Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 77


__ADS_3

" Katakan sama Mama, siapa pria bule itu?!" ucap Widya tegas sembari meletakkan segelas kopi panas di hadapan Dira.


Widya menatap tajam pada anak sulungnya, meminta jawaban dengan cepat tanpa harus di tanya berulang-ulang. Sejak kedatangan pria bule ke kamar rawat Kiara, banyak pertanyaan yang muncul di kepala Widya. Belum sempat terjawab, Widya malah disuguhkan adegan drama sinetron.


" Diraaaaaaa...." panggil Widya.


Dira menghela nafas panjang sambil menutup mata. Ia menyesap kopi panasnya sedikit dan memilih menempelkan kepalanya di atas meja dari pada menjawab pertanyaan Widya.


" Dira Putra Sanjaya !!!" Widya berteriak.


" Iya, Mamae....." Dira kembali mengangkat kepalanya dengan malas.


" Jawab pertanyaan Mama!!! "


" Iya, Mamae...."


" Kamu jangan iya iya aja " Widya kembali menjewer telinga Dira membuat Dira meringis.


" Siapa pria bule tadi? Kenapa kamu bisa bertengkar dengan dia?," tanya Widya.


Dira kembali menghela nafas panjang sembari menghitung kancing, menentukan akan menjawab jujur apa tidak pada Widya.


" Diraaaaaaa......." Widya yang mulai tidak sabar, berteriak tepat di telinga Dira. Dira yang sibuk melamun menghitung kancing tentu saja kaget.


" Apa sih, Mamae...? Bikin kaget aja. Iya Dira jawab. Pria bule itu fotografer. Kiara dulu pernah jadi model dan dia jadi fotografernya. Dia naksir Kiara. Tiap saat mesti curi-curi kesempatan biar bisa mepet sama Kiara."


Widya mengerutkan keningnya.


" Salahnya dimana? Kiara kan saat itu belum ada pasangan?," tanya Widya membuat Dira semakin malas untuk menjelaskan.


" Salahnya dia itu playboy, Mamae. Dira nggak mau Kiara nanti cuma dimainin sama dia. Kiara datang ke New York karena patah hati. Dira nggak mau dia tambah patah hati lagi."


" Si bule itu playboy? Ah kamu becanda. Wajah polos, imut dan menggemaskan seperti itu, kamu bilang playboy? Hahahahaha... Kamu pasti salah sangka, Dira."


Dira mengangkat bahunya. Ia kembali menyeruput kopinya yang kini sudah tidak sepanas lagi.


" Andai Mama punya anak gadis lagi. Mama tidak menolak punya menantu kayak si bule hahahahaha...," ucap Widya yang membuat Dira semakin kesal.


" Dira nggak sudi punya ipar kayak Dira. Mending Mama coret nama Dira di kartu keluarga kalau manusia brengosan itu jadi ipar Dira."


Plak..


"Ngomong kok nggak di rem."


Widya menepuk mulut Dira. Ia geram dengan anak laki-lakinya yang sering saja berbicara ngelantur tanpa di rem. Andai saja ada penjual remote yang bisa mengontrol mulut Dira, pasti Widya akan membelinya.


" Kamu ada dendam apa sama pria bule itu? Ngaku sama Mama. Jangan coba-coba menutupi sesuatu dari Mama!"


" Mama sejak kapan jadi cenayang?," goda Dira membuat Widya kembali memukul mulutnya.


" Apa dia ada hubungannya dengan Alisa?," tanya Widya.


" Alisa? Alisa siapa, Mamae?," tanya Dira balik.


" Ya nggak taulah Alisa yang mana. Mama hanya asal sebut saja," kata Widya yang sukses membuat Dira hampir naik pitam.

__ADS_1


Keadaan hening, hanya helaan nafas panjang yang terdengar dari Dira dan Widya.


" Apa Dira belum bisa melupakannya?," tanya Widya kembali membuka obrolan.


" Melupakan? Melupakan siapa, Mamae???," tanya Dira tak mengerti.


Widya membuka dompetnya. Ia mengambil sesuatu dari sana dan menyodorkan ke hadapan Dira.


" Perempuan itu. Alisa," ucap Widya dengan nada berat.


Dira mengambil sebuah foto yang disodorkan Widya. Tubuhnya langsung menegang ketika melihat siapa yang berada dalam foto tersebut.


" Mama dapat dari mana foto ini?," tanya Dira dingin.


" Sam. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Widya tak kalah dingin. Ibu dan anak ini benar-benar sedang terlibat dalam pembicaraan serius.


" Benarkan perkataan Mama? Pria bule itu ada hubungannya dengan Alisa?," tanya Widya lagi dan kali ini tatapan Widya semakin mengintimidasi Dira.


Dira mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Widya sepertinya benar-benar menginginkan Dira untuk bercerita tentang masa lalunya. Dira ingin mengatakannya tapi hati dan mulutnya terasa berat untuk mengakuinya.


" Apa Alisa pergi gara-gara pria bule itu?," tebak Widya yang membuat Dira semakin merasakan sakit di jantung dan hatinya.


" Apa Alisa selingkuh dengan pria bule itu?"


" Apa Al..."


" Mama....!!! Stop it!!!" teriak Dira dan dia dengan reflek berdiri sambil menggebrak meja.


" Dira tidak mau bahas perempuan itu. Dira muak, Ma. Dira muak!!!," kata Dira memberikan penekanan pada kata muak.


" No, Mama!!! No...!!! Sakit ini tidak mungkin Dira lupakan. Perempuan hina itu dan laki-laki keparat itu harus menerima pembalasan yang setimpal dari Dira. Harus, Ma!!! Harus !!!"


" Hentikan ,sayang! Hentikan! Jangan biarkan dirimu dikuasai dendam! Ikhlaskan. Berfikirlah positif. Anggap saja ini adalah jalan yang terbaik dari Tuhan untukmu. Lupakan dan mulailah membuka lembaran baru."


" Dira nggak bisa, Ma."


" Dira pasti bisa. Dira, anak laki-laki Mama yang hebat. Dira juga tampan dan rupawan. Mama nghak pernah lupa dengan ucapan Dira. Dira harus jadi pribadi yang juga memiliki hati yang tampan. Mulai sekarang Mama mau Dira memaafkan pria bule itu. Alisa dan pria bule itu memang menorehkan luka padamu. Tapi jadikan itu pelajaran dan ambil hikmahnya. Dira mau kan berjanji sama Mama?,"


Dira menunduk, mencerna ucapan Widya yang memang benar adanya. Selama ini Dira menyimpan dendam pada Rio. Dendam tak berkesudahan. Dendam yang membuatnya melakukan apa saja agar bisa membalas sakit hatinya.


" Dira...." panggil Widya.


" Iya, Mamae..."


" Mama menunggu janji Dira."


" Iya, Mamae..."


" Iya apa?,"


" Dira berjanji akan memaafkan dua manusia itu," ucap Dira dengan cepat.


" Kurang tulus," kata Widya.


" Apa perlu Dira belah dada ini agar Mama bisa percaya?," goda Dira berpura-pura hendak membuka bajunya.

__ADS_1


Widya tertawa. Ia kembali memukul mulut Dira yang memang sering mengucapkan kalimat konyol yang membuatnya terkekeh geli.


" Ngomong-ngomong apa Paman Sam menceritakan semuanya pada Mama?," selidik Dira.


" Tentu saja. Sam selalu melaporkan apapun pada Mama jika itu menyangkut Dira. Termasuk ketika Dira patah hati dan tidak bekerja selama sebulan lebih," Widya terkekeh membuat Dira malu-malu kucing.


" Tapi ngomong-ngomong lagi nih, Mamae..."


" Apalagi sih Dira?," tanya Widya heran.


" Perempuan yang di foto itu bukan Alisa tapi Veronica ha ha ha ha... Mamae salah orang," tawa Dira pecah.


" Apa-apaan kamu? Sam bilang gadis itu namanya Alisa kok," kata Widya tidak suka ditertawakan oleh anaknya.


" Namanya Veronica, Mamae... Kalau Alisa itu sekretaris pribadinya Paman Sam. Ciye... Mamae salah orang," goda Dira. Ia menoel-noel pipi Widya dengan jahilnya.


Widya menepis tangan Dira yang masih saja menggodanya. Mereka bercanda tanpa memperhatikan jika ada seseorang sedang berjalan akan melewati meja mereka dan


Brug...


Prangg...


Widya tidak sengaja mendorong Dira dan Dira menyenggol seseorang yang sedang membawa makanan. Akibat Dira menyenggol orang itu, orang itu terjatuh sehingga piring yang di bawanya pecah.


" Aiisssss.... Maaf," Widya berteriak panik ketika melihat seseorang yang menjadi korban adalah Dokter Athalia. Widya segera bangkit dan dan melangkah membantu dokter itu bangkit.


" Dira... kenapa diam saja?? bantu Bu Dokter bangun!," teriak Widya dengan nada panik yang masih on sedangkan Dira yang disuruh malah berada dalam mode malas.


Dira membantu Dokter Athalia bangun. Ia juga memanggil OB untuk membereskan pecahan piring yang bercecran di lantai.


" Maaf ya, bu dokter. Aduh.... gara-gara saya becanda dengan Dira, dokter kena senggol deh," ucap Widya.


Athalia tersenyum. Jangankan disenggol, ditabrak oleh anak Bu Widya pun dirinya rela.


" Dokter tidak apa-apa kan? Kalau ada yang sakit, mari kita ke...."


" Mamae... jangan berlebihan! Dira hanya menyenggolnya. Lagipula yang pecah hanya piringnya bukan badannya," ucap Dira santai dan itu sukses membuat Widya memukul mulut Dira untuk kesekian kalinya.


" Jaga omongan kamu, Dira!" bentak Widya membuat Dira membuang mukanya.


" Saya tidak apa-apa, bu," Dokter Athalia akhirnya buka suara, menjadi penengah agar keributan ibu dan anak itu tidak berlanjut.


Dira berdecih. Dalam hati ia mengumpat mengapa selalu bertemu dengan dokter aneh ini? Rumah sakit ini luas dan Dira tidak selalu berada di tempat ini. Namun, entah mengapa Tuhan selalu mempertemukan mereka? Jika hanya kebetulan? tidak mungkin sesering ini. Dira menduga jika dokter itu menguntit Dira.


" Permisi," kata Dira kemudian berlalu meninggalkan Widya dan Athalia yang masih berbasa-basi. Dira tidak mau di jewer lagi oleh Widya karena pergi nyelonong begitu saja.


Widya yang melihat Dira meninggalkan mereka, tentu saja merasa tidak enak hati pada Athalia. Widya meminta maaf atas tingkah Dira dan pamit untuk menyusul Dira. Widya berlari mengejar langkah Dira sedangkan Athalia hanya bisa tersenyum menatap kepergian mereka.


**Jangan lupa baca doa sebelum baca,


like dan komen setelah baca.


terima kasih reader


sambil nunggu kiara up lagi. Yuk mampir di novel teman othor. fresh from the oven. Ceritanya nggak kalah menarik lho. buruan**

__ADS_1



__ADS_2