
Elang sedang duduk sendiri di sebuah kafe dengan ditemani secangkir capucino dan cheesecake yang sedari tadi belum disentuhnya. Elang baru saja selesai melakukan apa yang disuruh Kiara, membuang semua yang ia kenakan ketika insiden pertemuannya dengan Ellea. Sejak kemarin Kiara tidak mau mengangkat telponnya dan tidak membalas chatnya. Tidak hanya Kiara, Dirapun sama hingga Elang kesulitan untuk mendapatkan kabar tentang Kiara.
Elang menghela nafas sembari menatap cheesecake di hadapannya. Melihat kue itu membuat Elang teringat dengan Kiara. Calon istrinya sangat suka makan. Kiara tidak pernah memesan 1 porsi makanan, minimal dua bahkan sampai tiga. Elang tersenyum geli mengingat momen itu. Andai saja mereka tidak dipingit sudah pasti Elang akan segera meluncur ke rumah Kiara, melepas rindu dengan calon istrinya.
" Haiii...!!!"
Seseorang duduk tanpa permisi pada Elang. Ia mengambil cheesecake di hadapan Elang dan mulai menyendoknya. Elang kaget, ia mendongakkan kepalanya. Wajahnya langsung berubah sinis ketika melihat siapa yang duduk di hadapannya.
" Pergi..!!!," hardik Elang.
" Kau mengusirku?," kata orang itu sambil kembali menyendok cheesecake milik Elang.
" Tentu saja aku mengusirmu. Kau benar-benar biang masalah, Ellea!!!," bentak Elang lagi.
" Biang masalah? Kau pikir aku begini gara-gara siapa?," ucap Ellea tertawa.
Elang bangkit tapi dengan cepat Ellea menarik tangan Elang. Elang dengan spontan menghempaskan tangan Ellea hingga terantuk ke meja. Ellea meringis menahan sakit. Ia sendiri tidak menyangka dengan reaksi yang ditunjukkan Elang padanya.
" Jangan menyentuhku!!! Aku tidak mau calon istriku jijik denganku," ucap Elang.
" Cihhh.... calon istri? perempuan munafik itu yang kau sebut calon istri?," tanya Ellea mulai berani menantang Elang.
Elang langsung geram mendengar perkataan Ellea. Ia mengangkat tangan kanannya hendak menampar Ellea.
" Apa??? kau mau menamparku?," sanggah Ellea.
Elang membeku sejenak kemudian ia beranjak dari kursinya. Baru saja Elang membalikkan badan tapi dengan cepat Ellea menarik tangannya.
" Lepaskan!!!," bentak Elang.
" In your dream," tantang Ellea.
" Lepaskan, Ellea...!!!," Elang kembali menghempaskan tangannya dan kali ini membuat Ellea hampir tersungkur. Untung saja ia masih sempat berpegangan pada meja.
" Aku peringatkan kamu, Ellea. Jangan pernah mendekatiku lagi! Aku muak melihatmu!."
" Kalau aku tidak mau, kau mau apa?."
" Aku akan menyingkirkanmu."
Ellea tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Elang. Apa katanya? Elang akan menyingkirkannya? Tidak semudah itu. Elang tidak tahu bagaimana Ellea sebenarnya. Sebelum Elang menyingkirkannya, Ellea akan bertindak lebih dahulu.
__ADS_1
Elang merasa jengah melihat Ellea yang masih menertawakannya. Ia memilih pergi sebelum kesabarannya habis.
" Hai Elang...!!! Jangan berfikir kau bisa pergi dariku! Lihat apa yang bisa aku lakukan padamu atau pada perempuan munafik itu," kata Ellea membuat Elang berhenti melangkah.
Elang menoleh ke belakang, menatap Ellea dengan tajam. Sudut bibir Elang terangkat ke atas. Elang seakan memberi kode bahwa ia tidak takut dengan ancaman Ellea. Elang kembali membalikkan badannya, melanjutkan langkahnya meski Ellea terus berteriak memanggil namanya.
****
Kiara melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tengah. Sekilas ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin bisa ia pamiti. Kiara mendengar suara riuh dari minyak goreng yang tentu saja dibarengi dengan wangi harum masakan. Kiara yakin pasti Mamanya sedang memasak. Gegas Kiara melangkah menuju dapur memastikan dugaannya dan memang benar Kiara melihat Widya sedang sibuk dengan berbagai bahan makanan yang sedang diolahnya di dapur.
" Kiara lapar? Tunggu sebentar ya gurame asam manis Mama sebentar lagi matang," ucap Widya dengan tangan yang masih sibuk memotong bawang.
Kiara menggeleng. Ia mengambil sepotong udang krispi yang sudah di goreng Widya. Kiara menggigitnya, mengunyah hingga habis.
" Kiara mau keluar, Ma."
" Keluar? mau kemana?," tanya Widya heran.
" Beli siomay di depan."
" Siomay? suruh satpam saja! Kamu kan sedang dipingit. Dira tidak mengizinkan kamu keluar rumah," kata Widya melarang Kiara.
Kiara menghela nafas. Tangannya kembali mengambil udang krispi di hadapannya.
" Oke. Kiara boleh keluar tapi sama satpam atau sama Mang Ujang. Mama nggak mau nanti Dira marah," kata Widya mengalah.
Kiara berteriak kegirangan. Ia segera berjalan cepat sembari tak lupa membawa piring berisi udang krispi tadi.
" Loh?? kenapa bawa udang??," teriak Widya karena Kiara sudah melangkah agak jauh dari tempatnya.
Kiara tak sempat menjawab pertanyaan Widya. Ia terlalu senang sehingga mengacuhkan Widya. Kiara bergegas menuju gerbang yang kini di jaga oleh empat tukang pukul suruhan Dira.
" Nona mau kemana?," cegah salah satu bodyguard Dira. Bodyguard itu merentangkan kedua tangannya sehingga membuat Kiara mengerem langkahnya.
" Gue mau beli siomay. Kalian kalau mau ikut, ikut aja. Tapi jarak lima meter dari gue," Kiara melotot sambil berkacak pinggang.
" Tapi Tuan Adiraka melarang Nona keluar rumah. Biar saya saja yang beli siomaynya," tawar bodyguard itu lagi.
" No... No.. No. Gue mau makan di tempat. Lagian nggak jauhkan? Kalian ikut gue kalau takut dimarahin Kadir. Ayuk cuss gue udah laper!."
Para bodyguard Dira hanya bisa pasrah. Salah satu dari mereka membuka pintu gerbang dan seketika Kiara langsung berlari menuju gerobak siomay yang mangkal tidak jauh dari rumahnya. Bodyguard Dira tentu saja kaget dan dua diantara mereka langsung berhamburan mengejar Kiara sedangkan dua bodyguard lagi tetap berjaga di pintu gerbang.
__ADS_1
" Siomay, Pak....!!!!!," Kiara berteriak ketika mendaratkan bokongnya di kursi pembeli. Jarak Kiara dan penjual hanya satu meter tapi Kiara tetap saja berteriak seakan-akan penjual siomay itu berdiri jauh darinya.
" Nona.......," bodyguard Dira datang.
" Lima meter dari gue!!!," teriak Kiara pada para tukang pukulnya. Mereka yang mendengar teriakan Kiara tentu saja memilih mundur beberapa langkah, takut bos perempuannya itu mengamuk.
Kiara memperbaiki duduknya, mengangkat kaki kananya hingga bertumpu di paha kirinya. Sambil menunggu siomay pesanannya selesai, Kiara kembali memakan udang krispi yang tadi bersisa tiga ekor.
" Nggak pakai pare, Pak!!!!," teriak Kiara lagi.
Penjual siomay itu mengangguk sembari melirik ke arah Kiara. Tangannya sibuk menyiapkan siomay pesanan Kiara. Penjual siomay itu menyiapkan tiga porsi siomay. Kiara yang sedang asyik udang krispinya tidak memperhatikan apa yang dikerjakan penjual siomay itu.
Penjual siomay itu berbalik, menyerahkan piring berisi siomay kepada Kiara dan dua bodyguardnya. Bodyguard Kiara menerima piring itu dengan tatapan aneh. Pasalnya mereka tidak memesan siomay tetapi mengapa penjual itu membuatkan untuk mereka.
" Penjual siomaynya cerdas. Tanpa gue kasik tau pesen berapa sudah dibuatin semua. Udah kalian makan aja! Nggak mungkin kan kalian liatin gue makan?," perintah Kiara.
Bodyguard itu masih diam. Mereka sebenarnya ragu untuk makan. Ada rasa curiga di hati mereka tapi mereka tidak berani mengatakannya.
" Nona, apa sebaiknya kita pulang? Tuan Adiraka pasti marah kalau tahu Nona keluar rumah," bujuk salah satu dari mereka.
" Nona tunggu chef saja ya kalau mau makan siomay. Saya akan menelpon chef agar segera datang," bujuk bodyguard satunya.
Kiara menghentakkan kakinya dan menatap dua tukang pukulnya dengan tajam.
" Gue mau makan sekarang. Jangan ngerusak mood gue. Kalian kenapa lebay sekali sih? Gue cuma makan siomay di depan rumah. Kenapa kalian se khawatir ini?," kata Kiara kesal.
" Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas."
" Tugas kalian menjaga gue dan keluarga gue bukan menghalangi gue makan. Udah sekarang makan tuh siomay! Gue juga mau makan. Lapar!!!."
Kiara memberikan kode pada tukang pukulnya agar segera menyantap siomay mereka. Mereka menyuapkan siomay itu dengan ragu. Perlahan mereka mengunyah seakan makanan itu adalah ranjau yang terlalu berbahaya untuk mereka makan. Kiara tak henti-hentinya mendelik mengawasi dua bodyguardnya makan. Matanta mendelik tapi tangannya tetap menyuapkan siomay itu pada mulut Kiara.
Setelah beberapa suap...
Bug...
Bug...
Dua bodyguard Kiara tumbang dan tiba-tiba Kiara merasakan sakit di tenggorokannya. Kiara merasa seperti di cekik, matanya berkunang-kunang dan kepalanya sakit sekali. Kiara mencoba berteriak, melambaikan tangannya pada bodyguard yang berjaga di depan.
Bug...
__ADS_1
Kiara tumbang.
Untunglah salah satu bodyguard Kiara yang berjaga di depan gerbang pintu rumah Kiara melihat ke arah mereka. Bodyguard itu dengan tergesa berlari menghampiri Kiara yang kini tergeletak di jalan dengan mulut yang mengeluarkan busa. Salah satu bodyguard itu mencari keberadaan penjual siomay yang ternyata sudah kabur. Ia berlari dengan harapan bisa menemukan penjual siomay itu sedangkan bodyguard yang lain segera menelpon supir untuk membawa Kiara ke rumah sakit.