
Mobil yang membawa Dira dan Kiara terus melaju dengan cepat. Kiara yang sejak awal terus berteriak akhirnya diberi obat bius oleh Dira sehingga Kiara menjadi tenang dan tertidur di bahu Dira.
Dira mengelus puncak kepala adiknya dengan sayang. Ia sebenarnya tidak mau berbuat kasar pada Kiara. Tapi, Dira tidak punya pilihan. Apa yang dilakukan Kiara bisa menghancurkan nama baik keluarganya.
"Hubungi Edward, siapkan jet pribadi untukku! perjalanan ini akan memakan waktu lama jika melewati jalur darat" perintah Dira yang dibalas anggukan kepala oleh sopir sekaligus pengawal Dira.
Dira mengambil ponselnya, mencari kontak nama seseorang dan mendialnya.
"Halo..." ucap seseorang di seberang.
"Pulanglah ke rumahmu. Antarkan juga gadis itu. Urusan Kiara biar aku yang menyelesaikan" ucap Dira.
"Baik" ucap orang itu lagi.
Dira segera menutup ponselnya. Mobil Dira berhenti. Beberapa meter dari mobil Dira, nampak jet pribadi Dira dengan beberapa pengawal pribadinya yang berdiri di sekitar. Dira segera keluar dari mobil.
"Tuan" pengawal Dira membungkuk, memberi hormat.
"Apakah semua sudah siap?" tanya Dira pada Edward salah satu pengawalnya.
"Semua sudah siap sesuai dengan permintaan Anda. Apakah Tuan Adiraka akan langsung bertolak ke New York?" tanya Edward.
"Tidak. Aku akan ke Pare, Kediri" ucap Dira membuat Edward mengernyitkan dahi. Pasalnya Edward tidak tahu dimana letak tempat yang disebutkan Tuannya.
"Pare, Kediri, Jawa Timur. Aku sudah memberi tahu kapten Jack kemana tujuanku. Aku ingin menemui Mama" ucap Dira yang dijawab anggukan Edward.
"Kiara ada di dalam mobil. Bawa dia masuk. Tadi Dia dibius agar tenang" titah Dira kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam jet pribadinya.
Dira segera merebahkan badannya. Tak lama Edward datang dengan membopong Kiara. Dira menyuruh Edward meletakkan Kiara di tempat tidur sebelahnya. Edward melakukan perintah Dira dengan hati-hati.
"Aku ingin tidur sejenak. Bangunkan jika sudah sampai" ucap Dira sembari menarik selimutnya ke atas dada.
Edward mengangguk. Tak lupa ia membungkuk, memberi hormat kepada Dira. Edward segera keluar dari kamar Dira. Dia tidak mau mengganggu istirahat bos nya.
Edward memilih berada di samping Kapten Jack, pilot jet pribadi Dira, untuk memastikan tidak ada yang miss selama perjalanan mereka. Jet pribadi mulai lepas landas. Perjalanan udarapun dimulai.
\_\_\_\_ \*\*\*\_\_\_\_
Pare, Kediri
Hari ini cuaca kota Kediri sangat cerah. Widya nampak sedang membersihkan halaman rumahnya. Dengan menggunakan sapu lidi, Widya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di halaman rumahnya.
Widya memang menyukai kebersihan.Tidak akan pernah ia biarkan satu helai daunpun mengotori halamnnya. Widya akan bertindak cepat jika melihat daun kering jatuh di halamannya. Tak heran jika halaman rumah Widya tampak bersih dan rapi.
Rumah Widya di Pare adalah rumah suami keduanya, ayah tiri Dira dan Kiara. Setelah Widya menikah lagi, ia memilih ikut suaminya ke Pare dan meninggalkan Jakarta.
Widya beranggapan jika ia sudah tidak berhak berada di rumah peninggalan almarhum suaminya. Widya bertekad ingin memulai semuanya dari awal. Hidup sederhana tanpa harta peninggalan suaminya.
Gerakan Widya terhenti ketika melihat beberapa mobil hitam berhenti di depan pagar rumahnya. Widya melangkahkan kakinya menuju pagar, membuka pintu pagar dan..
happpppp...
Seorang laki-laki keluar dari mobil dan memeluknya dengan erat. Widya nyaris oleng.
"Mamaaaaaa....... anakmu pulang....." teriak Dira. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Widya.
"Hei...hei... Nak...Nak... kamu siapa??" tanya Widya. Tangannya menepuk-nepuk bahu Dira agar melepaskan pelukannya.
"Mama?????" Dira menguraikan pelukannya. Matanya melotot menatap Widya.
__ADS_1
"Aku anakmu, Mamaaaaaa....."
"Anak? Anak dari mana?" tanya Widya tak mengerti.
"Anak dari Papa Arman lah," ucap Dira yang berhasil membuat Widya menjatuhkan sapu lidi yang sejak tadi ia pegang.
Widya memandangi sosok yang tengah berdiri di hadapannya. Menelitinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Butiran bening lolos membasahi pipinya, Widya segera memeluk Dira kembali.
"Dira... kau Dira?? Dira anak Mama???" ucap Widya.
Bertahun-tahun Widya merindukan putra sulungnya yang berada di Amerika. Bertahun-tahun Widya menanti kepulangan putra sulungnya. Hari ini tanpa ia sangka, putra sulungnya berdiri di hadapannya.
"Mama tidak mengenaliku?" ucap Dira menggerutu.
"Tentu saja Mama tidak mengenalimu. Kau sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu Mama. Apa kau operasi plastik sampai Mama tidak mengenalimu? Kau sangat jauh berbeda, Dira" ucap Widya sembari mengurai pelukannya.
Widya mengajak Dira masuk ke dalam rumahnya. Mereka duduk di sofa ruang tamu rumah Widya. Dira mengamati rumah Mamanya. Sangat sederhana. Dira tidak mengerti mengapa Mamanya memilih tinggal di rumah sesederhana ini sedangkan rumah peninggalan Papanya masih bisa ditempati.
"Minumlah, kau pasti lelah!" Widya menyuguhkan teh melati kepada Dira.
"Terima kasih, Mama. Mama selalu terbaik" puji Dira membuat senyum Widya terbit.
"Dira, darimana kau tahu Mama tinggal disini?" tanya Widya karena seingatnya Widya tidak memberi tahu Dira jika ia telah keluar dari rumah Arman.
"Paman Indra. Siapa lagi yang menjadi informanku di sini kalau bukan dia" ucap Dira terkekeh.
"Lalu siapa mereka? kau bawa rombongan dari mana?" tanya Widya heran.
"Rombongan kata Mama? Mereka pengawalku, Mamaaaa. Anakmu yang ganteng ini adalah presdir. Harus dijaga 24 jam" ucap Dira bangga yang dibalas gelengan kepala oleh Widya.
"Lain kali jangan bawa pengawal ke sini tapi bawa calon mantu buat Mama"
"Nanti lah Mama. Kalau anak perempuan Mama yang nakal itu sudah menikah, Dira pasti akan segera menyusul" ucap Dira sambil menepuk- nepuk dada bidangnya.
Dira menepuk jidatnya. Ia lupa jika masih meninggalkan Kiara di dalam mobil. Dira menelpon Edward agar membawa Kiara masuk ke dalam rumah. Dengan cepat, Edward kembali membopong Kiara yang masih belum sadar ke dalam rumah.
"Loh loh loh... ada apa dengan Kiara?" tanya Widya.
Widya tentu saja panik ketika melihat anak bungsunya di gendong Edward. Widya juga heran melihat Kiara memakai gaun pengantin. Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi?
Dira memerintahkan Edward agar membaringkan Kiara di kamar tamu yang ditunjukkan Widya.
"Kiara hanya tidur. Dira bius tadi"
"Apa???"
Plakkk...
Widya memukul lengan Dira dengan spontan.
"Kenapa kau membius adikmu? Kau mau membuatnya mati hah? begini begini dia adikmu yang harus kamu jaga bukan kamu buat pingsan" amuk Widya sembari mencubit dan memukul Dira bertubi-tubi.
Dira mengaduh kesakitan menerima serangan dari Widya. Amukan Widya tak jauh berbeda dengan Kiara. Ibu dan anak itu memiliki sifat yang sama dalam hal mengamuk. Jika Widya akan memukul dan mencubit tanpa henti, Maka Kiara akan melempar heelsnya tanpa ampun.
"Mamaaaaa.... dengarkan Dira dulu! Anak gadis Mama itu histeris sejak tadi. Jadi Dira bius agar tenang. Sopir Dira bisa budek kalau mendengar teriakannya terus menerus. Bahaya juga untuk perjalanan Dira, Mama...,"
"Apa tidak ada cara lain? Kau tega sekali membius adikmu,"
"Andai Kiara bisa tenang kalau diberi permen pasti Dira akan melakukannya. Anak gadis Mama ini kayak singa kalau sudah mengamuk"
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi sampai Kiara mengamuk? Dan Mengapa Kiara mengenakan gaun pengantin?"
"Dira berhasil menggagalkan pernikahannya. Kiara mau menikah dengan pria beristri"
"A a apaaa???!!!" ucap Widya tak percaya.
Dira buru buru menenangkan Mamanya. Bagaimanapun wanita dihadapannya ini sudah berumur. Mengetahui kabar buruk sedikit saja, bisa jadi berakibat fatal. Dira takut Mamanya hipertensi. Sebisa mungkin Dira menenangkan Widya, memintanya untuk menarik nafas dalam-dalam berkali-kali.
"Anak itu benar-benar nakal" ucap Widya sembari menarik nafas mengikuti arahan Dira.
"Tenang, Mama. Semua sudah Dira selesaikan. Mama tenang...Jangan emosi...jangan hipertensi...tenang...tenang...tenang...." ucap Dira.
"Lalu rencanamu apa, Dira?" tanya Widya.
"Sepertinya Dira akan mengurung Kiara di sini dulu. Setidaknya anak itu harus dicuci otaknya agar berhenti mengganggu Alex. Apakah Mama keberatan jika Kiara tinggal disini?" tanya Dira khawatir.
"Tentu saja tidak, Dira. Mama bahkan sangat senang anak-anak Mama mau tinggal bersama Mama. Dira juga disini kan?" tanya Widya penuh harap.
"Dira akan usahakan disini, Ma. Tapi Dira juga harus kembali ke Jakarta mengurus perusahaan Papa yang tadinya dipegang Kiara. Dira akan bolak balik Jakarta-Kediri" ucap Dira membuat senyum Widya kembali terbit.
"Maaf, Tuan Adiraka. Saya sudah menyelesaikan tugas dari Anda. Apakah ada lagi tugas untuk saya?" tanya Edward sembari membungkuk memberi hormat kepada Dira.
Widya mengernyitkan dahi mendengar ucapan Edward.
"Tidak ada. Kau bisa berjaga di depan bersama yang lain" titah Dira.
Edward kembali membungkuk dan segera pergi meninggalkan Dira dan Widya.
"Dira, kau benar Dira anak Mama kan?" tanya Widya kembali meragukan sosok yang sedang duduk di sampingnya.
"Mama mau tes DNA?? kenapa Mama tidak percaya sih kalau aku ini anak Mama?" tanya Dira kesal.
"Secara fisik kau jelas-jelas berbeda"
"Yaiyalah Mama... dulu kan aku masih bocah. Sejak di Amerika, Paman Sam menyuruhku olahraga ini itu untuk membentuk badan yang bagus"
"Namamu juga berbeda. Seingat Mama, Papa Arman memberi nama Adira Putra Sanjaya. Kenapa orang tadi memanggilmu Adiraka?" tanya Widya membuat Dira kembali menepuk jidatnya.
"Mama... Nama Adira Putra Sanjaya kurang keren kalau di bawa ke Amerika. Jadi Paman Sam mengganti namaku menjadi Adiraka Marvel Putra Sanjaya" bisik Dira agar tidak terdengar oleh orang lain mengenai rahasianya.
Widya menghelas nafas. Ada-ada saja tingkah kedua anaknya ini. Widya mengingat-ingat apa yang dikonsumsinya saat ia hamil Dira dan Kiara. Mengapa kedua anaknya bisa bertingkah konyol seperti ini?
"Mama... Dira mau istirahat. Masih ada kamar kosong kan untuk Dira?" tanya Dira membuyarkan lamunan Widya.
Widya mengangguk. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Dira masuk ke kamar tamu yang lain. Rumah Widya memang terdiri dari empat kamar. Hanya satu kamar yang ditempati karena memang hanya Widya dan suaminya yang menempati rumah itu. Tiga kamar lainnya dibiarkan kosong untuk berjaga-jaga jika ada tamu yang menginap. Meski kosong, Widya selalu membersihkan setiap hari.
"Dira, apa bisa kau suruh pengawalmu pergi dari sini?" tanya Widya hati-hati.
"Memangnya kenapa Mama? Tugas mereka menjaga Dira 24 jam"
"Ini di kampung, Dira. Keberadaan mereka sangat mencolok disini. Mama khawatir tetangga disini berpikiran macam-macam"
"Jangan dengarkan omongan tetangga, Mama! Cukup dengarkan omongan Dira. Mama tenang saja"
"Tapi Dira, Mama tidak nyaman dengan keberadaan mereka"
"Iya...iya.. nanti Dira suruh mereka berpencar saja agak jauh dari sini"
"Suruh pergi, Dira, bukan berpencar" potong Widya cepat.
__ADS_1
"Iya...iya...Dira nanti usir mereka semua biar mereka makan gaji buta. Dira mau tidur dulu ya Mama. Nanti kalau Kiara sudah bangun, Mama bangunin Dira juga ya" ucap Dira yang dibalas anggukan kepala oleh Widya.
Dira menutup pintu kamarnya. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kamar ini tidak ber AC seperti kamarnya, hanya angin alami yang masuk melewati jendela. Angin sepoi-sepoi membawa Dira dengan segera terlelap ke alam mimpi.