Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 37


__ADS_3

Olive menempelkan telinganya di depan pintu ruang kerja Kiara. Terdengar jelas sedang terjadi pertengkaran antara Kiara dan Indra. Olive mencoba mencerna, memahami isi pertengkaran mereka. Namun, karena perbedaan bahasa mereka membuat Olive tak memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.


Pranggg...


Terdengar suara benda pecah dari dalam. Olive tersentak kaget. Tangannya gemetar. Ingin rasanya ia masuk ke dalam melihat apa yang sedang terjadi. Hatinya juga mengkhawatirkan keadaan Kiara.


“Go out now!!!!”


Olive memejamkan mata ketika mendengar teriakan Kiara. Olive mengelus dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih saja melaju kencang.


Tap..tap..tap..


Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekati pintu. Olive segera menjauhkan diri dan buru-buru kembali ke meja kerjanya. Menetralkan rasa gugupnya seakan-akan ia tidak mengetahui apa-apa.


Braakkkk


Indra keluar dari ruang kerja Kiara dengan wajah merah padam. Ia berjalan dengan geram dan melewati Olive.


“Your boss!!! She is crazy!!!” maki Indra.


“What’s up Mr. Indra?” tanya Olive tak mengerti.


“Kiara meminta laki-laki yang sudah beristri untuk menikahinya. Dia benar-benar gila. Seperti perawan tidak laku saja” umpat Indra lagi dan berlalu meninggalkan Olive yang masih diam terpaku.


Olive diam, mencoba mencerna perkataaan Indra. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Indra barusan. Olive memberanikan diri memasuki ruang kerja Kiara. Ia membuka pintu dengan perlahan.


Olive menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya Kiara sedang menenggelamkan wajahnya di atas meja. Olive mengamati keadaan ruang kerja Kiara saat ini. Ruang kerja Kiara yang tadi pagi sangat bersih dan rapi, kini berubah seperti kapal pecah. Olive harus melangkah hati-hati karena banyak sekali pecahan kaca di lantai. Entah apa saja yang telah dilempar oleh bossnya itu sehingga  membuat lantai ruang kerjanya penuh dengan beling.


“Nona, Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Olive sembari menepuk pundah Kiara dengan perlahan.


“Aku baik-baik saja, Olive, tidak perlu khawatir" jawab Kiara dengan kepala yang masih ia benamkan di atas meja.


“Apakah Nona mau pulang? Lagipula Anda tidak ada agenda lagi" ucap Olive masih berupa membujuk Kiara.


Olive paham keadaan Kiara sekarang sedang dalam kondisi tidak baik. Olive tidak mau Kiara tidak konsentrasi dalam bekerja.


“Kau mau mengantarku?"


“Tentu saja, Nona"


“Antar aku ke apartemen dan menginaplah!" perintah Kiara.


“Baik, Nona"


Olive segera menuntun Kiara meninggalkan kantornya. Tak lupa Olive juga meminta OB untuk membersihkan ruang kerja Kiara yang penuh dengan pecahan kaca.


Sopir pribadi Kiara sudah menunggu di depan lobby. Olive dan Kiara segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju apartemen Kiara hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam.


“Sebaiknya Nona mandi dulu. Saya akan menyiapkan air hangat untuk Anda" ucap Olive ketika mereka sudah berada diapartemen Kiara.


“Tidak usah, Olive. Kau itu bukan pembantuku tapi asistenku di kantor. Biar aku melakukannya sendiri. Kau pesanlah makanan! Aku ingin makan gado-gado" ucap Kiara kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Olive segera melakukan perintah bossnya. Ia sudah cukup hafal rumah makan langganan Kiara. Bossnya itu sering memesan makanan berbumbu kacang seperti gado-gado, ketoprak, siomay atau rujak. Makanan yang aneh untuk Olive karena tidak pernah melihatnya.


“Olive, mandilah! Pakai saja bajuku! Pilih yang kau suka! Aku ingin berbaring sebentar” ucap Kiara ketika keluar dari kamar mandi.


“Saya masih mau menunggu makanan pesanan Anda, Nona.”


“Sudahlah biar aku yang menunggu. Apa kau juga memesan makanan?"


“Iya, Nona. Saya memesan tunderloin steak"

__ADS_1


“Baiklah. Biar aku yang menunggu pesanannya. Kau mandi saja!” perintah Kiara yang tidak lagi dibantah Olive.


Olive yang sudah hafal dengan apartemen Kiara segera menuju kamar Kiara. Ia mengambil salah satu piyama milik Kiara dan membawanya ke kamar mandi. Kebetulan ukuran Kiara dan Olive sama.


Olive menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Ia melihat bossnya sudah siap di meja makan sambil memainkan ponselnya.


“Nona...!” panggil Olive.


“Kau sudah selesai? Ayo makan!”


Olive segera menduduki kursi di hadapan Kiara. tangannya mulai membuka bungkusan makanan yang tadi dipesannya. Ia juga menyiapkan gado-gado milik Kiara agar bossnya bisa langsung menyatapnya.


Olive menunggu Kiara yang sedari tadi memainkan ponselnya. Sungkan rasanya mendahului makan ketika bossnya belum mulai makan.


“Makanlah! Tidak usah menungguku!” perintah Kiara karena ia tahu Olive pasti sudah lapar.


Olive tak bergeming.


“Kenapa? Kau sungkan padaku?” tanya Kiara yang dibalas anggukan Olive.


Kiara menghela nafas. Ia meletakkan ponselnya dan mulai menyantap gado-gado pesanannya. Diliriknya Olive yang juga mulai menyantap makanannya.


“Sebenarnya aku malas makan" ucap Kiara. ia hanya menyuapkan beberapa sendok gado-gadonya.


“Nona, apakah Anda mau bercerita kepadaku?" tanya Olive.


“Sepertinya memang hanya kau yang bisa ku ajak bercerita, Olive"ucap Kiara sembari tertawa.


Olive menatap Kiara dengan sendu. Gadis yang dingin yang merupakan pemimpin di tempatnya bekerja kini berubah menjadi gadis yang rapuh. Olive bisa melihat jika inilah Kiara yang sebenarnya. Sosok rapuh yang menyimpan banyak duka. Olive paham jika Kiara menjadi sosok dingin untuk menutupi sifat rapuhnya.


“Kau pasti bertanya-tanya apa yang terjadi di kantor kan?" tanya Kiara yang dibalas anggukan Olive.


“Kau masih ingat dengan Ale? orang yang kita temui di Labuan Bajo?"


“Laki-laki yang Anda cium di pesta dansa" jawab Olive yang langsung saja dibalas dengan tawa Kiara.


“Dia adalah alasanku pergi ke New york. Aku patah hati karena dia menikah dengan perempuan lain"


“Apa? Laki-laki itu menikahi selingkuhannya?"


“Bukan. Dia menikahi tunangannya"


Olive mengernyitkan dahi. Kiara tahu jika Olive tidak paham dengan ceritanya.


“Aku mencintainya tapi dia tidak mencintaiku. Aku mencintainya tetapi aku menjalin kasih dengan Elang, keponakannya. Selama setahun aku menjalani hubungan tanpa ada rasa dengan Elang. Hingga akhirnya aku menemukan alasan untuk berpisah dengan Elang"


“Aku pikir bisa kembali pada Mas Ale. Namun, ternyata aku salah. Aku tidak tau jika dia sudah bertunangan dan hatiku hancur ketika melihat undangan pernikahannya"


“Berarti Tuan Ale bukan jodoh Anda, Nona"


“Awalnya aku berfikir begitu. Namun, aku mulai menepis anggapanku ketika kami bertemu lagi di Labuan Bajo. Aku mendekatinya lagi karena merasa ada celah untukku sampai akhirnya aku kembali ragu ketika aku kembali kehilangan jejaknya"


“Tapi entah mengapa keyakinanku kembali ketika kami bertemu lagi. Aku mempunyai celah kembali untuk memilikinya"


“Tapi Nona....” ucap Olive ragu.


“Olive, bantu aku meyakini hal ini. Aku yakin Ale adalah jodohku. Sekarang waktunya aku merebut kembali jodohku"


“Anda salah, Nona. Tolong, Anda jangan menjadi perusak rumah tangga orang. Nona Kiara cantik, pintar, dan mapan. Anda bisa mendapatkan laki-laki lajang manapun yang Anda mau"


“Tapi aku maunya Mas Ale. Laki-laki yang sudah tidak lajang"

__ADS_1


“Nona, saya tahu. Saya memang tidak berhak memaksa Anda. Cobalah Anda membuka hati pada laki-laki lain. Saya yakin Anda akan menemukan laki-laki yang tepat sesuai pilihan hati, Anda"


“Aku sudah mencoba bersama Elang selama setahun. Mencoba membuka hatiku pada Zian selama di NYU. Tapi tetap saja hatiku tetap memilih Ale"


“Rio. Bukalah hati Anda untuknya. Rio sangat mencintai Anda"


Kiara menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kembali bergetar mendengar nama Rio keluar dari mulut Olive. Andai Rio tidak memiliki masalah dengan Dira, Kiara mungkin masih mau mencoba membuka hati untuknya. Kiara juga tidak menyangkal. Ia sedikit tertarik dengan Rio. Laki-laki dengan pembawaan yang tenang dan romantis.


“Entahlah, Olive, aku juga bingung. Andai Rio tidak bermasalah dengan Dira"


“Disitulah perjuangan cinta kalian dibutuhkan"


“Kita lihat saja,Olive. Jika pernikahan antara aku dan Ale terjadi, berarti Ale adalah jodohku. Jika tidak terjadi, maka aku harus mundur. Tapi sepertinya aku tidak akan mundur" ucap Kiara kemudian meneguk air putih di gelasnya.


Olive menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia heran dengan sikap Kiara. Gadis di hadapannya ini sedang diuji oleh hawa nafsunya. Cinta butanya menutupi akal sehatnya. Olive harus mencegah pernikahan ini. Bagaimanapun akan banyak hati yang terluka jika pernikahan ini benar-benar terjadi. Seandainya Kiara menikahi pria lajang. Mungkin hanya Rio yang tersakiti dan Olive yakin Rio lambat laun pasti bisa menerimanya.


“Aku ke kamarku dulu. Banyak berkas yang belum aku periksa. Kau sudah tahu kan kamar tamu yang bisa kau tempati?"tanya Kiara.


Olive mengangguk Kiara beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam kamarnya. Olive segera membereskan meja makan. Setelah semuanya beres dan rapi, Olive segera masuk ke kamar tamu. Olive mengambil ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.


“Halo, Evan. Apa kabar?"


“Haiii Olive. Kabarku baik. Bagaimana kabarmu di sana? Kau dan Nona Kiara baik-baik saja kan?"


“Kami baik-baik saja, Evan. Bagaimana kabar Rio?"


“Rio? Ya seperti biasalah baik tapi gelisah. Gelisah memikirkan boss cantikmu. Hahahahaahahahaa"


“Evan, berhentilah tertawa! Ada hal penting yang harus kau tahu"


“Ada apa?"


“Nona Kiara meminta dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri"


“Aaaappppaaaaaaaaaaaaa........??? Kau jangan becanda, Olive"


“Evan, berhenti berteriak! Telingaku bisa rusak"


“Maaf"


“Bisakah kau mengirim Rio kemari? Pernikahan ini tidak boleh terjadi. Hanya Rio yang bisa menggagalkan rencana konyol Nona Kiara. Nona Kiara harus bisa melupakan masa lalunya. Aku yakin Rio bisa melakukan itu"


Olive mendengar Evan sedang menghela nafas. Evan pasti sedang berfikir untuk mengabulkan permohonannya, begitu pikir Olive. Olive menunggu jawaban dari Evan dengan cemas. Ia takut Evan menolak permohonannya.


“Rio memang akan berangkat ke Jakarta karena akan bekerja dengan saudara kembarku, Ivana"


“Kebetulan sekali. Segera kirim Rio ke Jakarta. Ini keadaan darurat"


“Kau tenang saja, Olive. Aku akan mengirimnya besok. Tolong atur agar Rio bertemu dengan Nona Kiara"


“Tentu saja, Evan. Aku akan melakukannya meski kau tidak memintanya" ucap Olive dengan mata berbinar-binar.


Olive segera menyudahi penggilannya dengan Evan dan segera menyusun rencana untuk menggagalkan keinginan konyol Kiara. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mencoba memejamkan matanya.


“Bantu aku Tuhan. Aku hanya ingin melakukan hal baik. Bantu aku" gumam Olive dan seketika ia sudah masuk ke dalam alam mimpinya.


Readerss yang baik hati.


Jangan lupa setelah baca like dan koment yaaa 


love youu

__ADS_1


__ADS_2