Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Bab 86


__ADS_3

"Sudah Yang" ucap Jemima sembari berusaha bangkit dari pangkuan Gerry.


"Bahaya kalau gak di stop" ucapnya lagi, Gerry hanya terdiam memejamkan matanya dan mengatur nafas.


"Hahaha sudah pengen honeymoon saja nih Yang, gimana dong. Gak bisa dp dulu apa?" Gerry malah tertawa demi mengalihkan perhatiannya.


"Ehm macam-macam kamu ya." Jemima segera menyingkir takut akan tindakan Gerry yang bisa mengancam kesalamatannya.


"Ya sudah lanjut makan. Kamu belum makan kan?" Gerry kembali menyuapkan kembali nasi goreng ke mulutnya. Jemima mengambil piring satu lagi dan memakan hingga tidak bersisa.


"Aku kembali ke kamar , nanti Dira cari aku lagi"


"Yang nanti malam bobo sini ya?" ucap Gerry menggoda Jemima.


"Minta dijitak nih Om Boss. Sana ijin dulu sama Dira" ucap Jemima gemas dengan kelakuan Gerry.


"Wah gak berani aku" Gerry menggangkat kedua tangannya tanda menyerah akan permintaan Jemima.


"Besok sudah aku sewain tour guide kalian bisa menikmati pulau-pulau sekitar. Aku mai diving ke salah satu pulau sini" ucap Gerry


"Makasih sayang kamu baik banget" Jemima mengecup bibir Gerry tanda ucapan terimakasih.


"Hati-hati Yang" ucap Jemima kembali.


"Okey ntar malam aku mau ke bar kalau kamu mau" ajak Gerry


"No makasih sayang" kemudian Jemima keluar dari kamar Gerry dan ia memeriksa ponselnya melihat pesan dari Julia mereka sedang makan di restoran dan ia menyusul kesana.


"Mama dari mana?" tanya Dira


"Oh tadi Mama urus pekerjaan Mama di Jakarta ada pekerjaan penting" ya memang sih dia sedang mengurusi bos nya, Jemima tidak berbohong.


"Mama kerja terus" keluh Dira


"Maaf sayang" Jemima mengusap lembut kepala Dira.


Jemima menghampiri Julia yang sedang menimang-nimang baby Nuca agar tertidur.


"Sudah?" tanya Julia penasaran

__ADS_1


"Sudah makannya" ucap jemima jujur


"Makan beneran?" selidik Julia


"Bener lah, ih mbak aku tuh gak ngapa-ngapain cuma kissing doang. Aku gak mau lah terjebak kedua kalinya" ucap Jemima jujur karna malas akan tatapan tidak percaya kakaknya.


"Iya iya. Mbak cuma gak pengen kamu terjebak sama laki- laki lagi yang tidak bertanggung jawab" ucap Julia khawatir


"Iya mbak terimakasih" Jemima memeluk kakakanya karna merasa senang akan perhatiannya.


"Aku lihat Gerry lebih berani dibanding Abram dulu ya. Dia gak sungkan menunjukkan kemesraan didepan Mbak sm Kak Yuda" ucap Julia


"Iya Mbak, kalau mas Abram kan memang kalem, lebih dewasa mas Abram dan lebih tenang. Kalau Gerry ya mungkin tipical anak Jakarta yang hidupnya gaul sana gaul sini. Jadi hal-hal seperti tadi dia tidak canggung" jelas Jemima


"Andai ya ibunya Abram setuju sama kamu. Pasti Abram jadi suami dan ayah yang baik bagi Dira. Sifat kebapakannya benar-benar keluar saat dia mengurus Dira. Mbak aja gak nyangka pria bujang seperti dia telaten banget merawat Dira. Sudah seperti bapaknya kemana-mana selalu antar kalian." Julia mengenang masa-masa saat ia bertemu Abram pertama kalinya.


"Iya Mbak. Sudah masa lalu, lebih baik dia memilih Ibunya daripada aku memaksakan kehendak ku untuk minta dinikahi yang ada nanti aku berantem terus sama Ibunya dan yang ada rasa bersalah karna merusak hubungan anak ibu" Jemima kembali terngiang akan sosok Abram. Laki-laki itu memang yang di harapkan menjadi suaminya, karna semenjak Dira baru dilahirkan Abram yang selalu sigap mengurusi segala kebutuhannya.


"Iya semoga kamu bahagia sama jodohmu sekarang Je. Semoga Dira luluh hatinya sama Gerry" ucap Julia mereka berdua menatap deburan ombak dikejauhan dari sisi restoran. Tanpa mereka ketahui dari balik pilar besar ada Gerry yang mendengarkan omongan mereka.


'Abram, apa Abramnya Darwin?' ucap Gerry dalam hati dan diam-diam meninggalkan tempat itu menuju pinggir pantai. Ada rasa cemburu di hatinya mendengar ucapan Julia akan kekagumannya terhadap Abram. Yah memang awalbya dia saja menolak Dira kalau dibandingkan dengan Abram mungkin ia kalah. Tapi kan Abram sudah menikah, aman lah. Renungnya dalam hati lagi.


"Mama mama, kakak Lyo enak banget setiap pulang sekolah bisa kerjakan Pr sama Mamanya, Dira kapan ya Ma?" ucap Dira saat mereka bergandengn tangan di sisi tepi pantai.


"Kan kalau malam mama bisa temani Dira, kalau Mama tidak kerja kita gak ada uang Nak, gak bisa jalan-jalan kesini lagi"


"Iya Mama" Dira mendengar jawaban Mamanya dengan kecewa.


Sambil menikmati matahari terbenanm Gerry duduk sendiri dibalik pohon kelapa sambil memperhatikan wanita kesayangannya yang juga sedang duduk dipinggir pantai menikmati sunset. Sungguh indahnya anugerah Tuhan. Suatu saat ia akan ada diantara mereka menjaga dan melindungi Jemima serta Dira. Gerry yakin akan hal itu. Sambil terus memperhatikan mereka dari jauh Gerry memastikan Jemima dan Dira masuk kedalam kamar kemudian ia lanjut menuju bar disana. Menikmati minuman beralkohol sedikit sambil menikmati musik yang bergema diruangan hingga malam semakin larut. Gerry mengambil ponselnya mengetikkan pesan untuk kekasihnya


✉️Gerry : Sudah tidur?


✉️ Jemima : Belum. Dira yang sudah tidur.


Tak lama ada suara ketukan dikamar Jemima. Saat ini Jemima sedang menikmati acara televisi entah kenapa ia tidak bisa tertidur padahal tubuhnya sudah letih. Ia berjalan membukakan pintu. Senyum hangat dari Gerry menyapanya dari balik pintu dan langsung memeluk dirinya. Bau alkohol sedikit menyerebak dari mulut Gerry.


"Minum ya?" tanya Jemima dan Gerry hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian mendorong Jemima masuk kekamar dan dengan kakinya ia menutup pintu kamar Jemima.


"Eh kamu ngapain? Ada Dira"

__ADS_1


"Sudah tidur kan, aku tidur sini ya. Besok pagi aku pindah kekamarku" kemudian Gerry segera merebahkan dirinya disalah satu single bed yang kosong dimana Jemima tadi berbaring.


"Sini aku ingin peluk kamu lagi tidur"


Jemima sedikit takut ia hanya memandang Gerry, terakhir kali ia tidur satu kasur dengan laki-laki maka jadilah Dira. Tidak ingin kejadian itu terulang lagi ia menolak ajakan Gerry.


"Please ,aku tidak akan melakukan apapun sama kamu, cuma ingin berpelukan saat tidur" ucap Gerry.


Tidak tega dan takut menimbulkan keributan ia segera memenuhi permintan Gerry. Jemima yakin Gerry tidak akan macam-macam juga karna ada Dira dikasur sebelah. Jemima ikut tidur disamping Gerry dan Gerry dengan sigap memeluknya dari belakang.


"Sabar-sabar sedikit lagi ya kan yang?" ucap Gerry menyenangkan dirinya.


"Semoga sayang, aku juga ingin ini selamanya. Semoga Dira memberi restu"


"Dira sukanya apa Yang? Aku ingin menyenangkan Dia"


"Dia suka menggambar, suka mobilan, main basket, macam-macam Yang"


"Oh baiklah nanti pelan-pelan aku akan mendekatinya lagi. Lebih sulit mendekati anaknya dibanding Mama nya" Gerry menciumi bahu Jemima.


"Kalau aku sama Abram better mana?" Jemima kaget akan pertanyaan Gerry dan langsung membalikan wajahnya ke deapn muka Gerry.


"Abram?" tanya Jemima bingung.


"Iya Abram mantan assisten Darwin. Yang sekarang pemiliki perusahaan kontraktor" muka Gerry berusaha menampilkan wajah tenang dan tidak cemburu.


Diam lama Jemima tidak tahu harus berkata apa.


"Lebih baik kamu lah. Percuma baik tapi gak bisa nikahin aku" ucap Jemima sambil mengecup bibir Gerry.


Gerry tersenyum bahagia mendengar perkataan Jemima.


"Tadi aku gak sengaja dengar perkataan kamu dengan Julia, ternyata gitu ya. Pantas saja waktu itu ketemu Abram muka kamu berseri-seri" goda Gerry


"Yah gimana dong. Kan cuma ketemu teman lama. Lagian dia sudah suami orang masa aku mau. Mending sama kamu dapat bujangan. Jarang-jarang kan Ibu-ibu beranak satu dapat bujangan yang gak perjaka kaya kamu" Jemima terkekeh geli dengan ucapannya. Ya jujur sekarang memang ia menggantungkan harapannya kepada Gerry, laki-laki yang mengisi hatinya selain Dira pastinya.


"Terimakasih sayang kamu memilih aku. Aku merasa terhormat sekali jadi bagian hidup kalian" Gerry mengecup bibir Jemima hingga lama.


"Good Night, bobo yuk aku ngantuk" ucap Gerry kemudian mereka berdua saling memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2