
"Mas Ale? Kok sudah pulang?" tanya Aisha heran ketika melihat kedatangan suaminya.
Tiga puluh menit yang lalu, Ale pamit kepada Aisha untuk pergi ke rumah Sandra setelah mendapat telpon dari Dira. Letak rumah mereka yang tidak jauh, membuat Ale memilih berjalan kaki saja. Ale berniat akan mengambil baju seragam untuk akad nikah dan resepsi pernikahan Elang dan Kiara sekaligus ingin membahas detail acara nanti.
Aisha memicingkan matanya melihat Ale yang datang dengan tangan hampa. Ale masuk dengan langkah setengah berlari, raut wajahnya panik. Ada apa gerangan?
"Mas!!!" panggil Aisha lagi ketika Ale sudah duduk dihadapannya tapi tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Gawat" jawab Ale pendek.
"Gawat? Apanya yang gawat? bukankah tadi Mas mau ke rumah Mbak Sandra untuk mengambil baju kan?" tanya Aisha masih tak paham.
"Benar! Tapi nggak jadi setelah Mas melihat ada penyamun disana?" jawab Ale masih dengan wajah paniknya.
Ale memang memilih tidak masuk ke dalam rumah Sandra ketika melihat keluarga Kiara dan Elang sedang berdebat. Ale menguping di balik pintu, mendengarkan pembicaraan mereka yang terdengar serius dan penuh emosi.
Ale juga kaget ketika mendengar pembatalan sepihak yang diucapkan oleh Syarmila tanpa memperdulikan perasaan semua orang. Ditambah lagi ketika Ale melihat calon menantu pilihan Syarmila, rasanya ingin sekali Ale menimpuk Syarmila dengan pipa beton berlapis-lapis. Ale benar-benar setuju dengan ucapan Dira yang mengatakan jika gadis itu mirip dakocan.
"Penyamun? Apa maksudmu, Mas?" Aisha mulai tak sabar karena Ale tak kunjung menjawab pada inti permasalahannya.
"Tante Mila, Syarmila, Ibunya Mas Robert. Dia datang lalu membatalkan acara pernikahan Ara dan Elang"
"Ap... apa?????? Nggak, Mas! ini nggak boleh terjadi" Aisha berteriak histeris.
Ale bangkit dari tempat duduknya dan langsung menenangkan Aisha. Saat ini Aisha sedang hamil muda. Dia tidak boleh kaget dan stress. Berita ini memang tidak seharusnya Aisha dengar karena pasti akan membuatnya kepikiran.
"Tenang, Aisha. Jangan panik! cukup Mas saja yang panik"
"Bagaimana aku tidak panik, Mas? Pernikahan mereka dibatalkan" sergah Aisha masih dalam mode paniknya.
"Tante Mila memang keterlaluan. Tapi tenanglah Aisha. Mas Ale tidak akan tinggal diam. Mas Ale akan tetap berusaha mengembalikan keadaan seperti semula" jawab Ale. Ia mengerti kegelisahan Aisha jika pernikahan Elang dan Ara batal.
"Apa yang akan kau lakukan, Mas? Apa kau bisa melawan Tante Mila?" tanya Aisha pesimis.
"Entahlah! Yang jelas Mas Ale harus bergerak cepat. Ini sudah H-3 dan penyamun itu datang merusak semuanya" ucap Ale kesal.
"Lalu bagaimana reaksi keluarga Ara, Mas?"
"Mereka tentu saja tidak terima dan yang lebih menyebalkan lagi Syarmila membawa calon istri Elang yang mirip dakocan. Andai kau melihatnya, pasti kau tidak akan berhenti tertawa" ucap Ale menambahkan.
"Lalu bagaimana dengan Elang?"
"Elang menghilang. Mas sudah menghubunginya tapi nomornya tidak aktif. Mas sempat bertanya pada satpam dan dia tidak tahu keberadaan Elang sekarang dimana"
__ADS_1
Aisha menarik nafas panjang. Kenapa pada detik-detik menjelang hari H malah ada pengacau? Tidak boleh. Pernikahan mereka tidak boleh batal. Jika pernikahan Elang dan Ara batal, ini bisa membahayakan keluarganya. Aisha khawatir Ara akan kembali menggoda Ale dan mencoba merebutnya dari Aisha. Kemungkinan itu bisa saja terjadi dan Aisha harus waspada mulai sekarang.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Mas tahu apa yang kau pikirkan" tegur Ale membuyarkan lamunan Aisha.
"Aisha hanya takut itu akan terulang, Mas"
"Tidak akan! Mas pastikan hal itu tidak akan terulang lagi. Lagipula Mas yakin Adiraka juga tidak akan tinggal diam. Dia pasti melakukan sesuatu agar pernikahan adiknya tidak gagal" ucap Ale yang dibalas anggukan oleh Aisha.
"Kamu tenang di sini! Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Mas mau pergi dulu" ucap Ale mengambil kunci mobilnya di atas nakas.
"Mau kemana?"
"Menemui Dira. Mas Ale harus bersekutu dengannya untuk mengalahkan Syarmila" ucap Ale langsung berlalu meninggalkan Aisha.
****
"Semua gara-gara kamu!!!" ucap Widya ketika mereka sudah tiba di rumah. Widya masih geram dengan tingkah Dira yang slebor dan ceplas-ceplos pada Nenek Syarmila.
"Jangan salahkan Dira, Mamae! Dira hanya membela Kiara" jawab Dira membela diri.
"Membela apanya? Yang ada mulut kamu yang bocor itu membuat Nenek Elang semakin mantap membatalkan pernikahan ini" omel Widya yang sepertinya tak akan selesai dalam 2x24 jam.
"Dira hanya berkata jujur, Mamae. Lagian tuh Neneknya Elang kebangetan. Masak ngebandingin Kiara sama dakocan. Mama lagi malah punya ide jodohin Dira segala"
"Kamu punya ide?" tanya Edo.
"Bentar, Om. Dira masih mikir" ucap Dira sembari memejamkan matanya.
"Emang kamu pernah mikir? mulut aja bocor kok sok-sok an mikir. Bukannya bikin aman malah bikin tambah rusuh" omel Widya lagi.
"Ya ampun, Mamae... Percaya dong sama Dira! Dira ini CEO terbaik sedunia. Sertifikat Dira full terpajang di dinding ruang kerja Dira. Kalau Dira gagal menyelesaikan masalah ini, Dira janji akan buang semua sertifikat itu. Jangankan satu Syarmila, seribu Syarmila pasti Dira lawan" ucap Dira menyombongkan diri.
"Terserah kamu mau ngomong apa! Pokoknya Mama tidak rela kalau pernikahan Kiara batal" pekik Widya lalu bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar Kiara.
Dira hanya mengangkat bahu. Ia kembali memejamkan matanya, mencoba untuk tidur sejenak sebelum kembali bergerak. Namun, baru saja terpejam dalam 1 menit. Dira harus kembali membuka matanya karena kaget mendengar teriakan Widya.
Edo dan Dira segera bangkit dan berlari menuju kamar Kiara. Sesampainya disana, mereka mendapati kamar Kiara kosong.
"Kiara..." ucap Widya khawatir.
"Tenang, Mama. Tenang" ucap Edo.
Dira menarik nafas dalam-dalam dan berteriak.
__ADS_1
"Sarahhhhhh.....!!!!!"
Plakkk
Widya memukul mulut Dira.
"Siapa yang kamu panggil? Kenapa juga harus berteriak?" tanya Widya kesal.
"Dira lagi manggil maid , Mamae. Jangan main tabok aja kenapa sih?" Dira mengusap-ngusap mulutnya yang dipukul Widya. Sakit. Lama-lama bibir Dira bisa jontor karena keseringan dipukul Widya. Dira harus segera melakukan perawatan agar bibirnya tetap sexy.
"Memangnya maid disini ada yang namanya Sarah?" tanya Widya bertambah kesal.
"Nggak tahu juga. Maid disini kan banyak. Mana mungkin Dira hafal namanya satu persatu" ucap Dira santai dan itu kembali membuat Widya memukul mulutnya.
Widya tak sabar menghadapi tingkah Dira. Ia kemudian bergegas ke dapur, mencari maid yang mungkin sedang bekerja disana.
"Kalian tahu Kiara dimana?" tanya Widya pada beberapa maid yang sedang membersihkan dapur.
"Nona tadi pamit mau ke makam Tuan Arman, Nyonya" jawab salah satu maid.
"Apa???!" teriak Dira yang muncul tiba-tiba di belakang Widya.
"Siapa yang mengantar Kiara?" tanya Dira.
"Sopir, Tuan" jawab maid itu lagi.
Dira mengangguk. Ia kemudian berlari meninggalkan dapur.
"Dira, mau kemana?" tanya Edo ketika melihat Dira berlari melewatinya.
Dira berhenti dan menoleh ke arah Edo yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Ke makam Papa. Kata maid Kiara kesana"
"Om ikut" kata Edo yang dibalas anggukan kepala Dira.
Dira dan Edo melangkah beriringan. Mereka masuk kembali ke dalam mobil. Dira memilih menyetir sendiri karena jarak pemakaman dan rumahnya yang tidak terlalu jauh. Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area rumah Dira.
Kiara lagi galau.... hiks....hiks..hiks...
Jangan lupa like dan koment. syukur-syukur dikasik vote ama gift
__ADS_1