Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 70


__ADS_3

"Pokoknya buang baju kemarin!!!"


"He'em" jawab Elang pendek.


"Celananya juga"


"He'em"


"Dalemannya juga"


"He'em. Eh kenapa sampai dalemannya segala sih?" tanya Elang tak mengerti.


"Nggak usah banyak protes. Pokoknya semua yang Elang pakai kemarin baik luar maupun dalam harus dibuang. Bakar kalau perlu!!!" ucap Kiara dengan wajah yang masih merengut.


Elang tersenyum geli melihat wajah Kiara yang sedang cemberut seperti ini. Sudah satu jam mereka melakukan panggilan video dan wajah Kiara tetap saja merengut. Andai saja Elang sedang di sampingnya, pasti tangan jahilnya akan mencubit pipi Kiara yang menggebung akibat kesal.


Kiara masih saja marah akibat tragedi pelukan Ellea di depan butik Ivana tadi. Sudah berkali-kali Elang menjelaskan jika ia dipeluk secara tiba-tiba oleh Ellea ketika Elang baru keluar dari mobilnya. Namun, Kiara seakan menutup telinga dan memilih marah-marah. Elang tidak ikut terbawa emosi mendapati calon istrinya uring-uringan seperti itu. Dia malah menikmati omelan Kiara yang sudah satu jam ia dengarkan.


"Elang besok ke ancol. Buang semua disana!" perintah Kiara lagi.


"He'em" jawab Elang sembari tersenyum geli.


"Jangan he'em he'em saja, Elang!!!! Pokoknya Ara nggak mau tahu, Elang harus buang baju yang dipakai tadi sama dalemannya juga" teriak Kiara


"Kenapa sama dalemannya juga sih sayang? Sem pak Elang itu limited edison. Elang belinya di Spanyol. Jangan ya sayangku! Baju ama celananya aja yang dibuang kalau dalemannya jangan" ucap Elang membujuk Kiara.


"Kalau Kiara bilang buang, ya buang!!!" teriak Kiara dengan mata yang mulai mengembun.


Elang segera bangkit melihat Kiara yang mulai menangis. Sebegitu kesalkah dia sekarang sampai menangis seperti itu? Apa Kiara cemburu melihat Ellea memeluknya?


"Sayang.... sayang... hei kenapa menangis?" tanya Elang.


"Ara kesal. Kenapa Elang diam saja ketika dipeluk Ellea?"


"Elang nggak diam. Elang berusaha mendorong Ellea agar melepas pelukannya. Tapi memang Ellea memeluk Elang sangat erat"


"Kenapa nggak injak kakinya aja?" sanggah Kiara dengan isak tangis yang kini terdengar jelas.


"Sayang, Elang nggak tega kalau injak kaki Ellea"


"Elang pasti masih sayang sama Ellea" tuduh Kiara.


"Eh... nggak ya. Sayangku dan cintaku untuk Ara seorang"


"Elang bohong!!!" teriak Kiara.


"Nggak sayang.." ucap Elang.


Kiara dan Elang terus saja berdebat hingga mereka tak menyadari kedatangan Dira yang main nyelonong aja ke kamar Kiara. Dira mengerutkan kening melihat Kiara berteriak-teriak di depan layar ponselnya.

__ADS_1


Dira berjalan mengendap-endap. Ia menaikkan lehernya untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan adiknya. Wajahnya langsung tertarik ke samping ketika melihat Elang yang terlihat frustasi menghadapi Kiara.


Happp..


Kiara berteriak ketika Dira mengambil ponsel Kiara. Dira mengarahkan wajahnya ke layar ponsel Kiara. Ia menarik-narik bibirnya, pipinya, alisnya, membuat ekspresi bermacam-macam.


Elang yang mendapat rotasi wajah mendadak tentu saja kaget hingga hampir jatuh terjungkal. Pasalnya wajah cantik calon istrinya langsung berubah menjadi wajah aneh Dira.


"Abang!!! Ngagetin aja!!" pekik Elang sambil mengelus dada.


"Heiiii kau burung Elang. Ngapain kau berpelukan sama si kriwul di depan butik Ivana? udah kayak teletubbies kalian ini. Kau belum move on hah??" tanya Dira dengan wajah yang dibuat garang.


" A.. Abang. Tadi Ellea yang tiba-tiba peluk Elang..."


"Gara-gara kau, sarang burung menangis!!!" potong Dira. Ia mendekatkan ponsel Kiara pada matanya.


"Iya kah... Oh tidak. Ara... sayang... maafkan Elang" Elang berteriak sambil celingak celinguk berharap bisa melihat Kiara. Namun apa daya ponsel Kiara sedang berada di tangan Dira. Bukan Kiara yang ia lihat melainkan dahi lebar milik Dira.


"Stop manggil-manggil Kiara! Kalian lagi dipingit, harusnya nggak boleh telponan"


Klik.


Dira mematikan sambungan video call dengan Elang. Dira menoleh ke belakang, melihat Kiara yang sedang meringkuk memeluk guling. Dira bisa mendengar adiknya itu sedang menahan tangis. Dira menaiki kasur dan duduk di sebelah Kiara.


Puk...puk...puk..


"Ku menangis...... membayangkan..." Dira mulai bernyanyi mencoba menghibur Kiara.


"Mending lu diem, suara lu fals" kata Kiara. Ia membenamkan wajahnya di dada Dira sambil sesekali mengusap kedua matanya dengan kaos yang dipakai Dira.


"Udah jangan nangis. Elang kan sudah bilang, tadi si kriwul yang meluk dia mendadak. Elang nggak salah. Sudah jangan nangis lagi. Lu mau nikah, nggak boleh sedih"


"Gue takut, Kadir"


"Takut? takut kenapa?" tanya Dira.


"Gue takut Ellea ngerebut Elang dari gue" ucap Kiara lirih.


"Selama gue masih hidup, gue jamin hal itu nggak bakalan terjadi" janji Dira.


Dira mengelus pucuk kepala Kiara, menenangkan adiknya yang sedang galau. Tiba-tiba pintu kamar Kiara di ketuk. Seorang maid masuk bersama seorang wanita yang tentu saja tidak asing bagi Dira dan Kiara.


"Mamaeeee.....!!!!" Dira secara spontan melepaskan Kiara dan berhambur memeluk Widya. Kiara yang tidak siap dengan pergerakan mendadak Dira tentu saja kaget hingga membuatnya nyaris jatuh dari kasurnya.


"Mamae akhirnya datang juga. Om Edo mana?" tanya Dira sembari mencium pipi Widya berkali-kali.


"Om Edo akan datang H-3, tidak apa-apakan?" tanya Widya yang dibalas anggukan kepala oleh Dira.


Widya mengalihkan pandangannya pada Kiara. Ia mengerutkan dahi melihat wajah kusut Kiara yang lengkap dengan mata sembabnya. Widya segera melangkah menghampiri putrinya itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Widya. Tangannya membelai wajah Kiara dengan sayang.


"Kiara lagi ngambek sama Elang, Mamae. Gara-gara Elang dipeluk mantannya" adu Dira pada Widya.


Widya memicingkan matanya seolah meminta jawaban dari Kiara. Kiara diam. Ia memilih tak menanggapi ucapan Dira.


"Memangnya Elang belum bisa move on dari mantannya?" tanya Widya.


"Bukan Elang tapi mantannya yang nggak bisa move on, Mamae dan Kiarang sarang burung sekarang galau takut Elang direbut" ucap Dira terkekeh.


Widya menggelengkan kepala. Begini kalau mau nikah, cobaan datang dari mana saja. Widya menasehati Kiara, menenangkan dan menguatkan anak bungsunya itu. Bagaimanapun Kiara harus selalu dibawa pada pikiran-pikiran positif agar tidak membuatnya frustasi.


Widya menanyakan persiapan pernikahan Kiara. Kiara hanya diam, lebih banyak Dira yang berceloteh dan bercerita mengenai konsep acara pada pernikahan Kiara nanti. Widya memberikan saran-saran, menanyakan detail-detail persiapan akad dan resepsi untuk memastikan tidak ada yang terlupa.


Ketika mereka sedang asyik membahas konsep pernikahan Kiara, ponsel Kiara berdering. Panggilan video dari Elang kembali masuk. Dira mengambil ponsel Kiara dan menjawab panggilan itu.


"Apalagi???" Dira menampakkan wajah anehnya lagi.


"Abang... Elang hanya ingin memastikan kalau Ara sudah berenti menangis. Elang khawatir" ucap Elang.


"Kiara sudah Abang suruh jalan sama Rio..."


Bukkkk.


Kiara melempar bantal ke arah Dira. Bantal itu tepat mengenai kepala Dira. Kiara dengan cepat merebut ponselnya dari tangan Dira.


"Jangan pernah hubungin Ara kalau Elang belum membuang baju yang dipakai tadi sama dalemannya. Ara nggak mau tahu pokoknya baju, celana, sem pak dan sepatu yang dipakai tadi semuanya harus di buang. Kalau perlu dikremasi"


Dira melongo mendengar perkataan adiknya. Jadi dari tadi mereka bertengkar gara-gara sem pak? Dira menepuk jidatnya. Ia merebut lagi ponsel milik Kiara.


"Heh... Elang. Turutin aja kenapa sih? si Kiara bisa ngambek tujuh turunan kalau nggak diturutin. Kamu mau nggak dapat jatah pas malam pertama nanti?" ancam Dira membuat Widya yang mendengarkan tertawa geli.


"Tapi sem pak yang dipakai Elang itu limited edison, Abang. Elang belinya di Spanyol" ucap Elang memelas.


"Kamu lebih sayang ama si sem pak daripada Kiara??? Kalau kamu mau, Abang bisa belikan pabrik sem paknya sekalian. Turuti kemauan Kiara. Masalah sem pak aja dibuat ribet" ucap Dira geram.


"Iya, Abang. Ara... sayang, besok Elang buang deh semuanya. Ara jangan marah lagi ya sama Elang"


"Iye... Kiara nanti nggak marah" ucap Dira mewakili Kiara.


"Udah ye.. kalian kan lagi dipingit. Jadi jangan lama-lama video callnya. Bye!!" Dira mematikan ponsel milik Kiara dan melemparnya ke atas kasur.


"Mamae... ayo tidur! Kepala Dira pusing" ajak Dira yang tentu saja membuat Widya heran. Karena ini masih sore dan Dira tidak pernah tidur sore.


"Kamu pusing kenapa?" tanya Widya.


"Pusing mikirin sem pak... Eh mikirin dua sejoli ini. Berantem kok masalah sem pak. Dah ah... Dira balik ke kamar"


Dira segera keluar dari kamar Kiara. Wajahnya kesal. Widya menghela nafas melihat kepergian Dira. Ia kemudian beralih menatap wajah Kiara dan memeluknya. Kedua anaknya ini benar-benar unik. Entah gen siapa yang dibawa oleh Dira dan Kiara sehingga menjadi pribadi yang unik seperti ini, pikir Widya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2