
Kiara POV
Aku tidak tahu bagaimana caranya perempuan ini bisa masuk ke ruang kerjaku mengingat ada Lita yang bertugas memfilter tamu yang datang. Aku terdiam melihatnya berdiri dengan tangan mengepal dan rahang yang mengeras. Aku dapat melihat wajahnya yang memerah menahan amarah yang pasti ditujukan kepadaku.
Ellea, perempuan berambut ikal yang ku tahu adalah mantan kekasih Elang, datang ke kantor sepertinya ia meminta penjelasanku. Aku tentu saja tidak ingin ada keributan disini. Selain ada Dira yang bisa saja melakukan tindakan kasar pada Ellea, Elang adalah alasan kedua untuk itu. Aku takut ketika kami sedang bersitegang tiba-tiba Elang datang dan akhirnya memperkeruh keadaan. Oleh sebab itu, aku membawa Ellea duduk di cafe yang letaknya agak jauh dari kantor.
"Katakan, apakah kau akan menikah dengan Elang?" tanya Ellea tanpa memperdulikan coklat hangat yang sudah aku pesan untuknya.
"Aku tidak tahu" jawabku pendek karena memang aku tidak tahu apakah akhirnya aku akan menikah dengan Elang atau tidak.
"Berhentilah menjadi orang munafik! Kau bahkan memakai cincin yang sama dengan Elang" tunjuknya pada jari manisku.
"Ya, kami memang bertunangan tetapi aku tidak tahu apakah nantinya kami akan menikah" jawabku yang di balas tawa mengejek Ellea.
"Aku tidak tahu apakah Elang mengetahui bahwa wanita yang ia puja-puja adalah orang yang munafik atau tidak. Bukti sudah di depan mata dan kau masih saja bertele-tele!" ucap Ellea dan hal itu membuatku memejamkan mata menahan sakit.
"Aku belum lupa perkataanmu yang menyuruhku mendekati Elang kembali. Lalu mengapa kau malah bertunangan dengan Elang?" tanya Ellea dengan nada yang mulai meninggi.
Aku hanya bisa menghela nafas. Apakah Ellea bisa menerima penjelasanku? Orang marah biasanya akan menjadi orang yang egois yang tidak akan mendengar penjelasan orang lain.
"Kami dijodohkan dan aku tidak bisa menolak"
"Di jodohkan? Ha...ha...ha...ha... kau pikir aku percaya?" tanya Ellea dengan tawa yang semakin meledak.
"Terserah. Setidaknya aku mengatakan yang sejujurnya" ucap Kiara. Ia menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.
Kami terdiam. Aku mengaduk-aduk jus alpukat pesananku dengan malas sama seperti perasaanku yang juga campur aduk. Lama kami terdiam dan tiba-tiba Ellea mengebrak meja sehingga membuatku terkaget.
"Kembalikan Elang padaku!," teriak Ellea kencang dan aku yakin semua pengunjung mendengar teriakannya.
Aku menurunkan wajahku, menahan malu dengan tingkah Ellea yang tidak bisa menahan diri. Andai Kadir yang sedang menjadi lawanku, aku pasti sudah menyumpal mulutnya dengan sepatuku.
"Aku tidak pernah menahan Elang agar tetap di sampingku...."
"Alasan......!!!!" teriak Ellea memotong ucapanku.
"Bagaimana mungkin Elang mengabaikanku jika tidak kau ikat? Kau harus tahu, Elang sangat mencintaiku dan aku mencintainya. Aku yakin cintaku lebih besar daripada cintamu. Kau hanya pura-pura mencintainya. Iya kan?" bentak Ellea dan kali ini ucapannya benar-benar menusuk jantungku.
__ADS_1
"Ellea, aku mengizinkanmu mendekati Elang. Jika Elang lebih memilihmu, aku akan melepasnya. Aku sadar aku belum bisa mencintai Elang sebesar cintamu. Aku bahkan ragu apakah bisa mencintainya atau tidak ....."
"Tapi aku tidak peduli"
Suara bariton milik Elang terdengar dan tentu saja membuatku menoleh ke samping. Benar saja Elang sedang berdiri tak jauh dari meja kami. Aku diam terpaku tidak menyangka dengan kedatangannya.
Ellea bangkit dari tempat duduknya dan langsung berlari berhamburan memeluk Elang. Aku menunduk melihat adegan itu. Rasa sakit kembali muncul. Aku menguatkan hatiku agar tetap tegar menghadapi adegan ini. Namun, kepalaku kembali mendongak ketika mendengar suara benturan tubuh seseorang ke lantai. Ya, Elang menghempaskan pelukan Ellea dengan kasar hingga Ellea tersungkur ke lantai.
Aku menutup mulutku, tak percaya dengan apa yang dilakukan Elang pada Ellea. Perempuan itu menangis, mencoba bangkit tapi diacuhkan Elang. Elang malah berjalan menghampiriku, berdiri tepat di hadapanku dengan wajah dinginnya menahan amarah.
"Dengar... Aku tidak peduli kau mencintaiku apa tidak. Kau bisa mencintaiku apa tidak. Yang harus kau tahu aku tetap mencintaimu meskipun kau mencintaiku atau tidak. Kau adalah jantung dan nafasku. Aku pernah hampir mati ketika kau pergi dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi apalagi gara-gara ular laknat seperti dia" ucap Elang menunjuk Ellea tanpa melihatnya.
Aku tak bisa menahan bulir-bulir bening ini untuk jatuh ketika mendengar perkataan tulus dari Elang. Aku mendongakkan wajahku, menatap wajahnya yang penuh dengan ketulusan mencintaiku. Sungguh aku sangat merasa bersalah karena tak pernah bisa mencintainya dan tak pernah bisa melihat seberapa besar cintanya kepadaku.
"Jangan pernah berfikir melepasku karena aku tidak akan mau lepas darimu" bisik Elang dan detik itu juga tangisku pecah.
Aku memeluk Elang dengan erat. Elang mengelus puncak kepalaku agar aku tenang.
Tanpa kami sadari, Ellea bangkit. Ia berjalan dengan tangan memegang pisau yang aku tak tahu darimana Ellea mendapatkannya. Aku menganga, ingin berteriak tetapi seperti tertahan. Ellea siap menusuk punggung Elang dan...
Dorrr.....
"Abang....!!!" teriak Elang dan tentu saja mendengar suara Elang membuatku akhirnya berani membuka mata.
"Kau sebelas dua belas dengan sepupumu. Berani kau mengganggu adikku, nasibmu akan sama dengan si keparat Zian" ucap Dira dengan pistol yang masih mengarah pada Ellea.
"No, Kadir....No!!!," teriakku.
Aku hendak berlari menuju Dira tapi Elang menghalangiku.
"Elang, bawa Kiara pergi. Biar ular ini Abang yang beresin" perintah Dira.
Dan benar saja Elang segera menarikku agar pergi dari tempat itu. Aku tetap memberontak, mencoba melepaskan diri. Namun, percuma Elang benar-benar mengungkungku hingga aku tidak bisa melawannya.
Elang membawaku masuk ke dalam mobilnya, memasangkan seatbelt dan segera mengunci pintu samping. Elang segera masuk melewati pintu satunya dan langsung tancap gas sesuai perintah Dira.
"Elang..... No!!! kita harus kembali! Bagaimana nasib Ellea?" tanyaku panik.
__ADS_1
Elang tidak bergeming. Ia malah menambah kecepatan mobilnya. Aku melihat angka 150 km/jam pada spidometer dan hal itu membuatku gemetar. Elang tetap tidak bergeming.
"Elang....!!!!! Jangan gila! Kita bisa mati" aku berteriak panik.
Melihat Elang yang tetap tidak meresponku, membuatku memiringkan badanku dan menampar pipi Elang. Seketika Elang tersadar dan menginjak pedal rem dalam-dalam. Ulah gila Elang ini sampai menimbulkan ban mobil berdecit. Tubuhku hampir saja terbentur jika tidak tertahan oleh sabuk pengaman. Untung jalanan sedang sepi sehingga tidak membahayakan orang lain.
Aku menatap Elang tak percaya sembari mengatur nafas yang masih tidak teratur. Dahiku penuh dengan keringat. Elang memukul kemudi mobil, melampiaskan amarahnya. Ia membuka seatbeltnya lalu milikku.
"Maaf" ucapku lirih. Wajahku pucat pasi.
Elang terdiam. Aku yakin dia sedang ngeblank. Elang mengusap wajahku yang penuh dengan keringat dan langsung memelukku.
Aku memejamkan mata, membalas pelukan Elang untuk pertama kalinya selama kami menjalin kasih. Entah aku merasakan kehangatan dalam pelukan Elang. Nafas Elang menderu, begitu pula denganku. Lama kami berpelukan hingga aku melepas pelukannya dengan perlahan, menangkup wajah Elang dengan kedua tanganku.
"Maaf.... Ara salah" ucapku mulai terisak.
"Ara tidak pernah melihat cinta Elang sebesar apa untuk Ara. Maaf, Ara pasti menyakiti Elang" ucapku dan tangisku mulai pecah.
Elang menghapus air mataku, menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa apa yang aku katakan adalah salah. Elang mencium keningku lama dan sekarang aku benar-benar menikmatinya.
"Berjanjilah Ara mau belajar mencintai Elang" ucap Elang sembari membawaku kembali dalam pelukannya.
"Elang tahu Ara belum bisa mencintai Elang. Tapi bisa kan jika Elang minta Ara belajar mencintai Elang?" pinta Elang lagi dan aku menjawabnya dengan anggukan.
"Sekali lagi Elang tegaskan. Jangan pernah berniat melepas Elang, karena Elang tidak akan mau lepas dari Ara" kata Elang lagi dan aku kembali menganggukkan kepalaku.
Aku melepaskan diri dari pelukan Elang. Menatap dalam kepadanya. Aku menangkup kembali wajah Elang dengan kedua tanganku, menariknya agar dekat denganku.
Cup...
Pertama kalinya aku mencium kening Elang. Elang tersenyum dan membalas mencium keningku.
"Mau pulang apa jalan-jalan?" tanya Elang.
"Jalan-jalan. Tapi beli baju ganti dulu" ucapku yang dijawab anggukan oleh Elang.
Elang kembali melajukan mobil dan kali ini dengan kecepatan normal. Elang menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya, mengecup punggung tanganku sesekali.
__ADS_1
Aku mulai merasakan sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Mulai hari ini aku berjanji akan belajar mencintai Elang sebagaimana harus ku lakukan sejak dulu.
Othor minta lope lope nya dongsss....