Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 85


__ADS_3

POV KIARA


Aku masih saja betah menatap nisan bertuliskan nama Papa sembari sesekali mengusap nisan Papa dengan lembut. Entah sudah berapa lama aku duduk di samping pusara Papa seorang diri hanya ditemani guguran bunga kamboja yang sesekali jatuh ke pusara Papa.


Papa, anak perempuanmu ingin berkeluh kesah. Kadang aku merasa hidup ini tidak adil karena Tuhan mengambilmu secepat itu. Kenapa Papa yang dipanggil-Nya sedangkan disana banyak orang jahat yang lebih pantas untuk mati? Kenapa Papa pergi ketika aku masih kecil? Harusnya Papa masih disisiku sampai aku memberimu banyak cucu.


Papa tidak sempat melihatku wisuda. Papa tidak sempat melihat Kadir memimpin perusahaan Papa. Dan yang paling menyedihkan Papa tidak bisa mendampingiku saat akad nanti.


Ah.. akad? hatiku sakit mengingat kata itu, Papa. Anak perempuanmu ini baru saja patah hati. Tidak, ini lebih dari patah hati. Pernikahanku yang sudah dirancang dengan matang tiba-tiba saja dibatalkan oleh keluarganya. Neneknya tidak mau cucu kesayangannya menikah denganku, Pa.


Papa, apakah anak perempuanmu ini tidak cantik? atau anakmu ini kurang baik? Kadir bilang aku bisa mendapatkan lelaki manapun. Tapi faktanya dua lelaki yang ku pilih, tak bisa ku miliki. Aku sedih, Pa. Aku sedih sekali.


Papa, bolehkah aku marah pada Tuhan? Tanpa kau jawab pasti Papa akan mencubit pipiku dan mengatakan Kiara sayang... Tuhan itu baik. Tidak boleh marah sama Tuhan. Dan aku akan memeluk Papa sambil menangis.


Papa, aku rindu Papa. Aku ingin memeluk Papa. Kiara butuh Papa sekarang, teriakku dalam hati. Kedua tanganku langsung memeluk nisan Papa, mendekapnya seakan-akan aku memang memeluk Papa. Andai saja turun hujan, pasti ini akan menjadi adegan dramatis seperti dinsinetron-sinetron menyedihkan yang sering ditonton oleh Mama.


Kepalaku sedikit terangkat ketika melihat sepasang kaki berdiri tak jauh dari tempatku.


"Kiara....." panggilnya membuatku semakin mengangkat kepalaku.


Aku menarik nafas panjang ketika melihat siapa orang yang berdiri di hadapanku. Orang itu kemudian berjongkok di sampingku dan menatap nisan Papa.


"Kau kangen Papamu?" tanyanya tapi tak ku jawab.


Dia mengusap nisan Papa lalu memejamkan mata sembari melantunkan doa untuk Papa.


"Arman, Maaf aku baru sempat kesini. Seharusnya aku meminta izin kepadamu terlebih dahulu ketika akan menikahi Widya. Aku harap kau tidak marah" ucapnya.


"Arman, kita memang tidak saling mengenal. Tapi bolehkan aku meminta izin kepadamu? Aku ingin melanjutkan tugasmu menjaga Widya dan anak-anakmu" lanjutnya.


"Kau tahu? Anak-anakmu sangat lucu. Mereka selalu membuatku tertawa dengan tingkah ajaibnya. Mereka sering bertengkar tetapi entah mengapa pertengkaran mereka membuatku tertawa. Kau hebat, Arman. Bagaimana bisa kau membuat anak-anak yang lucu seperti mereka?"


"Kau mau apa kesini?" tanyaku memotong pembicaraannya dengan Papa.


Telingaku panas mendengarnya berbicara di depan makam Papa. Aku tak suka mendengarnya memuji aku dan Kadir di hadapan Papa, persis seperti orang yang sedang cari muka untuk mendapatkan simpati.


Orang itu tersenyum dan memang tak pernah sekalipun aku melihat dia marah meskipun aku selalu jutek kepadanya.


"Om hanya ingin bertemu Papamu dan berbicara padanya" jawabnya enteng.


"Pergilah dan jangan kesini lagi!" usirku.


Dia kembali tersenyum dan menatap nisan Papa. Ia kembali melanjutkan obrolannya dengan Papa tanpa memperdulikan perkataanku tadi.

__ADS_1


"Hai, Arman. Lihatlah putri cantikmu. Dia memang selalu jutek kepadaku. Kau pasti mendengar apa yang dia ucapkan barusan kan? Tapi tak apa, aku tak pernah marah padanya. Meskipun putrimu jutek kepadaku, aku tau dia berhati lembut dan baik. Putrimu adalah anak yang hebat. Bolehkah aku melanjutkan tugasku untuk menjaganya? Saat ini hatinya sedang rapuh. Izinkan aku menguatkannya. Agar ia kembali tegar dan ikhlas menerima takdirnya"


"Aku berjanji dengan sekuat jiwa dan ragaku. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti putrimu ini. Bolehkan jika aku mengganggapnya sebagai putriku juga? "


Hening dan tiba-tiba angin berlalu membuat banyak dedaunan dan pohon kamboja jatuh. Aku menatapnya dengan tajam. Hatiku sedikit tergerak ketika mendengar ucapannya. Namun, tetap saja aku enggan berbicara kepadanya. Aku membencinya, sangat membencinya.


"Jangan ditahan!" ucapnya sembari menepuk bahuku.


"Menangislah jika itu bisa membuat Kiara lega. Jika Papa Arman tidak bisa memelukmu, Om Edo bisa menggantikannya" ucapnya dengan tulus.


Om Edo merentangkan kedua tangannya dan entahlah seketika itu juga aku berhambur ke dalam pelukannya. Aku menangis dalam pelukan Om Edo, orang yang beberapa detik yang lalu ku stempel sebagai orang yang ku benci.


Om Edo mengeratkan pelukannya kepadaku, mengusap punggungku perlahan. Aku menangis semakin menjadi, menumpahkan segala beban di hatiku.


Tak lama, aku merasakan seseorang juga mengusap rambutku dan mengurai pelukanku dengan Om Edo. Kadir, kakak laki-lakiku yang konyol tapi sangat menyayangiku. Dia langsung memelukku.


"Kenapa kesini?" tanya Dira lembut.


Tidak biasanya orang ini berbicara selembut ini kepadaku. Aku tak menjawab, memilih lebih merapatkan wajahku ke dadanya.


"Kangen Papa?" tanya Dira dan aku mengangguk.


"Papa pasti melihat kita dari surga. Jangan menangis! Papa nggak suka Kiara nangis" ucap Dira membujukku. Tak lupa dia mengusap air mataku dengan telapak tangannya.


"Ingatlah jika Abang Dira yang tampan dan rupawan ini tidak akan membiarkan adiknya sedih dan patah hati"


\*\*\*\*


Aku terbangun dari tidurku dengan nafas yang terengah-engah. Sial, mimpi buruk! Aku bermimpi jika Elang benar-benar pergi dan menikah dengan perempuan pilihan neneknya. Mereka menikah di gedung yang sudah Elang siapkan untuk pernikahan kami.


Dalam mimpiku, aku melihat raut wajah sedih Elang. Beberapa kali ia gagal memasangkan cincin pernikahannya di jari manis perempuan itu. Namun, berkat bantuan Nenek Mila akhirnya cincin itu berhasil terpasang di jari manis perempuan itu.


Ahhh... semoga hanya mimpi. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata. Aku mengambil ponsel di atas nakas dan melihat layar ponselku yang menunjukkan pukul dua pagi. Aku bangkit dari kasurku dan berjalan menuju jendela kamarku.


Hujan, ternyata di luar sedang turun hujan. Andai saja bukan dini hari, aku pasti akan keluar untuk menikmati setiap tetes air yang jatuh dari langit ini. Aku memilih keluar kamar menuju dapur. Tenggorokanku terasa kering.


Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati karena tidak ingin membangunkan semua orang yang pastinya sedang terlelap. Langkahku terhenti ketika mendengar suara Dira yang sedang menelpon seseorang. Penasaran, aku mendekat dan menguping pembicaraan Dira.


"Bagaimana? apa semua sudah beres?" tanya Dira.


"Lakukan dengan hati-hati dan sesuai rencana. Jangan sampai kau cedera" lanjut Dira lagi.


Aku mengernyitkan dahi, mengira-ngira dengan siapa Kadir berbicara. Rencana? rencapa apa yang akan dilancarkan Kadir? Aku melangkah mendekati Dira dan menepuk bahunya dengan keras.

__ADS_1


"Hoba.....!!!!" teriak Dira yang tentu saja kaget akibat ulahku kepadanya.


"Kiara!!! Ngagetin aja! Kenapa jam segini belum tidur?" tanyanya kesal.


"Gue kebangun. Mimpi buruk" jawabku.


Dira mengajakku duduk di meja makan. Ia mengambilkan segelas air putih untukku.


"Lu jangan banyak pikiran. Gue kan udah bilang kalau abang lu yang tampan dan rupawan ini tidak akan tinggal diam?" ucap Dira seakan mengerti kegelisahanku.


"Emang lu mau ngelakuin apa?" tanyaku.


"Apa saja. Mungkin menyogok nenek itu dengan liburan sebulan ke Maldives" ucapnya enteng.


"Lu pikir dia bakalan mau? Nenek-nenek disuruh liburan ke Maldives. Ngawur aja lu" jawabku tak setuju dengan ide Dira.


"Emang kenapa kalau nenek-nenek ke Maldives? Itu bisa jadi obat penghilang stress. Lu nggak lihat kulit Nenek Mila sudah keriput? dia butuh hiburan untuk meremajakan kulitnya kembali" ucap Dira lagi tak mau kalah denganku.


Aku mengangkat bahu, tak membalas lagi perkataan Dira. Seketika aku teringat percakapan Dira tadi di telpon.


"Lu nelpon siapa malem-malem begini?" tanyaku dan dapat ku lihat jika Dira kaget mendengar pertanyaanku.


"Nelpon... nelpon Edward" jawabnya yang entah mengapa aku tak percaya dengan ucapannya.


"Edward? memang dia ada dimana? terus lu punya rencana apa sama Edward?" tanyaku lagi dan lagi-lagi pertanyaanku membuat Dira kaget.


"Edward di.. di... Toronto. Ya, dia di Toronto Canada. Gue nyuruh dia buat ngurus perusahaan gue disana" jawab Dira.


"Emangnya lu punya perusahaan di Toronto? Setahu gue nggak ada" kataku mulai mencurigai Dira.


"Ya punya dong. Jangankan di Toronto, di Antartika pun gue punya" ucapnya menyombongkan diri.


"Ngarang!!! Emang ada klien yang mau kerja sama di Antartika? Paling juga pinguin yang lagi nagkep ikan" jawabku membantah ucapan Dira.


"Mmmm... Udahlah, gue mau ke kamar. Ngantuk. Lu juga balik ke kamar. Tidur lagi!" kata Dira dan bodohnya dia berpura-pura menguap di hadapanku.


Dira kemudian berlalu di hadapanku. Melangkah sambil bersenandung. Memang benar, ku lihat dia masuk ke dalam kamarnya. Bisa ku dengar jika Dira mengunci pintu kamarnya.


Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan perlahan mulai melangkah ke kamar Dira. Aku menempelkan telingaku di pintu kamarnya dan benar Dira kembali menelpon seseorang. Aku benar-benar penasaran tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Dira. Namun, sialnya aku tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara hujan dan nyanyian katak yang lebih keras dari pada suara Dira menghalangi pendengaranku.



Kiara ngintip dulu, siapa tahu Elang datang.

__ADS_1


maaf ya reader.... author revisi sedikit. terima kasih sudah membaca. like dan koment silakan nyampah...


__ADS_2