Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 29


__ADS_3

“Kamu masih ingat pulang, Mas?"


Pertanyaan sarkas Aisha kembali singgah di telinga Ale ketika ia baru saja masuk ke kamarnya. Beberapa hari ini Ale memang tidak pulang ke villa milik Elin karena menghindar dari Aisha yang terus saja mengajaknya ribut. Ale memilih menyewa villa lain dan beristirahat untuk menenangkan pikirannya.


Tidak bisa dipungkiri Ale memang merindukan Aisha. Selama jauh dari Aisha, Ale tidak bisa tidur dengan tenang. Hatinya terus gelisah. Oleh sebab itu hari ini Ale memilih kembali ke villa milik Elin untuk melihat istrinya


“Aku ada urusan mendadak. Ada masalah di kantor” jawab Ale berlalu mendekati tempat tidur. 


Sebenarnya Ale ingin memeluk Aisha. Namun, niatnya itu urung ia lakukan karena sambutan sarkas Aisha. Ale memilih merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya.


“Urusan kantor apa urusan perempuan lain?” tanya Aisha lagi membuat Ale menghela nafas.


“Perempuan yang mana?” tanya Ale.


“Kau masih bertanya perempuan yang mana? Apa selama pergi dari sini kau banyak menemui perempuan sehingga bingung menjawab perempuan yang mana?” tanya Aisha lagi.


Ale bangkit dari tidurnya. Kini posisinya duduk bersandar di pinggir kasur. Ale menarik nafas berkali-kali untuk menetralkan emosinya. Ale tidak mau terpancing emosi gara-gara kecemburuan Aisha.


“Aisha, aku ada keperluan mendadak. Ada masalah di perusahaan. Kalau kau bertanya masalah perempuan. Jelas aku bertanya perempuan yang mana karena aku memang berinteraksi dengan banyak perempuan. Ada penjual koran, penjual nasi bebek, pelayan di villa dan masih banyak lagi” ucap Ale menjelaskan.


Brakkk....


Aisha memukul meja rias di hadapannya. Sejak kapan suaminya ini tidak peka seperti ini sehingga membuat Aisha semakin kesal dengan Ale.


“Katakan perempuan mana yang kau maksud! Aku akan menjawab agar kau tidak marah-marah terus" ucap Ale mencoba membujuk Aisha.


“Perempuan berambut ikal yang berbicara denganmu barusan di pantai” ucap Aisha masih menatap tajam ke arah Ale.


Ale menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya tak menyangka ternyata istrinya sekarang berubah menjadi mata-mata.


“Dia Ellea, mantan kekasih Elang” ucap Ale.


Aisha memutar bola matanya dengan malas. Perutnya terasa mual mendengar jawaban Ale barusan.


“Kemarin Ara, mantannya Elang. Sekarang Ellea, mantannya Elang. Apakah para mantan kekasih Elang mengadakan reuni disini? Aku jadi curiga sebenarnya mereka menyukaimu tetapi pura-pura menjadi kekasih Elang” ucap Aisha.


Ale mengangkat kedua bahunya. Terserahlah Aisha menuduhnya bagaimana. Ale lelah menjelaskan jika tetap saja dituduh macam-macam. Ale kembali membaringkan tubuhnya. Rasanya Ale ingin tidur saja jika Aisha terus-terus mengajaknya ribut seperti ini.


Tok..tok..tok...


Aisha beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju pintu dan membuka perlahan. Tampak wajah sumringah Elin muncul di hadapannya.


“Haiii Nyonya Aisha. Maaf mengganggu temu kangennya dengan Ale” ucap Elin cekikikan.


Elin memang sengaja menggoda Aisha yang baru bertemu lagi dengan suaminya. Elin tidak tahu saja bahwa yang terjadi sebenanrnya bukan temu kangen melainkan perang badar.


“Ada apa Jeng Elin?” tanya Aisha malas.


Tawa Elin yang belum juga reda membuat Aisha hampir saja menutup pintu kamarnya.


“Eittssss.. sabar dong Nyonya Aisha. Sudah tidak tahan ya mau kikuk...kikuk... haha..ha...” Elin kembali tertawa kencang.


Ale yang sedari tadi hanya menonton, mau tidak mau harus bangkit agar Elin segera enyah dari kamar mereka.


“Ada apa?” suara bariton Ale menghentikan tawa Elin.


“Aleeee....kau kemana saja? Teganya kau meninggalkan istrimu sendiri. Untung saja ada aku yang menjaganya. Kalau aku lengah sedikit saja pasti istrimu sudah nyemplung ke danau sebelah” ucap Elin yang langsung saja dibalas senggolan kaki oleh Aisha.


“Kau mau apa? Cepat katakan! Aku mau tidur” gertak Ale.


“Sabar dong ah. Aku kesini mau memberi tahu kalau besok malam aku dan Wima akan mengadakan pesta anniversary pernikahan kami yang ke ......” Elin terdiam.

__ADS_1


“Aku sendiri lupa yang ke berapa. ha ...ha...ha....” tawa Elin kembali pecah.


“Sudahlah pokoknya kalian besok datang ya. Jam 6 malam di hotel ABC” lanjut Elin lagi.


“Kenapa tidak di sini Elin?” tanya Ale karena villa Elin sendiri cukup luas jika dijadikan tempat pesta.


“Wima ingin suasana baru. Katanya biar nggak blenger gitu loh. Semua aku undang. Jadi jangan sampai tidak datang ya. Bye...” ucap Elin kemudian pergi dari kamar Ale.


Aisha menutup pintu.


“Tidurlah. Nanti sore kita jalan-jalan. Kita belanja buat acara besok malam” ucap Ale dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur.


Aisha tidak menjawab. Ia segera melangkah menghampiri Ale di kasur. Aisha merebahkan tubuhnya tepat di samping Ale yang sudah tertidur lebih dahulu.


Terdengar dengkuran halus di telinga Aisha. Aisha membalikkan badannya membelakangi Ale dan mencoba untuk tidur. Tidak butuh waktu lama bagi Aisha untuk menyusul Ale menuju alam mimpi.


                                        


_____***_____


Kiara melihat riasan wajahnya yang baru saja selesai dieksekusi Olive. Cantik. Tak ada kata lain yang bisa disematkan untuk Kiara malam ini.


Kiara mengenakan gaun berwarna hijau pemberian Rio yang ternyata sangat pas di tubuhnya. Kiara meminta Olive memoles wajahnya senatural mungkin tapi tetap terkesan elegan. Tak lupa dengan tatanan rambut yang sama saat menghadiri acara pesta ulang tahun Evan.


“Anda cantik sekali, Nona” puji Olive ketika semua tugasnya selesai.


“Ini semua karenamu. Kerjamu selalu membuatku puas” kali ini Kiara memuji balik Olive.


"Apa Nona ingin saya potret?" tanya Olive menawarkan diri.


"Boleh, tapi nanti saja di pantai. Sekarang cepatlah berganti baju. Aku sudah membelikan gaun untukmu. Jangan lupa berdandanlah tapi jangan melebihi kecantikanku” ucap Kiara sambil tertawa.


Olive tersenyum mengangguk. Ia menerima paper bag dari Kiara dan bergegas ke kamarnya untuk berganti baju. Berbeda dengan Kiara yang sudah siap.


Drrrttt...drrtttt....drrttt....  


Ponsel Kiara berbunyi. Kiara segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di nakas. Ia melihat sebuah notifikasi panggilan video dari Dira. Kiara segera menggeser tombol hijau dengan telunjuknya agar tersambung dengan Dira.


“Haloooo Kadirrrrrrrrrr.........” teriak Kiara.


Dira yang mendapat serangan tiba-tiba tentu saja kaget.


“Lu ya bisa nggak sih nyapa gue pelan dikit?” ucap Dira mendengus kesal. Dira memperhatikan wajah Kiara yang penuh denga make up.


“Lu mau kemana? Cakep bener?” tanya Dira.


Kiara tak menjawab pertanyaan Dira. Dia malah berjalan mendekati meja rias dan meletakkan ponselnya di depan kaca.


Kiara berjalan menjauh dari ponselnya agar Dira bisa melihat tampilannya secara penuh. Ia memutar badannya ke kiri dan ke kanan. Lalu kembali melangkah mendekati ponselnya.


Prok..prok..prok...


Dira bertepuk tangan.


“Amazing. Calon CEO memang harus cetar meskipun nggak kemana-mana. Dasar jomblo!! ” ejek Dira.


Kini Dira tertawa cekikikan sedangkan Kiara melotot ke arah Dira.


“Emang elu nggak jomblo? Sesama jomblo nggak usah ngatain!” ucap Kiara dengan bibir mencibir.


“Eh... gue meski jomblo yang ngejar banyak. Elu jomblo...”

__ADS_1


“Yang ngejar juga banyak tapi elu aja yang selalu ngehalangin gue punya pacar" potong Kiara cepat dan tentu saja Dira kembali tertawa.


“Gimana Olive? Bisa ngehandle tugas yang lu kasik?” tanya Dira.


“Yaa so far bisa lah. Pelan-pelan gue juga belum fasih bener sama jobs desk gue" jawab Kiara.


“Sebenarnya gue kurang setuju lu milih Olive jadi asisten lu. Secara dia itu tukang rias. Gue khawatir aja dia nggak bisa. Gue sih ada kandidat buat lu tapi gue takut lu nggak nyaman" ucap Dira.


“Nggak perlu! Gue udah nyaman sama Olive. Gue sama dia sama-sama belajar. Lama-kelamaan Olive pasti bisa. Lu tenang aja, Kadir" ucap Kiara menepis keinginan Dira.


“Sepertinya tukang pukul lu itu yang harus ditarik. Gue nggak nyaman ada dia" ucap Kiara lagi.


“No!!! Sampai kapanpun dia tetap disana. Lu cewek, asisten lu cewek. Nanti kalau ada apa-apa siapa yang jagain kalian?” kali ini Dira menolak permintaan adiknya.


“Emang gue mau kemana sih? Jadi CEO di Jakarta aja bukan perang ke perbatasan juga" ucap Kiara berkilah.


“No! Si Mang ujang itu selamanya bakalan sama elu. Itu tugas dia tanpa ada batas waktunya!!!” ucap Dira tidak dapat di bantah.


“Lu nggak kasian apa sama dia ngintilin gue mulu? Dia juga pengen nikah kali? Jangan sampai dia jadi jejaka tua gara-gara tugas nggak jelas dari lu”


Tok..tok..tok...


Kiara menyuruh masuk. Ia sudah tahu jika Olive yang mengetuk pintu kamarnya. Olie masuk dengan gaun warna nude pemberian Kiara. Ia membiarkan rambutnya terurai karena memang rambutnya hanya sebahu. Make up Olive juga natural.


“Asisten lu kok cantik begitu?” tanya Dira.


Dira mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali melihat penampakan Olive dari layar ponselnya. Ia langsung terpukau dengan penampilan Olive. Dira memang tidak pernah bertemu Olive sebelumnya. Meskipun Olive bekerja di tempat Evan bahkan sekarang ditugaskan menjadi stylist pribadi Kiara.


“Udahhhh jangan lama-lama liatnya. Nanti naksir!!” Kiara kini menggeser ponselnya agar Dira tidak melihat Olive.


Olive mengerutkan keningnya. Ia memang tidak paham jika Dira dan Kiara berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


“Nona Kiara, apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Olive sambil membungkukkan badannya.


Kiara mengangguk dan menyuruh Olive menunggu di luar. Tukang pukulnya sudah menunggu mereka di mobil. Olive membungkukkan kembali badannya untuk pamit. Sedangkan Kiara masih melanjutkan obrolannya dengan Dira.


“Lu mau kemana sih sama Olive?” tanya Dira mulai khawatir.


"Jangan-jangan mereka mau mencari pacar" pikir Dira.


“Gue mau ke wedding anniversarynya Jengkelin sama Wima. Udah ya gue tutup telponnya. Kasian Olive sama tukang pukul lu nungguin gue” ucap Kiara.


Dira mengangguk. Kiara segera melambaikan tangan dan mengakhiri panggilannya. Kiara mengambil tas yang sesuai untuk ia pakai. Kiara dengan cepat memasukkan ponselnya dan keluar dari kamarnya. Kiara melangkah dengan cepat menyusul Olive di luar.


Tak lupa Kiara meminta Olive memotretnya di pantai sebelum mereka berangkat.


Cekrek..


Cekrek..


Cekrek..


Olive mengambil foto Kiara beberapa kali. Kiara tersenyum melihat hasil jepretan Olive yang tak kalah dengan Rio.


Puas berfoto. Mereka bergegas masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke hotel ABC menghadiri undangan Elin.


haii readers... terima kasih sudah setia membaca ceritaku " pilihan hati kiara"


jangan lupa jadikan favorit cerita ini yaa...


like koment dan vote kalian sangat author harapkan. karena itu semua adalah penyemangat author untuk terus berkarya.

__ADS_1


happy reading....💓💓💓


__ADS_2