Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 44


__ADS_3

Kiara terlonjak kaget saat membuka matanya setelah lama tertidur. Otaknya langsung menangkap jika ia berada dalam sebuah kamar tetapi bukan kamarnya. Tempat ini sungguh asing baginya.


Kiara ingat betul peristiwa beberapa jam yang lalu saat dirinya hampir saja sah menjadi istri Ale jika Dira tidak datang menggagalkan pernikahan itu.


Kiara mendengus kesal sembari mengamati kamar yang ia tempati. Kamar ini sangat sederhana. Kasurnya tak sebesar dan seempuk milik Kiara. Tak ada AC dan televisi dalam kamar ini.


Sial! Umpat Kiara. Dalam hati ia bertanya-tanya, di mana Dira menempatkan dirinya? Apakah Dira membawanya jauh dari kota?


"Anak Mama sudah bangun?"


Kiara langsung menoleh ketika mendengar suara orang yang tidak asing ditelinganya.


Widya menghampiri Kiara dan memeluknya. Kiara mematung tak membalas pelukan Widya.


"Mama kangen, Kiara. Kata Dira anak Mama yang ini sudah lulus Magister dengan nilai terbaik. Mama bangga sama Kiara" ucap Widya tulus. Namun, tak ditanggapi oleh Kiara.


"Mama mau panggil Dira dulu. Tadi kakakmu minta dibangunkan kalau Kiara sudah bangun" ucap Widya kemudian berlalu meninggalkan Kiara.


Widya segera masuk ke kamar Dira. Dilihatnya putra sulungnya itu masih terlelap di bawah selimut. Widya mengerti, Dira pasti kelelahan. Widya menghampiri kasur Dira dan membangunkannya dengan perlahan.


"Ada apa, Mama?" tanya Dira sembari menguap berkali-kali.


Sudah lama Dira tidak merasakan tidur siang dengan tenang. Kesibukan Dira sebagai presdir membuatnya harus melupakan kebiasaan tidur siangnya.


"Kiara sudah bangun" ucap Widya.


Dira kembali menguap. Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar menuju kamar Kiara. Baru saja Dira muncul di depan pintu kamar adiknya, sebuah bantal mendarat sempurna di wajah Dira. Sontak saja Dira kaget mendapat serangan mendadak di tengah kantuknya.


"Kiaraaaa...... apa-apan sih???? Nggak di Amerika, Nggak di Indonesia, tetap saja suka lemparin wajah gue" bentak Dira kesal.


"Jangankan bantal, kalau ada batu segede gaban juga bakalan gue lempar ke wajah lu, Kadir. Ngapain lu ke Indonesia? lu ngerusak acara gue" ucap Kiara membuat Dira bergidik ngeri.


"Kalau gue nggak pulang, bisa-bisa lu jadi perusak rumah tangga orang. Lu sadar nggak sih sama apa yang lu lakuin tadi? lu bisa mencoreng nama keluarga kita juga, Kiarang sarang burung" ucap Dira sambil mencubit hidung Kiara.


"Keluarga yang mana?" tanya Kiara ketus.


"Keluarga Sanjaya kalau lu lupa nama belakang lu" sambar Dira tak kalah ketus.


"Gue mau balik ke Jakarta. Gue nggak mau disini"


"Nggak. Lu tetap di sini sampai batas waktu yang gue tentukan"


"No, Kadir! No! gue mau balik ke Jakarta"


"Lu tetap disini sampai lu sadar"


"Lu pikir gue mabok?" tanya Kiara kesal.


"Iya, mabok cinta suami orang. Lagian lu jadi presdir apa nggak malu? Lu itu cantik. Lu bisa dapetin siapapun. Jangan kayak perempuan nggak laku deh" maki Dira tanpa sensor.


"Waktu di Amerika ada laki-laki bujang deketin gue, lu ngelarang"


"Bujang tapi nggak perjaka buat apa? bekas banyak cewek. Lu mikir dong Kiara. Apa lu mau sama cowok bekas pakai?"

__ADS_1


"Jangan sok suci, Kadir! Semua orang punya masa lalu. Jangan menganggap dirimu lebih baik daripada Rio!" ucap Kiara dengan nada meninggi.


"Gue memang lebih baik bahkan sangat baik tak terhingga dari si bangsat Vaston. Lu masih bocah untuk mengenal dunia luar. Lu masih kurang pengalaman" cibir Dira yang dibalas pukulan telak Kiara pada punggungnya.


Kiara diam. Dia mengacuhkan Dira yang kini meringis akibat pukulannya.


"Gue mau pulang" ucap Kiara pelan.


Untuk saat ini tidak baik baginya jika terus melawan Dira. Kiara tahu saat ini kondisinya sedang diujung tanduk. Kiara tidak punya kuasa apapun.


"No. Sudah gue bilang lu tetap di sini"


"Mau lu apa sih, Kadirrrrrrr....???,"


"Mau gue? lu kembali ke jalan yang benar. Jadi perempuan benar. Nikah ama laki-laki benar. Udah itu aja" jawab Dira enteng.


"Jadi maksud lu selama ini gue nggak bener? gue rusak gitu?"


"Lebih tepatnya lu oleng" ucap Dira memberi penekatan pada kata oleng.


"Kiarang sarang burung, adik manis gue satu-satunya. Nurut sama abang Dira. Gue jamin hidup lu bakalan bahagia" ucap Dira dengan memasang wajah baby facenya yang tentu saja membuat Kiara ingin muntah.


"Lu disini dulu. Abang Dira harus balik ke Jakarta"


"Gue ikut!" sambar Kiara cepat. Dia memeluk punggung Dira dari belakang.


"No...No.. No"


"Nurut sama gue. Setelah urusan gue kelar, gue langsung balik kesini"


"Gue mau ikut, Kadir"


"Lu mau gue bius lagi?" tanya Dira yang dibalas gelengan kepala oleh Kiara.


Dira membalikkan badannya dan memeluk Kiara. Dira paham apa yang dirasakan adiknya. Kiara hanya belum nyaman berada di rumah Mamanya. Dira harus melatih Kiara. Tega ataupun tidak, Dira harus melakukannya demi kebaikan Kiara.


Dira melepaskan pelukannya. Melangkahkan kakinya meninggalkan Kiara yang terus menangis memanggil namanya. Dira tidak berhenti maupun menoleh ke belakang. Dia harus tega.


Dira menemui Widya untuk berpamitan. Widya sebenarnya belum mau melepas kepergian Dira. Namun, dia paham anak laki-lakinya itu sangat sibuk. Dira dan Widya berpelukan sebelum akhirnya Dira pergi meninggalkan rumah Widya.


\_\_\_\*\*\*\_\_\_\_


"Paman!" panggil Dira.


"Dira?? kapan kau sampai?" tanya Indra setengah kaget melihat kedatangan keponakannya.


"Baru saja dan aku langsung kesini" ucap Dira.


Dira melangkahkan kakinya menuju kursi presdir yang biasa diduduki Kiara. Ia duduk dan dengan isyarat jarinya meminta Indra agar duduk di hadapannya.


"Ada hal penting yang ingin kau bicarakan, Dira?" tanya Indra tanpa basa basi.


"Tentu saja , Paman. Kalau tidak penting untuk apa aku menemuimu" jawab Dira kesal.

__ADS_1


"Maaf" ucap Indra cepat. Ia tidak mau membuat mood keponakannya buruk.


"Paman, atur jadwal pertemuanku dengan Alex. Aku ingin berbicara dengannya"


"Alex???"


"Ya, laki-laki yang nyaris saja menjadi suami Kiara. Aku ingin berbicara dengannya. Setidaknya aku harus meminta maaf lagi padanya dan tentu saja untuk membicarakan masalah investasi dana untuk perusahannya"


"Kalau itu maumu, Paman akan segera mengatur jadwal pertemuanmu dengan Alex"


"Dan satu lagi, Paman"


"Ya???"


"Mulai besok Paman aku tugaskan mengurus perusahaanku di New york"


"Apa???!!!! Kau jangan becanda, Dira!" ucap Indra.


"Aku tidak becanda, Paman. Untuk beberapa saat Dira akan di sini, mengurus perusahaan milik Kiara sampai Kiara benar-benar bisa dilepas. Paman, Dira tugaskan mengurus perusahaan Dira di sana"


"Tapi Dira bagaimana dengan Bibi Nafisa dan anak-anak Paman?" tanya Indra cemas.


"Bawa saja semuanya. Dira bukan presdir miskin yang tidak sanggup memberi paman apartemen atau rumah di New york. Lagi pula Paman memang harus di New york untuk mengurus perusahaan yang akan menjadi jatah Paman"


"Jatah? maksudmu apa Dira?" tanya Indra tak mengerti.


"Dira memberikan salah satu anak perusahaan Dira di New york untuk Paman"


"Untukku?? Kenapa??" tanya Indra lagi.


"Tentu saja sebagai ucapan terima kasih karena Paman menjadi informanku. Andai Paman tidak menelponku, pasti Kiara sudah melakukan hal bodoh yang bisa merusak nama baik keluarga Sanjaya"


"Tapi Paman..."


"Dira tidak menerima penolakan. Segera lakukan tugas yang Dira berikan. Paman tahu kan Dira tidak suka menunggu dan tidak suka dibantah" ucap Dira dengan tatapan dinginnya.


Indra menghela nafas. Indra segera pamit untuk melaksanakan perintah Dira. Namun baru saja Indra membalikkan badannya, Dira kembali memanggilnya.


"Bawa juga perempuan itu pergi dari sini" ucap Dira dingin.


"Perempuan? perempuan yang mana?" tanya Indra tak mengerti.


"Asisten Kiara. Bawa dia juga ke New york. Aku akan kembalikan dia pada posisinya semula sebagai karyawan Evan."


"Baiklah jika itu maumu. Lagi pula dia tidak banyak membantu disini"


"Jelas saja. Penata rias dijadikan asisten. Kiara memang sudah sinting" maki Dira membuat Indra terkekeh.


Indra kembali membalikkan badannya setelah memastikan tidak ada lagi perintah dari Dira. Perlahan Indra melangkahkan kakinya keluar dari ruang presdir. Ia melangkah dengan hati gundah.


Indra bingung apakah harus senang atau sedih menerima tugas barunya dari Dira.


Apa yang harus dia katakan pada Nafisa, istrinya? Indra harus mencari kalimat yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan Nafisa dan anak-anaknya. Bagaimanapun perintah Dira tidak bisa ditolak. Indra tidak punya kuasa sedikitpun untuk melawannya. Dalam hati Indra berdoa semoga Nafisa dan anak-anaknya bisa mengerti.

__ADS_1


__ADS_2