
Dira mengernyitkan dahi ketika seorang perempuan berumur lebih dari tiga perempat abad berjalan ke arahnya saat berkunjung ke rumah Elang. Perempuan itu memegang tongkat yang menjadi bantuan tumpuannya ketika berjalan. Ia berjalan sambil tersenyum ke arah Dira.
"Maaf, apa saya salah rumah?" tanya Dira ketika wanita itu duduk di hadapannya.
"Anak muda memangnya kau mencari rumah siapa?" tanya wanita itu dengan suara seraknya, khas nenek-nenek.
"Saya mencari rumah Elang, calon adik ipar saya. Tadi saya menghubunginya dan dia mengatakan jika sedang berada disini" kata Dira menjelaskan.
"Ini rumah Elang, cucuku. Dia sedang mandi. Kau mengatakan jika kau adalah calon kakak iparnya, betul?" tanya wanita itu.
Dira mengangguk. Wanita itu kembali tersenyum. Mereka kemudian saling berkenalan. Dira jadi tahu jika wanita berumur di hadapannya bernama Syarmila, Nenek Elang dari ayahnya.
Dira dan Syarmila berbincang sembari menunggu Elang. Entah tiba-tiba muncul ide Dira untuk melibatkan Syarmila dalam rencananya. Dira yakin jika nenek Elang ini adalah orang yang mudah dibujuk. Jadi, tak ada salahnya menjadikannya sekutu untuk menjalankan rencananya.
"Nek, nenek" panggil Dira berbisik.
"Kenapa kau berbisik? disini hanya ada kita berdua. Apa kau ingin mengatakan suatu rahasia?" tanya Syarmila.
"Bukan rahasia, tapi misi penting" bisik Dira lagi.
"Misi penting? apa itu?" tanya Syarmila penasaran.
"Misi mengadakan pernikahan spektakuler antara Elang dan Kiara. Nenek mau membantuku?" tanya Dira memulai rayuannya.
Syarmila diam sejenak, memikirkan perkataan lelaki di hadapannya. Baru beberapa menit yang lalu ia berkenalan dengan orang yang mengaku calon kakak ipar cucunya, sekarang sudah mengajaknya menjalankan misi penting. Sudah sepatutnya jika Syarmila merasa curiga pada laki-laki di hadapannya.
"Nanti kalau sukses, Dira akan mengabulkan semua permintaan nenek" bujuk Dira.
"Benarkah? Memangnya kau bisa, anak muda?" tanya Syarmila meragukan kemampuan Dira.
"Nenek, apa sih yang tidak bisa dikabulkan oleh seorang Adiraka? Ceo paling tampan dan rupawan ini. Nenek tinggal bilang saja mau apa. Tiket liburan? Tiket perawatan selama setahun? atau..."
"Kalau kencan dengan Ariel Noah?" tanya Syarmila.
"Tentu saja bisa hanya kencan dengan A... a... a... siapa?" Dira tercekat mendengar nama yang disebutkan Nenek Elang.
"Ariel Noah. Nenek sangat ngefans sekali dengannya. Sudah lama Nenek ingin bertemu dengannya. Tapi si Robert dan Sandra tidak pernah mau mengabulkan keinginan, Nenek" ucap Syarmila sedih.
Dira menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Ariel Noah? Siapa dia? Dira mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada Edward. Bagaimanapun dia harus bisa mengabulkan permintaan nenek Elang agar bisa menjadikannya sekutu.
"Nenek juga ingin bertemu Anggun C. Sasmi" ucap Syarmila lagi.
Entah sepertinya Syarmila juga ingin memanfaatkan Dira untuk mewujudkan keinginan-keinginannya yang belum diwujudkan oleh Robert dan Sandra. Syarmila ingin memastikan apakah laki-laki ini benar-benar mampu mewujudkannya atau hanya omong kosong saja?
"Anggun? penyanyi yang tinggal di Paris itu?" tanya Dira memastikan.
"Benar sekali. Nenek sangat suka jika dia bernyanyi, meliuk-liuk dengan baju seksinya. Ah... nenek teringat masa muda nenek" ucap Syarmila dengan pipi merona dan tangan yang meliuk-liuk menirukan gaya Anggun.
Dira terkekeh melihat tingkah nenek-nenek di hadapannya.
"Nenek mau ketemu Anggun C.Sasmi?"
Syarmila mengangguk.
"Mau dibelikan baju-bajunya juga?"
Syarmila mengangguk lagi. Namun, dengan cepat ia menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, nenek sudah tua. Tidak pantas memakai baju-baju sexy seperti itu" ucap Syarmila.
"Eh, siapa bilang? Nenek belum tua. Nenek masih segar. Masih pantas pakai baju sexy. Jangankan baju seperti milik Anggun, bikinipun masih cocok untuk nenek" puji Dira yang langsung saja membuat pipi Syarmila merah merona.
"Nenek mau dibelikan berapa? 10? 20 atau sama butiknya juga Dira belikan. Asal nenek mau bekerja sama dengan Dira" ucap Dira memberi penawaran yang membuat mata Syarmila berbinar-binar.
"Ah... tak mungkin lah aku meminta sebanyak itu. Cukup 15 baju second milik Anggun saja sudah cukup"
"Lho?? kalau ada yang baru kenapa harus second, Nenek?" tanya Dira.
"Biar aura Anggun nempel di tubuh nenek" ucap Syarmila yang tentu saja kembali membuat Dira terkekeh.
Dira mengambil ponselnya lagi, mengirim pesan pada Edward untuk memberikan tugas selanjutnya.
"Baiklah, Dira akan memenuhi semua permintaan Nenek. Asal Nenek mau bekerja sama dengan Dira"
"Apa yang harus Nenek lakukan?" tanya Syarmila.
Dira tersenyum licik. Ia kemudian membisikkan sesuatu di telinga Syarmila. Syarmila tentu saja terkejut dengan permintaan Dira itu.
"Kau sudah gila, anak muda! Bagaimana mungkin kau mau aku melakukan hal konyol seperti itu? Kau mau membuat mereka stress menjelang hari pernikahan???" teriak Syarmila penuh emosi.
"Ssstttt... nenek jangan berteriak"
"Bagaimana aku tidak berteriak jika permintaanmu seperti itu??? Gila!!! Kau benar-benar gila!!!" umpat Syarmila lagi.
"Ini tidak gila, Nenek. Ini kejutan. Ke-ju-tan. Dira hanya ingin memberi kenangan manis untuk mereka"
"Kenangan manis gundulmu?"
"Dira punya rambut, Nek. Tidak gundul" jawab Dira santai.
"Kapan lagi kencan sama Ariel Noah, Nek? Bisa nyanyi bareng Anggun C. Sasmi plus dapat baju-baju secondnya lagi" rayu Dira membuat pertahanan mulai Syarmila goyah.
"Aku tidak berminat" tepis Syarmila ketus.
"Sungguh? Padahal Ariel Noah sudah bersedia makan malam dengan nenek selama seminggu lho" ucap Dira ngarang.
"Jangan lupakan baju sexy milik Anggun, Nek! Nenek pasti terlihat sexy jika meliuk-liuk dengan baju itu" bujuk Dira lagi membuat pertahanan Syarmila benar-benar goyah.
"Baiklah... baiklah... baiklah... Nenek mau" ucap Syarmila membuat Dira tersenyum penuh kemenangan.
Dira kembali berbisik, memberi arahan kepada Syarmila tentang tugasnya. Syarmila mendengarkan dengan seksama.
Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut panjang berjalan mendekati Syarmila. Gadis itu menyapa Syarmila dengan bahasa Spanyol yang tidak dimengerti Dira.
"Siapa?" tanya Dira.
"Lily, cucu sahabatku dari Spanyol. Dia menemaniku di sini untuk mengisi liburannya" ucap Syarmila.
Dira kembali menyunggingkan senyum liciknya. Seketika muncul ide tambahan dalam otaknya untuk melengkapi sandiwara buatannya. Dira membisikkan sesuatu pada Syarmila yang lagi-lagi membuat Syarmila naik darah.
"Kau semakin gila saja, anak muda! Aku tidak mau!" teriak Syarmila.
"Demi Ariel dan Anggun, Nek" bujuk Dira.
"Nenek tidak mau!!! Eh mau!!!" ucap Syarmila segera meralat.
__ADS_1
"Deals!!! tidak ada penolakan lagi" ucap Dira sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Bagaimana dengan orang tua Elang?" tanya Syarmila masih merasa cemas.
"Jangan diberitahu dulu, Nek. Biar natural. Nanti Dira akan beri kode saat Nenek mengatakan yang sebenarnya pada mereka"
Syarmila diam. Ia masih dilanda kebingungan menerima tawaran Dira. Namun, hatinya kembali mantap ketika Dira dengan liciknya memperlihatkan foto Ariel Noah dan Anggun. Syarmila langsung luluh dan membalas uluran tangan Dira.
Dira bersorak dalam hati. Ia tidak menyangka jika menemukan partner semudah ini untuk melancarkan sandiwaranya. Untung saja Edward sebagai sekretarisnya bisa menghandle semua permintaan Syarmila.
Klek,
Pintu kamar Elang terbuka. Elang keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan cepat. Senyumnya mengembang ketika melihat Dira yang sedang duduk bersama Neneknya di ruang tamu.
"Abang, sudah lama?" tanya Elang yang langsung duduk bergabung dengan Dira dan Syarmila.
"Tidak, baru satu detik yang lalu" ucap Dira berbohong.
"Abang kesini mau menjemput Elang ke rumah sakit? Ara sudah boleh pulang?" tebak Elang asal.
"Bukan!!! Abang kesini untuk memberitahumu kalau sekarang juga kau harus bersiap-siap untuk berangkat ke Bali" ucap Dira enteng.
"Bali???? Kenapa??? Ara dirujuk ke rumah sakit di Bali???" tanya Elang panik.
"Bukan, bocahhhhh!!! Pernikahan kalian dipindah ke Bali"
"Kenapa mendadak, Abang???" tanya Elang kaget.
"Baru kepikiran. Entah Abang sepertinya sekalian mau membuat film pendek tentang kisah kalian"
"Tidak usah lah, Abang. Ara masih sakit. Tidak mungkin diajak syuting film" tolak Elang yang tentu saja membuat Dira kesal.
"Tidak ada penolakan. Kau berangkat kesana sekarang. Edward sudah menunggumu di luar"
"Tapi, Abang. Elang masih belum bertemu Ara" ucap Elang memelas.
"Ara urusan Abang. Dia sekarang sudah sehat. Lagi sibuk sama Mama latihan pakai sepatu kuda, eh sepatu kaca maksudnya"
"Kenapa tidak berangkat bersama-sama saja, Abang?" Elang masih mencoba bernegosiasi dengan Dira.
"Tidak bisa!!! Kau harus berlatih terjun payung di Bali. Nanti Edward yang akan menjelaskan kepadamu secara detail. Sekarang cepat berkemas" perintah Dira.
Elang menghela nafas. Ia segera bangkit dan berlari menaiki anak tangga. Elang masuk ke dalam kamarnya dan mulai berkemas.
"Nek... jangan kecewakan Dira. Dira yakin akting nenek nggak kalah sama pemain sinetron stripping yang nggak tamat-tamat itu" bisik Dira ketika Elang masih berkemas di kamarnya.
Tak lama, Elang keluar dari kamarnya dengan membawa koper. Elang menuruni anak tangga dengan perlahan. Malas, itulah yang dirasakan Elang.
"Jangan loyo, dong!!! Masak calon pengantin loyo?" ejek Dira.
Dira meminta ponsel Elang dan menggantinya dengan ponsel yang baru. Dira beralasan jika Elang harus konsentrasi mengingat waktu berlatihnya hanya sebentar. Dira tidak ingin pikiran Elang tidak fokus karena sering menghubungi Kiara.
Elang hanya bisa pasrah mengikuti kemauan calon kakak iparnya itu. Meskipun hatinya berat berpisah dengan Ara, tapi ia bisa apa? Dira tidak pernah mau dibantah.
Dira membawa Elang menemui Edward yang sudah menunggunya di mobil. Dira mendorong masuk Elang ke dalam mobil. Dira memberi kode agar Edward segera berangkat. Mobilpun melaju meninggalkan kediaman Elang dengan perlahan.
"Kau yakin akan melakukan sandiwara ini?" tanya Syarmila lagi yang entah sejak kapan berada di belakang Dira bersama Lily.
__ADS_1
"Yakin, Nenek Cantik. Nenek harus bantu Dira demi suksesnya acara pernikahan Elang dan Kiara" ucap Dira yang dijawab anggukan kepala Syarmila