Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 66


__ADS_3

Elang mengetuk-ngetuk bolpen pada meja kerjanya berkali-kali sembari menggerakkan kursi kerjanya ke kanan, ke kiri bahkan berputar. Berkali-kali Elang menghela nafasnya dengan kasar, menahan perasaan kesal yang memenuhi dadanya sejak kemarin.


Ya, Elang kesal, sangat kesal. Foto prewed yang seharusnya selesai dengan happy ending malah membuatnya kesal setengah mampus. Elang tidak buta. Bagaimana reaksi Kiara dan fotografer itu ketika mereka bertemu. Kaget dan canggung. Elang berusaha tenang karena ia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Selama pemotretan, Elang dapat merasakan tatapan tidak wajar fotografer milik Ivana pada Kiara, calon istrinya. Rio, ya itulah nama yang Elang ingat. Beberapa kali Elang dapat melihat Rio, mencengkram tripod kameranya ketika mengambil foto mereka. Ekspresi amarah yang ditahan dan Elang tak tahu kenapa. Meskipun Elang tidak terlibat obrolan langsung dengan Rio. Namun, bahasa tubuh Rio menggambarkan perasaan yang gelisah, sedih dan marah selama pemotretan berlangsung.


Elang memang sengaja memancing reaksi Rio dengan bermesraan di depannya dan Rio sangat mudah dipancing. Beberapa kali Rio membuang muka ketika Elang bermesraan dengan Kiara. Hal ini tentu saja membuat hati Elang bertanya-tanya. Ada hubungan apa Rio dan Kiara? Apa mereka saling kenal? Pertanyaan itu memenuhi kepala Elang hingga ia tak bisa tidur.


Seharusnya Elang tidak berada di kantor hari ini karena Dira menyuruhnya mengambil cuti. Namun, Elang gelisah sehingga memilih menenangkan pikirannya di kantor. Elang pikir dengan menyibukkan diri di kantor akan mengalihkan pikirannya. Tapi Elang salah, ia masih saja memikirkan peristiwa kemarin.


" Kau? Bukannya kau diminta cuti oleh calon kakak iparmu? Mengapa berada disini? Om pikir Aisha becanda mengatakan kau pergi ke kantor," celoteh Ale ketika masuk ke ruangan Elang.


Elang kembali menghela nafas. Ia ingin bercerita kepada Ale tetapi ragu.


" Kenapa? Ada masalah?," tanya Ale. Ia dapat menangkap hal yang tidak beres dari raut wajah Elang yang kusut.


" Om, bolehkah Elang bertanya?."


" Apa?," Ale balik bertanya.


" Apa Om pernah mendengar Ara memiliki kekasih setelah putus denganku?," tanya Elang lirih.


Ale mengernyitkan dahi.


" Om tidak pernah mendengar Ara memiliki kekasih karena setahu Om yang dia incar adalah Om ha...ha...ha...ha...ha..ha...ha...." ucap Ale tertawa terbahak-bahak.


Elang membuang muka, sepertinya ia bertanya kepada orang yang salah. Namun, jika dipahami baik-baik memang ucapan Ale ada benarnya. Orang yang diincar Ara selama ini adalah pamannya sendiri jadi kemungkinan Ara memiliki kekasih setelah putus dengannya sangatlah kecil.


" Ada apa Elang? Kenapa kau bertanya seperti itu?," tanya Ale penasaran.


" Entah Om, perasaan Elang tidak enak sejak kami selesai foto prewed. Fotografer itu sepertinya memiliki hubungan dengan Ara," jawab Elang lesu.


" Fotografer? Mana mungkin Ara mainnya sama fotografer?," sangkal Ale.


" Entahlah. Yang jelas Elang melihat mereka sama-sama kaget dan berubah canggung ketika bertemu," kata Elang lagi.


Ale berpikir sejenak.


" Hmmmm.... sepertinya kau harus menemui Dira. Setahu Om setelah Ara putus denganmu Ara pergi ke New York dan tinggal di sana bersama Dira bukan?,"ucap Ale memberi ide.


Elang mengangkat wajahnya mendengar ucapan Ale. Mengapa ia tidak kepikiran tentang itu? Ya, New York!!! Ara pernah tinggal di sana dan Ivana bilang jika Rio adalah fotografernya yang berasal dari New York. Kemungkinan mereka memang saling kenal dan entahlah Elang semakin takut jika dugaan lainnya benar.


Elang segera bangkit. Ia mengambil kunci mobilnya dan berlari meninggalkan Ale yang masih duduk di kursinya. Elang segera masuk ke dalam mobil dan brrmmmm....brrrmmmm...brrmmmmm... mobil Elang melaju dengan cepat, memecah jalanan ramai ibu kota.


Satu jam kemudian, Elang sudah tiba di kantor Dira. Ia kembali berlari menuju ruangan Dira yang letaknya di lantai paling atas.


" Abang......," panggil Elang ketika masuk ke dalam ruangan Dira.

__ADS_1


Dira tersentak kaget melihat kedatangan Elang yang tiba-tiba. Tidak seperti biasanya Elang langsung masuk ke dalam ruangannya seperti ini, tanpa mengetuk pintu dan tanpa izin terlebih dahulu melalui Edward.


" Hei...hei.. Ada apa?," Dira memperhatikan tampilan Elang yang menggunakan kemeja kerja. Apakah Elang tidak mengambil cuti seperti perintahnya? Dira mulai menampakkan wajah masamnya pada Elang.


" Kau tidak cuti?," tanya Dira lagi.


" Cuti Abang, tapi hari ini ke kantor karena....."


" Apa?," sambar Dira cepat.


" Elang kepikiran."


Dira menggeleng-gelengkan kepalanya. Calon adik iparnya ini seperti cacing kepanasan di pagi hari. Dira menyuruh Elang duduk dan tak lupa meminta Edward membawakan minuman dingin untuk Elang.


" Tarik nafas dulu! Ceritakan! Ada masalah apa?," tanya Dira.


" Abang, Elang mau bertanya apakah Ara kenal dengan Rio?," tanya Elang to the point.


" Rio? Rio yang mana?," Dira balik bertanya bertepatan dengan Edward yang datang membawa minuman untuk Elang.


" Rio, fotografer foto prewed kami. Apakah Ara kenal dengannya?," tanya Elang lagi.


" Rio? Fotografer? Oh my god!!! Rionel Vast!!! Jadi si Basreng Vaston fotografer foto prewed kalian?," Dira berteriak menampilkan ekspresi wajah terkejut.


" Abang kenal dia? lalu... Ara?," Elang mulai sulit berkata-kata.


" Ya... Kiara kenal dengan dia."


" Apa Ara pernah menjalin hubungan dengannya?," tanya Elang pelan.


" Tidak. Tidak akan pernah. Sampai matipun si basreng Vaston tidak akan Abang izinkan menjalin hubungan dengan Kiara," ucap Dira geram.


" Harusnya kau bertanya pada calon istrimu. Jangan bertanya kepadaku. Abang Dira emosi kalau bahas si basreng Vaston," tambah Dira lagi.


" Emmm...mmm... maaf sepertinya Abang tidak suka dengan Rio?," tanya Elang.


" Tentu saja Abang benci sama dia. Kalau Abang suka sama si Vaston, sudah lama Abang nikahkan Kiara dan si Vaston," Dira menepuk mulutnya karena sadar ia sidah keceplosan di hadapan Elang.


" Jadi, Ara dan Rio saling suka tapi karena Abang tidak merestui makanya....,"


" Bukan...!!! Bukan....!!! Aduh ini mulut kenapa bisa keceplosan begini," gerutu Dira. Tangannya berkali-kali memukul mulutnya.


" Dengarkan Abang! Seharusnya kau menanyakan itu pada Kiara langsung. Dari sana kau bisa menilai calonmu jujur apa tidak. Dari percakapan kita barusan, setidaknya ada poin yang bisa kau ambil dan kau pastikan pada Kiara. Abang tidak berhak memberi tahu lebih lanjut," ucap Dira.


" Kenapa?."


" Kau masih tanya kenapa???? Sudah Abang katakan, Abang emosi jika membahas si basreng Vaston," ucap Dira kali ini dengan nada meninggi.

__ADS_1


" Maafkan Elang, Abang. Sepertinya memang Elang harus menanyakan langsung pada Ara," ucap Elang, mengalah.


" Ya... bagus. Tanya aja si sarang burung! Jangan tanya Abang Dira. Lagipula kenapa sih kau se khawatir itu? Kau takut Vaston merebut calon istrimu?," ejek Dira.


Elang mengangguk karena jujur saja Elang merasa insecure ketika melihat sosok Rio untuk pertama kali.


" Kau jauh lebih baik darinya," kata Dira.


" Tapi dia lebih tampan, Abang....,"


" Hei...hei...hei...Jangan bilang dia lebih tampan darimu! Kau lebih tampan darinya.. tapi tetap tidak lebih tampan dari Abang. Karena sejatinya hanya Abang Dira yang paling tampan dan rupawan di dunia ini," jawab Dira menyombongkan diri.


" Lagipula yang perlu kau khawatirkan bukan si Vaston melainkan mantanmu," kata Dira lagi.


" Mantan? maksud Abang si Ellea?," tanya Elang memastikan.


" Ya siapa lagi mantanmu yang sakit jiwa kalau bukan Ellea."


" Ada apa dengan Ellea?."


" Dia kabur dan Edward belum menemukannya sampai sekarang. Bukan Vaston yang harus waspadai tapi Ellea. Karena Ellea sangat berbahaya bagi kalian terutama Kiara."


Elang memejamkan matanya. Tiba-tiba rasa pening menyerang kepalanya. Hari pernikahannya semakin dekat dan rintangan mulai datang bermunculan.


" Abang majukan pernikahan kalian dua minggu lagi. Kau jangan berpergian sendiri! pakai pengawal. Abang juga menambah pengawal untuk Kiara karena khawatir Ellea muncul mencelakakannya."


" Elang setuju, Abang...,"


" Kalau kau tidak setuju, Abang pecat jadi calon adik ipar," potong Dira cepat.


" Temui Kiara dan selesaikan masalah si Vaston segera! Abang akan mengurus pernikahan kalian yang tinggal dua minggu," ucap Dira yang di jawab anggukan kepala Elang.


" Ingat, pakai pengawal! Karena kita tidak tahu bahaya yang sedang mengancam kita," ucap Dira mengingatkan lagi.


Elang kembali mengangguk, dia segera bangkit dan pamit untuk menemui Kiara. Elang melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Dira. Tak lupa ia menyapa Edward sekaligus berpamitan padanya.


Edward masuk ke ruangan Dira ketika memastikan Elang benar-benar pergi meninggalkan kantor mereka.


" Sepertinya rencana Tuan berhasil," ucap Edward.


Dira tersenyum licik. Ditatapnya Edward dengan tajam.


" Ya, umpan sudah dimakan. Tinggal sekarang kita lihat bagaimana hasilnya," ucap Dira kembali menampilkan senyum liciknya.


" Apa ini tidak terlalu beresiko, Tuan? Bisa jadi Nona Kiara akan kembali dekat dengan Rio dan hal itu bisa memicu pertengkaran dengan Tuan Elang," ucap Edward.


" Aku harus mengambil langkah ini karena perlu memastikan jika Kiara sudah memantapkan hatinya pada Elang."

__ADS_1


" Bagaimana jika Nona Kiara goyah?," tanya Edward.


" Nanti aku nikahkan Elang denganmu," ucap Dira enteng.


__ADS_2