
Rio tersenyum bahagia melihat sosok yang datang ke kantor Evan pagi ini. Kiara, gadis yang ia temui kemarin. Hari ini benar-benar ada di hadapannya. Rio langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyambut Kiara.
“Hei hei hei.... aku pikir bidadari mana yang mengunjungi kantor jelek seperti ini, pagi-pagi pula” canda Rio ketika Kiara menghampirinya.
Rio dengan segera menarik tangan kanan Kiara dan mencium punggung tangannya. Kiara menarik tangannya, reflek, dia tidak menyangka sambutan Rio seperti itu kepadanya.
“Kenapa?” tanya Rio ketika melihat reaksi Kiara.
“Hm...tidak. Aku hanya grogi” ucap Kiara mencari alasan.
“Kenapa kau harus grogi? Kau akan mencoba beberapa gaun untuk pemotretan bukan untuk akad nikah,” ucap Rio terkekeh membuat Kiara diam tak menanggapi ucapannya.
“Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa kesini? Kau tahu dari mana alamat kantor Evan?” tanya Rio karena seingat Rio dia hanya memberikan kartu namanya tidak dengan alamat kantor Evan.
“Emmm....” Kiara berfikir memberi jawaban yang tepat. Tidak mungkin dia mengatakan tahu alamat kantor Evan dari Dira.
“Ah sudahlah. Itu tidak penting. Sekarang kau ikut aku!"
Rio menarik tangan Kiara dan mengajaknya menuju ruang kerja Evan. Ada perasaan aneh yang menghinggapi dada Rio. Entah seperti banyak kupu-kupu yang mengelitiki dadanya.
Rio sengaja melambatkan langkahnya agar bisa berlama-lama menggandeng tangan Kiara. Beberapa karyawan Evan yang melihat mereka tentu saja merasa heran karena tidak biasanya Rio berjalan selambat itu. Rio selama ini dikenal sebagai kaki 1000 karena selalu berjalan dengan cepat. Pekerjaannya yang selalu diburu waktu menuntutnya agar melangkah dengan kecepatan super.
Rio mendorong pintu ruang kerja Evan dan mengajak Kiara masuk dengannya. Evan yang saat itu bersama staffnya sedang membahas beberapa detail baju rancangannya tentu saja kesal dengan kedatangan Rio yang tanpa permisi.
“Evan, aku membawa model yang cocok sekali jika memakai gaunmu” ucap Rio tancap gas pada Evan.
Nih orang langsung nyerocos aja. Basa-basi dikit kek. Gue kan mau lihat-lihat aja dulu, belum pasti mau jadi model seperti keinginannya, gerutu Kiara dalam hati karena mendengar perkataan Rio tadi, tentu saja membuat dirinya malu.
Evan memandang Kiara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Evan melakukannya berkali-kali, seperti tak yakin dengan ucapan Rio. Mana mungkin gadis di hadapannya ini cocok dengan baju rancangannya? Gadis ini sangat polos dan tampak seperti masih anak SMA sedangkan baju rancangan Evan kebanyakan gaun-gaun malam yang indah dan sexy.
Evan menarik nafas panjang. Gadis di hadapannya ini pasti target Rio selanjutnya. Evan sangat mengenal Rio. Photografer pribadinya ini memang terkenal playboy. Sudah banyak gadis polos yang menjadi korban janji manisnya dan Evan yang selalu menjadi kambing hitam dalam setiap aksinya.
“Aku nggak buka lowongan” ucap Evan ketus. Evan kembali berbicara dengan staffnya. Dia tidak mau menjadi kambing hitam lagi dalam aksi Rio.
“Evan...? come on! Lihat dengan teliti! Instingku tidak pernah salah” ucap Rio meyakinkan Evan.
“No, no and no! Aku sibuk. Pameranku tinggal dua minggu lagi and you jangan ganggu!” hardik Evan.
__ADS_1
Rio melipat kedua tangannya di dada. Jika Evan tidak mau diganggu olehnya maka Rio akan melakukannya sendiri. Rio menarik tangan Kiara dan membawanya menuju ruang kostum.
Rio memilih gaun – gaun rancangan Evan, melihat sekilas dan memilih lagi hingga akhirnya pilihan Rio jatuh pada gaun berwarna ungu bergradasi aurora. Kalau Rio tidak salah, Evan memberi nama the beatifull of aurora pada gaun itu. Rio menyerahkan gaun itu pada Kiara. Ia yakin Kiara akan cantik sekali jika memakai gaun itu. Rio sudah tidak sabar akan memotret Kiara dengan gaun itu.
“ Hei you! Apa yang akan kau lakukan dengan gaunku?” teriak Evan. Evan segera mengambil gaun yang tadi dipegang oleh Kiara.
“Evan..!!! Tolong! Biarkan Kiara memakai gaun itu” Rio merebut gaun itu dari tangan Evan.
“Ini baju punya aku. Aku yang bikin. Aku yang ngeluarin uang dan kau...enak saja main ambil buat gebetanmu. Emangnya aku nggak tahu akal- akalanmu, Rio? Aku sudah hatam” ucap Evan kembali merebut kembali gaun itu dari tangan Rio dan berlalu pergi.
Rio kesal dengan sikap Evan yang menghalanginya. Ia melangkahkan kakinya hendak mengejar Evan tetapi buru-buru Kiara menarik tangannya.
“Sudah. Evan tidak mengizinkan. Lagi pula aku kesini hanya ingin melihat-lihat bukan untuk menerima tawaranmu” ucap Kiara menengahi.
Rio memegang pundak Kiara.
“Dengar, kau sudah kesini artinya kau menerima tawaranku. Tunggu di sini dan aku akan membawa kembali gaun itu!” ucap Rio kemudian berlari mengejar Evan.
Rio menerobos masuk ke ruang kerja Evan dan langsung merebut gaun itu kembali.
“Kalau kau tidak mau Kiara mencobanya, katakan berapa harganya! Aku akan membeli gaun ini. Otakku belum amnesia dengan nomer rekeningmu”
“Cepat katakan, Evan! Berapa harga gaun ini?” ucap Rio dengan amarah yang hampir meledak.
Evan menarik nafasnya.
“Berhenti menjadikanku kambing hitam, Rio! Aku sudah muak. Jangan jadikan aku sebagai tameng agar kau bisa mendapatkan gadis itu. Stop, stop and stop!”.
“Evan...!!!” teriak Rio kesal.
Rio menjambak rambutnya berkali-kali, melampiaskan rasa kesalnya pada benda tak bersalah. Rio mengatur nafasnya agar emosinya menurun.
“Dengar! Kali ini kau harus percaya. Kiara adalah gadis yang tepat memakai gaun ini! Aku tidak menjadikanmu sebagai tameng untuk mendapatkannya karena aku benar-benar murni ingin memotretnya. Percaya padaku, Evan! Instingku sangat yakin akan hal itu” ucap Rio.
Evan diam. Ia juga bingung harus menjawab apa.
“Kalau kau masih ragu dengan ucapanku, cepat katakan berapa harganya? Aku akan membelinya” ucap Rio lagi.
__ADS_1
Evan kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya dengan kasar. Percuma saja berdebat dengan si playboy satu ini. Jika sudah ada mau nya, Rio selalu tidak ingin dibantah. Hal inilah yang buat Evan terkadang bertanya-tanya. Sebenarnya siapa sih yang menjadi bos di tempat ini?
"Baiklah" ucap Evan mengalah, membuat Rio bersorak senang.
Rio berlari membawa gaun itu dan menemui Kiara yang sedang tadi menunggunya di ruang kostum.
“Cepat pakai! Itu ruang gantinya!” ucap Rio, tangannya menunjuk sebuah bilik yang digunakan untuk berganti baju.
Kiara menerima gaun itu dengan bimbang.
“Cepatlah, Kiara! Aku sudah tidak sabar ingin memotretmu dengan gaun itu” ucap Rio. Ia menarik tangan Kiara dan mendorongnya ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, Kiara keluar dengan menggunakan gaun pemberian Rio. Senyum sumringah Rio terbit dari bibirnya.
“Sedikit lagi” gumam Rio.
Rio berlari meninggalkan Kiara dan kembali membawa seorang gadis cantik, berwajah blaster chinese, di hadapannya.
“Olive, tolong poles wajah Kiara sekarang. Buat dia seanggun mungkin. Padukan make upnya dengan gaun yang dia pakai!” perintah Rio yang dibalas anggukan Olive.
Rio menarik kursi dan mendudukkan Kiara. Dia benar-benar bersemangat memake over Kiara. Olive dengan segera melakukan perintah Rio meskipun ia juga tidak tahu tujuan Rio itu apa. Selama Olive melakukan tugasnya, Rio tak henti-hentinya me re mas - re mas jarinya. Sangat tidak sabar menunggu hasil akhirnya.
“Keluar sekarang!” perintah Evan yang datang kembali ke ruang kostum. Evan menarik kerah baju Rio agar menjauh dari Olive.
“Apaan sih, Evan?” tanya Rio kesal. Ia memberontak agar Evan melepaskan cengkramannya.
“Hei, ingat jobdisk! Kau itu photografer. Tempatmu bukan di sini tapi di studio. Keluar dan siapkan
kamera! Biarkan aku berkarya dengan tenang” ucap Evan yang disambut senyum lebar Rio.
Rio berlari dan dalam hitungan detik Rio sudah menghilang dari pandangan Evan. Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rio. Evan mendekati Olive yang sedang memoles wajah Kiara.
“Pergilah! Biar aku yang mengerjakan” perintah Evan. Olive mengangguk dan berlalu.
Evan mengamati wajah Kiara, mereka-reka bagaimana ia akan memberikan sentuhan ajaibnya. Tak butuh waktu lama untuk Evan, dia sudah menemukan konsep untuk Kiara. Senyum khas ala-ala Evan mengembang.
“Baiklah, Nona, sepertinya aku akan mempercayai insting pemuda playboy itu” ucap Evan, membuat Kiara tersenyum geli.
__ADS_1
Evan Scandz