
Kiara berkali-kali menunduk dengan wajah yang sudah memerah melebihi buah tomat. Kedua netranya merasa risih melihat pemandangan yang tersaji tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ya, Kiara, Olive dan Evan baru saja tiba di tepinpantai hendak menghampiri Rio yang sedang melakukan pemotretan dengan model-model yang sedang berbusana bikini.
Model-model itu bergaya memamerkan lekuk tubuhnya dalam balutan kain yang menurut Kiara lebih cocok di pakai anak TK. Sexy, begitulah kesan yang mereka perlihatkan sehingga tak jarang membuat para lelaki yang melintas di sekitar mereka menelan ludah.
Kiara mencuri-curi pandang ke arah Rio, mengamati bagaimana ekspresi pria itu. Jika laki-laki yang riwa-riwi melintasi mereka harus menelan ludah lalu bagaimana dengan Rio yang melihat pemandangan itu secara eksklusif?
"Kenapa Nona?" tanya Olive seakan paham akan ketidak nyamanan Kiara.
"Mereka apa tidak malu berpakaian seperti itu di tempat umum? Lihatlah dari tadi banyak laki-laki yang menatap jahil kearah mereka" bisik Kiara pada Olive.
"Nona, ini kan pantai. Sudah sepantasnya mereka berpakaian seperti itu. Lagipula mereka sekalian berjemur agar kulitnya kecoklatan. Sinar matahari di pulau ini sangat bagus. Jadi jangan heran kalau model-model saya berpakaian seperti itu" jawab Evan mewakili Olive menjawab pertanyaan Kiara.
"Andai disini tidak ada larangan seperti di Miami, pasti model-model saya akan memilih polos seluruh badan biar cokelatnya merata. Hahahaha" lanjut Evan yang membuat Kiara semakin malu mendengarnya.
Evan berjalan mendekati Rio yang tampak fokus membidik model-model bawahan dalam kameranya. Kiara heran mengapa tidak ada rasa risih sedikitpun yang nampak pada wajah Rio. Sejak tadi Kiara melihat banyak sekali laki-laki yang menatap mereka dengan tatapan menggoda bahkan ada yang sampai mengeluarkan air liur. Namun, Rio sepertinya biasa saja padahal dia berada di posisi VVIP yang bisa melihat tubuh model-model itu dalam jarak dekat dan lama.
"Kenapa?" tanya Rio yang menghentikan aktifitas memotretnya karena tepukan Evan di bahunya.
" Ada Nona Kiara?" bisik Evan.
Rio mengangguk. Ia meminta break sebentar pada model-model itu, memberi waktu pada mereka untuk berjemur lagi atau sekedar makan dan minum.
"Hai, Nona Kiara" sapa Rio dingin.
"Hai, Rio" Kiara balik menyapa dengan canggung.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena pernikahan Nona batal sedikit banyak juga karena saya. Andai saja nenek tunangan Anda tidak salah paham, mungkin dia tidak akan semarah itu" ucap Rio tetap dengan mode dinginnya.
Evan yang mengerti suasana di antara mereka sedang tidak enak segera mengambil tindakan. Setidaknya Rio dan Kiara tidak berbicara layaknya patung manequin koleksinya.
"Boy, sudah! Jangan mengingatkan Nona Kiara tentang hal menyedihkan itu! Nona Kiara kesini untuk melupakan kesedihannya bukan?" kata Evan mencoba mencairkan suasana.
"Oh iya besok Nona Kiara ingin melakukan pemotretan dengan gaun pengantin, Boy. Sebaiknya kau mulai mencari lokasi yang tepat" sambung Evan lagi.
"Pemotretan dengan gaun pengantin? bukankah pernikahannya batal?" tanya Rio.
"Pemotretan kan tidak harus jadi nikah kan, Boy" kali ini Olive menjawab pertanyaan Rio dengan ekspresi ingin mencakarnya.
"Oh, begitu" sahut Rio pendek.
Beberapa model berteriak memanggil nama Rio. Rupanya mereka ingin melanjutkan pemotretan. Hari mulai beranjak petang, dan itu akan menampilkan efek yang bagus jika di potret.
"Aku harus kembali bekerja. Saya berjanji akan segera mencari lokasi pemotretan Nona Kiara setelah pekerjaan ini selesai" ucap Rio dan berlalu menghampiri model-model sexy nya.
"Kita kembali ke penginapan" ucap Kiara dan berjalan tanpa pamit ke pada Evan.
Olive dan Evan saling menatap heran dengan tingkah dua manusia yang kompak pergi tanpa permisi kepada mereka. Olive segera berlari mengejar Kiara tak lupa ia melambaikan tangan ke arah Evan sebagai ucapan perpisahan.
__ADS_1
"Ada apa Nona?" tanya Olive ketika langkahnya sudah sejajar dengan Kiara.
"Tak apa. Aku hanya ingin kembali ke penginapan" ucap Kiara tak mau berterus terang.
"Apa ini ada kaitannya dengan sikap Rio tadi?" tebak Olive dan memang itu yang sedang dipikirkan Kiara.
"Dia bersikap dingin padaku" kata Kiara sedih.
"Jangan diambil hati, Nona. Besok Rio pasti sudah kembali bersikap seperti biasa pada Nona. Nanti saya akan bicara dengannya" ucap Olive yang dibalas Kiara dengan gelengan kepala.
"Jangan! Biarkan dia bersikap seperti itu padaku. Itu lebih baik" ucap Kiara kemudian berlari menuju ke kamarnya tanpa menunggu Olive.
****
"Kenapa baru diaktifkan ponsel lu, Kiarang sarang burung????" teriak Dira ketika akhirnya ia berhasil menghubungi Kiara.
Sejak panggilan video mereka tadi siang, Kiara memang sengaja mematikan ponselnya agar tidak dihubungi Dira. Kiara sudah bisa menebak kakaknya yang sedang mabuk itu pasti akan sering menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Olive. Kiara sempat menanyakan kepada Olive mengapa dia tidak mengisi daya ponselnya dan Olive berkilah bahwa dia lupa membawa charger.
Olive memang sengaja membiarkan ponselnya mati agar terbebas dari Dira yang sudah selalu saja menghubunginya sejak mereka bertemu di butik Ivana. Tak ada obrolan diantara mereka, hanya Dira yang sibuk menatap wajahnya berlama-lama lewat layar ponselnya. Olive merasa juga merasa bosan jika hanya diam melihat ekspresi wajah konyol atasannya tanpa ada obrolan diantara mereka.
"Lu denger nggak sih gue ngomong apa???" Dira kembali berteriak karena Kiara tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Kiara mendengus kesal. Kakaknya itu bukannya mengucapkan salam atau menanyakan kabarnya, tapi malah berteriak seperti orang kesetanan. Kiara mengarahkan layar ponselnya ke dahi.
"Dahi jenong...!!!! Jawab pertanyaan gue!!!" teriak Dira dan kali ini teriakan Dira membuat ponsel Kiara bergetar hebat dan nyaris jatuh jika Kiara tidak cepat menangkapnya.
"Resek lu, Kadir"
"Kemana aja lu? Kenapa ponsel mati?" tanya Dira dengan ekspresi melotot maksimal.
"Jalan-jalan, ketemu Evan, lihat-lihat gaun, dan... biasalah gue ngegibah sampai jam segini" jawab Kiara santai tanpa merasa bersalah.
"Lu ngegibah apaan sama mereka? udah kayak infotainmen aja lu suka ngegibah" sindir Dira yang dibalas Kiara dengan menjulurkan lidahnya.
"Eh ngomong-ngomong kenapa lu belum siap-siap?" tanya Dira ketika ia sadar jika Kiara sedang memakai T-shirt saat ini.
"Siap-siap kemana?"
"Lu masih tanya siap-siap kemana? Lu kan ada undangan mewakili gue ke acara pemilihan putri-putri itu lho. Lu kan ketemu Evan, masak dia nggak ngomong sih sama lu?" tanya Dira kembali dalam mode kesalnya.
"Udah ngomong sih tapi gue malas"
"Malas? Eh lu itu tamu VVIP ya. Lu nanti mewakili gue untuk menyerahkan hadiah kepada salah satu pemenang. Enak aja lu bilang malas. Lu nanti masuk tipi, Kiaraaaaa. Bahkan gue udah stand by di depan tipi sejak tadi sore" kata Dira tetap saja emosi.
"Bodo amat. Yang diundang elu, koq gue yang disuruh datang?"
"Soalnya gue kan di Jakarta. Lu itu gue kirim kesana, salah satunya untuk mewakili gue ke acara itu"
"Ya udah, lu aja buruan kesini" sahut Kiara cepat dan itu tentu saja membuat Dira makin naik darah.
__ADS_1
"Gue masih ada tugas negara. Tugas gue melawan Syarmila belum selesai. Lagian apa susahnya sih kesana sekarang? mumpung masih ada waktu. Sana cepat ganti baju! Lu nanti bakalan masuk tipi saat menyerahkan hadiah. Jangan lupa tuh dadah dadah ke kamera biar wajah lu ke zoom nanti" ucap Dira yang membuat Kiara semakin malas untuk datang ke acara itu.
"Bodo amat lah Kadir. Gue nggak minat hadir di acara itu. Lagipula lu mau ngapain sih sama Neneknya Elang? Udah kalau mereka mau batalin, gue sudah pasrah. Lu tarik aja undangan sama hubungin pihak WO buat batalin semuanya" ucap Kiara.
"Apa???? Lu pasrah? Gue aja sebagai panglima perang masih semangat buat berjuang. Masak lu yang diperjuangin bilang pasrah. Cihhh... menyesal aku menulis namamu dalam kartu keluargaku" ucap Dira sambil membuang muka.
"Kadir, ini sudah H-2. Kecil kemungkinan mereka berubah pikiran. Mending lu batalin semuanya sekarang" ucap Kiara dengan raut wajah cemas.
"Kalau gue batalin sekarang, gue bakalan rugi. Pihak WO nggak bakalan ganti rugi 100% uang gue. Gue bayarnya pakai dollar lho, nggak mungkin mereka juga ganti rugi pakai dollar juga" ucap Dira masih saja kesal.
"Kalau lu gagal bagaimana, Kadir? Apa lu mau bikin gue berdiri sendirian dipelaminan?"
"Gampang, biar nanti gue dan si cantik yang gantiin. Gue nggak rugi, dapat istri pula. Duhhhh senangnya..." ucap Dira dan kini raut wajah kesalnya berubah menjadi konyol kembali.
Dira mengambil guling dan memeluknya dengan erat sambil tertawa dengan wajah merah merona. Kiara menjadi geram sendiri. Kiara yakin saat ini kakaknya itu sedang membayangkan berdiri di pelaminan bersama Olive. Andai mereka tidak berjauhan, pasti Kiara sudah menyiram Dira dengan seember air garam agar sadar dari mabuknya.
"Udah berhenti ngehayalnya! Mama nggak bakal setuju lu sama Olive. Inget, lu kan udah di comblangin sama Dokter Athalia"celetuk Kiara membuat Dira kaget dan kembali fokus pada layar ponselnya.
"Lu tahu?"
"Ya tahulah, Kadir. Kalian ngomonginnya di kamar rawat gue. Gue sengaja pura-pura tidur biar bisa nguping" ucap Kiara kembali menjulurkan lidahnya mengejek Dira.
"Itu tidak akan terjadi" kata Dira, tangannya menyugar rambutnya yang baru saja di sisir.
"Kalau Kanjeng Nyai sudah bertitah, emang lu bisa apa? Emang lu mau dikutuk jd kecebong?" kata Kiara asal.
"Lagian lu kepedean. Emangnya tuh Dokter bakalan mau sama elu yang rada nggak waras itu? Dia bakalan mikir 7 hari 7 malem kali" cibir Kiara membuat Dira kembali geram.
"Lah kenapa sekarang malah bahas gue. Udah sekarang lu siap-siap ke acara itu. Jangan bikin gue malu! Gue udah bilang ke pihak penyelenggara kalau lu yang wakilin gue" ucap Dira mulai frustasi membujuk adiknya
"Iya ah, bawel. Gue siap-siap dulu"
"Si Cantik jangan lupa dibawa"
"Hmmm..." jawab Kiara malas.
"Jangan lupa dadah dadah pas masuk tipi" ucap Dira lagi.
"Ogah" ucap Kiara kemudian mematikan ponselnya.
bebeb Elang, Kiara udah siap nih ♡♡♡
si cantik Olive juga siap
__ADS_1
**Abang Kadir merana nggak bisa ngelihat Olive
yuk cuss di like, dikoment, di rate, di vote, di gift. Author says thank you very much**