Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 73


__ADS_3

" Kau sudah menemukan cecunguk kriwul itu, Ed?," tanya Dira sembari mengecek berkas-berkas yang harus dia tanda tangani hari ini.


" Menemukannya tidaklah sulit, Tuan. Saya memang hendak memberitahukan hal ini setelah Tuan selesai meeting agar Tuan bisa fokus," ucap Edward.


Dira menutup berkas yang tadi diperiksanya lalu melempar ke arah Edward. Untunglah Edward adalah sekretaris yang tangkas sehingga ia bisa menangkap berkas-berkas itu tanpa tercecer ke lantai.


" Kami menunggu perintah Tuan!."


Dira menghela nafas. Tangan memainkan bolpoin yang sejak tadi dipegangnya. Otak liciknya sedang mencari ide bagaimana akan menghadapi Ellea. Menurut Dira, Ellea harus ditaklukkan dengan cara halus mengingat dia licin seperti belut. Dira menginginkan sedikit drama dalam penangkapan Ellea. Setidaknya ini akan menjadi hiburan baginya.


"Telpon Elang, suruh dia kesini sekarang!" titah Dira yang langsung dikerjakan oleh Edward.


Sembari menunggu kedatangan Elang, Dira meminta Edward menyiapkan makan siang untuknya. Dira akan mengisi energinya dulu sebelum berdiskusi dengan calon adik iparnya itu.


Satu jam kemudian, Elang tiba di kantor Dira. Ia datang dengan setengah berlari. Andai saja bukan Dira yang menyuruhnya, Elang pasti memilih berada di samping Kiara. Menunggui Kiara sampai sadar.


Elang masuk ke ruangan Dira dan tentu saja tanpa basa-basi Dira menyuruhnya duduk karena mereka akan membahas hal penting mengenai Ellea.


"Abang kenapa suruh Elang kesini? Elang kan mau nungguin Ara" protes Elang dengan wajah kusut yang sudah mirip kain lap knalpot.


"Kalau bukan kamu yang Abang ajak diskusi, masak iya Abang ajak si Vaston. Kamu mau posisi kamu dituker sama fotografer kampret itu" kata Dira memonyongkan bibirnya.


"Ti... ti.. tidak, Abang."


"Yasudah, makanya terima kalau Abang panggil. Dengarkan baik-baik! Abang mau membahas tentang rencana penangkapan si kriwul dan kamu Abang tugaskan sebagai umpan" ucap Dira enteng.


"Elang? umpan? kenapa Elang, Abang? Nanti kalau Ellea pegang-pegang Elang dan Ara tahu, Ara pasti akan mengamuk dan menyuruh Elang membuang pakaian Elang lagi. Aduh, Abang! bisa habis nanti baju sama daleman Elang" Elang kembali protes.


"Terus kalau bukan kamu yang menjadi umpan, lalu siapa hah??? Tidak mungkin Abang Dira yang tampan dan rupawan ini yang menjadi umpan" Dira menepuk dadanya dengan bangga.


"Tapi jangan Elang juga lah, Abang...." pinta Elang dengan memelas.


"Dengerin ya...! Si kriwul itu mantanmu. Man- Tan- Mu. Yang dia mau itu kamu. Kalau Abang lemparin si Edward sebagai umpan mana mungkin dimakan sama si kriwul."

__ADS_1


"Tapi, Abang...."


"Tidak ada penolakan. Kamu mau gagal nikah sama Kiara? si Kriwul kalau nggak segera diringkus bisa ganggu. Lagipula Abang kan sudah bilang, kalau hanya masalah sem pak nanti Abang belikan pabriknya sebagai kado pernikahan. Jangan mencemaskan hal yang nggak penting seperti itu."


Elang diam. Ia tak mau lagi menjawab ucapan calon kakak iparnya. Bagaimanapun ucapan Dira ada benarnya juga. Elang adalah target Ellea, mau tidak mau dirinya memang satu-satunya umpan untuk menjerat Ellea.


Dira tak membuang waktu. Ia segera membriefing Elang tentang rencananya menjerat Ellea. Elang benar-benar memperhatikan instruksi Dira sambil sesekali Edward memberikan masukan yang memperkuat rencana Dira.


Ketika mereka hampir rampung membahas rencana mereka, ponsel Edward berdering. Edward meminta izin menjauh untuk menjawab panggilan telponnya.


"Tuan, Nona Kiara sudah sadar."


Perkataan Edward barusan tentu saja membuat Dira dan Elang langsung berdiri. Mereka kompak berlari meninggalkan ruang kerja Dira. Edward menepuk jidatnya. Lagi-lagi aksi kejar-kejaran harus dilakukannya. Bagaimana bisa bos nya itu berlari tanpa menunggunya? Memangnya dia mau naik apa ke rumah sakit?, umpat Edward dalam hati.


Edward segera mengambil kunci mobil milik Dira dan segera berlari mengerjar bos nya. Benar saja saat di basement, Edward melihat Dira kebingungan karena tidak bisa membuka pintu mobil.


Edward segera menekan kunci mobil dan mereka masuk ke dalam mobil. Edward melajukan mobil milik Dira dengan kecepatan normal. Arus lalu lintas yang padat tentu saja tidak bisa membuat Edward melajukan mobil dengan cepat. Berkali-kali Edward mendengar Dira memakinya, memintanya untuk mengebut. Tapi Edward menulikan pendengarannya karena permintaan bos nya itu tak mungkin ia laksanakan.


Elang tiba di rumah sakit lebih dahulu dari Dira. Ia segera berlari menuju ruang rawat Kiara. Elang melihat Widya sedang berdiri di depan pintu, mencoba melihat apa yang sedang terjadi di dalam.


"Kiara sudah sadar. Dokter sedang memeriksanya" kata Widya.


"Mamaeeeee............. Kiara gimana?????," teriak Dira dari kejauhan.


Widya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Dira. Widya menutup mulut Dira agar berhenti berteriak. Bagaimanapun ini rumah sakit. Pasien bisa terganggu dengan teriakan Dira yang sudah mirip seperti orang hutan.


"Mamae... Kiara...,"


"Pelankan suaramu! ini rumah sakit" tegur Widya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Kiara.


"Bagaimana kondisi Kiara, Ma?" tanya Dira lagi kali ini dengan nada suara rendah.


"Kiara sedang diperiksa dokter" ucap Widya kembali meliuk-liukkan kepalanya di depan pintu.

__ADS_1


"Dokter Leo kan, Ma?" tanya Dira lagi.


"Bukan, Dokter Leo sedang ada jadwal operasi. Dokter perempuan yang memeriksa Kiara."


Klek..


Pintu kamar rawat Kiara terbuka dan muncullah seorang dokter muda perempuan yang didampingi oleh seorang perawat. Dokter itu sedikit terkejut ketika membuka pintu langsung berhadapan dengan Dira.


Dira yang tidak memperhatikan ekspresi dokter itu langsung saja nyelonong masuk sehingga membuat Widya menarik tangannya agar berhenti.


"Mamae... ."


"Diam dulu! Dengarin penjelasan dokter. Main nyelonong aja kamu" Widya menjewer telinga Dira.


"Dokter?" ucapan Elang menggantung karena tidak tahu nama dokter itu.


"Athalia. Saya Dokter Athalia yang menggantikan Dokter Leo memeriksa pasien" kata dokter itu memperkenalkan diri.


"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" tanya Widya cemas.


"Pasien sudah sadar tapi kondisinya masih lemah. Saya sudah menyuntikkan obat di cairan infusnya untuk mempercepat pemulihan kondisi pasien."


"Kami bisa melihatnya?" tanya Widya kembali.


"Silakan..."


dan wussssss.....


Dira dengan langkah seribu melanjutkan langkahnya menghampiri Kiara. Dira langsung saja memeluk adiknya itu dengan erat tanpa memperdulikan teriakan Widya dari luar.


"Maaf, dokter. Anak saya main nyelonong saja," ucap Widya tak enak hati.


Dokter Athalia hanya membalas dengan senyuman. Ia kemudian pamit undur diri karena akan memeriksa pasien yang lain. Sekilas, dokter Athalia melihat ke arah Dira yang masih memeluk Kiara. Ia menghela nafas kemudian kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar pasien yang lain.

__ADS_1


Widya dan Elang masuk ke kamar Kiara beriringan. Sebenarnya Elang sudah gatal ingin memeluk Kiara. Tapi apa daya, saat ini Dira belum mau melepas pelukannya pada Kiara meskipun berkali-kali Widya mencubit lengan Dira agar melepas pelukannya. Elang hanya bisa bersabar menunggu gilirannya agar bisa berduaan dengan kekasihnya.


__ADS_2