawa.
"Maksud Tante itu, Elang," Widya terkekeh dan mulai melepas pelukannya. Widya memberi kode pada Elang agar kembali memeluk Kiara.
"Eee..... Mamae. Lihat....!!!," protes Dira yang segera melangkah hendak menarik Elang tetapi dicegah Widya.
"Sudah, Dira! Jangan ganggu adikmu! Biarkan, Kiara ingin istirahat!."
"Tapi kan mereka lagi di pingit, Mamaee...."
"Dipingitnya ada kelonggaran soalnya Kiara sakit. Sudah kamu pergi saja sekarang! Carikan Mama calon menantu!."
"Mamae....."
"Tunggu apa lagi??? Pernikahan Kiara tinggal satu minggu lagi. Kalau sebulan setelahnya kamu belum membawa calon mantu buat Mama. Jangan salahkan Mama kalau kamu Mama nikahkan sama salah satu murid Om Edo," ancam Widya melotot.
Kiara menjulurkan lidahnya, merasa senang kakaknya mendapat ancaman dari Widya. Dira yang melihat tingkah adiknya itu tentu saja semakin kesal.
Widya menarik tangan Dira agar keluar dari kamar rawat Kiara. Meskipun dengan susah payah karena Dira tidak mau meninggalkan Kiara dan Elang hanya berdua saja, Widya berhasil juga membawa Dira pergi. Widya meminta Dira mengantarnya ke mall. Dengan wajah cemberut, Dira mengikuti langkah Widya keluar dari rumah sakit.
haii reader tercintah. Terima kasih sudah mendukung karya othor sejauh ini. Jangan lupa like dan komen sehabis baca ya...
__ADS_1
Author juga mau rekomendasikan karya teman othor nih. Ceritanya bagus banget. Yuk mampir sekalian. Terima kasih.