
"Mama... Ayah pulang"
Widya segera berlari ketika mendengar suara Edo memanggilnya. Tapi ia mengernyitkan dahi ketika melihat suaminya itu hanya datang seorang diri.
"Mana Kiara?" tanya Widya heran.
"Kiara? bukannya dia sudah pulang sejak siang tadi" jawab Edo santai.
"Tadi kan Ayah mengatakan Kiara akan masuk kelas Mr. Ryan"
"Kiara menolak dan memilih pergi. Ayah pikir Kiara langsung pulang"
"Ayahhhh.... bagaimana ini? Kiara pasti menghilang. Ini sudah malam dan Kiara tidak tahu tempat ini. Kiara juga tidak membawa uang dan ponsel. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dia?" Widya mulai cemas.
"Mama punya foto Kiara? Biar ayah sebar di grup-grup. Siapa tahu orang-orang di sekitar sini melihat Kiara" ucap Edo.
Widya mengambil ponselnya, mencari foto Kiara di galeri fotonya. Beruntunglah kemarin Widya sempat mengambil foro Kiara ketika baru saja tiba dengan Dira.
Widya mengirim foto Kiara pada Edo dan dengan cepat Edo mengirim foto Kiara di grup yang ia ikuti. Edo meminta bantuan rekan-rekan dan warga siapa tahu melihat Kiara siang tadi.
Widya mencari nomor Dira dan menelpolnya. Bagaimanapun anak sulungnya harus tahu tentang apa yang tengah menimpa adiknya. Berkali-kali Widya menelpon Dira tapi panggilannya tidak di jawab. Hingga pada akhirnya Dira menjawab pada panggilan kesebelas.
"Diraaa......"
"Ya, Mama. Dira baru saja selesai meeting. Ada apa? Kenapa Mama berteriak?" tanya Dira.
"Kiara...Kiara..." ucap Widya terisak.
"Ada apa dengan Kiara? Apakah dia berbuat ulah disana?" tanya Dira.
"Kiara hilang. Dia belum pulang sejak siang"
"Apa??? Kenapa Kiara bisa keluar dari rumah? Aku kan menyuruh Mama mengurungnya di kamar" ucap Dira kesal.
"Mama menyuruhnya ikut Ayah Edo ke tempat kerja. Mama pikir Kiara akan bosan jika di kamar terus dan.. "
"Mamaaa........ Mama memberikan kesempatan si sarang burung kabur. Aduh Mamaeee....." keluh Dira.
"Apa tidak ada CCTV disana?" tanya Dira.
"Tidak ada Dira. Ayah Edo sekarang sedang menyebar foto Kiara siapa tahu warga sini melihatnya..."
Brakkkkk
"Jangan gegabah Mama....!!! Dira akan mengirim banyak bodyguard Dira kesana. Dira menyesal mengikuti kemauan Mama untuk membawa semua bodyguard Dira ke Jakarta" ucap Dira dengan nada kesal.
"Maafkan Mama, Dira..."
__ADS_1
Dira bisa mendengar jika Mamanya saat ini sedang menangis. Dira hanya bisa memukul meja kerjanya dengan kesal.
"Mama tenang dulu. Dira akan segera mengirim orang ke Pare. Jangan gegabah! Jangan lapor polisi! Dira tidak bisa pulang sekarang. Dira baru bisa pulang paling cepat lusa," ucap Dira karena dia harus menyelesaikan beberapa pertemuan dengan klien penting yang tidak bisa diwakilkan pada Edward.
Widya menutup telponnya. Dalam hatinya ia sangat menyesal karena tidak menuruti kemauan Dira.
Widya terus menangis. Edo memeluk Widya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Edo mencoba menenangkan istrinya. Bagaimanapun Edo juga bersalah membiarkan Kiara pergi begitu saja dari tempatnya.
Edo terus saja mengecek ponselnya berharap ada salah satu rekan atau kenalannya yang melihat Kiara. Namun sepertinya postingannya belum ada yang menanggapi. Edo tertunduk lesu. Besok, ia bertekad mencari Kiara sendiri. Edo harus bisa menemukan Kiara secepatnya.
\_\_\_\*\*\*\_\_\_
Elang menatap berkas-berkas yang harus dia periksa dengan gelisah. Mulai kemarin Elang sudah membantu Ale di kantornya. Ale menempatkan Elang pada divisi pemasaran.
Meskipun Elang adalah keponakannya, Ale tidak mau mengistimewakannya. Elang harus merasakan posisi dari bawah dulu hingga akhirnya ia mampu memimpin perusahaannya sendiri.
Sebenarnya Sandra menolak usul Ale untuk menjadikan Elang sebagai karyawannya. Sandra lebih menginginkan Elang kembali ke Spanyol bersama mereka. Namun, Elang bersikeras ingin tetap tinggal bersama Ale, memulai dari nol dan belajar banyak hal tentang perusahaan.
Rayuan Ale dan Elang akhirnya meruntuhkan pertahanan hati Sandra. Ia mengizinkan Elang bekerja di perusahaan Ale dengan syarat dia harus serius dan bersungguh-sungguh dalam memulai kariernya.
Elang beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Ale. Elang tidak tahu mengapa hari ini hatinya sangat gelisah. Tiba-tiba saja ia merasa khawatir pada Kiara.
Elang melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia mengetuk pintu dan segera masuk ketika mendengar perintah Ale.
"Om...!" panggil Elang.
"Bukan, Om. Elang mau minta tolong"
" Minta tolong apa?" tanya Ale heran karena sangat jarang sekali Elang meminta tolong kepadanya.
"Tolong antarkan Elang menemui Kakak Ara"
"Kakak Ara??? Dira???" tanya Ale yang dijawab anggukan oleh Elang.
"Ada perlu apa kau ingin bertemu Dira?"
"Elang ingin menanyakan keadaan Ara. Entah perasaan Elang hari ini tidak enak. Elang gelisah kepikiran Ara" ucap Elang tak tenang.
"Apa mau menelpon Dira?" tawar Ale yang dibalas gelengan kepala Elang.
Ale mengangguk sepertinya Keponakannya ini benar-benar ingin bertemu dengan Dira. Ale segera melangkah keluar dari ruangannya. Dibelakangnya Elang mengekori Ale.
Ale dan Elang berjalan tergesa-gesa menunju parkiran. Ale segera tancap gas menuju perusahaan Dira. Perjalanan menuju perusahaan Dira hanya membutuhkan waktu 1 jam 20 menit. Elang segera melompat keluar dari mobil.
"Elangggg..... sabar..... ini perusahaan orang" Ale memperingatkan Elang yang hampir saja meluncur masuk tanpa permisi.
Elang menurut. Mereka masuk sesuai prosedur perusahaan milik Dira. Mereka menemui resepsionis dan datanglah Edward menemui mereka.
__ADS_1
Edward mengantar Ale dan Elang menuju ruangan Dira. Saat ini Dira tengah rapat dengan semua kepala divisi. Rapat sudah berlangsung dua jam dan beberapa saat lagi akan selesai. Dira menyuruh Edward agar Ale dan Elang menuju di ruang kerjanya.
"Maaf membuat kalian menunggu. Apakah assistenku memperlakukan kalian dengan baik?"
Dira masuk dan segera berjabat tangan dengan Ale dan Elang. Dira melirik meja, nampak dua cangkir teh hangat dan beberapa camilan. Dira menarik nafas lega.
"Tidak apa-apa Tuan Adiraka, kami yang seharusnya minta maaf karena mengganggu Anda" ucap Ale.
"Ada perlu apa, Pak Alex dan Elang menemui saya?"
"Ada hati yang kangen" jawab Ale menggoda Elang. Elang menunduk malu mendengar ucapan Ale.
"Kangen? Siapa yang kangen?" tanya Dira membuat Ale menyikut lengan Elang agar berbicara. Dira paham akan kode yang Ale berikan.
"Elang, kamu kangen saya?" tanya Dira ikut menggoda Elang.
"Tidak, Tuan. Saya kangen Ara. Upssss"
Elang menutup mulutnya yang keceplosan. Tingkah Elang itu membuat Ale dan Dira terkekeh bersama.
"Baru kemarin saya menyuruhmu sabar dan hari ini kau sudah mengatakan kangen padanya"
"Maaf Tuan Adiraka, entah mengapa perasaan saya hari ini tidak enak. Seharian saya gelisah memikirkan Ara. Apa boleh saya minta tolong Anda menghubungi Ara karena saya tidak punya kontaknya" ucap Elang jujur.
Dira terdiam. Ucapan Elang seperti kontak batin antara dirinya dan Kiara. Dira tidak mungkin mengatakan pada mereka jika Kiara saat ini sedang hilang. Dira tidak mau membuat heboh. Bagaimanapun Dira harus hati-hati dalam bertindak mengingat tidak ada petunjuk yang bisa digunakan dalam mencari adiknya itu.
"Tuan Adiraka, saya mohon" pinta Elang membuat Dira tersadar dari lamunannya.
"Kiara tidak memegang ponsel. Saya menyitanya karena dia memang dalam masa hukuman. Tadi Mama menghubungi saya dan mengatakan jika Kiara saat ini sedang mengajar di lembaga kursus bahasa inggris milik ayah tiri saya" ucap Dira berbohong.
"Apa Ara baik-baik saja?" tanya Elang masih tak percaya.
"Kiara baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir anak muda. Kiara di bawah pengawasan ketat" ucap Dira mencoba menenangkan tamunya.
"Elang, percaya saja dengan Tuan Adiraka" bujuk Ale. Ia juga merasa tidak enak dengan Dira.
"Tuan, apa saya boleh ikut jika Tuan pulang menemui Ara? Saya benar-benar ingin bertemu dengan Ara" ucap Elang memohon sendu pada Dira.
Dira diam sejenak memikirkan cara agar Elang berhenti merajuk.
"Akan ada waktunya kau menemui Kiara. Bersabarlah dulu. Saya bukannya tidak mau mempertemukan kalian. Tapi memang belum waktunya. Saya berjanji akan segera mempertemukan kalian. Pegang kata-kata saya dan saya harap kau bisa mengerti, Elang" ucap Dira membuat Elang kembali tertunduk lesu.
Ale menepuk-nepuk bahu Elang. Ia memberi kode pada Elang agar menurut. Elang mengangguk dan tidak membantah lagi. Ale dan Elang segera pamit karena Ale paham Dira pasti sangat sibuk.
Elang melangkahkan kakinya dengan gontai. Meskipun Dira sudah meyakinkannya entah mengapa hatinya tidak bisa percaya begitu saja. Elang ingin bertemu langsung tapi Elang tidak tahu keberadaan Ara. Elang hanya bisa berdoa semoga benar apa yang diucapkan Dira bahwa Ara saat ini sedang baik-baik saja.
readers yang budiman. boom like dong buat othor...
__ADS_1