
Seorang wanita berumur kira-kira 28 tahun, sedang sibuk dengan sketsa-sketsa baju yang akan segera dirancangnya. Wanita itu duduk di hadapan meja dengan kertas yang berserakan di atas meja tersebut.
" Nona Ivana, ada seorang laki-laki datang ingin menemui Anda," kata salah satu karyawannya.
Ivana, wanita yang tadi sibuk dengan sketsa baju-baju rancangannya, harus menyudahi kegiatannya dulu. Ivana segera bangkit dari kursi kebesarannya dan mulai melangkah untuk menemui tamu yang di maksud karyawannya.
" Laki-laki itu dari New York, Nona. Apakah Nona punya klien dari sana?," tanya karyawan Ivana sembari mengekori Ivana yang tengah berjalan menuju ruang tamu di butiknya.
" Seingatku tidak. Apakah kau menanyakan apa keperluannya?," tanya Ivana.
" Dia bilang Nona mengajak kerja sama dengan dia," jawab karyawan Ivana dan tentu saja hal itu membuat Ivana mengernyitkan dahi.
Ivana menghentikan langkahnya. Tamu yang dimaksud karyawannanya itu sedang duduk sembari membersihkan kameranya. Ivana memperhatikan sosok laki-laki itu dengan seksama, mengamati inci tiap inci tubuhnya. Laki-laki itu menunduk, menatap kamera yang sedang ia bersihkan. Namun, Ivana sangat yakin jika laki-laki itu sangat tampan.
" Maaf, Apa Anda mencari saya?," tanya Ivana lalu duduk di sofa sebelah kanan laki-laki itu.
Laki-laki itu mendongakkan kepalanya, menghentikan aktifitasnya sejenak. Blusss... wajah Ivana langsung merona ketika ia dan laki-laki itu saling tatap. Ingin rasanya Ivana berteriak, mengatakan bahwa laki-laki di hadapannya ini benar-benar tampan.
" Sorry, Miss Ivana. My Name is Rio. I am Evan's friend," Rio mengulurkan tangannya dan Ivana hanya diam tak menyambut uluran tangan Rio.
" Hallo, Miss Ivana. Are you Ok?," Rio menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Ivana. Ivana tentu saja kaget dan segera tersadar dari lamunannya.
" Rio? Kau teman Evan? Oh ya ampun!!! Aku baru ingat. Kau fotografer yang ingin aku pinjam pada Evan. Mengapa kau baru datang? Acaranya sudah selesai beberapa bulan yang lalu," ucap Ivana.
Rio terdiam. Ia tahu bahwa kedatangannya ke tempat Ivana sudah terlambat. Namun, Rio bisa apa? Ia menjadi tawanan Dira selama berbulan-bulan dan baru dilepaskan dua hari yang lalu. Rio sebenarnya tidak mau terbang ke Jakarta. Proyeknya dengan Ivana sudah basi. Tapi Rio masih ingin bertemu dengan Kiara. Rio berharap dengan datang ke tempat Ivana, dirinya mendapatkan jalan agar bisa bertemu Kiara.
" Maaf, apa kau baik-baik saja?," tanya Ivana membuyarkan lamunan Rio.
Rio mengangguk meskipun dirinya juga tak yakin sedang baik-baik saja. Ivana bisa menangkap jika Rio sedang mempunyai masalah. Wajah kusut dengan pandangan mata kosong menjadi bukti jika laki-laki di hadapannha sedang tidak baik-baik saja.
" Apa kau masih mau bekerja untukku?," tanya Ivana dan kali ini membuat Rio mengangkat wajahnya.
" Apakah masih ada pekerjaan untukku?," tanya Rio pesimis.
" Tentu saja. Kebetulan aku masih membutuhkan fotografer tetap karena fotografer yang lama sudah pindah ke Singapura. Jika kau berminat, kau bisa menggantikannya," kata Ivana dengan senyum manis yang tentu saja menggoda.
" Saya bersedia. Tentu, saya sangat bersedia," ucap Rio antusias. Setidaknya dengan bekerja di tempat Ivana, Rio memiliki kesempatan juga untuk mencari Kiara.
" Baiklah kalau begitu dan entah ini kebetulan atau bagaimana dua hari lagi akan ada pasangan calon pengantin yang akan melakukan foto prewed. Aku harap kau bisa memberikan yang terbaik untuk mereka," ucap Ivana yang dijawab anggukan mantap dari Rio.
__ADS_1
" Oh iya Nona Ivana, apakah untuk sementara waktu aku bisa tinggal disini? Tak apalah jika hanya tersedia gudang untukku," ucap Rio membuat Ivana kembali tersenyum.
" Tenang saja, kau bisa menggunakan kamar di belakang. Dulu kamar itu sering di pakai karyawan disini untuk menginap."
" Terima kasih. Terima kasih, Nona Ivana," ucap Rio menjabat tangan Ivana.
Wajah Ivana seketika langsung merah padam. Ini baru berjabat tangan dan Ivana seperti tersengat listrik berjuta-juta Mega Watt. Degup jantung Ivana tak henti-henti berdetak kencang. Andai tidak ada Rio, Ivana pasri sudah berteriak kencang.
Rio segera melepas tangannya dari Ivana. Ia memberikan senyum terbaik yang baru bisa ia tampilkan kembali di depan umum. Melihat senyum menawan Rio tentu saja membuat hati Ivana seakan meleleh.
" Emmm... emmm... apa kau sudah menghubungi Evan?," tanya Ivana mencoba menetralkan degup jantungnya.
Rio menggeleng karena memang Dira sudah mengambil ponselnya sehingga sekarang Rio tidak memegang ponsel. Beruntunglah Rio menyimpan alamat butik Ivana di saku kemejanya sehingga ia bisa menemui Ivana sesampainya di Jakarta.
" Baiklah. Aku akan menghubunginya untukmu."
Ivana mengambil ponselnya, mencari kontak Evan dan segera melakukan panggilan video pada saudara kembarnya itu.
" Hai Ivana, ada apa kau menghubungiku? aku sibuk. Jangan menggangguku," kata Evan cuek. Ia tidak menatap ponselnya. Dirinya fokus mengerjakan baju rancangan yang tinggal sedikit lagi akan rampung.
" Evan...," panggil Rio lirih.
Evan segera memalingkan wajahnya ketika mendengar namanya di panggil.
" Boy???? is it you???," pekik Evan yang dengan reflek mendorong patung manekin yang sedang memakai busana rancangannya.
" Boy!!!! Kau masih hidup??? Ya Tuhan, ini kau?," tanya Evan kembali tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Ya... ini aku, Evan. Anak buahmu," ucap Rio lirih.
Evan kembali berteriak histeris. Dia memanggil seluruh karyawannya sembari mengatakan jika Rio sedang berkomunikasi dengannya. Karyawan Evan tentu saja langsung berlari berhamburan. Mereka berebut ingin melihat secara langsung apakah benar apa yang di katakan Evan.
" Wait. Aku akan mengambil laptopku. Ponselku ini terlalu kecil untuk menampung wajah-wajah kalian semua," teriak Evan kemudian mematikan sambungan videonya.
Evan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengambil laptop. Berlari, ya, berlari. Evan tidak sabar untuk menghubungi Rio kembali. Evan terus berteriak, memerintahkan karyawannya itu untuk berlari mengambil laptopnya. Karyawan Evan tiba dengan nafas ngos-ngosan dan keringat yang bercucuran.
Evan segera menyalakan laptopnya, menyambungkan dengan internet dan tentu saja melakukan panggilan video kembali dengan Rio. Evan menunggu panggilan tersambung dengan tidak sabar.
Klik
__ADS_1
" Riooooooo!!!!," Evan kembali berteriak. Memukul-mukul bahu salah satu karyawan yang berdiri di sampingnya.
" Kau masih hidup? Syukurlah aku masih bisa melihatmu," ucap Evan dengan kadar kehebohan yang masih belum turun.
" Aku masih hidup, Evan. Kau sudah melihatnya kan?," tanya Rio sembari tersenyum.
" Boy, bagaimana bisa kau masih hidup sedangkan berita yang kami dapatkan kau diculik dan... dan... kau mati dibunuh oleh penculik itu. Hu...hu...hu...." ucap Evan menangis tersedu-sedu.
" Aku masih hidup, Evan. Kau bisa melihat sendiri aku sedang berbicara denganmu sekarang."
" Boy, apakah kau akan kembali disini atau akan menetap disana ?."
" Untuk sementara waktu, aku disini dulu. Aku akan bekerja pada Ivana," ucap Rio.
" Baiklah Boy kalau rencanamu seperti itu. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku disini dan secepatnya aku akan menyusulmu ke Jakarta. Bagaimanapun aku ingin melihatmu secara langsung," ucap Evan yang jawab anggukan kepala oleh Rio.
Rio menyudahi penggilannya dengan Evan. Ia mengembalikan ponsel yang ia pakai tadi pada Ivana.
" Rio, apakah aku boleh bertanya?," tanya Ivana.
" Apa?."
" Apakah benar kau di culik? Maaf aku tadi mencuri dengar percakapan kalian," ucap Ivana hati-hati.
Rio diam. Dia juga bingung bagaimana harus bercerita. Tidak mungkin juga Rio mengatakan jika dirinya selama ini disekap oleh Dira dan baru saja dilepaskan. Rio juga tidak bisa mengarang cerita tentang menghilangnya dirinya.
" Tak apa jika kau tak mau cerita," ucap Ivana sembari menepuk bahu Rio.
" Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh. Tidak sepantasnya aku mengintrogasimu. Kau harus istirahat karena mulai besok akan ada pekerjaan yang harus kau selesaikan," ucap Ivana berusaha memaklumi keadaan Rio.
Ivana mengajak Rio menuju kamar yang akan ditempatinya. Tanpa membantah, Rio mengekori Ivana yang berjalan dengan anggun. Entah Ivana sengaja atau tidak, ia berjalan melenggak-lenggok seolah-olah ingin memperlihatkan keanggunannya pada Rio.
" Silakan, maaf hanya kamar sempit tapi aku yakin kamar ini nyaman untukmu," ucap Ivana.
Rio segera masuk. Rio tak peduli kamar itu besar atau kecil. Saat ini Rio merasa sangat beruntung setidaknya ia tidak akan terlunta-lunta di jalanan seperti dalam bayangannya. Ivana segera pamit meninggalkan Rio. Ia tahu Rio butuh istirahat. Ivana kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadinya sempat tertunda.
" Dia tampan sekali. Andai aku tahu sejak dulu jika Evan mempunyai anak buah setampan itu, pasti aku sudah menariknya sejak lama. Ahhhhh......," ucap Ivana. Ia memukul-mukul meja kerjanya dengan wajah merah merona seperti kepiting rebus.
" Rio tidak boleh kembali ke New York. Dia harus tetap disini," gumam Ivana sembari terkekeh pelan.
__ADS_1