Pilihan Hati Kiara

Pilihan Hati Kiara
Episode 81


__ADS_3

Dira mengetuk-ngetuk pintu kamar Kiara dengan kencang. Sengaja, karena Dira tahu saat ini Kiara sedang tidur sambil menunggu kedatangan Rio.


" Berisik!!!" teriak Kiara ketika pintu kamarnya ia buka.


Wajah jutek Kiara muncul di hadapan Dira yang berdiri sembari tersenyum tiga jari ke arahnya. Senyum menyebalkan yang selalu membuat Kiara ingin menabok mulutnya dengan bantal.


" Vaston sudah datang," kata Dira sopan layaknya seorang ART yang sedang melapor kepada majikannya.


" Suruh tunggu sebentar. Gue mau mandi," jawab Kiara lalu menutup pintu dengan cepat.


Dira memajukan bibirnya, mencibir tingkah adiknya yang menurutnya kecentilan. Adiknya itu harus mandi dulu untuk ketemu dengan seorang cecunguk yang Dira tidak suka. Buat apa juga?, begitu pikir Dira.


Dira berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Rio yang sedang duduk di ruang tamu. Dira duduk tepat di hadapan Rio sambil menatapnya dengan tajam.


" Bisakah kau menatap lembut kepada seorang tamu?," sindir Rio sembari meneguk teh hangat yang disajikan ART Dira untuknya.


" Aku? Jangan mimpi, Vaston," tawa mengejek Dira muncul.


" Well, sepertinya kau tidak tulus meminta maaf waktu itu"


" Apa kau menilai seseorang tulus atau tidak dari tatapan matanya hah? picik sekali teorimu itu," ucap Dira dengan suara meninggi.


Rio mengangkat bahu. Ia malas saja jika terus meladeni Dira yang menurutnya termasuk dalam katagori manusia tidak jelas. Rio lebih memilih meneguk kembali teh hangatnya darilada berdebat tidak jelas dengan Dira.


" Hai, Rio. Maaf membuatmu menunggu," Kiara menuruni anak tangga dengan setengah berlari.


" Jangan berlari! Nanti jatuh," teriak Dira memperingati Kiara.


Kiara diam. Ia kemudian berjalan perlahan menuruni sisa anak tangga yang tinggal 5 buah itu. Ia berjalan berjingkat-jingkat, perlahan, agar Dira tidak berteriak lagi.


" Kiara, apa kabar?," tanya Rio tersenyum.


" Kabarku baik-baik saja, Rio dan heii apa itu untukku?," tanya Kiara menunjuk buket bunga mawar disamping Rio.


" Tentu saja ini untukmu, cantik," Rio menyodorkan buket bunga mawar itu pada Kiara. Namun, belum sempat Kiara menerimanya, Dira sudah lebih dulu menariknya dengan cepat.


" Kadir...!!!" tegur Kiara.


" Heii Vaston! Kamu mau datang ke sini apa ke pemakaman? pakai bawa bunga seperti ini? Cihhhh," umpat Dira dengan tangan yang hendak melempar bunga pemberian Rio.


Kiara menginjak kaki Dira dan memelototinya. Kiara kesal dengan tingkah Dira yang selalu menyebalkan di hadapan Rio. Baru kemarin Dira mengatakan jika sudah meminta maaf kepada Rio, tapi faktanya hari ini Dira kembali jutek dan bertingkah menyebalkan di hadapan Rio. Benar-benar hanya omong kosong.


" Maaf, kalau perkataan makhluk yang satu ini tidak enak. Bagaimana kalau kita ke taman samping saja? Disana ada ayunan jadi kita bisa berbicara dengan santai," usul Kiara yang tentu saja membuat Dira melotot.


" Apa-apaan lu mau ngajak Vaston main ayunan? Gue laporin Elang ya... biar dia datang sambil ngamuk kesini," ancam Dira yang dibalas sikutan keras di perutnya.


" Lu bisa nggak sih jangan ganggu gue? Gue mau ngomong sama Rio. Lu tidur aja sana," usir Kiara.


" Ngomong disini kan bisa? nggak usah pakai main ayunan segala," Dira tak mau kalah.


" Gue mau suasana yang lebih santai aja, Kadirrrrr. Lu jangan ribut mulu kenapa sih?," ucap Kiara memukul bahu Dira dengan kesal.

__ADS_1


" Lu tuh kecentilan ya, gue laporin Elang. Mentang-mentang dipingit, lu malah main ayunan sama Vaston," ancam Dira lagi.


"Aaarrrggghhhhhh..."


Kiara mendorong tubuh Dira masuk ke kamarnya dan dengan cepat Kiara mengunci kamar Dira agar Dira tidak lagi mengganggunya. Kiara membiarkan kunci itu bergelantungan di daun pintu agar nanti ia gampang jika akan membukakan pintu kamar Dira lagi. Maklum, Kiara kadang lupa. Jadi untuk mengantisipasi Dira tidak terkurung selamanya di kamar. Maka Kiara tidak mencabut kunci kamar Dira.


" Come on!"


Kiara menarik tangan Rio dan mereka berdua berlari menuju taman di samping rumah Kiara.


" Indah sekali," puji Rio ketika melihat banyak sekali bunga-bunga di taman itu. Bunga-bunga itu tampak segar dan Rio dapat mencium wangi bunga itu dengan indra penciumannya.


" Duduk disini," perintah Kiara menunjukkan bangku ayunan sebelah kiri sedangkan Kiara duduk di ayunan sebelah kanan.


Rio menuruti perintah Kiara. Ia mulai mengayunkan ayunannya dengan pelan, mengikuti Kiara yang melakukan hal yang sama. Angin sepoi-sepoi menambah kenyamanan mereka di taman itu.


" Rumahmu sangat nyaman," ucap Rio membuka percakapan.


" Kau suka?"


" Ya, suka sekali. Aku berharap memiliki rumah senyaman ini meskipun tidak sebesar rumahmu"


" Apa rumah ini terlalu besar?," tanya Kiara.


" Tentu saja tidak jika dihuni olehmu dan sepuluh anak-anak kita," jawab Rio membuat Kiara menghentikan gerakan ayunannya.


" Kenapa? Apa aku salah berbicara?," tanya Rio menoleh ke arah Kiara.


" Maaf Rio seharusnya aku mengatakan ini sejak lama," kata Kiara menunduk membuat Rio semakin merasa tidak enak.


" Kau hampir saja celaka karena cintamu padaku. Dira menyiksamu dengan berbagai cara agar kau jauh dariku. Maaf, andai aku tahu. Aku pasti tidak akan membiarkan Dira mengurungmu selama berbulan-bulan," kata Kiara lagi.


" Aku tidak meminta balasan atas cintaku kepadamu, Kiara."


" Tapi cintamu itu membuatmu tersiksa Rio!!!," potong Kiara cepat.


Diam. Baik Kiara dan Rio sama-sama membuang muka ke arah berbeda. Terdengar suara helaan nafas panjang dari keduanya.


" Aku bisa minta tolong?," tanya Kiara kembali membuka percakapan.


" Apa?,"


" Tolong berhenti mencintaiku," kata Kiara yang terdengar seperti petir menyambar di telinga Rio.


" Aku akan menikah dan tidak sepantasnya kau masih menyimpan rasa cintamu padaku. Tolong berhenti mencintaiku dan mulailah membuka hati untuk wanita lain," lanjut Kiara yang kembali membuat Rio membeku.


" Sejak awal kita bertemu, hatiku sudah terisi oleh seseorang tetapi aku tidak menyadarinya. Aku terobsesi pada orang yang salah sehingga tidak menyadari ada cinta di hati kecilku untuk orang lain. Elang, dia datang kembali memupuk cintaku yang memang sudah ada meskipun aku tidak menyadarinya. Elang datang menghapus obsesiku pada orang salah dan dia berhasil menggantinya dengan menumbuhkan rasa cintaku padanya."


" Apakah kau tidak punya sedikit saja rasa cinta untukku?," tanya Rio yang langsung saja di balas gelengan kepala oleh Kiara.


Rio kembali menghela nafas panjang. Sepertinya perjuangan cintanya sudah selesai. Mungkin memang ia dan Kiara tidak berjodoh. Sekeras apapun Rio memaksa, hasilnya tidak akan berubah. Rio harus sadar, jika memang inilah takdir untuknya. Takdir yang memang tidak ia harapkan.

__ADS_1


" Maaf jika aku menyakitimu. Aku harus mengatakan ini agar kau tidak selalu mengharapkan cintaku."


"......"


"......"


"......"


" Aku tahu kau pasti sakit hati. Tapi kau akan lebih sakit lagi jika aku terus membuatmu berharap kepadaku," lanjut Kiara.


Rio berdiri membelakangi Kiara. Ingin rasanya ia berlari jauh, berteriak sekeras mungkin agar semua beban dalam hatinya hilang. Namun, entah mengapa kaki Rio seakan kaku sehingga membuatnya hanya berdiri mematung membelakangi Kiara. Bodoh! umpat Rio dalam hati.


" Boleh aku minta satu permintaan?," tanya Rio dengan posisi tetap membelakangi Kiara.


" Apa?," tanya Kiara cepat.


" Beri aku satu pelukan. Setidaknya aku ingin melepasmu dengan pelukan," ucap Rio yang tentu saja membuat Kiara tak bisa membendung air matanya.


Kiara langsung berlari dan membalik tubuh Rio. Ia memeluk Rio dengan erat. Tangisnya meledak. Bagaimanapun ini adalah kesalahannya. Kiara telah menyakiti hati Rio. Laki-laki yang mencintainya tapi tak bisa ia balas cintanya.


" Maaf," hanya kalimat itu yang ia ucapkan berkali-kali pada Rio meskipun Kiara tahu kata maaf tidak akan mengobati rasa sakit di hati Rio.


" Berhentilah meminta maaf. Kau tidak salah," kata Rio sembari mengusap punggung Kiara dengan tangan kanannya.


Prok...prok..prok...


" Bagus sekali!!! Jadi ini gadis yang kau pilih untuk cucuku ha?," teriak seseorang yang membuat Rio dan Kiara refleks melepas pelukannya.


Kiara memicingkan matanya melihat seorang nenek berdiri dengan menggunakan tongkat sedang menatap marah ke arahnya.


" Kau tidak pantas untuk cucuku!!!," teriak nenek itu lagi dengan menunjuk Kiara menggunakan tongkatnya.


" Ma.. maaf. Anda siapa ya, Nek?," tanya Kiara gugup karena ia benar-benar tidak kenal dengan Nenek itu.


" Mama....."


Sandra dan Robert berlari menghampiri Nenek itu. Mereka menarik tangan nenek itu dan mendudukkan di kursi roda yang di bawa oleh pengawal Robert.


" Mama, kenapa malah main nyelonong saja?," tanya Robert sembari melirik ke arah Kiara. Jujur saja Robert merasa tidak enak pada Kiara.


" Kalau Mama tidak segera masuk, Mama tidak akan tahu bagaimana tinggal calon cucu menantu Mama yang menjijikan ini," kata Nenek itu dengan suara yang hampir meninggi.


" Maksud Mama apa?," tanya Sandra tidak mengerti.


" Dia sedang asyik bermesraan dengan laki-laki lain sedangkan cucuku sedang sibuk mengurus pernikahannya. Sandra, Robert, inikah calon cucu menantu yang kau pilihkan untukku?," tanya nenek itu lagi.


Kiara menelan ludah. Ia mulai paham dengan sosok di hadapannya. Nenek tua itu pasti adalah nenek Elang. Kiara mengumpat dalam hati mengapa keluarga Elang harus datang di saat yang tidak tepat.


" Mama sudah putuskan dan keputusan Mama tetap seperti awal. Batalkan pernikahan Elang dengan wanita ini. Dia tidak pantas untuk Elang,"


Duarrrrrrr

__ADS_1


Kiara mematung mendengar kalimat yang dilontarkan oleh nenek Elang.


"Heii ada apa ini? Bangun!!! Aku pasti sedang bermimpi," teriak Kiara dalam hati.


__ADS_2