
Hari-hari seperti biasa kembali dijalani Jemima. Sudah 3 minggu dari kejadian waktu itu, ia sudah mengikhlaskan yang terjadi. Pagi-pagi seperti biasa ia berjejalan di KRL dan berlari-larian menuju lobby kantor agar tidak telat. Rasanya saat ini ia lelah sekali dan sering pusing, tapi ia abaikan mungkin ia sedang kecapaian saja.
"Ada apa nih ramai-ramai?" Jemima yang baru sampai menghampiri Nana dari divisi Tehnik yang sedang memperlihatkan sesuatu di ponselnya ke Alya.
"Gileee keren banget kan si Pak Bos, body nya itu, ergghh" Nana memperlihatkan foto Darwin yang sedang mengenakan baju sepeda yang ketat menampakkan lekuk tubuhnya.
"Bagian itu nya wow banget ya" Alya menempeleng kepala Nana
"Mesum lu pagi-pagi udah sana gua mau kerja" Ucap Alya mengusir Nana
"Ihh kaya apa sih dalamnya ya" Nana masih melanjutkan khayalannya kemudian pergi dan kembali ke meja kerjanya
"Je, kaya apa dalamnya cerita dong" bisik Alya ditelinga Jemima.
Kemudian Jemima memukul Alya dengan tas makeupnya
"Gua laporin Reno nih, kalau gua cerita bisa langsung putus lu sama Reno" Jemima tertawa dalam pikirannya terlintas bayangan Darwin saat melepas pakaian dan bentuk tubuhnya yang polos, serta samar akan rasanya ciuman mereka berdua. Jemima malu tetapi tiba-tiba hatinya terasa menjadi sakit akan kejadian waktu itu.
"Besok lu datang jam berapa Je ke nikahan mantan?" semenjak kejadian itu Alya selalu memanggil Darwin dengan mantan,padahal Jemima dan Darwin saja tidak pernah pacaran.
"Jam 6 ya, jemput di stasiun okey" ucap Jemima
"Okey nanti gue sama Reno jemput lu, hotelnya dah gue booked kita bisa staycation barengan" ucap Alya.
Hari berlalu tanpa terasa pagi menjelang. Jemima masih tidur tapi ia terganggu dengan perutnya yang bergejolak ingin dimuntahkan. Ia buru-buru berlari menuju kamar mandi, ia muntahkan semua makanannya.
"Kenapa Je?" tanya Ibu nya yang sedang masak didapur.
"Tahu Bu mual terus, kayaknya masuk angin, aku tidur lagi ya Bu masih ngantuk" ucap Jemima dan berjalan lemas ke kamarnya.
Jam 3 Jemima sudah siap untuk pergi ke pernikahan Darwin dan Cindy. Sebenarnya ia malas datang tapi Alya memaksanya datang agar bisa menginap bersama di salah satu hotel setelahnya.
"Bu Jeje pergi sebentar doang koq cuma semalam menginap sama Alya" Jemima berpamitan ke Ibunya.
Selama dijalan Jemima merasa agak pusing, ia mencoba kuat, besok saja kedokternya ucap Jemima dalam hati. Kereta sudah sampai di stasiun tujuan, Resepsi pernikahan di gelar di salah satu hotel mewah di Jakarta Selatan.
"Je" teriak Alya dari kejauhan sembari melambaikan tangannya.
"All Ren, sori ya lama" ucap Jemima ikut masuk kedalam mobil.
"Muka lu rada pucet, gak apa-apa kan?" tanya Alya.
__ADS_1
"Gak apa sedikit pusing aja" jawab Jemima sembari menyenderkan badannya.
"Wahhh mewah banget Je, lihat deh karangan bunganya aja banyak dari pejabat-pejabat" ucap Alya keheranan saat memasuki lobby hotel.
"Ehmm namanya juga keduanya pengusaha sukses kaya raya" ucap Reno, Jemima juga ikut keheranan dengan dekorasi yang mereka lihat selama memasuki Grand ballroom hotel.
"Ini berapa M ya habisnya" ucap Alya
"Iya sayang banget klo gue sih pengennya sederhana aja, yang penting keluarga sama sahabat deket aja" timpal Alya
"Ohh maunya gitu, ya udah yuk besok" ucap Agus yang tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Jemima.
"Cantik kamu Je, bisa makeupan kaya gini juga" ledek Agus yang dalam hatinya terpesona akan penampilan Jemima yang menggulung rambutnya dan memakai dress mini A line berbahan brukat berwarna hijau. Sederhana tetapi terlihat elegan yang dipadu dengan tas tangan warna hitam dan stiletto hitam juga.
"Wahh king and queen, bener-bener pasangan serasi ya" ucap Reno yang terkagum dengan Darwin dan Cindy yang memasuki ballroom hotel saat acara sudah dimulai. Cindy berbalut gaun bernuansa floral karya desaigner terkenal menunjukkan keanggunan namun sarat akan efek glamor ala aristokrat ditambah dengan mahkota berlian yang menghiasai kepalanya. Sedangkan Darwin mengenakan setelan serba hitam yang mengukuhkan unsur maskulin yang menawan.
Jemima hanya diam menatap kedua pasangan romantis itu. Ia terkejut akan kehadiran Abram yang berdiri disampingnya
"Eh Pak Abram, sendirian aja?" tanya Agus
"Iya saya sendiri, makanya gabung dengan kalian , gak apa-apa kan" katanya
"Pak Andi sendiri aja?" tanya Alya ke Andi yang baru datang ia merupakan Manajer Proyek mereka.
"Iya istri saya sedang hamil muda bawaanya muntah, pusing dan lemas terus jadi gak saya bawa kesini deh kasihan." jelasnya
"Ohh selamat ya Pak tokcer juga nih pengantin baru langsung golll" ucap Agus.
"Iya nih sekali tendang jadi, haha belum honeymoon lagi, tapi gak apalah namanya rejeki jangan ditolak" ucap Anton lagi dengan muka berserk.
"Selamat ya Pak" Alya , Reno dan Abram memberikan ucapan selamat ke Andi tetapi tidak dengan Jemima mengapa ucapannya sangat mengena ke dirinya. Apakah dirinya hamil seperti istri Andi karna gejalanya sama yang seperti ia rasakan belakangan ini.
"Yuk keatas kita ucapin selamat ke Pak Darwin" ajak Abram ke yang lain. Abram memperhatikan Jemima yang terdiam dari tadi. Dalam hatinya ia bingung kenapa wanita ini mau saja datang ke pernikahan Darwin kalau ia jadi diri Jemima pasti tidak akan datang.
Jemima sudah sampai dihadapan Darwin, tiba-tiba saja ia ingin muntah dan ia menutup mulutnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Darwin khawatir ke Jemima, dengan susah payah menahan mual Jemima berucap" Iya Pak gak apa-apa , selamat ya semoga bahagia"
" Makasih ya Je" Darwin menatapnya sendu dan masih berasa tidak enak dengan Jemima.
__ADS_1
Mereka akhirnya menikmati makanan yang tersaji, tapi Jemima merasa tidak enak ke semua makanan dan hanya bisa memakan es krim.
"Bebek pekingnya gak enak ya" ucapnya ke Alya
"Masa enak kali Je, lu biasaan makan bebek madura sih" ledek Alya
"Tahu lidah gua aneh semua makanan gak enak" Jemima masih asik dengan eskrim yang sudah dimakan ke tiga kalinya.
"Kamu kaya istri saya Je lagi hamil semua makanan gak enak" timpal Andi yang masih bergabung dengan mereka.
Deg dada Jemina terasa dipukul, jika dipikir-pikir ia belum menstruasi sebulan ini. Semoga pikirian buruknya tidak terjadi.
"Saya balik dulu ya" ucap Andi
"Saya juga" Abram ikut berpamitan ke yang lain
"Je yuk kita ke hotel" ajak Alya untuk segera pulang, Reno memberi kode ke Agus
"Je abang anterin ya ke hotelnya, Reno mau pacaran dulu katanya, nanti kamu kaya obat nyamuk lagi" ucap Agus, mereka sudah berjalan menuju parkiran. Benar juga pikir Jemima pasti Alya dan Reno mau berduaan terlebih dahulu dan Jemima mengiyakan ajakan Agus.
"Ya udah bang". Mobil mereka berjalan beriringan menuju keluar hotel.
"Eh bang koq arah nya beda ke hotel mau kemana nih"
"Muter-muter Je, jarang-jarang kaya gini kan"
"Ohh jangan lama-lama nanti Alya cariin"
"Tenang mereja juga lagi sibuk berdua"
Sampailah ia di salah satu parkiran tempat wisata di tengah kota Jakarta. Suasananya gelap karna penuh dengan pepohonan. Mereka masih berdiam didalam mobil. Tiba-tiba Agus membuka sitbeltnya dan mencium bibir Jemima yang sedang menunduk melihat ponselnya. Jemima menolak ciuman itu dan memukul-mukul Agus.
"Abangg apaan sih, berhenti gak" Jemima sangat marah akan tindakan Agus.
"Ya elah Je, gak apa-apa" Agus masih mencoba ingin mencium Jemima kembali.
"Bang" kemudian Jemima menggigit kuping Agus.
"Arrhghh siaal, sakit Je" saat ini Jemima menangis karna merasa dilecehkan oleh Agus.
"Kenapa Je apa gua kurang kaya dan ganteng kaya Pak Darwin sampai lu nolak" Jemima terkejut dengan ucapan Agus barusan ia merasa direndahkan.
__ADS_1
"Jangan gila bang, gua bukan perempuan murahan, gua mau pulang, gua jijik sama lu dan lebih baik kita gak usah kenal lagi kecuali hubungan kerjaan" Jemima segera keluar dari mobil Agus dan mencari taxi untuk mengantarkannya ke hotel. Saat ini hatinya sakit sekali, luka kemarin belum sembuh ditambah dengan perlakukan Agus barusan sangat membuat lukanya menjadi lebih dalam lagi.