
Semalaman Jemima tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Pagi-pagi ia menyiapkan masakan kesukaan Gerry, ia ingin berikan untuk kekasihnya saat ini meskipun tidak tahu kedepannya apa yang akan terjadi.
Setelah berpamitan dengan Dira ia segera menuju apartemen Gerry. Hati dan jantungnya sudah tidak karuan, rasa takut akan kehilangan Gerry terasa amat besar. Tetapi ia juga tidak mau memaksakan jika Gerry sudah tidak mau menerima dirinya lagi. Ia sudah mengabari Gerry bahwa ia akan datang ke apartemennya.
Jemima sampai di apartemen Gerry, ia membuka pintu perlahan. Mencari sosok laki-laki kesayangannya.
"Ger, kamu dimana?" ucapnya
Tidak ada jawaban ia memeriksa kamar Gerry, tetapi laki-laki itu tidak ada. Ia melihat pintu balkon kamar tidur Gerry terbuka dan tercium bau asap rokok dari tempatnya berdiri.
"Ger" panggilnya kepada Gerry yang sedang berdiri menyender dipagar balkon dengan tangan kanan sedang memegang rokok.
Moment kikuk terjadi antara keduanya. Biasanya jika mereka berdua baru bertemu, mereka akan saling mengecup bibir. tapi yang terjadi saat ini mereka hanya diam saling memandang.
"Aku tunggu di meja makan, aku bawakan sarapan buat kamu" ucap Jemima dan meninggalkan Gerry seorang diri.
Seperti biasa Jemima sudah menyiapkan peralatan makan beserta isinya di meja. Menunggu kedatangan Gerry, setidaknya jika ia sudah tidak menjadi kekasih buat Gerry ia tetap profesional sebagai sekretaris Gerry.
Gerry datang dan duduk berhadapan dengan Jemima. Masakan yang dibawa Jemima membuat Gerry berselera. Perut kenyang hati senang pikir Jemima berharap akan Gerry mau memberikan dirinya kesempatan. Gerry memakan apa yang disajikan Jemima tanpa bicara sepatah kata pun begitupun Jemima ia sebenarnya tidak berselera sama sekali. Tetapi ia butuh tenaga untuk menghadapi semua ini.
Inilah saatnya, setelah Gerry menyelesaikan makan pagi nya ia mulai bersuara.
"Kita bicara disofa" Gerry beranjak pergi dari kursi makannya berjalan lebih dulu dan disusul Jemima. Gerry duduk disalah satu sofa single sedangkan Jemima di sofa yang panjang.
"Ger aku bingung mau cerita dari mana" ucap Jemima.
"Bebas aku akan dengarkan semua omongan kamu" ucap Gerry sambil memandang Jemima yang menurutnya pagi ini terlihat cantik tapi dengan mata yang lelah.
"Seperti yang kamu tahu kemarin, aku sudah mempunyai anak laki-laki bernama Dira. Dia anakku dengan Darwin Redian mantan bos ku dan juga teman mu. Kami berdua tidak pernah menjalin pernikahan apapun" Jemima berucap perlahan mencoba menata kata demi kata agar tidak ada kesalah pahaman yang lebih lagi.
__ADS_1
"Waktu itu aku dan dia melakukan kesalahan. Atau aku menyebutnya bukan kesalahan karna bagi aku Dira bukan lah sebuah kesalahan, tetapi tindakan yang semestinya kami tidak lakukan. Aku mengetahui diriku hamil bertepatan Darwin menikah dengan Cindy. Aku tidak mungkin meminta pertanggungjawaban dari lelaki beristri" mata Jemima menggenang dengan air mata mengingat kembali suramnya masa-masa awal memgandung Dira.
"Aku pergi dan meninggalkan kehidupanku di Jakarta ke Semarang memulai hari baru tanpa sepengetahuan Darwin. Namun saat Dira berumur 2 tahun tanpa sengaja Darwin mengetahuinya dan mengajak kami kembali kami kesini agar dia bisa ikut bertanggung jawab sebagai partner dalam membesarkan Dira" air mata Jemima mulai menetes.
"Namun aku tidak bisa mengandalkan Darwin, karna ia tidak menepati janjinya karna itu aku harus bekerja dan kebetulan waktu itu Arka menginfokan kamu mencari sekretaris dengan syarat masih single dan akhirnya aku mencoba sampai kamu menerima aku." Gerry diam hanya memperhatikan Jemima.
"Aku tidak menyangka bahwa hubungan kita bukan hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Dan jujur aku takut akan kehilangan kamu jika aku jujur mengenai status aku, sejak kamu memberikan cincin ini aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya ke kamu, tapi ternyata kamu tahu lebih dulu" Jemima menyeka air matanya.
"Aku siap kalau kamu tidak terima dengan status ku ini. Kita kembali menjadi rekan kerja saja Ger" ucap Jemima dengan isak tangis, ia merasa sedih dan patah hati.
"Aku gak suka sama kebohongan yang kamu berikan ke aku Je, kenapa kamu tidak jujur sedari awal" akhirnua Gerry berani berucap, ia bingung dengan kenyataan yang ada.
"Maaf aku hanya takut kehilangan kamu" ucap Jemima.
"Kalau kamu jujur dari awal mungkin aku bisa terima, tapi ini kita sudah berjalan beberapa lama dan aku harus tahu tanpa kesengajaan, kamu pikir hubungan ini main-main." ucap Gerry kesal.
Dengan berat hati Jemima melepas cincin dijari manisnya dan meletakkannya di meja.
"Berakhir lagi" ucapnya menenangkan diri sebelum masuk kerumah.
"Tambah lagi pelajaran hidup" tambahnya.
Hingga hari berlalu hubungan Jemima dan Gerry benar-benar tidak terselamatkan. Jemima sudah terbiasa dengan patah hati, ia tetap berperilaku seperti biasa saat bekerja dengan Gerry, meskipun dalam hatinya sungguh sakit atas perpisahan itu. Sedangkan Gerry dia tidak masuk untuk beberapa hari ia pergi ke villa keluarga untuk menenangkan diri.
Untuk Gerry kebohongan Jemima tidak bisa ditolerir, ia memiliki trauma akan ketidak jujuran. Pacarnya terdahulu menyelingkuhi dan membohongi dirinya, mengatakan bahwa ia hamil akan anak Gerry hingga ia sudah bertekad akan menikahi kekasihnya dulu ternyata ia mengetahui bahwa itu bukan anaknya. Jika Jemima jujur saat mereka baru memulai hubungan Gerry pasti akan memaafkan. Tapi untuk sekarang dia belum bisa memaafkannya.
Setelah menghabiskan waktu di tempat yang tenang akhirnya Gerry kembali dikantor.
"Pagi Pak" sapa Jemima saat Gerry baru kembali kekantor, tampak muka Gerry sangat suntuk dengan rambut sedikit acak-acakan.
__ADS_1
"Pagi" jawab Gerry singkat tanpa memandang Jemima.
Seperti biasa saat Gerry datang Jemima akan segera menghampirinya dan memberitahukan jadwal dan pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Pagi Pak, hari ini ada jadwal meeting dengan Pak Farouk jam 7 malam di restoran tempo hari " ucap Jemima menguatkan hati menatap Gerry tetapi yang ditatap hanya menunduk saja.
"Okey kamu gak usah ikut"
"Saya ikut gak apa-apa Pak seperti biasa" Jemima masih profesional menjalani pekerjaannya.
"Gak usah kasihan anak kamu ntar tunggu kamu kemalaman" ucap Gerry menatap layar laptopnya yang baru menyala.
"Baik Pak, ini beberapa dokumen perlu review Bapak" Jemima menyerahkan beberapa design yang sudah dibuat oleh anak buah Gerry.
Tiba-tiba pintu ruangan Gerry terbuka dan muncul Sela.
"Pagi Ger, kamu sudah makan?" tanya Sela
"Belum Ma baru sampai" jawab Gerry
"Hai Je, belikan Gerry sarapan sana" ucap Sela dan Jemima menuruti perintahnya.
Setelah Jemima keluar dari ruangan Gerry, Sela duduk didepan Gerry
"Eh Bang masa Mami dengar dari teman Mami, katanya Jemima itu wanita gak benar loh" Gerry seketika menatap wajah Maminya.
"Iya katanya dia sengaja deketin bosnya biar punya anak terus manfaatin anaknya buat dapat uang" Gerry menghela nafas mendengar ucapan Maminya.
"Parah ya wanita kaya gitu, kamu hati-hati jangan sampai kejebak kaya anaknya Magda" ucap Sela
__ADS_1
"Mam kalau ngomong gak bener gitu lebih baik pulang saja" Gerry kesal dengan ucapan Maminya, karna selama berpacaran dengan dirinya tidak pernah sekalipun Jemima memanfaatkan dirinya.