Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 21


__ADS_3

 “Kiara...!!!”


Dira berteriak ketika kedua netranya melihat pemandangan menyebalkan di hadapannya. Secepat kilat, Dira melangkahkan kakinya dengan gusar.


“Untung saja aku cepat datang” gumam Dira.


Dira memang semula tidak ingin datang ke pesta ulang tahun Evan karena hari ini Dira harus menghadiri rapat yang akan membahas proyek besarnya. Namun, ketika rapat sedang berlangsung. Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Dira. Dira langsung mengebrak meja dengan keras ketika melihat foto Kiara dan Rio yang sedang berdansa. Foto itu dikirim oleh nomor asing yang tidak terdaftar di ponselnya. Tanpa berfikir panjang, Dira segera meninggalkan ruang rapat dan meluncur ke hotel XXX tempat acara ulang tahun Evan.


Kiara segera bangkit melihat kedatangan Dira dengan wajah memerah tidak bersahabat. Kiara menarik tangan Rio agar berdiri di belakangnya. Kiara tahu kakaknya sedang marah besar padanya. Tapi bukan Kiara namanya jika tidak bisa melawan Dira. Kiara mengambil kuda-kuda. Dia harus waspada dengan tindakan yang akan dilakukan Dira.


“You..!!!” tunjuk Dira pada wajah Rio.


Dira menatap Rio dengan tatapan menakutkan. Kiara bisa melihat sorot mata Dira penuh dengan kebencian.


“Lu mau apa?” Kiara menepis tangan Dira.


Layaknya wonder woman yang sedang melindungi korban yang lemah, Kiara berjalan mendekati Dira tanpa rasa takut sedikitpun.


“Gue sudah bilang jangan dekat-dekat dengan si Vaston! Lu kenapa sih tidak mau nurut juga!!!” bentak Dira.


Amarah Dira benar-benar sudah di ubun-ubun. Adiknya ini mengacuhkan peringatannya.


“Lu ada masalah apa sih sama Rio? Kenapa lu benci banget sama dia?" Kiara tak kalah sengit membentak Dira.


“Bukan urusan lu!!! Sekarang pulang!!!” bentak Dira.


Dira menarik tangan Kiara dan mencengkramnya dengan keras. Kiara berusaha melepas cengkaraman tangan Dira.


“Gue nggak mau, Kadir. Gue mau disini dulu" Kiara masih meronta agar bisa lepas dari cengkraman Dira.


“Gue bilang pulang!!!” Dira menyeret Kiara yang masih memberontak.


Rio berlari mengejar Dira.


“Tuan Adiraka...” panggil Rio lirih.


Langkah Dira terhenti mendengar namanya disebut.


“Jangan sebut namaku!!! Aku tidak sudi bibirmu yang kotor itu menyebut namaku" teriak Dira.


Rio menelan ludah. Reflek Rio berlutut di hadapan Dira, kedua tangannya memeluk kaki kanan Dira.


“Aku mencintai Kiara. Tolong izinkan aku bersamanya!” mohon Rio.


Dira tidak bergeming. Dengan kasar Dira menghempaskan kakinya sehingga tubuh Rio terjungkal. Dira memanggil pengawalnya dan menyuruh mereka membawa Kiara pulang ke apartemennya.


Para pengawal Dira dengan sigap membawa Kiara pergi meskipun Kiara memberontak sekuat tenaga. Namun tenaganya masih kalah jauh dengan pengawal Dira.


“Tuan Adiraka..” panggil Rio.


Tangannya kembali meraih kaki kanan Dira, memeluknya dengan erat.


“Sudah aku katakan jangan sebut namaku!!!” bentak Dira kembali sembari menghentakkan kakinya.


“Kau boleh menyiksaku.Tapi aku mohon maafkan kesalahanku dahulu. Aku sangat  mencintai Kiara. Tolong izinkan aku bersamanya!" ucap Rio memelas.


Dira tertawa kencang, mengejek Rio yang kini tetap bersimpuh di hadapannya.

__ADS_1


“Semudah itu kau meminta maaf setelah apa yang telah kau perbuat kepadaku hah??” Dira kembali tertawa menyeringai.


“Inikah playboy yang dulu merebut kekasihku?? Oh tidak kini dia bahkan bersimpuh di hadapanku?" tawa Dira kembali pecah sedangkan Rio menatap Dira sendu.


“Aku bersedia melakukan apapun agar Tuan mengizinkan aku bersama Kiara"


Dira membungkuk hingga wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Rio.


“Jangan mimpi!” bisik Dira.


Dira membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Rio.Rio tertunduk lesu. Sebagai laki-laki dia merasa sangat tidak berguna.


“Mengapa aku selemah ini? Dimana keberanianku? Mengapa aku tidak bisa mempertahankan Kiara?" ucap Rio lirih.


                       _____  ***_____


Pletakkkk.


Kiara melempar heelsnya ketika Dira masuk ke kamarnya. Heels setinggi 20 cm itu lagi-lagi mendarat sempurna di kepala Dira. Dira meringis kesakitan akibat ulah  adiknya itu. Sepertinya heels adalah sambutan wajib yang dia terima ketika pulang ke apartemennya.


“Gue kan udah bilang heels gue ada yang lebih tajem. Bisa bikin kepala lu bocor" ucap Kiara dingin.


Dira menatap adiknya yang sedang duduk memeluk lutut di atas kasurnya. Dira bisa merasakan amarah Kiara. Namun kali ini Dira juga tidak mau dibantah. Dira akan tegas pada Kiara jika ada sangkut pautnya dengan Rio.


“Gue juga sudah bilang lu jangan dekat-dekat sama si Vaston"


“Alasannya apa? Lu jangan egois dong main larang seenaknya" ucap Kiara tak mau kalah.


“Alasannya? Karena gue beri pilihan hanya dua. Lu ambil gelar master disini atau lu berkarier disini. Gue nggak beri pilihan lu cinta-cintaan sama si playboy Vaston!!!”


“Alasan macam apa itu?” ucap Kiara menolak mentah-mentah perkatan Dira.


“Tapi dia yang ada rasa sama lu !!! Sekarang lu bilang belum ada rasa. Tapi nanti ketika lu udah nyaman sama si Vaston, lu pasti akan cinta mati sama dia. Lu nggak mau lepas dari dia. Vaston bukan pria baik-baik, dia pasti ninggalin lu dan lu pasti akan nangis-nangis lagi disini dan gue nggak mau ada drama galau-galau nggak jelas lagi disini...!!!”


“Cukup, Kadir!!!!” bentak Kiara. Kali ini Kiara berteriak sangat keras.


Dira terdiam. Dia mengatur nafasnya agar normal kembali. Dilihatnya Kiara menahan tangis. Sebenarnya Dira tidak tega bertidak seperti ini pada Kiara. Namun Dira benar-benar tidak mempunyai pilihan. Dira hanya ingin melindungi adiknya. Dira tidak mau Kiara kembali terluka.


“Keputusan gue sudah bulat. Gue nggak peduli lu setuju atau tidak” ucap Dira.


Kiara mengangkat wajahnya, mencoba mencerna apa yang akan diucapkan lagi oleh Dira.


“Pilihan lu tinggal satu. Lu ambil gelar master di NYU. Selesaikan secepat mungkin dan setelah itu gue akan berikan jatah lu” ucap Dira dengan nada berat.


Kiara mengernyitkan dahi.


“Jatah? Jatah apa?” tanya Kiara terbata. Dirinya benar-benar tidak dapat mencerna perkataan Dira.


“Ya jatah warisan lu lah!! Lu pikir Papa cuma ngasih jatah perusahaan buat gue? Papa juga ngasih jatah perusahaan buat lu" ucap Dira.


Sebenarnya Dira tidak ingin mengatakannya sampai Kiara selesai menyelesaikan sekolahnya disini. Tapi Dira sudah terlanjur keceplosan.


“Gue? Perusahaan? Papa ngasih perusahaan buat gue?" tanya Kiara tak percaya. Matanya yang sayu kini membola. Dira mengangguk.


“What??? Lu ngerahasiain warisan buat gue? Keterlaluan lu, Kadir!” Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sesuai surat wasiat Papa. Perusahaan Papa di Indonesia akan jatuh ke tangan lu saat lu selesai sekolah magister"

__ADS_1


“Dan lu beserta Mama dan lainnya nggak pernah cerita ke gue masalah surat wasiat Papa!!! Lu pikir gue bukan anak Papa, hah?” tanya Kiara penuh emosi.


“Selama bertahun-tahun lu hidup enak disini sedangkan gue??? Bertahun-tahun gue hidup melarat!!! Kalian nggak adil!!” teriak Kiara histeris.


“Maksud lu apa?” tanya Dira tak mengerti karena memang selama ini Dira tidak tahu menahu dengan kehidupan Kiara di Indonesia.


“Sejak dulu gue bertanya-tanya kenapa lu harus pergi ketika kuburan Papa masih basah? Kenapa gue dikirim ke boarding school ? Kenapa gue nggak pernah diijinin buat pulang buat ketemu Mama? Ketika siswa lain dikunjungi orang tuanya, gue hanya bisa berharap Mama datang jenguk gue" ucap Kiara terisak.


"Bertahun-tahun gue merasa diasingkan tanpa kasih sayang dan limpahan materi. Gue juga bertanya kenapa Mama tidak pernah memberi gue uang? Kalau gue dapat jatah dari Papa, kenapa gue harus hidup melarat seperti ini hah? Apa yang kalian rencanakan?" tanya Kiara dengan sorot mata mengintimidasi Dira.


Dira tercengang mendengar perkataan Kiara. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa pada Kiara. Sungguh Dira memang tidak tahu apa-apa tentang hal itu karena selama ini Dira berada dalam pengawasan ketat Samuel


“Gue nggak tahu apa-apa” ucap Dira.


“Bohong!!! Lu pasti bersekongkol dengan Mama buat nyingkirin gue? Apa benar gosip yang gue denger kalau gue bukan saudara kandung lu? Apa benar gue bukan anak kandung Mama?” tanya Kiara berapi-api. Hatinya benar-benar sakit menerima kenyataan ini.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kita berdua ini anak kandung Mama!!!” jawab Dira.


Kiara menggeleng.


“Nggak! Gue pasti bukan anak kandung Mama! Kalian bohong!” Kiara kembali berteriak histeris.


“Cukup, Kiara, Cukup!!!” Dira memeluk Kiara.


Dira menyesal mengatakan sesuatu pada Kiara yang seharusnya belum waktunya Kiara untuk tahu. Kiara memberontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Dira. Namun Dira terus memeluknya hingga akhirnya tubuh Kiara melemas. Dira melepas pelukannya dan duduk berhadapan dengan Kiara.


“Kita ini saudara kandung. Gue kakak lu dan lu adik gue. Kenapa lu selalu meragukan hal ini? Gue yang gantiin popok lu. Kalau lu nggak percaya, kita tes DNA” ajak Dira.


Kini emosi diantara keduanya mulai mereda hanya terdengar isak tangis Kiara.


“Gue nggak tahu kalau lu hidup melarat di Indonesia. Gue disini harus belajar siang malam. Paman Sam mendidik gue sangat keras agar gue bisa memimpin perusahaan ini dengan baik. Kalau gue tahu hidup lu tidak nyaman di Indonesia, gue pasti minta Paman Sam buat jemput lu” ucap Dira menyesal. Dira kembali memeluk tubuh adiknya.


“Maafin gue. Gimana caranya luu bisa datang kesini?” tanya Dira spontan. Karena memang Dira tidak pernah menanyakan hal itu kepada adiknya.


“Gue akhirnya bisa pulang ke rumah setelah selesai wisuda. Saat tiba di rumah, gue langsung ke ruang kerja Papa dan gue menemukan buku memo Papa yang berisi alamat-alamat penting di NY, salah satunya perusahaan Papa di NY. Gue modal nekat aja terbang kesini dan mencari alamat perusahaan Papa dan ternyata insting gue benar" ucap Kiara.


Dira tersenyum. Dia tidak menyangka adiknya senekat itu.


“Lalu dari mana lu tahu nomor ponsel gue?” tanya Dira karena seingat Dira Kiara pernah mengatakan pernah menghubunginya berkali-kali agar menjemputnya di bandara. Namun Dira tidak meresponnya karena Dira pikir itu nomor nyasar.


“Dari ponsel Mama. Waktu itu gue diam-diam masuk ke kamar Mama" jawab Kiara.


“Ngapain lu diam-diam masuk kamar Mama?" tanya Dira sedikit kaget.


“Gue nyolong perhiasan Mama terus gue jual biar bisa beli tiket kesini" ucap Kiara enteng.


“What????"


Dira terperanjat mendengar penuturan adiknya. Dira tidak percaya jika Kiara berani mengambil perhiasan Mamanya dan menjualnya. Dira melepaskan pelukannya pada Kiara.


“Lu pikir harga tiket kesini murah? Gue kan udah bilang Mama nggak pernah ngasih gue uang. Ya jangan salahin gue kalau gue ngambil perhiasan Mama” kata Kiara lagi membuat Dira menepuk jidatnya. Adiknya ini memang selalu ajaib, selalu bertindak di luar nalar Dira.


“Berapa perhiasan yang lu jual?” tanya Dira cemas.


“Nggak tahu. Gue asal ambil aja. Gue kresekin trus gue jual. Gue nggak peduli ditawar berapa pokoknya laku dan cukup buat beli tiket kesini. Sudah ah gue mau ke dapur dari tadi perang mulu sama lu ” ucap Kiara lalu beranjak pergi meninggalkan Dira yang masih tercengang di atas tempat tidur Kiara.


“Sial...!!!!!” teriak Dira.

__ADS_1


Dira memukul-mukul kasur Kiara dengan kesal. Dirinya tidak menyangka Kiara bisa melakukan hal se bodoh dan senekat itu. Kiara tidak pernah berpikir panjang dalam bertindak. Dira beranjak dari kamar Kiara dan melangkah dengan gontai menuju kamarnya.


__ADS_2