Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Memulai Perhatian


__ADS_3

Sampailah mereka didepan Ruko yang beberapa bulan ini Jemima dan Ibunya tempati.


"Kalian tinggal disini?" tanya Abram sedikit bingung


"Iya Mas sekalian untuk tempat usaha" jelas Jemima. Kemudian Abram membantu Ibu Jemima turun terlebih dahulu dan membukakan pintu besi ruko tersebut. Lanjut ia menghampiri Jemima yang masih di mobil.


"Pelan-pelan Je" ucapnya memegangi tangannya.


"Uah udah lahiran ya Mbak" ucap Ibu Neno tetangga Jemima yang melihat kedatangan Jemima.


"Iya Bu sudah" jawab Jemima ramah


"Oh ini suaminya ya, sudah pulang dari laut ya mas" tanya Bu Neno ke Abram, sedang yang ditanya hanya diam dan dibalas dengan senyuman.


"Maaf kami masuk dulu ya Bu" Jemima segera menyudahi pertanyaan yang akan diajukan Bu Neno lagi, ia tidak begitu suka dengan tetangganya ini yang selalu mengurusi kehidupannya. Semenjak ia pindah, Bu Neno selalu bertanya mengenai keberadaan suaminya.


"Gak usah didengerin ya Mas omongan tetanggaku tadi" ucap Jemima saat mereka sudah didalam, ia sebenarnya malu akan ucapan tetangganya tersebut.


"Iya gak apa-apa, kamu harus naik tangga nih? Hati-hati ya" Abram membantu Jemima kembali untuk menaiki tangga satu persatu.


"Maaf ya saya pegang kamu" Abram merasa canggung sendiri dengan perlakuannya saat ini yang merangkul bahu Jemima.


"Iya Mas gak apa-apa, saya malah mau berterima kasih sudah ditolong" ucap Jemima sambil menahan nyeri diperut setiap menaiki tangga.


Akhirnya mereka sampai diatas dan segera menuju kekamar Jemima. Dira bayi kecil berpipi pink itu sudah mencari Mamanya untuk disusui, suara tangisnya mulai mengisi kamar sederhana milik Jemima.


"Sebentar Mas , saya susuin Dira dulu ya, mas duduk aja disini" ucap Jemima sambil menunjuk meja makan yang ada didepan kamarnya.


"Iya Je " kemudian ia duduk dan memperhatikan sekeliling ruangan ini, hanya ada 2 kamar dan meja makan di sini. Bunyi ponsel Arbam bergema, tanda panggilan dari Darwin.


"Iya Bos" jawabnya seketika


"Bram lu cek perhitungan yang gue kirim kalau pakai angka ini kira-kira kita BEP nya kapan? Gue tunggu ya" ucap Darwin diseberang sana dan segera mematikan panggilannya

__ADS_1


"Ckk kan gue masih cuti bos" ucap Abram kesal kemudian ia kembali ke mobilnya dan mengambil laptopnya. Ia belum melakukan check in hotel kembali setelah mengantarkan Bundanya ke bandara karna memang rencananya hari ini ia sudah kembali ke Jakarta tetapi pertemuan dengan Jemima merubah rencananya untuk memperpanjang cutinya dan melihat kondisi Jemima. Entah kenapa ada rasa tertarik dalam diri Abram terhadap Jemima, ia sangat kagum dengan sosok wanita ini yang tidak pernah menyerah dalam segala masalah hidupnya. Mengingatkan akan sosok Bundanya yang sangat ia banggakan, setelah ayahnya meninggal saat ia kelas 6 SD beserta kedua adik kembarnya yang saat itu masih berusia 4 tahun. Rasa iba dan bangga menyatu didiri Jemima sehingga ia ingin membantunya sebisa mungikin.


Abram kembali keatas dan membuka laptopnya memeriksa email yang baru dikirimkan oleh Darwin.


"Mas Abram maaf Ibu belum berikan minum ya " ucap Ibu yang baru saja keluar kamar.


"Gak apa-apa Bu gak usah repot-repot saya ambil sendiri saja" kemudian Ibu duduk didepan Abram.


"Nak Abram teman satu kantor Jemima dulu?" tanya Ibu dengan ramah.


"Iya Bu benar"


"Ibu mau minta tolong mohon pertemuan kalian dan kondisi Jemima beserta saat ini tidak diberitahukan ke Ayah Kandung Dira ya" Ibu berbicara sambil menatapnya


"Jemima sangat khawatir jika hal ini diketahui ia akan dipisahkan dengan anaknya" muka Ibu berubah khawatir


"Tenang Bu, Ibu bisa percaya sama saya, saya tidak akan infokan ke Darwin, saya akan jaga rahasia ini ,saya justru bersyukur sekali Jemima tidak gegabah dan tetap mempertahankan bayinya" Abram mengusap tangan Ibu agar tidak khawatir dengan dirinya.


"Iya Nak ibu percaya sama Nak Abram semoga yang dijanjikan bisa ditepati" kemudian Jemima keluar dari kamar


"Iya gak apa-apa, saya juga numpang sebentar ya ada kerjaan dari Darwin nih yang harus diselesaikan" kemudian Ibu kembali masuk kekamarnya meninggalkan mereka berdua.


"Lapar gak mas? Saya pesenin makan dulu ya" ucap Jemima mengambil ponselnya.


"Eh iya boleh" Abram kembali fokus ke email yang dikirinkan Darwin, ini akan lama dia harus menghitung ulang perhitungan yang sebelumnya dia buat.


"Ckk kebiasaan" keluhnya


"Kenapa Mas" Jemima ingin tahu apa yang diributkan Abram


"Biasa Darwin tuh suka minta ganti-ganti terus" kemudian Jemima hanya diam, ia kurang tertarik jika menyangkut masalah Darwin.


"Je kontrol lagi kapan kerumah sakit?" tanya Ibu yang sepertinya ingin mandi karna membawa handuk.

__ADS_1


"3 hari lagi Bu"


"Sekalian vaksin Dira kan?"


"Iya Bu" Jemima masih fokus dengan ponselnya


"Sebentar Mas aku turun dulu ambil pesanan, ojeknya sudah datang" Jemima sudah berdiri dari kursinya


"Eh jangan Je biar saya saja, tunggu disini" kemudian Abram segera turun dan mengambil makanan itu. Hingga sore hari Abram berada dirumah Jemima meskipun dia lebih banyak fokus ke pekerjaannya,karna Abram menyuruh Jemima dan Ibunya untuk beristirahat dan tidak perlu memikirkan dirinya. Sebelum pergi dari rumah Jemima karna sudah memesan kamar disalah satu hotel dekat sana ia memesankan sejumlah makanan untuk Jemima.


Tok tok tok, Abram mengetuk pintu kamar Jemima.


"Je sorry ganggu, saya mau pamit pulang" ucap Abram, tak lama Jemima dengan muka mengantuk membuka pintu kamarnya.


"Iya Mas makasih ya sudah diantar kerumah, mau kembali ke Jakarta?"


"Iya sama-sama Je, belum Bunda saya masih disini" ucap Abram berbohong karna tidak ingin diketahui Jemima bahwa saat ini ia ingin membantu Jemima.


"Iya salam untuk Bunda Mas ya, maaf saya gak bisa antar ke bawah ya"


"Gak apa-apa Je, itu sudah saya belikan makanan untuk makan malam sama Ibu ya, jangan lupa dimakan biar asi kamu banyak juga" ucap Abram sambil menunjuk bungkusan plastik dari salah satu resto seafood dekat sini.


"Wah koq saya jadi ngerepotin Mas terus" Jemima merasa tidak enak dengan perhatian Abram, padahal sebelumnya ia tidak pernah sedekat ini dengan Abram.


"Gak apa koq, ya udah saya pamit ya, ehm boleh saya minta nomor hape kamu?" Jemima diam bingung, berfikir apakah harus menyerahkan nomor ponselnya.


"Iya boleh, mana ponselnya" kemudian ia menyimpan nomor ponselnya dengan nama anak nya Dira.


"Sudah" kemudian Jemima mengembalikan ponselnya.


"Makasih ya" Abram balas dengan senyum manisnya.


Abram kemudian turun sendiri menuju mobilnya dan didepan ia bertemu kembali dengan Bu Neno.

__ADS_1


"Eh mau kemana Mas, baru sampai sudah mau pergi lagi, emang gak kangen sama anak istrinya, kasihan loh hamil sendirian aja suaminya gak pulang-pulang." nyinyir Bu Neno


"Ya kangen Bu masa sama anak istri gak kangen, emang Ibu gak pernah dikangenin sama suaminya" balas Abram, cukup kesal dengan ucapan tetangga Jemima yang ingin tahu itu dan segera masuk kedalam mobilnya.


__ADS_2