Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
episode 23


__ADS_3

Labuan Bajo, NTT, Indonesia


Kiara merentangkan kedua tangannya ketika kedua kakinya menginjak tanah Labuan Bajo. Pulau yang disebut sebagai surga dunia itu rupanya memang benar. Kiara berkali-kali menarik nafas panjang, merasakan segarnya udara alam di tempat itu. Sangat jauh berbeda dengan NY, gumam Kiara.


Ponsel Kiara berdering. Tanpa melihatpun Kiara sudah tahu siapa yang yang menghubunginya. Kiara segera menggeser tombol hijau dan benar saja suara Dira langsung menyapa telinga Kiara.


“Gue sudah sampai...”


“...................................”


“Gue sudah paham. Lagi pula tukang pukul lu masih disini dan dia yang akan bawa gue kan?. Padahal gue udah minta kalau nggak usah bawa tukang pukul”


 “....................................”


“Berhenti berbicara karena gue sudah hatam dengan apa yang harus gue lakukan. Jangan hubungi lagi. Gue mau liburan dulu. Bye!!!”


Kiara mematikan sambungan telpon dan memberikan ponselnya kepada pengawal yang memang datang bersamanya ke Labuan Bajo.


“Buang ponsel itu! Saya mau tenang tanpa gangguan disini" ucap Kiara kemudian melangkah masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kiara membuka jendela mobil. Ia ingin menyapa Labuan Bajo lewat angin sepoi-sepoin yang menyambutnya. Kiara memejamkan mata membiarkan angin menerpa wajahnya dengan bebas. Setelah puas bermain dengan angin luar, Kiara kembali menutup jendela mobil.


Mobil yang membawa Kiara berhenti di sebuh villa yang terletak di dekat pantai. Villa ini sangat indah. Banyak bunga beraneka warna yang ditanam di halaman depan. Terdengar suara musik angklung dari dalam villa.


Kiara turun dari mobil. Ia memakai kacamata hitam agar telihat keren. Lama di NY sepertinya membuat Kiara sedikit ketularan Dira yang menjaga imagenya.


Seorang wanita baruh baya menyambut Kiara. Wanita itu berumur hampir 50 tahun tetapi aura awet mudanya masih ada. Tingginya lebih pendek dari Kiara, berambut hitam sebahu dengan tahi lalat besar di bawah hidungnya sebelah kanan. Wanita itu membawa kipas yang mungkin menjadi ciri khasnya.



Jeng Elin,


“Anda pasti Nona Kiara kan?" tanya wanita itu lalu tertawa.


Suara tawanya sangat keras bahkan bisa mengalahkan suara speaker masjid. Kiara meringis mendengar suara wanita itu yang lebih mirip dengan polusi suara.


“Perkenalkan! Saya Cereline. Biasanya dipanggil Jeng Eline” ucap wanita itu.


“Jeng kelin??” tanya Kiara.


“Jeng ELIN, Non...!!!” ucapnya membetulkan Kiara.


“Tuan Adiraka sudah mengatakan jika Nona akan menginap di villa saya selama seminggu. Saya sudah menyiapkan kamar yang baling pagus untuk Nona. Mari ikut saya!” ajak Elin.


Kiara berjalan di belakang Jeng Elin. Dia dibuat terpesona dengan villa milik Elin. Luas dan penuh dengan kamar yang terpisah satu dengan yang lain. Elin terus berjalan sambil menunjukkan beberapa ruangan di villanya. Kiara yang masih terpesona dengan villa Elin rupanya mengacuhkan Elin.


Langkah Elin terhenti di depan sebuah kamar yang letaknya paling ujung. Elin membuka pintu kamar dan mempersilakan Kiara untuk masuk. Kiara melangkah masuk ke dalam kamarnya dan ia lagi-lagi terpukau melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Kiara bisa melihat pantai melalui jendela kamarnya.


“Saya harap Nona suka dengan kamar ini. ha...ha...ha..” ucap Elin dan kembali tawa kerasnya muncul. Entah hal apa yang membuat Elin tertawa karena menurut Kiara tidak ada yang lucu disini.


Kiara mengangguk dan meminta Elin keluar. Kiara ingin beristirahat karena badannya benar-benar lelah. Selain itu matanya ingin menikmati pemandangan pantai tanpa polusi suara Elin. Elin menurut. Dia menyerahkan kunci kepada Kiara dan pamit pergi.


Kamar tanpa AC, hanya ada angin semilir yang masuk melewati jendela kamar Kiara. Kiara benar-benar menikmati suasana kamarnya yang sangat nyaman. Baru beberapa menit disini, rupanya Kiara sudah betah tinggal disini.


Kiara menjatuhkan badannya ke kasur empuk yang tidak terlalu luas. Dalam hitungan detik Kiara sudah terbawa ke alam mimpi. Seutas senyum terbit dari bibir Kiara tanpa ia sadari.  Mungkin Kiara saat ini sedang mimpi indah.


                       _____ ***_____


“Mas... kau benar-benar membawaku kesini?” tanya Aisha tak percaya.

__ADS_1


Berkali-kali Aisha menepuk-nepuk pipinya, ingin memastikan jika apa yang di alaminya saat ini adalah nyata.


Ale berjalan menghampiri Aisha. Dia berdiri di belakang Aisha. Tangannya melingkar di pinggang Aisha dengan manja.


“Bukankah ini yang kau mau?" bisik Ale di telinga Aisha.


Ale mengajak Aisha memasuki villa yang sudah ia pesan sebelumnya. Rencananya, Ale dan Aisha akan menginap selama seminggu di Labuan Bajo. Pemilik villa menyambut Ale dan Aisha dengan tawa keras khasnya. Ya... rupanya Ale dan Aisha juga menginap di villa milik Elin.


“Jeng, bisakah menyambutku dengan volume yang lebih rendah dari ini?” tanya Ale.


Ale dan Elin sudah lama kenal karena memang Ale pernah menginap beberapa kali di villa milik Elin.


“Alexander, My baby, beginilah aku dengan segala kelebihanku. Janganlah kau meminta kekuranganku karena aku tak akan mengabulkannya. Ha ha.. ha..” tawa Elin kembali pecah.


Ale dan Aisha serempak menutup telinga. Elin tertawa tidak mengenal spasi. Elin baru berhenti tertawa ketika dia mulai terbatuk.


“Jeng, kami sudah lelah. Bisakah kau menunjukkan kamar kami?” tanya Ale. Ia tidak akan kuat jika terus berada bersama Elin. Bisa rusak gendang telinga Ale dan Aisha jika mereka masih bersama Elin.


Elin mengangguk dan segera melangkah menuju kamar yang akan di tempati Ale dan Aisha. Pasangan itu mengikuti Elin dari belakang. Sama ketika bersama Kiara, Elin menjelaskan beberapa ruangan. Namun baru menjelaskan satu kalimat, Ale sudah mencegahnya karena Ale sudah paham mengenai villa Elin.


“Ini kamar kalian"


Elin membuka pintu dan mempersilakan Ale dan Aisha masuk. Kamar ini adalah kamar yang selalu di pesan Ale ketika menginap di villa Elin. Aisha memperhatikan detail kamar itu. Luas dan bersih.


“Jeng, sepertinya kau boleh pergi. Kami ingin beristrahat" usir Ale membuat Elin merengut.


“Paham...!!! Ada yang tidak sabar mau buat anak ha ha ha...”


Elin kembali tertawa dan berlalu dari kamar Ale dan Aisha. Elin tahu bahwa Ale dan Aisha belum memiliki anak meskipun mereka sudah lama menikah. Ale menutup pintu dengan cepat.


“Kenapa buru-buru di tutup Mas? ” tanya Aisha heran.


“Bagaimana kau suka villa ini?” tanya Ale pada Aisha.


Aisha mengangguk.


“Tempat ini sangat indah. Terima kasih, Mas” ucap Aisha memeluk Ale.


“Aku harap hatimu bahagia di sini. Nikmati honeymoon kita" ucap Ale membuat Aisha tersenyum.


Ale menyuruh Aisha mandi dan beristirahat. Karena akan banyak kegiatan menyenangkan yang akan mereka lakukan nanti.


                     ___****___


   


Tok...tok....tok...


Suara ketukan pintu dari luar membuat Kiara terbangun. Kiara bangkit, mengumpulkan rohnya yang entah berhamburan kemana saat ia tidur.


Rupanya Kiara sangat lelah hingga tertidur sangat lama. Kiara berjalan kearah pintu kamar dan membukanya dengan malas.


“Nonaa.............!!!” suara kencang Elin membuat Kiara kaget.


“Ada apa Jeng kelin?" tanya Kiara. Beberapa kali ia menguap.


“ELIN, Nona...ELIN” ucap Elin membenarkan panggilan Kiara.


“Iya, BELING. Ada apa ketuk-ketuk pintu kamarku?” tanya Kiara.

__ADS_1


Kiara tetap salah menyebut nama Elin. Elin menyipitkan matanya pertanda kesal dengan gadis di depannya itu.


“Waktunya makan siang, Nona" ucap Elin memberi tahu.


“Makan siang? Memangnya sudah jam berapa?," tanya Kiara gelagapan.


“Ini sudah jam 12 siang, Nona. Tuan Adiraka berpesan kalau Nona Kiara tidak boleh telat makan" ucap Elin lagi.


Kiara mengangguk dan meminta Elin pergi dahulu. Kiara ingin mandi dulu. Sejak tiba di Labuan Bajo, Kiara belum membersihkan badannya. Kiara menutup pintu dan bergegas ke kamar mandi.


Kiara mandi dengan cepat dan segera mengambil pakaian yang ada di kopernya. Gara-gara langsung tertidur, Kiara belum sempat memindahkan baju-bajunya ke lemari. Kiara mengenakan celana jeans pendek selutut dan kaos putih. Kiara menyisir rambutnya dan mengikat asal. Ia menyapukan bedak tipis dan tak lupa lipsgloss di bibir mungilnya.


Kiara keluar kamar menuju ruang makan. Tadi Elin sempat memberitahu ulang letak ruang makan. Kiara  berjalan santai dengan bersandal jepit. Ruang makan tinggal beberapa meter. Kiara dapat melihat banyak orang duduk berhadapan di sebuah meja yang panjang. Elin melambaikan tangan begitu melihat Kiara. Kiara mengangguk pertanda memahami panggilan Elin. Elin berdiri dan segera menarik kursi kosong di sebelahnya.


“Silakan duduk, Nona!” ucap Elin.


Kiara tersenyum dan duduk. Kiara tidak memperhatikan orang-orang yang berada satu meja dengannya. Elin memberikan piring pada Kiara. Kiara menerima dan mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Kiara mulai makan perlahan.


“Nona, ini Wima. Suami saya” ucap Elin memperkenalkan laki-laki botak yang duduk di sebelahnya.



Kiara tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat pada Wima.


“Nona, orang-orang ini juga menginap di villa saya. Sudah kebiasaan para tamu yang menginap di sini akan makan siang bersama jika mereka tidak jalan-jalan keluar" ucap Elin lagi menjelaskan.


Kiara yang awalnya hendak menyuapkan makanan, membatalkan keinginannya. Sebagai bentuk sopan santun, Kiara mengedarkan pandangannya sambil tersenyum kepada tamu yang lain.


Senyuman Kiara sirna ketika melihat sosok yang sedang minum jus jeruk yang tak jauh dari hadapannya. Ia membeku. Kiara tidak mungkin melupakan sosok itu. Sosok itu meletakkan gelas yang isinya sudah tandas dan menatap ke arah Kiara.


 “Om   A  le...” ucap Kiara terbata.


 “Ara?? Kau Ara kan ??” Ale menatap Kiara tak percaya.


Hening. Kiara tak mampu menjawab pertanyaan Ale. Hatinya kembali berdesir. Kiara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dengan sosok di hadapannya.


Sosok yang membuatnya harus pergi ke NY. Sosok yang selalu dia tangisi diam-diam tanpa pengetahuan Dira. Sosok yang tak pernah bisa dia lupakan.


Ale dan Kiara tetap saling menatap tanpa suara. Hal itu membuat Aisha bereaksi. Aisha melihat ada yang tidak beres dengan tatapan Ale pada Kiara. Aisha menyenggol lengan Ale hingga membuat Ale terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Aisha.


“Wah... Ale, kau kenal dengan Nona Kiara?" tanya Elin memecah keheningan.


Ale mengangguk sambil tertawa garing. Aisha semakin geram melihat tingkah suaminya itu. Ia cemburu. Aisha mencubit lengan Ale dengan kesal. Ale mengaduh mendapat serangan bertubi-tubi dari Aisha.


“Apa sih sayang kok main cubit-cubit?” ucap Ale pada Aisha.


Kiara menatap pada Aisha. Diamatinya Aisha lekat-lekat.


“Cihhh... jadi begini seleramu, Om? Kampungan" umpat Kiara dalam hati.


Kiara membuang wajahnya. Ia tidak menanggapi Ale dan lainnya. Kiara berpura-pura bersikap cuek, terus menyendok makanannya dalam diam. Meskipun Elin mencoba berbicara kepadanya, Kiara hanya menanggapi dengan senyuman. Kiara segera menghabiskan makanannya dan pamit kembali ke kamarnya.


"Sepertinya aku ingin bermain denganmu, Om Ale" gumam Kiara diselingi seringai liciknya.


happy Reading....


jangan Lupa, Like, Vote dan Komen


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2