
Di kursi kebesaranya, Dira sedang memijat-mijat pelipisnya. Sejak pagi ia di bombardir dengan berbagai meeting yang benar-benar menguras pikiran dan tenaganya. Pekerjaannya benar-benar menumpuk membuat badannya seakan remuk.
Sempat terlintas dalam otak Dira untuk pergi ke pijat refleksi. Namun, ide itu iya enyahkan mengingat dirinya sangat sensitif terhadapan sentuhan orang asing. Selama ini Dira mengandalkan mesin-mesin pijat refleksi untuk melonggarkan ototnya. Meskipun memang lebih enak jika dipijat langsung oleh Mamanya.
" Huftttt......" Dira mendesah panjang. Setelah pikirannya terkuras dengan pekerjaan. Sekarang dia masih dibebani dengan tingkah Kiara dan Elang.
Dira kembali memikirkan kejadian semalam setelah ia kembali dari kantin rumah sakit menuju kamar rawat Kiara. Pemandangan tidak enak antara Elang dan adiknya lagi-lagi membuat Dira kesal. Bagaimana tidak? Kiara benar-benar membuatnya naik darah. Adiknya itu tidak bisa tidur jika tidak dipeluk dulu oleh Elang. Dira sempat menarik Elang agar melepaskan pelukannya. Namun, sedetik kemudian Kiara langsung bangun dan berteriak sambil memukulinya dengan bantal.
Kesialan Dira tidak berhenti sampai disitu. Tiba-tiba saja Widya masuk dan langsung menjewer Dira tanpa ampun. Widya memarahi Dira habis-habisan dan memintanya pulang agar tidak mengganggu Kiara. Sudah sakit, malu pula. Pasalnya Widya masuk bersama Dokter Athalia yang ternyata di ajak Widya ke kamar rawat Kiara. Disitulah harga diri seorang Dira jatuh.
Dokter itu terkekeh geli melihat Dira yang dijewer Widya tanpa ampun, ditambah lagi Kiara yang terus menimpuknya dengan bantal membuat wajah Dira yang tampan dan rupawan menjadi kusut tak beraturan. Sial, benar-benar sial.
" Tuan...."
Edward masuk dengan membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Dira. Kedatangan Edward ke ruangan Dira tentu saja membuyarkan lamunan Dira.
" Tuan, ini berkas yang harus Anda tanda tangani dan agenda Anda selanjutnya adalah meeting dengan investor dari negara tetangga," ucap Edward kemudian membungkuk, memberi hormat pada Dira.
Dira tersenyum miring pada Edward. Ia kemudian mengambil beberapa berkas dan mulai membubuhkan tanda tangannya di berkas itu.
" Anda sedang ada pikiran, Tuan?," tanya Edward. Ia paham betul dengan tingkah dan ekspresi bos nya jika sedang dalam keadaan yang tidak baik. Tersenyum miring, begitulah kode yang diberikan Dira jika dalam keadaan badmood.
" Aku butuh saran."
" Saran? tentang apa, Tuan?," tanya Edward heran.
" Kiara."
" Nona Kiara? Ada apa dengan Nona?."
Dira menghela nafas panjang sembari menatap langit-langit ruang kerjanya.
" Pernikahan Kiara dan Elang lima hari lagi dan mereka susah sekali di pingit. Keadaan Kiara sekarang sangat bergantung pada Elang. Akupun heran kenapa Kiara selalu minta dipeluk Elang jika akan tidur? Padahal sebelumnya dia tidak pernah begitu."
" Mereka harus dipingit. Bagaimanapun caranya. Tapi masalahnya aku tidak tahu caranya, Edward!!!" Dira mengacak rambutnya dengan kasar.
" Tuan, apa dipingit itu harus?."
" Harus!!! sangat harus!!! Ini akan menambah drama dalam perjalanan pernikahan mereka."
" Drama? Apakah Tuan mau jadi sutradara film?," tanya Edward mengernyitkan dahi.
" Ya, Film kisah cinta Kiara dan Elang," jawab Dira membuat Edward hanya mampu menggeleng- gelengkan kepalanya.
Tuannya ini ada-ada saja. Pekerjaannya sudah banyak tapi masih saja mau melakukan hal receh yang dapat menyita pikirannya. Ingin sekali Edward menasehati Dira tapi apa daya dirinya hanya seorang asisten yang tak punya kuasa untuk melakukan itu.
"Aku harus merancang sebuah rencana," kata Dira membuyarkan lamunan Edward
" Tapi aku butuh kroni-kroninya, Edward," lanjut Dira lagi
Edward memicingkan matanya dan seketika perasaannya mulai tidak enak.
" Maksud Tuan?"
" Banyak orang yang akan terlibat."
__ADS_1
" Saya sarankan jangan, Tuan! Ini terlalu beresiko," kata Edward khawatir.
" Aku tidak punya ide lain, Edward. Kalau kau punya ide lain, katakan! Otakku sudah buntu."
Hening. Baik Edward maupun Dira sepertinya sedang memutar otak.
" Apa perlu saya bebaskan kembali mantan dari Elang agar gadis itu kembali membuat drama sesuai keinginan Tuan?," tanya Edward yang segera di balas dengan gelengan kepala oleh Dira.
" Si Kriwul terlalu beresiko untuk dilepaskan lagi. Bisa-bisa acara pernikahan Kiara batal berganti dengan acara pemakaman," ucap Dira.
" Bagaimana dengan Vaston? Tuan sudah melepaskannya tapi sepertinya tidak sesuai dengan rencana Anda."
" Ya, kau benar. Si Vaston tidak bisa dibuat umpan. Aku selalu emosi saat bertemu dengannya. Aku tidak punya pilihan, Edward"
" Tuan, lebih baik Anda ikuti saran saya. Biarkan mereka menikmati detik-detik terakhir masa lajang mereka...."
" Tidak," potong Dira cepat dan hal itu tentu saja membuat Edward kesal.
" Drama perjalanan Kiara tidak akan menarik jika aku biarkan begitu saja."
" Anda ini kakaknya apa sutradara, Tuan?" tanya Edward dengan nada kesal.
" Dan kau...!!! sekretarisku apa Ayahku? Berani-beraninya kau kesal kepadaku?," sambar Dira sembari melempar berkas kepada Edward.
Edward mundur dan membungkukkan badannya sembari meminta maaf. Ia kelepasan kesal kepada Dira.
" Tidak ada cara lain," kata Dira.
Dira segera mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"............"
" Ambil penerbangan tercepat. Berangkatlah kesini!"
"............."
" Tidak ada penolakan atau dalam sedetik ku tendang kau dari tempatku,"
"............."
" Bagus! Bawa juga mantan asisten Kiara," kata Dira dan ia langsung menutup ponselnya.
Dira memerintahkan Edward segera menyiapkan mobil karena hari ini Kiara sudah boleh pulang. Dira yang mendengar kabar itu dari Widya langsung mewanti-wanti Mamanya agar menunggu jemputannya. Dira tidak mau Elang yang menjemput Kiara karena itu bisa mendorong adegan peluk-memeluk yang tak bisa lepas.
Edward berlari dan tak butuh waktu lama bagi Dira untuk berada dalam mobil yang kini mengantarnya ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar satu jam. Dira segera melompat dan berlari meninggalkan Edward yang masih duduk di depan kemudi.
" Mamaeeeee..... Dira datang.....!!!!!,"
Bugggg
Lemparan bantal dari Kiara menyambut kedatangan Dira.
" Kebiasaan. Tiap datang kesini mesti teriak-teriak. Ini rumah sakit bukan hutan" kata Widya sambil menjewer telinga Dira dengan gemas.
Dira yang mendapat serangan double dari Mama dan adiknya itu tentu saja meringis kesakitan. Dua wanita dalam keluarganya ini sangat suka menindasnya. Dira berjalan mendekati Kiara sembari bersungut kesal.
__ADS_1
" Stop!" Kiara menghadang langkah Dira.
" Eh kenapa?," tanya Dira kaget sekaligus tidak mengerti.
" Lu belum mandi jadi jangan deket-deket gue. Gue nggak mau ternoda dengan kuman-kuman yang lu bawa dari luar. Huss...huss.. sana jauh-jauh!!" usir Kiara dengan tangan bersedekap.
Dira menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera melangkah dengan cepat dan mengungkung Kiara. Dira mengunci tubuh Kiara dengan tangan kanannya yang tak henti menjitak kepala adiknya itu.
Kiara mengaduh sambil berteriak. Tapi Dira tidak peduli. Ia malah berganti mengelitiki Kiara sampai Kiara tak henti tertawa menahan geli.
Widya menepuk jidatnya. Tingkah kedua anaknya ini memang tidak cocok dengan umurnya. Widya segera menarik telinga Dira agar berhenti berulah pada Kiara.
" Becandanya lanjutkan di rumah. Kalian ini tidak tahu tempat. Bagaimana nanti jika pasien yang lain terganggu?," omel Widya yang dibalas senyum nyengir kedua anaknya.
" Semuanya sudah siapkan, Mamae?" tanya Dira yang dijawab anggukan kepala oleh Widya.
" Yasudah yuk kita pulang," ajak Dira. Tangannya sudah siap mengangkat tas yang berisi baju-baju Kiara.
" Wait!,"
Kiara menarik tangan Dira sehingga ia urung melangkah. Dira dan Widya kompak menoleh ke arah Kiara, khawatir ada sesuatu yang belum mereka selesaikan di rumah sakit.
" Elang mana? Dia nggak jemput gue?," tanya Kiara dengan raut wajah dibuat memelas.
Dira menatap dingin ke arah Kiara.
" Elang lagi sama Emaknya. Lagi ngurus gedung sama catering," jawab Dira asal.
" Tapi gue mau dijemput Elang," rengek Kiara.
" Nggak ada. Lu udah gue jemput. Nggak usah minta jemput Elang. Nikahan lu kurang lima hari lagi lho ya. Lu mau acaranya berantakan gara-gara Elang selalu lu tempelin kayak perangko?," kata Dira .
" Bukannya gedung sama catering itu urusan WO ya? ngapain Elang yang ngurus?," tanya Kiara.
" Emaknya Elang mau nambahin konsep pernikahan kalian. Jadi pantas kalau mereka turun langsung," kata Dira berbohong.
" Konsep apalagi sih, Kadirrr.....?" Kiara masih dalam mode merengek dan kesal.
" Konsep jaran goyang. Udah ah cepat kita pergi. Gue udah jengah ama bau tumah sakit," ajak Dira.
Dira segera melempar tas milik Kiara ke arah Edward yang baru saja tiba. Tanpa rasa bersalah dan berdosa, Dira melenggang pergi sembari menarik tangan Kiara yang masih saja merengek ingin bertemu Elang.
Widya menepuk bahu Edward.
" Maaf ya kalau kamu dapat bos menyebalkan seperti anak Mama," ucap Widya sambil tersenyum.
" Tidak apa-apa, nyonya. Ini memang tugas saya," ucap Edward.
Widya kembali tersenyum. Ia kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah untuk melanjutkan mempersiapkan acara pernikahan Kiara.
**hello... Pilihan Hati Kiara up lagi. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan love kalian ya...
oh iya sambil menunggu karya ini up lagi. Othor mau recomendasikan novel bagus karya mom ShasaVinta. Cuss segera mendarat**.
__ADS_1