Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 57


__ADS_3

"Miss Lita, saya ingin menemui Ara" ucap Elang pada sekretaris Ara.


Saat ini jam makan siang. Elang ingin melepas rindunya dengan Ara. Tiga hari berada di Labuan Bajo tak pernah sekalipun Ara menghubungi Elang. Elang sebenarnya merasa kesal. Namun kesibukannya mengurus proyek baru Ale membuat sedikit rasa kesal Elang teralihkan.


Elang sudah membelikan beberapa oleh-oleh untuk Ara. Hari terakhir di Labuan Bajo membuat Elang lapar mata. Ia membeli banyak souvenir untuk Ara.


"Maaf Pak Elang. Nona Kiara sedang ada meeting dengan klien di luar" ucap Lita.


Elang mengerutkan keningnya. Ia merasa heran karena ini bukan kebiasaan Ara masih berjibaku dengan klien ketika makan siang. Ara tidak menerima agenda apapun saat jam makan siang karena Dira sudah menetapkan jika jam makan siang adalah waktu Ara dan Elang bersama.


"Tumben?" tanya Elang.


"Mendadak, Pak dan klien hanya bisanya sekarang" kata Lita.


Elang mengangguk. Ia kemudian beranjak meninggalkan meja Lita. Entah mengapa langkah kaki Elang menuntunnya ke ruang kerja Dira. Namun, belum memasuki ruangannya Elang malah berpapasan dengan Dira yang baru saja selesai meeting.


"Elang? Kenapa disini? tidak bersama Ara?" tanya Dira merasa heran.


"Kata Lita, Ara sekarang sedang meeting dengan klien, Abang"


"Meeting? dengan siapa?" tanya Dira lagi.


"Saya tidak tahu, Abang" jawab Elang membuat Dira menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pasalnya Dira paham betul jadwal hari ini. Tidak ada meeting yang harus dihadiri adiknya itu. Dira yakin ini hanyalah akal-akalan Kiara saja untuk menghindari Elang.


"Ikut saya!" perintah Dira yang segera dituruti oleh Elang.


Dira melangkahkan kakinya dengan cepat. Jika dugaannya benar, Dira tidak akan segan menghukum adiknya. Dira melewati meja Lita begitu saja. Ia membuka pintu ruang kerja Kiara dan..


klekkk...


"Itu makhluknya" tunjuk Dira. Tatapannya tajam menusuk ulu hati Kiara.


Kiara yang tengah menikmati makan siangnya tentu saja kaget melihat kedatangan Dira dan Elang. Kiara menyudahi makan siangnya, merasakan akan ada hal buruk yang akan menimpanya. Dira dan Elang melangkah mendekati meja Kiara.


"Kata Lita lu sedang meeting. Kenapa ada disini?" tanya Dira.


"Sudah selesai" ucap Kiara pendek.


"Wah hebat rupanya lu sudah punya pintu kemana saja. Bisa nyampek sini dalam waktu satu detik" sindir Dira.


Kiara menelan ludah. Ia tahu mau berbohong seperti apapun Dira pasti akan tahu. Kiara membuang mukanya. Ia kehilangan kata-kata untuk menjawab Dira.


"Tunangan lu nyariin. Gue tinggal dulu" Dira kemudian berlalu meninggalkan Kiara dan Elang berdua.


Elang duduk di atas meja Kiara. Kedua tangannya menangkup wajah Kiara. Elang bisa membaca raut wajah kekasihnya yang sedang marah kepadanya.


"Maaf tidak menghubungimu selama di Labuan Bajo. Kau pasti kesal" ucap Elang yang tak ditanggapi oleh Kiara.


"Sayang, aku sudah membelikan banyak oleh-oleh untukmu. Kau pasti suka" ucap Elang sembari memberikan oleh-oleh pada Kiara.


"Kau masih merajuk juga, sayang, membuatku semakin cinta saja" goda Elang yang masih saja tidak ditanggapi Kiara.


Elang mengangkat tubuh Kiara dan menarik dalam dekapannya. Sungguh Elang sangat merindukan aroma kekasihnya ini. Elang membenamkan kepalanya di ceruk leher Kiara sembari mengendus leher Kiara berkali-kali.


"Elang bisakah kau tinggalkan aku sendiri?"


Elang segera melepas pelukannya. Ia menatap Ara dengan tidak percaya. Apa yang dikatakan kekasihnya itu? Mengapa ia menolak Elang? Elang semakin bingung melihat Kiara yang menampakkan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau marah padaku? Katakan apa salahku?"


"Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku hanya ingin sendiri"


"Sayang... jangan seperti ini. Katakanlah apa kesalahanku. Aku minta maaf jika membuatmu marah" bujuk Elang lagi.


Kiara menggeleng. Ia segera membalikkan badannya. Saat ini ia benar-benar tidak ingin bertemu Elang. Kiara ingin menyendiri sebelum mengambil keputusan tentang hubungan mereka selanjutnya.


"Baiklah kalau kau mau sendiri. Nanti aku akan menjemputmu. Kita jalan-jalan" ucap Elang mengecup kening Kiara lalu melangkah pergi meninggalkan Kiara.


Elang berjalan dengan langkah gontai. Ia mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga membuat Ara bersikap seperti itu. Apa karena Elang tidak mengabarinya? Atau karena sebenarnya Ara ingin ikut tetapi Elang tidak peka? Elang berjalan menunduk hingga tanpa ia sadari jika Dira tengah berjalan menuju ke arahnya dan ...


Buggg...


Badan Elang terpental. Elang jatuh tersungkur. Dira menghela nafas melihat tingkah calon adik iparnya ini. Ia mengulurkan tangannya, membantu Elang untuk bangkit.


"Ada apa lagi calon adik ipar sampai jalan saja kau tidak lihat-lihat?" tanya Dira.


"Masuk dulu ke ruanganku. Kita harus berbicara"


Dira berjalan menuju ruangannya diikuti Elang dari belakang. Dira menyuruh Elang duduk di sofa.


"Apa yang terjadi di Labuan Bajo sehingga Kiara marah padamu?" tanya Dira to the point.


"Tidak terjadi apa-apa, Abang. Mungkin Ara marah karena aku tidak menghubunginya selama di Labuan Bajo" jawab Elang membuat Dira menautkan kedua alisnya.


"Memangnya Kiara tidak bersamamu?" tanya Dira heran


"Tentu saja tidak. Ara kan ada di Jakarta, Abang"


"Jakarta? Apa maksudmu? Aku mengirimnya ke Labuan Bajo tepat sehari setelah kau berangkat"


"Apa??? Tidak mungkin, Abang. Saya tidak bertemu dengan Ara di sana"


"Edward, ke ruanganku sekarang!!!!" bentak Dira.


Dan benar saja dalam waktu sepuluh detik Edward datang dengan nafas terengah-engah. Edward yang sedang berada di kantin untuk makan siang tentu saja segera tancap gas ketika mendapat telpon dari atasannya. Apalagi nada suara Dira terdengar jelas jika dalam keadaan marah.


"Tuan memanggil saya?" tanya Edward dengan nafas yang masih belum normal.


"Kau sudah bosan hidup rupanya. Katakan apa kau mengantar Kiara sesuai perintahku?"


Edward melirik ke arah Elang. Kebohongannya akan terbongkar hari ini. Edward tidak punya pilihan selain mengaku. Karena jika tidak, Dira tak segan-segan memotong lehernya seperti menyembelih ayam.


"Saya sudah mengantarkan Nona Kiara ke Labuan Bajo sesuai perintah Anda" ucap Edward menunduk.


"Elang, kau bertemu Kiara disana?" tanya Dira.


"Tidak, Abang. Kami tidak bertemu"


"Kau dengar? Dia bilang tidak bertemu dengan Kiara. Mengapa bisa begitu? jawab Edward!" nada suara Dira mulai meninggi.


"Karena... saat kami tiba Nona Kiara melihat Tuan Elang dengan seorang perempuan di pan...tai..." ucap Edward.


"Nona Kiara tetap di Labuan Bajo selama tiga hari. Namun tidak mau tinggal di penginapan dengan Tuan Elang" kata Edward lagi.


Elang segera bangkit dan berlari keluar ruangan Dira. Elang berlari menuju ruang kerja Kiara. Kini ia paham mengapa tunangannya itu bersikap dingin seperti tadi.


Elang harus menjelaskan kesalahpahaman ini. Elang tidak mau hal buruk terjadi pada hubungan mereka lagi. Elang menambah kecepatan larinya. Ia masuk ke ruang kerja Kiara tanpa melalui Lita.

__ADS_1


"Sayangggg.....," Elang segera memeluk tubuh Kiara dan mencium kening Kiara berkali-kali. Elang benar-benar merasa bersalah dengan Kiara.


"Kalau ingin mengamuk, mengamuk saja. Jangan diam seperti ini. Maafkan aku jika kau marah gara-gara melihatku dengan Ellea. Sayang, sungguh aku sudah tidak ada rasa padanya. Bahkan sejak kita berpacaran dulu, aku sudah tidak mencintainya lagi. Percayalah, aku hanya mencintaimu" ucap Elang sembari mengeratkan pelukannya.


Kiara memejamkan matanya. Entah pelukan Elang saat ini benar-benar membuatnya merasa nyaman. Jika biasanya Kiara diam tidak membalas pelukan Elang. Berbeda untuk saat ini Kiara membalas pelukan Elang, menikmati aroma tubuh Elang.


"Kau boleh memukulku, boleh memaki ku, asal jangan diam seperti ini. Katakanlah kepadaku jika ada yang membuat kau marah atau kesal"


"Maaf, aku hanya lelah" akhirnya Kiara bersuara.


Elang melepas pelukannya. Ia menatap wajah Kiara. Ada rasa sesak di dada Elang ketika melihat wajah kekasihnya itu. Elang bahkan tak pernah membuat Kiara tersenyum bahkan tertawa saat bersamanya.


Elang paham apa maksud kalimat yang diucapkan Kiara. Kiara merasa lelah dengan hubungan ini. Elang sadar selama ini mereka hanya berinteraksi saat jam makan siang. Seharusnya Elang lebih banyak meluangkan waktu agar Kiara bisa menumbuhkan rasa cinta untuknya.


"Hari ini kau ada agenda apa?" tanya Elang.


"Tidak ada."


"Ayo kita keluar jalan-jalan. Kau mau apa? Nanti Elang belikan"


"Pengen ketoprak"


"Lagi?" tanya Elang yang dijawab anggukan kepala Kiara.


"Ayo, Elang antar cari ketoprak terus kita jalan keliling. Abang Dira pasti ngizinin bawahannya mau refresing di saat jam kerja" ucap Elang.


Kiara mengambil tasnya. Elang menarik tangannya. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangannya.


"Ehem...ehem... udah selesai jambak-jambaknya?" goda Dira membuat Kiara segera melempar tasnya ke muka Dira.


"Asemmmmm! Nih anak udah waras rupanya. Mau kemana kalian? Ini jam kerja jangan kelayapan!" kata Dira berpura-pura marah.


"Abang, Elang mau ajak Ara jalan-jalan dulu"


"Aduuuhhhhh.... mau kencan. Cie...cie...." goda Dira lagi membuat Kiara segera menginjak kaki Dira.


"Aduhhh.... pakai acara nginjak kaki nih anak" Dira meringis kesakitan.


"Lu malu ya ketahuan mau kencan? Dihhh... wajahnya merah lagi kayak tomat" goda Dira lagi membuat Elang terkekeh geli.


"Kadirrr....., lu bersisik deh" teriak Kiara.


"Berisik bukan bersisik. Lu pikir gue ikan?"


"Bodo..!!!" sambar Kiara cepat.


Elang segera menarik Kiara dalam pelukannya. Ia mencoba meredamkan amarah kekasihnya ini. Dira tersenyum melihat interaksi keduanya. Dira menaikkan kedua alisnya memberi kode pada Elang.


"Sebaiknya kami segera pergi, Abang, agar Tuan Putri tidak semakin merajuk" ucap Elang membuat Dira terkekeh.


"Berangkatlah. Jangan pulang kalau perlu"


"Kadirrr.... sembarangan aja kalau ngomong!" kata Kiara sembari menjambak rambut Dira.


"Sayang... sudah...sudah.. ayo kita segera berangkat" Elang menarik tangan Kiara agar berhenti menjambak rambut Dira.


Elang segera membawa Kiara pergi meninggalkan Dira. Mereka berjalan menuju penjual ketoprak kesukaan Kiara yang biasa berjualan di depan kantor.


"Good job, Edward! Kau melakukannya dengan sempurna" ucap Dira pada Edward yang sedari tadi bersembunyi agar tidak terlihat Kiara.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan, atas pujiannya" ucap Edward membungkukkan badannya.


"Aku akan kembali keruanganku dan kau ambil bonusmu segera" ucap Dira dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang.


__ADS_2