Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 46


__ADS_3

"Kiara sayang... ayo makan. Sejak tadi kamu hanya berdiam diri di kamar" Widya masuk ke kamar Kiara dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas air.


Sejak kepergian Dira, Kiara tidak mau keluar kamar. Jangankan keluar kamar, berbicara padanya saja Kiara seakan malas. Berkali-kali Widya mengecek Kiara di kamarnya. Tidak ada pergerakan dari anak bungsunya itu. Kiara masih setia duduk memeluk lutut di atas kasurnya.


"Ayo makan! Apa Kiara tidak lapar? Jangan sampai penyakit maagh mu kambuh!" ucap Widya namun diacuhkan Kiara.


Widya menyendok nasi gorengnya dan menyuapkan pada Kiara.


"Ayo buka mulutnya! Apa Kiara kangen disuapi sama Mama?" goda Widya tapi tetap tak diindahkan Kiara.


Widya menghela nafas. Anak bungsunya ini memang keras kepala. Susah sekali di bujuk.


"Mama akan telpon Dira. Mama akan bilang jika Kiara tidak mau makan" Widya beranjak mengambil ponselnya yang berada di kamarnya.


Kiara menghela nafas panjang. Dia benar-benar tidak nafsu makan. Kiara melirik nasi goreng yang dibawa Widya dan mengambilnya.


Kiara menyuapkan sesendok nasi goreng itu dan mengunyahnya dengan perlahan. Kiara makan sambil melamun.


Hebatnya Kiara, meskipun dalam kondisi melamun, gerakan tangan dan mulutnya tetap stabil. Tangannya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya dan dengan segera mulutnya mengunyah.


Widya mengerutkan dahi ketika kembali ke kamar Kiara. Pemandangan Kiara tengah makan sambil melamun persis seperti insan yang sedang patah hati. Widya merekam kegiatan Kiara dan mengirimnya pada Dira.


"Hentikan, sayang! Kamu makan sambil melamun" Widya merebut piring dari tangan Kiara dan menyuapi Kiara.


"Kamu persis seperti orang yang sedang patah hati"


"Aku memang lagi patah hati, Mama" sambar Kiara cepat sembari memakan suapan nasi goreng dari Widya.


"Anak Mama cantik. Harusnya pakai prinsip putus satu tumbuh seribu" goda Widya.


"Aku bukan seperti Mama yang menikah lagi setelah Papa meninggal. Kiara setia nggak mau berpaling" ucap Kiara menohok Widya.


"Sayang, hidup itu terus berjalan. Mama bukannya tidak setia dengan Papa Arman. Cinta Mama untuk Papa tetap tersimpan di hati Mama...,"


"Mama bohong!!!" potong Kiara setengah berteriak.


"Mama tidak bohong. Kiara boleh marah kalau Mama berselingkuh dari Papa, menghianati Papa. Tapi faktanya Mama tidak begitu, sayang"


"Mama menikah lagi dan itu sama saja menghianati Papa dan itu fakta"

__ADS_1


"Mengapa kau sangat keras kepala, Kiara? Kau selalu membenarkan apa yang kamu yakini tanpa memperdulikan penjelasan orang lain. Dengar, Papa sudah tiada. Tapi cinta Mama untuk Papa tetap hidup di hati Mama. Hidup harus tetap berjalan. Ketika seseorang datang untuk mengobati kesedihan Mama, haruskah Mama tolak?"


"Ya... Mama bukan anak ABG lagi. Seharusnya Mama bisa menjaga cinta Mama hanya untuk Papa" ucap Kiara tetap saja tidak mau mengalah.


"Mengertilah. Bedakan kondisinya. Kau sudah besar harusnya bisa menyikapi hal ini secara dewasa"


"Mama rasa kau harus keluar dari kamar agar pikiranmu lebih segar. Apa kau tidak mau melihat tempat ini? Di sini banyak tempat kursus bahasa inggris. Jika Kiara mau, Kiara bisa menjadi native speaker di lembaga kursus milik Ayah. Ayah Edo punya lembaga kursus bahasa inggris bernama Mahesa. Kiara juga bisa mengajar disana" bujuk Widya.


"Kiara nggak mau. Lagi pula siapa tuh Ayah Edo? Kiara nggak kenal" ucap Kiara ketus.


"Bagaimana bisa kenal kalau kamu diam di kamar terus. Ayo ikut Mama!"


Widya menarik tangan Kiara agar beranjak dari tempat tidurnya. Dengan malas, Kiara mengikuti Widya melangkah. Widya menyuruh Kiara memakai jaket untuk menutupi piyamanya. Kiara menurut. Diambilnya jaket merah bergaris biru miliknya. Kiara berjalan mengekori Widya.


"Jangan cemburut, Sayang. Nanti hilang cantiknya" goda Widya.


Widya dan Kiara berjalan kaki menuju lembaga kursus milik Edo, suami Widya. Sepanjang perjalanan Widya tak henti-hentinya berceloteh menceritakan banyak hal. Namun Kiara menanggapinya dingin. Kiara memilih menjadi tuli dari pada harus mendengarkan ocehan Mamanya yang baginya tak bermanfaat.


Widya menceritakan kehebatan Edo, lembaga kursus milik edo, dan hari-hari yang ia lalui bersama Edo. Tentu saja semua itu membuat Kiara muak. Kiara tak peduli apapun dengan laki-laki itu. Bahkan jika dia matipun, Kiara tidak akan menangis.


Tiba di lembaga milik Edo, Widya yang memang sudah sering datang ke sana langsung masuk ke ruang kerja Edo. Edo nampak sedang sibuk membaca berkas-berkas yang Widya sendiri tak tahu itu apa.


"Ada apa?" tanya Edo begitu melihat Widya dan Kiara masuk. Tanpa disuruhpun Widya duduk di kursi, berhadapan dengan suaminya.


Edo menarik nafas. Sekilas matanya melirik anak sambungnya itu. Nampak wajah acuh dan kesal yang ditunjukkan olehnya. Edo tidak mungkin langsung menolak keinginan Widya karena itu akan membuat Widya sakit hati. Edo harus berhati-hati dalam bertindak mengingat anak sambungnya ini sepertinya tidak suka dengannya.


"Mama pulang saja. Biar Kiara disini. Nanti Ayah akan masukkan Kiara di kelas Mr. Ryan. Kebetulan memang Mr. Ryan memegang kelas speaking" ucap Edo membuat Widya sangat senang.


Widya tersenyum senang. Semoga saja idenya berhasil mendekatkan Kiara dengan ayah sambungnya. Bagaimanapun mereka sudah menjadi keluarga. Tak baik jika tidak saling mengenal.


Widya bangkit dari duduknya. Ia mewanti-wanti Kiara agar menuruti perintah Edo. Kiara tak menyahut. Dia malah asyik mengetuk-ngetuk meja kerja Edo. Edo memberikan kode agar Widya meninggalkan Kiara.


Edo memperhatikan penampilan anak sambungnya ini. Dia datang dengan berpiyama yang ditutupi dengan jaket. Edo menghela nafas, pasti Widya tidak menyuruhnya ganti baju. Edo ragu untuk memasukkan Kiara di kelas Mr.Ryan seperti ucapannya tadi.


"Apa kau ingin masuk ke kelas sekarang?" tanya Edo.


"Tidak" jawaban Kiara membuat wajah Edo berubah masam.


"Lalu kau mau apa kesini?" tanya Edo lagi.

__ADS_1


"Tidak ada" jawab Kiara ketus membuat Edo mengelus dada karena kaget.


"Sepertinya kita harus berkenalan dulu"


"Tak perlu" potong Kiara cepat.


Edo mengernyitkan dahi. Anak sambungnya ini benar-benar menguji kesabarannya. Edo tidak mungkin bertindak keras pada Kiara. Karena bisa memicu pertengkaran antara dirinya dan Widya.


"Kiara, dengarkan Ayah..."


"Kau bukan Ayahku!!!" teriak Kiara.


Lengkingan suaranya terdengar sampai keluar ruangan Edo. Edo yakin beberapa pengajar yang sedang istirahat bisa mendengar teriakan Kiara.


"Kau jangan pernah bermimpi bisa menjadi Ayahku. Aku hanya mempunyai satu Ayah dan itu adalah Papa Arman. Kau jangan pernah berharap bisa menggantikan posisi Papa Arman. Mungkin kau bisa merebut perhatian dan kasih sayang Mama tapi tidak denganku" ucap Kiara dengan nada tinggi.


Kiara pergi meninggalkan ruangan Edo. Edo hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan anak sambungnya itu. Meluluhkan hati Widya saja butuh perjuangan tinggi apalagi meluluhkan hati anaknya yang satu ini.


Edo merasa bersyukur karena Ia dan Widya sudah resmi menikah meskipun anak sambungnya belum merestui mereka.


Kiara melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan. Mata sesekali mengamati pemandangan sekitar.


Pare, merupakan sebuah kampung di kabupaten Kediri yang terkenal dengan sebutan kampung inggris. Di kampung itu banyak sekali lembaga kursus bahasa inggris yang diperuntukkan bagi anak-anak sampai dewasa. Warga sekitarpun juga tak kalah fasih berbicara bahasa inggris.


Kiara membaca satu-persatu tempat yang dilewatinya. Sesekali ia berpapasan dengan anak-anak yang juga berjalan dengan membawa kamus bahasa inggris. Kiara tersenyum ketika melihat anak kira-kira berumur 6 tahun tengah berjalan sambil menghafal beberapa kosa kata bahasa inggris.


Kiara terus berjalan tanpa ia sadari Ia kini berada di area persawahan. Kiara mengernyitkan dahi. Dia duduk berjongkok mengamati tanaman padi yang ada di hadapannya. Memegang bulir-bulir padi yang baru pertama kali dilihatnya secara langsung. Kiara tersenyum geli, entah hanya melihat tanaman padi seperti ini membuat hatinya senang.


Kiara kembali berjalan sembari bersenandung. Sesekali ia melompat, persis seperti bocah SD yang bermain ketika pulang sekolah.


Kiara merentangkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya sembati menghirup dalam-dalam udara segar pedesaan. Hatinya merasa tenang berada di tempat ini.


"Sayang"


Kiara membuka matanya ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Kiara segera menoleh ke belakang dan ...


Hmmmmpppfffhhh...


Orang itu menutup hidung Kiara dengan sapu tangan dan seketika Kiara pingsan. Laki-laki itu menyeringai. Suasana di sawah yang sepi membuat laki-laki itu kembali tersenyum senang.

__ADS_1


Laki-laki itu segera menggendong Kiara dan membawanya masuk ke dalam mobil yang terletak agak jauh dari tempatnya tadi. Laki-laki itu menyalakan mesin mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan area persahawan.


"Sudah ku bilang kau itu milikku. Jangan kau pikir aku sudah hilang ditelan bumi. Aku hanya bersembunyi, memantaumu dari kejauhan hingga akhirnya kesempatan seperti ini datang kepadaku" ucap laki-laki itu sembari menyetir mobilnya.


__ADS_2