
Kiara duduk termenung di atas ayunan yang selalu menjadi tempat favoritnya ketika sedang bersantai di rumah. Berkali-kali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Kepalanya terasa pening akibat kurang tidur.
Sejak pukul dua pagi, Kiara tak bisa kembali terpejam. Bukan tidak ingin tidur, tapi Kiara sudah mencoba untuk tidur. Namun, ketika ia sudah berhasil memejamkan matanya, mimpi buruk itu kembali datang sehingga membuat Kiara selalu terbangun berkali-kali dengan berteriak.
Kiara mengambil ponselnya, menekan aplikasi pemutar lagu dan memilih untuk memutar lagu tentang cinta milik Ipang. Bukan tanpa alasan Kiara memilih lagu itu, lagu favorit Elang. Saat ini ia sangat merindukan Elang yang sudah berhari-hari tidak ia tahu keberadaannya.
Alunan lagu milik Ipang benar-benar merasuk dalam hati Kiara sehingga tanpa sadar ia meneteskan air mata, mengingat Elang sering sekali menyanyikan lagu itu ketika menggodanya.
Kiara mengingat kembali moment-moment kebersamaannya bersama Elang. Singkat, tapi benar-benar menyenangkan. Ia tersenyum getir, kenapa ia kembali terluka setelah ia berhasil membuka hati untuk Elang? Kenapa takdir seperti mempermainkannya?
H-2 dan dia harus menerima kenyataan jika rencana pernikahannya gagal. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia kembali ke New York dan memulai kembali hidupnya di sana? Atau dia tetap di Jakarta, melanjutkan hidup dengan torehan luka seperti ini?
Sempat terfikir dalam benaknya jika kejadian ini adalah karma dari perbuatannya tempo dulu yang sempat ingin merusak keluarga Ale. Menyakiti hati Aisha dengan tindakan intimidasi yang dilakukannya. Mungkin sakit hati yang dirasakan Aisha seperti ini.
"Mungkinkah masih ada waktu, yang tersisa untukku. Mungkinkah masih ada cinta di hatimuuuuuu..."
Suara fals Dira langsung membuyarkan lamunan Kiara. Ia buru-buru keluar dari aplikasi pemutar lagu agar Dira berhenti bernyanyi. Kiara tidak mau bunga-bunga yang kini sedang bermekaran, layu dengan cepat ketika mendengar suara fals Dira.
"Eh, kenapa dimatiin lagunya?" protes Dira.
"Suka-suka gue" jawab Kiara cuek.
"Yah.... jangan gitu dong! Gue juga mau nyanyi" kata Dira kemudian duduk di atas ayunan yang lain.
"Lu nyanyi aja di empang Pak RT, jangan disini! Bunga-bunga ini bisa mati kalau dengerin suara fals lu" ucap Kiara sengit membuat Dira mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Lu meski galau tapi mulutnya tetep pedes yaaaaaa...." ucap Dira semakin gemas mencubit kedua pipi milik Kiara.
Kiara tidak tinggal diam. Ia mencakar kedua pipi Dira dengan garang. Dira meringis dan dengan cepat melepas cubitannya di pipi Kiara.
"Gagal nikah bikin lu makin ganas aja ya" ucap Dira sambil mengelus-elus pipinya yang perih.
"Lu sih resek" teriak Kiara tak lupa kedua matanya yang menatap tajam ke arah Dira.
"Jaga ucapan lu!" Dira menepuk mulut Kiara dengan beberapa lembar kertas yang memang di bawanya sejak tadi.
"Ini apa?" tanya Kiara.
"Baca dong! ada tulisannya juga" jawab Dira cuek.
Kiara membaca beberapa kertas yang ternyata tiket pesawat tujuan Denpasar, Bali. Ia tersenyum, pasti Dira memintanya liburan agar ia tidak larut dalam kesedihan. Namun, senyum Kiara memudar ketika melihat waktu penerbangan yang tercantum di tiket itu.
" Gila lu!" teriak Kiara yang secara spontan juga memukul bahu Dira.
"Gue masih warassssss" Dira balas berteriak.
"Tiga jam lagi, Kadir!!! Lu nggak bisa apa ambil tiket yang agak siang atau sorean dikit?" tanya Kiara kesal.
"Nggak ada. Ini penerbangan pertama dan terakhir hari ini" jawab Dira asal.
"Lu kan punya helikopter, kenapa nggak pakai itu aja?"
"Lagi di service, rem nya blong habis kena hujan" lagi-lagi Dira menjawab asal pertanyaan Kiara.
"Ya sudah sana siap-siap! Udah tahu pesawatnya sebentar lagi berangkat, masih saja ngomel-ngomel kayak Nenek Mila" cibir Dira.
"Emang lu udah siap-siap?"
"Gue? Kenapa gue harus siap-siap juga?" Dira balik bertanya.
__ADS_1
"Lah ini kan tiketnya ada dua? Kita mau liburan berdua kan?" tebak Kiara asal.
Dira menggelengkan kepalanya.
"Yang bilang kita mau liburan juga siapa?" tanya Dira membuat Kiara semakin tidak mengerti.
"Udah sana siap-siap. Gue mau mandi" ucap Dira, berlalu begitu saja di hadapan Kiara.
Kiara kembali menatap tiket pesawat di tangannya. Tiket berjumlah dua lembar itu ternyata bukan untuk dirinya dan Dira. Lalu jika bukan bersama Dira, Kiara akan berangkat ke Bali bersama siapa?
Kiara bergegas masuk ke dalam rumah, melangkah dengan cepat menuju kamarnya. Kiara mengambil koper yang ia letakkan di atas lemari. Dengan gerakan seribu tangan, Kiara segera berkemas.
"Jangan bawa barang banyak-banyak! Lu disana cuma dua hari" teriak Dira dari ruang tamu.
Kiara menghentikan aktifitas tangannya. Dua hari? Dira memberinya liburan dua hari? aneh sekali. Kalau hanya dua hari untuk apa Kiara jauh-jauh ke Bali. Kiara pikir ia akan di Bali paling tidak selama seminggu.
Kiara mengambil lagi beberapa bajunya dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Jika hanya dua hari, mungkin Kiara hanya akan membawa lima potong baju. Andai saja kurang, Kiara bisa membelinya di sana.
"Nona..."
Kiara menghentikan aktifitasnya ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Suara itu tidak asing di telinga Kiara. Ia mengangkat kepalanya dan....
"Olive.....!!!!"
Kiara berteriak histeris ketika mendapati Olive sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Kiara berlari dan memeluk Olive dengan erat.
"Kenapa bisa disini?" tanya Kiara heran.
"Saya diminta Tuan Adiraka untuk menemani Nona Kiara selama berada di Bali" jawab Olive, tak lupa senyum manis tersungging dari bibir mungil milim Olive.
"Kadir??? Dia yang menyuruhmu???" tanya Kiara yang segera dibalas anggukan kepala oleh Olive.
"Benar, Nona"
"Tapi saya di Bali hanya dua hari"
"Maaf Nona, saya hanya menerima perintah. Nona bisa menanyakan langsung kepada Tuan Adiraka" jawab Olive sambil membungkuk hormat.
Kiara bertambah bingung. Ia melangkahkan kakinya hendak keluar menemui Dira. Namun, baru saja dua langkah. Dira masuk ke dalam kamarnya dan langsung memeluk Olive dari belakang.
" Hai cantik.... sudah datang rupanya" ucap Dira sembari mendusel-dusel kepalanya pada rambut Olive yang panjang.
Kiara berdiri mematung melihat tingkah kakaknya itu. Sejak kapan Dira menjadi pria genit yang main peluk anak gadis orang? Dira terus saja bermanja-manja, memainkan rambut Olive tanpa tahu ekspresi Olive yang merasa tak nyaman dengan tingkah Dira.
"Kadir... lu apa-apaan sih? Main peluk anak orang aja" tegur Kiara, tangannya sudah siap menjewer telinga Dira.
"Jangan ganggu! Gue lagi merasakan kenyamanan disini" ucap Dira mengacuhkan teguran Kiara. Dira bahkan mengeratkan pelukannya pada Olive.
"Gue panggil Mama kalau lu masih aja nggak mau lepasin Olive!" ancam Kiara.
"Panggil aja siapa tahu gue ama dia langsung dibawa ke KUA" jawab Dira enteng. Dira menghirup aroma Olive dalam-dalam dan itu tentu saja membuat Olive semakin geli.
Kiara segera menarik tangan Dira dan mendorongnya hingga jatuh ke kasur. Kiara menarik Olive dan menyuruhnya agar berdiri di belakang Kiara.
"Apaan sih Kiara?" teriak Dira.
"Lu yang apaan?" Kiara balas berteriak pada Dira.
Widya masuk ke kamar Kiara ketika mendengar suara ribut-ribut. Ia langsung menjewer Dira karena sudah pasti jika Dira adalah biang rusuh keributan yang terjadi di kamar Kiara.
__ADS_1
"Mamae... datang-datang langsung main jewer aja" protes Dira mengusap telinganya yang panas akibat jeweran Widya.
"Kamu jangan ganggu adikmu. Bukankah pesawatnya sebentar lagi berangkat" kata Widya membuat Kiara mengernyitkan dahi.
"Mama tahu Kiara akan berangkat ke Bali?" tanya Kiara.
"Tentu saja, sayang. Kami sudah sepakat mengirimmu ke Bali agar tidak sedih berlarut-larut" jawab Widya sambil membelai Kiara dengan sayang.
"Hanya berdua dengan Olive?" tanya Kiara lagi yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Widya.
"Sebenarnya gue maunya lu sama Mang Ujang. Biar gue aja sama Olive. Iya kan cantik?" ucap Dira kembali bangkit dan langsung bergerak cepat, memeluk Olive dari belakang.
Widya kembali menjewer telinga Dira. Anak laki-lakinya ini benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Widya menarik tubuh Dira agar berdiri di belakangnya.
Kiara menjulurkan lidahnya, mengejek Dira yang menggerutu kesal pada Widya.
"Tapi, Ma kenapa hanya dua hari? Mana bisa hilang kesedihan Kiara kalau cuma liburan dua hari?"
"Ya ampun nih anak, dikasik jatah liburan juga sempet nawar kayak beli cabe" cibir Dira.
"Dua hari? Siapa bilang? Kiara di sana selama dua minggu" jawab Widya.
"Loh tadi Kadir ngomongnya cuma dua hari" ucap Kiara kesal dan tentu saja ia langsung melotot ke arah Dira yang terkekeh karena berhasil membohongi dirinya.
Kiara memukul bahu Dira dan segera melangkah mengambil baju yang tadi sudah ia masukkan kembali ke dalam lemari. Gara-gara Dira, Kiara harus bolak-balik mengambil baju dalam lemarinya.
Olive yang melihat Kiara kerepotan membawa bajunya, segera bergerak mengambil baju-baju Kiara dan membantunya memasukkan ke dalam koper. Olive juga mengingatkan Kiara beberapa barang yang mungkin terlupa oleh Kiara untuk di bawa.
"Cantik... jangan capek-capek. Nanti kandungan kamu kenapa-kenapa lho" ucap Dira langsung menghampiri Olive dan mengelus perut ratanya.
"Lu kalau mabok, bilang aja" Kiara kembali menyeret Dira agar menjauh dari Olive sedangkan Widya langsung melotot mendengar perkataan ngawur anak laki-lakinya itu.
Olive yang sudah mulai mengerti bahasa Indonesia, tentu saja merasa semakin tidak nyaman. Ia memilih pamit menuju mobil terlebih dahulu dengan membawa koper milik Kiara. Olive berjalan dengan terburu-buru, berharap segera masuk ke dalam mobil dan selamat dari bekapan Dira.
Dira mengikuti langkah Olive. Semakin cepat Olive melangkah, semakin cepat juga Dira melangkah. Kiara dan Widya saling pandang.
"Dira Putra Sanjaya!!! Berhenti!!!" teriak Widya yang ternyata diacuhkan Dira.
Kiara menahan Widya untuk memanggil Dira untuk kedua kali. Kiara mengambil sepatunya, mengambil ancang-ancang dan...
Bugggg, tepat sasaran.
"Wadaaawwww.... resek banget sih!!!" teriak Dira meringis kesakitan.
"Kamu udah budeg ya? Mama sudah teriak nyuruh kamu berhenti. Tapi kamu tidak mendengarkan Mama" ucap Widya kesal.
"Maaf, Mamae. Bukannya Dira tidak mendengarkan Mamae. Tapi dunia Dira benar-benar teralihkan olehnya" ucap Dira dengan senyum konyol yang membuat Widya ingin sekali menabok bibirnya.
"Masuk, Dira! Sepertinya benar kata Kiara kalau kamu sedang mabuk" perintah Widya.
"Dira memang lagi mabuk, Mamae. Mabuk cinta. Duhhhh gemes deh liat tuh cewek" ucap Dira hendak kembali melangkah tapi dengan cepat Widya menahan tangannya.
Widya menyuruh Kiara segera berangkat karena khawatir ketinggalan pesawat. Kiara menurut. Ia memeluk Widya dan berlari menyusul Olive.
Dira yang lepas dari pengawasan Widya kembali mencoba kabur untuk mengejar Olive. Namun lagi-lagi ia kalah cepat karena Widya langsung memukul kakinya dengan sapu ijuk.
"Mamae...!!! Dira kan mau pamitan sama si cantik" ucap Dira memelas.
"Kamu mau pamitan apa mau peluk-peluk anak orang? Dasar genit" kata Widya kemudian berlalu meninggalkan Dira.
__ADS_1